Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15:
Pusat perbelanjaan elit di pusat kota biasanya menjadi tempat favorit bagi para sosialita untuk memamerkan tas Hermes terbaru mereka. Namun pagi ini, mall tersebut terasa seperti zona karantina. Arkan berjalan di tengah, diapit oleh Evelyn dan Lana, sementara dua pengawal pribadinya berjalan lima meter di belakang sambil membawa koper berisi masker N95 cadangan dan cairan pembersih udara portabel.
"Lana, aku sudah bilang, kita ke bagian furnitur saja. Aku perlu membeli sprei baru dengan kerapatan benang 2000 per inci agar kuman tidak bisa menyelip," keluh Arkan, wajahnya tertutup masker hitam yang sangat rapat.
Lana mendengus, ia menarik lengan daster Evelyn yang hari ini bermotif *semangka raksasa*. "Kak Arkan, sprei tidak akan membuat Kak Eve terlihat cantik. Kita ke butik Viper-Chic di lantai tiga. Ada koleksi jaket kulit terbaru!"
Evelyn hanya bisa pasrah ditarik ke sana kemari. "I-iya, Tuan Arkan... lagipula daster Eve yang gambar wortel kemarin sudah bolong digigit hantu martabak."
Arkan menyipitkan mata. Hantu martabak lagi? Gadis ini benar-benar konsisten dengan bualannya.
Sesampainya di butik mewah itu, Lana langsung beraksi. Ia mengambil sebuah gaun hitam backless yang sangat ketat dan sebuah jaket kulit motor dengan ritsleting perak yang tajam.
"Kak Eve, coba ini! Kak Arkan, Kakak tunggu di sini. Jangan semprotkan disinfektan ke pelayan butiknya, mereka sudah mandi tadi pagi!" pesan Lana sebelum mendorong Evelyn ke dalam ruang ganti.
Di dalam ruang ganti yang sempit, Evelyn segera mengubah ekspresinya. Ia tidak mencoba baju. Ia mengeluarkan sebuah alat pemindai frekuensi kecil dari balik bra-nya.
"Ed, dengar?" bisik Evelyn ke arah jam tangannya.
"Jelas, Queen. Arkan sedang berdiri di depan ruang ganti. Dia sedang... tunggu, dia sedang mengelap kursi tunggu dengan tisu alkohol. Dia sangat sibuk," lapor Edward dari markas.
"Bukan itu! Lacak sinyal dari ponsel Arkan. Samuel pasti sedang mengirimkan hasil restorasi wajah dari CCTV pasar malam. Aku harus menyabotase file-nya sebelum Arkan membukanya."
"Sedang diproses, Queen. Tapi Arkan memakai enkripsi dua lapis. Aku butuh waktu tiga menit. Anda harus menahannya di sana!"
Di luar, Arkan berdiri dengan gelisah. Ia menatap pintu ruang ganti Evelyn. Ingatannya kembali ke rekaman CCTV semalam—bayangan orang dengan sepatu kets tali kuning neon. Ia melirik ke bawah, ke arah kaki Evelyn tadi. Evelyn memakai sandal jepit swallow warna hijau.
*Dia sengaja menyembunyikan sepatu itu,* batin Arkan.
Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar. Sebuah notifikasi dari Samuel: "Bos, file restorasi wajah 90% selesai. Mengirimkan gambar sekarang."
Arkan segera membuka ponselnya. Gambar itu mulai mengunduh. Sedikit demi sedikit, piksel yang tadinya buram mulai membentuk garis rahang dan mata.
Evelyn, di dalam ruang ganti, berkeringat dingin. "Ed! Cepat!"
"Satu detik lagi... BOOM! Berhasil!"
Tepat saat gambar di ponsel Arkan mencapai 100%, layar ponselnya tiba-tiba berubah menjadi putih. Lalu muncul *gambar seekor anak ayam yang sedang memakai masker* dengan tulisan besar: "WAKTU NYA CUCI TANGAN, TUAN HIGIENIS!"
Arkan tertegun. "Apa-apaan ini?!"
Ia mencoba menekan tombol reset, tapi ponselnya malah mengeluarkan suara bersin yang sangat keras. Hachiii!
"K-KUMAN DIGITAL!" teriak Arkan panik. Ia menjatuhkan ponselnya ke kursi yang baru saja ia sterilkan, seolah-olah ponsel itu mengandung virus mematikan.
Pintu ruang ganti terbuka. Evelyn keluar dengan mengenakan gaun hitam ketat dan jaket kulit pilihan Lana. Penampilannya berubah total. Kacamata tebalnya sengaja ia biarkan melorot, menunjukkan mata indahnya yang tajam namun berpura-pura bingung.
"Tuan Arkan? Kenapa ponselnya bersin? Apa ponselnya kena flu burung?" tanya Evelyn dengan nada cempreng.
Arkan tidak menjawab. Matanya terpaku pada sosok di depannya. Evelyn yang biasanya terlihat seperti tumpukan kain perca, kini terlihat... berbahaya. Lekukan tubuhnya yang tersembunyi di balik daster selama ini terlihat jelas. Jaket kulit itu membuatnya tampak seperti...
"Queen?" gumam Arkan tanpa sadar.
Lana bertepuk tangan kencang. "GILA! Kak Eve, Kakak cantik banget! Kak Arkan, lihat! Jangan lihat ponsel kotor itu terus!"
Arkan berdehem, berusaha menguasai dirinya. Ia segera menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya yang gemetar. "Pakaian itu... terlalu terbuka. Banyak bakteri udara yang bisa menempel langsung ke kulitmu. Ganti dengan yang lebih tertutup."
"Tapi Kak, ini keren!" protes Lana.
"Ganti," perintah Arkan tegas, namun matanya tidak bisa beralih dari luka kecil di buku jari tangan Evelyn yang tidak tertutup jaket. Luka yang sama yang ia lihat di pasar malam.
Evelyn tersenyum manis, senyum yang membuat bulu kuduk Arkan merinding. "Baik, Tuan Sstt-Sstt. Eve ganti ya. Lagipula bajunya ketat sekali, Eve jadi susah napas, seperti dikejar kuman raksasa."
Evelyn kembali masuk ke ruang ganti. Di dalam, ia menghela napas lega. "Ed, hapus jejak bersin di ponselnya. Jangan sampai dia curiga itu ulahku."
"Sudah, Queen. Tapi hati-hati, Arkan baru saja mengambil ponselnya kembali menggunakan sapu tangan. Dia sepertinya tidak akan melepaskan masalah ini begitu saja."
Saat mereka keluar dari butik, Arkan berjalan di belakang Evelyn. Ia memperhatikan cara jalan Evelyn yang kini kembali diseret-seret secara ceroboh. Namun, Arkan menyadari satu hal: Evelyn tidak pernah sekalipun menyentuh gagang pintu butik dengan tangan kosong. Dia selalu menggunakan ujung lengan jaketnya.
Sama sepertiku, batin Arkan. Dia bukan ceroboh. Dia sangat waspada. Istriku... kau adalah kuman paling cerdas yang pernah kumasukkan ke dalam rumahku.