NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 31: "Bayang-Bayang Kabil: Ujian di Balik Takdir"

​Suasana pagi di Pesantren Al-Muammar, Kediri, selalu dimulai dengan simfoni yang khas: suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah, lantunan selawat dari pengeras suara masjid, dan aroma kopi yang menyeruak dari dapur umum. Di kediaman pribadi Zain, Shania sudah selesai menyiapkan sarapan sederhana. Namun, pikirannya masih tertinggal pada potongan kisah semalam.

​Zain masuk ke ruang makan dengan jubah cokelat mudanya, tampak segar setelah mengisi kajian subuh. Ia melihat istrinya melamun sambil mengaduk teh yang sebenarnya sudah larut sempurna.

​"Masih memikirkan Jabal Rahmah?" suara rendah Zain memecah lamunan Shania.

​Shania mendongak, lalu tersenyum tipis.

"Masih, Mas. Tapi aku jadi terpikir hal lain. Kalau pertemuan mereka begitu indah, kenapa setelah itu justru ada kisah tragis di antara anak-anak mereka? Bukankah mereka lahir dari cinta yang diperjuangkan puluhan tahun di padang pasir?"

​Zain menarik kursi, duduk di hadapan Shania.

"Cinta itu satu paket dengan ujian, Shania. Bahkan sejak sebelum kaki Nabi Adam memijak bumi, ujian itu sudah ada. Bukan hanya soal rasa, tapi soal ketaatan."

​Zain menyesap tehnya sedikit, lalu memulai kembali narasinya dengan gaya yang selalu berhasil membuat Shania merasa sedang berada di dalam mesin waktu.

"​Sujud yang Tertunda dan Sumpah Sang Pendendam"

​"Shania, sebelum ada Hawa, sebelum ada kita, ada sebuah peristiwa besar di surga. Saat Allah menciptakan Nabi Adam dari tanah, Allah memerintahkan seluruh penduduk langit untuk bersujud kepadanya. Bukan sujud menyembah sebagai Tuhan, melainkan sujud penghormatan."

​Zain menatap mata Shania dengan dalam.

"Semua bersujud, kecuali satu, Iblis. Ia sombong. Ia merasa api lebih mulia daripada tanah. 'Aku lebih baik darinya,' katanya. Kesombongan itulah, Sayang, yang menjadi racun pertama di alam semesta. Iblis diusir, tapi ia bersumpah akan menyesatkan Adam dan seluruh keturunannya—termasuk kita—hingga hari kiamat."

​Shania bergidik.

"Berarti, sejak awal kita memang sudah punya musuh yang tidak terlihat ya, Mas?"

​"Benar. Dan musuh itu tidak menyerang dengan pedang, tapi dengan bisikan. Ia masuk ke dalam hati, mencari celah di mana ego kita berada. Itu pulalah yang terjadi pada putra-putra Nabi Adam kemudian."

"​Takdir Silang dan Benih Hasad"

​Zain melanjutkan ceritanya sambil menyuap sepotong tempe goreng, namun nada bicaranya tetap tenang dan berwibawa.

​"Setelah turun ke bumi dan bersatu kembali, Nabi Adam dan Ibunda Hawa mulai membangun keluarga. Allah memberikan mereka keturunan yang unik. Setiap kali Hawa melahirkan, ia selalu melahirkan sepasang kembar: satu laki-laki dan satu perempuan. Hukum syariat saat itu adalah pernikahan silang. Putra dari kelahiran pertama harus menikah dengan putri dari kelahiran kedua, dan sebaliknya. Tidak boleh menikah dengan kembaran sendiri."

​"Lalu, di sinilah ujian itu datang lewat Qabil dan Habil," lanjut Zain.

​"Qabil, lahir bersama Iqlima yang sangat cantik. Sedangkan Habil lahir bersama Labuda yang wajahnya biasa saja. Berdasarkan aturan Allah, Qabil harus menikah dengan Labuda, dan Habil dengan Iqlima. Tapi Qabil menolak. Ia merasa lebih berhak atas kembarannya sendiri yang cantik. Hasad—iri hati—mulai membakar dadanya."

​Shania meletakkan sendoknya, ia mulai merasa sesak membayangkan awal mula konflik manusia.

"Hanya karena kecantikan dan ego, mereka berselisih?"

​"Dunia memang begitu, Shania. Terkadang kita merasa apa yang kita miliki tidak cukup, dan apa yang dimiliki orang lain tampak lebih menggiurkan. Nabi Adam, memberikan jalan keluar melalui kurban. Siapa yang kurbannya diterima Allah, dialah yang berhak. Habil yang tulus memberikan domba terbaiknya, sedangkan Qabil yang kikir hanya memberikan hasil tani yang buruk. Tentu saja, api dari langit menyambar kurban Habil sebagai tanda diterima."

"​Tragedi Pertama: Darah di Atas Bumi"

​Zain terdiam sejenak, memberikan ruang bagi Shania untuk meresapi ngeri yang mulai merayap.

​"Saat itulah, Iblis membisikkan kalimat yang mematikan ke telinga Qabil: 'Bunuhlah saudaramu, maka kamu akan tenang.' Di sebuah tempat yang sunyi, Qabil mengangkat batu besar. Habil, yang memiliki kekuatan fisik lebih besar, sebenarnya bisa saja melawan. Tapi ia memilih menjadi hamba yang bertakwa. Ia berkata, 'Jika kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah.'"

​"Dan terjadilah... darah manusia pertama tumpah ke bumi. Qabil membunuh Habil. Dunia yang awalnya tenang, tiba-tiba menjadi saksi sebuah dosa besar. Dan yang paling menyedihkan adalah setelahnya, Qabil kebingungan. Ia membawa jasad saudaranya berhari-hari, tidak tahu harus diapakan, sampai Allah mengirim seekor gagak yang menggali tanah untuk mengubur gagak lain. Di sana, Qabil menangis, menyesal, tapi semua sudah terlambat."

​Shania menyeka air matanya yang jatuh tanpa permisi.

"Nabi Adam, pasti sangat hancur, Mas. Kehilangan satu anak karena dibunuh oleh anak yang lain."

"​Belenggu Mahar dan Penjaga Hati"

​Zain berpindah posisi, kini ia duduk di samping Shania, menggenggam tangannya yang terasa dingin.

​"Itulah sebabnya, Shania... judul kisah kita bukan sekadar 'Membelenggu Liarmu'. Liar itu adalah nafsu kita, seperti nafsu Qabil yang ingin memiliki apa yang bukan haknya. Mahar itu bukan hanya harta, tapi simbol komitmen bahwa aku mengambilmu dengan kalimat Allah, untuk menjagamu dari bisikan-bisikan yang bisa merusak kita."

​Zain mendekatkan wajahnya, aroma sandalwood yang lembut dari pakaiannya menenangkan saraf Shania yang tegang karena cerita tadi.

​"Aku, menceritakan ini agar kamu tahu, bahwa dalam rumah tangga, akan selalu ada 'bisikan Qabil'. Kadang ada rasa bosan, kadang ada rasa iri pada pencapaian orang lain, atau rasa ingin menang sendiri. Tapi ingatlah Habil, yang memilih untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan."

​Shania menatap suaminya, kekagumannya tumbuh berlipat ganda.

"Mas Zain, selalu punya cara untuk mengingatkanku. Tapi... apakah kita akan selalu aman dari sifat itu?"

​Zain tersenyum misterius.

"Tergantung seberapa kuat 'tulang rusuk' ini mendekap jantungnya."

​Ia menarik Shania ke dalam pelukan hangat di ruang makan yang mulai terang oleh sinar matahari pagi.

"Qabil, kehilangan segalanya karena ia mengikuti egonya. Aku tidak ingin kehilangan apa pun, apalagi kamu, hanya karena ego yang tidak terkendali. Maka, bantulah aku untuk tetap menjadi 'Adam' yang menuntunmu, bukan 'Qabil' yang mengikuti kemauan sendiri."

​Kuis "Cemburu Buta"

​Setelah momen haru itu, Zain melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih mencubit kecil hidung Shania yang memerah di balik cadar.

​"Sudah sedihnya? Sekarang, untuk memastikan materi 'Antropologi Iman' pagi ini masuk ke memori jangka panjang, ada satu pertanyaan kuis."

​Shania menghela napas, setengah tertawa.

"Ya Allah, Mas... baru saja mau romantis, sudah keluar sifat Ustadz-nya. Iya, apa pertanyaannya?"

​Zain memasang wajah serius yang dibuat-buat.

"Qabil, membunuh Habil karena cemburu soal pasangan. Nah, seandainya ada seorang santriwati yang tiba-tiba memberiku kado berupa kitab langka dan tersenyum malu-malu padaku di depan gerbang, apakah kamu akan meniru cara Qabil yang menggunakan batu, atau cara Hawa yang menggunakan jalur diplomasi 'Gombalin Suami' agar aku lupa pada kitab itu?"

​Shania langsung membelalakkan matanya, ia berdiri sambil berkacak pinggang, membuat cadarnya bergoyang.

"Mas Zain! Itu namanya memancing di air keruh! Kalau ada santriwati yang begitu, aku tidak akan pakai batu, aku akan pakai jalur 'Istri Sah'—aku sita kitabnya, aku suruh dia hafalan Juz Amma bolak-balik sampai dia lupa nama, Mas Zain!"

​Tawa Zain pecah memenuhi ruangan. Ia berdiri dan mengusap kepala Shania dengan gemas.

"Jawaban yang sangat realistis. Tapi tenang saja, Sayang. Seindah apa pun 'Iqlima' di luar sana, pilihanku tetap pada 'Hawa'-ku yang satu ini. Karena hanya di sisimu, aku merasa surga itu tidak lagi terasa sepi."

​Malam mungkin telah berlalu dengan kisah romansa di Jabal Rahmah, tapi pagi ini, di bawah langit Kediri yang mulai cerah, Shania belajar satu hal lagi: bahwa cinta sejati bukan hanya soal bertemu, tapi soal bagaimana saling menjaga agar tidak ada darah dan air mata yang tumpah karena ego yang tak terbelenggu.

​"Mas, satu lagi," panggil Shania saat Zain hendak melangkah ke pesantren.

​"Apa lagi, muridku?"

​"Jangan pernah jadi gagak untukku. Jadilah matahari yang selalu memberitahuku ke mana arah pulang."

​Zain mengangguk, memberikan senyum terbaiknya sebelum hilang di balik pintu, meninggalkan Shania dengan hati yang penuh, sehangat mentari pagi yang menyinari bumi Kediri.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!