NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Akhirnya, setelah percakapan yang cukup panjang antara Naya dan Lucio, Rebecca keluar dari kamarnya membawa sarapan pagi dan mengajak keduanya untuk makan bersama. Untungnya, Rebecca membeli sarapan dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga cukup untuk mereka bertiga.

Mereka duduk di meja makan, menatap hidangan masing-masing tanpa benar-benar berniat menyuapnya. Ketiganya tenggelam dalam pikirannya sendiri, suasana terasa canggung dan hening.

“Ekhm…” Rebecca berdehem pelan, berusaha menarik perhatian keduanya. “Kalian sudah baikan, kan?” tanyanya sambil tersenyum kikuk.

Jujur saja, Rebecca merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah situasi seperti ini. Jika Naya dan Lucio belum berdamai, ia ingin mencoba membantu mereka memperbaiki komunikasi keduanya yang menurut Rebecca sangat buruk.

“Kami nggak bertengkar,” jawab Naya singkat, tapi langsung disambut dengusan kasar dari Lucio.

“Ya, tentu saja tidak ada pertengkaran. Hanya saja, seseorang di sini bersikap kekanak-kanakan,” sindir Lucio.

Naya menatapnya dengan kesal, tapi memilih diam. Ia hanya menyendok supnya, memasukkan sendok demi sendok ke mulutnya sambil menahan amarah yang masih tersisa.

“Baiklah.” Rebecca mengangkat bahunya dengan acuh, lalu menatap keduanya sambil bertanya, “Jadi, apa rencananya setelah ini?”

“Tentu saja mengamankan warisanmu, Naya. Mereka ingin melenyapkanmu, tentu saja dengan tujuan mengambil warisan ibumu.” Jawab Lucio. Ia sudah cukup lama meneliti kasus ibu Naya. Selama ini banyak hal yang masih abu-abu, namun setelah upaya pembunuhan terhadap Naya, Lucio mulai bisa menebak arahnya. Semua ini bermuara pada warisan ibu Naya yang menjadi sumber konflik dan bahaya.

“Siapa tahu kamu juga menginginkan hal yang sama,” celetuk Naya sambil menyipitkan mata. Rebecca langsung melotot ke arahnya, takut ucapan Naya memicu kemarahan Lucio. Rebecca belum siap menghadapi ledakan amarah Tuan muda itu.

“Kurasa hartaku lebih banyak,” balas Lucio dengan nada acuh, seolah tidak terpengaruh oleh sindiran Naya.

Mendengar itu, entah kenapa Naya merasa semakin kesal, hatinya berdesir antara frustrasi dan rasa ingin membantah.

“Oh, jadi Tuan Lucio tahu siapa pengacara yang mengelola warisan ibunya, Naya?” Tanya Rebecca dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.

Kening Lucio berkerut sejenak sebelum ia menjawab, “Ya, saya rasa itu paman kedua Naya.”

Naya dan Rebecca saling bertatapan, jelas ucapan Lucio berbeda jauh dari fakta yang mereka ketahui.

“Kurasa dia tidak sehebat itu,” bisik Rebecca mendekat ke Naya. “Dia bahkan tidak tahu apa-apa.”

Naya mengangguk pelan setuju. “Mungkin jaringan informasinya memang tidak terlalu bagus.”

Lucio memicingkan matanya, menatap tajam kedua wanita di depannya yang sedang saling berbisik.

“Sarapannya sudah selesai, ayo pergi,” kata Lucio sambil berdiri, padahal ia belum menyentuh sarapannya sama sekali.

“Kita nggak akan pergi sebelum kamu menghabiskan sarapanmu,” ujar Naya tegas.

Mendengar itu, Lucio kembali duduk dan menghabiskan sarapannya dengan cepat. Hal itu membuat Naya melotot heran, sejak kapan Tuan Lucio bisa menjadi seseorang yang begitu penurut?

Setelah menghabiskan sarapan, mau tidak mau Naya dan Rebecca terpaksa mengikuti Lucio.

Naya duduk di kursi belakang, tepat di samping Lucio, sementara Rebecca memilih duduk di depan bersama Mario yang bertugas menyetir. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi, tidak ada yang benar-benar ingin membuka percakapan.

Sekitar satu jam kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah firma hukum swasta yang tampak megah dan profesional.

Begitu turun dari mobil, Naya refleks menggenggam tangan Rebecca lebih erat, seolah mencari keberanian.

“Ada apa?” tanya Lucio yang sudah berjalan lebih dulu. Ia menoleh, menatap keduanya dengan kening berkerut karena mereka belum juga mengikutinya masuk.

Naya menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Ia saling melirik dengan Rebecca, mencari dukungan sebelum akhirnya berbicara.

“Se-sebenarnya warisan mama sudah lama diurus oleh papa Ardan,” ucap Naya akhirnya, suaranya sedikit bergetar.

Rebecca ikut mengangguk pelan, membenarkan.

“Ardan?”

Hanya satu nama itu yang keluar dari bibir Lucio, tapi cukup untuk membuat suasana langsung berubah. Rahangnya mengeras, sorot matanya menjadi tajam dan dingin. Lucio selalu bereaksi demikian setiap kali nama Ardan disebut.

Melihat ekspresi Lucio yang tiba-tiba berubah, Naya dan Rebecca langsung merasa gugup.

"Baiklah. Kita lakukan dengan cara kita, Mario." kata Lucio kemudian kembali masuk ke mobil.

"Aku agak takut, Nay," bisik Rebecca.

"kita ikuti saja." jawab Naya.

Naya dan Rebecca mengikuti Lucio. Mario melajukan mobilnya lagi, kali ini ke suatu tempat yang seharusnya tidak akan pernah lagi Naya datangi.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!