"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Dia Bukan Pengawalku
Reaksi Sylvie yang aneh dan saling bertentangan membuat Liam bingung.
Saat seseorang merasa malu, mereka seharusnya tidak merasa senang, bukan?
Lihat saja karyawan pria itu, wajahnya merah seperti tomat dan terlihat ingin bersembunyi di suatu tempat yang aman.
Nah, itulah reaksi yang Liam maksud.
Liam tidak bisa menahan diri untuk mengevaluasi kembali sesuatu.
Liam tidak menutup kemungkinan bahwa Sylvie sempat meremehkannya. Bahkan jika memang begitu, seharusnya dia merasa malu, bukan malah senang, kan?
Namun, Liam tidak punya waktu untuk memikirkan semua ini sekarang.
Dia masih harus menyelesaikan apa yang sudah dia mulai.
Dia mengabaikan Sylvie dan akhirnya kembali mengalihkan perhatiannya ke karyawan pria itu.
Saat melihat reaksinya, Liam tidak bisa menahan diri untuk mengangguk puas.
‘Nah, ini baru reaksi yang aku maksud.’
Karyawan pria itu memerah seperti tomat. Tangannya gemetar dan dia terus gelisah seolah tidak tahu harus berbuat apa.
Liam diam-diam tertawa melihat tingkahnya yang konyol.
"Kalian dapat komisi dari setiap barang yang kalian jual, kan?" tanyanya santai.
"I-iya, Tuan…" jawab karyawan pria itu dengan sopan.
Sikapnya sekarang benar-benar berbeda jauh dibanding sebelumnya.
Bagaimanapun juga, siapa yang tidak akan mengubah sikap terhadap seseorang yang memiliki kartu VIP dari Flyers Bank?
Bahkan memiliki rekening biasa di FLB saja sudah menjadi simbol kekayaan dan status. Dan sekarang orang ini bahkan punya yang VIP?
‘Selesai sudah. Hidupku mungkin sudah berakhir,’ pria itu merasa putus asa.
Soal keaslian kartu atm itu? Siapa yang berani memalsukan sesuatu seperti itu? Itu dari FLB. Kematian mungkin justru jadi hal paling ringan kalau ketahuan.
Sebagai karyawan di toko jam mewah, tentu dia tahu arti kartu seperti itu.
Bahkan jika bukan dari FLB, selama ada tulisan ‘VIP’, dia tetap tidak akan berani bernapas di udara yang sama dengan orang itu.
‘Selesai. Benar-benar selesai.’
Kali ini, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia baru saja menyinggung orang besar. Hidupnya mungkin sudah hancur.
Sayangnya, pria itu salah besar.
Hidupnya belum berakhir, Liam belum punya kemampuan—dan bahkan belum terpikir—untuk melakukan hal sejauh itu… setidaknya untuk sekarang.
Di sisi lain, setelah mendengar jawaban karyawan itu, Liam mengangguk.
"Baiklah."
Setelah itu, Liam melihat sekeliling dan melambaikan tangan ke salah satu karyawan lain.
Salah satu karyawan melihatnya dan mendekat perlahan.
"Ya, Tuan?"
Untungnya, karyawan kali ini memiliki sikap yang baik. Liam langsung memiliki kesan pertama yang bagus padanya.
"Ambilkan jam itu untukku," katanya sambil mengayunkan kartu atm hitamnya dan menunjuk ke jam Patek Philippe Aquanaut di dalam etalase.
Melihat kartu atm hitam yang mewah dan terkenal itu, mata karyawan tersebut langsung berbinar seolah sedang melihat anaknya sendiri yang berprestasi di sekolah.
Sikapnya menjadi semakin antusias saat berkata, "Segera, Tuan!"
Sebenarnya, Liam sempat ragu membeli jam itu setelah melihat harganya. Namun pria tadi terus saja berbicara meremehkan di depannya.
Dia terus memandang rendah Liam dan memanggilnya pengawal. Liam akhirnya kesal dengan ocehannya, jadi dia memutuskan membeli jam itu hanya untuk membuatnya semakin malu.
Rencananya berhasil, dan pria itu sekarang meringkuk di sudut sambil memikirkan nasib hidupnya.
Di saat yang sama, Liam menyadari sesuatu dari ejekan karyawan tadi.
Mungkin salah satu alasan Sistem memberinya uang adalah untuk situasi seperti ini.
Uang itu diberikan untuk mempermalukan dan membalas orang-orang seperti ini.
Dia harus membuktikan bahwa mereka salah dan menempatkan mereka pada posisi yang seharusnya.
‘Hmm?’
Saat karyawan lain dengan senang hati mengambil jam dari etalase, dan sementara yang satu lagi menyesali perbuatannya, Liam tiba-tiba memikirkan sesuatu lalu menoleh ke arah Sylvie.
‘Jadi, pemahamanku tentang tamparan wajah tadi salah? Tamparan wajah bukan hanya mempermalukan orang. Lebih seperti membuktikan bahwa mereka salah dengan menunjukkan bahwa aku memang bisa melakukannya.’
‘Mungkin Sylvie tadi hanya ragu bahwa aku tidak mampu membayar jam ini, lalu ketika dia melihat kartu VIP, pendapatnya berubah karena aku membuktikan bahwa asumsinya salah?’ pikir Liam.
Jika memang begitu, itu bisa menjelaskan kenapa dia juga dipermalukan meskipun jelas tidak meremehkan Liam.
Soal dia terkena secara diam-diam, mungkin karena dia hanya memikirkannya dalam hati, bukan mengatakannya secara langsung.
Namun, Liam tetap tidak bisa melupakan senyum senang Sylvie yang aneh tadi.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Liam setelah melihat pipi Sylvie masih merah.
Sylvie perlahan mengangguk. Fakta bahwa Liam memiliki kartu VIP dari FLB benar-benar mengejutkannya.
Namun, alih-alih bereaksi seperti karyawan pria tadi, dia justru merasa senang karena itu semakin membuktikan bahwa dugaan dirinya tentang Liam sebagai sosok misterius ternyata benar.
Fantasi yang sempat dia kira runtuh, ternyata sama sekali tidak goyah. Bahkan justru semakin kuat.
"Baiklah, terima kasih atas rekomendasimu," kata Liam sambil tersenyum dan berjalan menuju karyawan yang sudah berada di kasir.
Soal asumsi Sylvie sebelumnya, Liam memutuskan untuk tidak membahasnya.
Lagipula, dia adalah pemandunya saat ini. Dan itu hanya sekadar dugaan yang tidak pernah dia ucapkan. Dia juga tidak meremehkan Liam, jadi rasa hormat Liam terhadapnya masih tetap ada.
Setidaknya, dia berharap itu tetap seperti itu untuk waktu yang lama.
…
Setelah Liam pergi, ekspresi senang Sylvie berubah menjadi dingin saat dia menatap karyawan pria itu.
Pria ini telah membuatnya meragukan Liam. Dia tidak senang dengan hal itu. Hampir saja itu merusak segalanya. Fantasi yang dia harapkan sejak kecil nyaris hancur.
Tatapan tajamnya membuat karyawan itu gemetar.
‘Apa ini? Aku sudah menyinggung orang besar, sekarang aku juga menyinggung Nona Sylvie?’
"Kau tidak pantas menjadi karyawan di toko jam mewah ini. Ajukan pengunduran dirimu secepatnya sebelum semuanya terlambat."
Setelah mengatakan itu dan sedikit meluapkan emosinya, Sylvie berbalik dan berjalan menuju kasir tempat Liam sedang membayar jam tersebut.
Namun sebelum melangkah dua langkah, dia tiba-tiba berhenti dan kembali menoleh ke arah karyawan pria itu.
"Dan satu lagi, perlu kau tahu. Dia bukan pengawal-ku."
Mendengar itu, karyawan pria itu hanya bisa menangis dalam diam. Dalam hatinya, dia tidak bisa menahan diri untuk mengumpat, ‘Sialan kau. Tentu saja dia bukan pengawalmu. Mana mungkin pengawal-mu sekaya dan sekuat itu?’
‘Kalau saja kau menjelaskan dari awal, semua ini tidak akan terjadi.’
Karyawan pria itu sambil mengutuk dalam hati: ╥﹏╥