Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang.
Tidak ada lagi pertengkaran terbuka.
Mereka menjaga sikap, terutama saat berada di depan ibunya.
Purbaya tetap bersikap seperti biasa.
Eva juga menyesuaikan diri.
Percakapan terjadi seperlunya. Tidak ada yang berusaha memancing konflik.
Di luar, mereka terlihat baik-baik saja. Namun di dalam kamar, suasananya berbeda. Beberapa kali mereka hampir membahas masalah itu.
Tatapan yang terlalu lama. Kalimat yang hampir terucap.Tapi selalu berhenti di tengah. Mereka sama-sama tahu, ini bukan waktu yang tepat. Sedikit saja emosi lepas, suara bisa terdengar keluar. Dan itu yang ingin mereka hindari.
Akhirnya, tanpa perlu banyak bicara, mereka sepakat menunda. Menunggu sampai ibunya pulang.
Hari-hari berikutnya dijalani seperti rutinitas biasa. Ibunya Purbaya perlahan membaik. Kondisinya sudah cukup stabil untuk kembali.
Beberapa hari kemudian, diputuskan, ibunya ingin pulang. Purbaya mengantarnya sampai ke rumahnya di Cirebon, menggunakan kereta api.
Perjalanan berjalan lancar, tidak banyak percakapan penting.
Sesampainya di sana, Purbaya membantu ibunya turun dari kereta. Ia memastikan semuanya aman.
Setelah itu, ia tidak lama tinggal. Keesokan harinya, ia langsung kembali ke Jogja. Karena Senin ia sudah harus mulai aktif lagi di kampus.
Dan kali ini--tidak ada lagi alasan untuk menunda pembicaraan yang sempat mereka hindari.
*
Malam itu, kamar terasa lebih sunyi.
Noya sudah tertidur pulas di kamarnya.
Tidak ada suara lain selain napas yang tertahan di antara mereka.
Eva duduk di ujung ranjang. Purbaya berdiri tidak jauh darinya. Jarak itu... terasa jauh.
Eva membuka suara lebih dulu. “Siapa nama perempuan itu?” Langsung. Tanpa pengantar.
Purbaya tidak menjawab. Tatapannya turun sebentar, lalu diam.
Eva mengangguk kecil. “Ya sudah,” katanya pelan. “Kalau Mas nggak mau jawab.”
Ia mengangkat wajahnya lagi. “Sekarang Mas maunya apa? Setelah semua ini... setelah Mas mengakuinya?”
Purbaya langsung menatap. “Aku nggak mengakuinya.”
Eva tersenyum tipis. Tidak percaya.
“Lho, kemarin Mas nggak menyangkal,” balasnya. “Itu sama saja."
Purbaya menggeleng.
“Itu beda.”
Eva menatap lebih tajam. “Kenapa kamu nggak bisa jujur, Mas?”
Nada suaranya masih ditahan.
Tapi jelas--ini bukan lagi sekadar bertanya.
Purbaya menghela napas panjang.
Tangannya mengusap wajahnya sebentar.
“Karena semuanya nggak sesederhana itu, Va.”
Eva langsung menyela.
“Sesederhana apa lagi? Kamu sama perempuan lain. Itu saja.”
Purbaya mengangkat pandangannya lagi.
“Aku nggak bilang itu benar.”
“Tapi kamu juga nggak bilang itu salah,” potong Eva cepat.
Hening.
Purbaya akhirnya duduk, menjaga jarak.
“Aku capek, Va,” ucapnya pelan. “Capek dengan keadaan kita yang seperti ini terus.”
Eva tidak bergerak.
“Aku juga capek,” balasnya. "Tapi aku nggak lari ke orang lain.” Kalimat itu langsung mengenai.
Purbaya terdiam.
“Kalau memang ada,” lanjut Eva, “bilang saja. Aku cuma butuh kejujuran.”
Purbaya menunduk. Lama.
Seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini ia tahan.
“Aku...” ia mulai bicara, tapi berhenti.
Menarik napas.
Lalu akhirnya-- “Aku dekat sama seseorang.”
Kalimat itu keluar pelan.
Eva tidak langsung bereaksi. Hanya diam.
Menerima. Dengan cara yang tidak terlihat.
“Namanya Alya,” lanjut Purbaya. Sekarang tidak ada lagi yang ditutupi.
Eva langsung terdiam beberapa detik.
Nama itu... tidak asing.
Alya.
Wajah perempuan yang datang ke rumah itu langsung terlintas di kepalanya. Yang diperkenalkan sebagai “asisten”.
Eva mengangkat wajahnya perlahan. “Jadi... dia,” ucapnya pelan.“Perempuan yang kemarin datang ke rumah?”
Purbaya tidak menjawab. Namun diamnya kali ini... berbeda. Tidak ada bantahan.
Eva mengangguk kecil. Seolah menguatkan pikirannya sendiri.
“Iya... orang yang sama, kan?”
Purbaya akhirnya menarik napas panjang.
“Iya.”
Satu kata. Cukup untuk menjatuhkan semuanya.
Eva tertawa kecil.
Pendek.
Tapi pahit.
“Hebat ya, Mas..” katanya. “Dibawa sampai ke rumah. Dikenalin ke aku.“Sebagai asisten lagi.”
Purbaya menegang.
“Itu nggak seperti yang kamu pikirkan--”
“Terus seperti apa?” potong Eva cepat.
“Sekarang kamu bilang kamu ‘dekat’ sama dia. Jadi yang mana yang harus aku percaya?”
Suaranya mulai naik.
Purbaya berdiri. “Aku nggak mau ini jadi drama, Va.”
“Ini bukan drama!” balas Eva. “Ini kenyataan!”
Hening sejenak, tapi tegang. Eva melangkah mendekat.
“Jawab satu lagi,” katanya, menekan setiap kata. “Kamu sama dia... di hotel itu?”
Purbaya menutup mata sebentar. Seolah itu pertanyaan yang paling ia hindari.
“Mas...” suara Eva lebih rendah sekarang, tapi justru lebih menekan.
“Jawab.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu--
“Iya.”
Dan langsung menghancurkan sisa ruang yang masih tersisa di antara mereka.
Eva tidak bergerak. “Berarti... semua benar,” ucapnya pelan.
Ia mengangguk kecil.
Seolah sedang menyusun ulang semuanya di kepalanya.
“Berarti temanku benar.”
Purbaya mencoba bicara.
“Va, dengar dulu--”
“Cukup.”
Satu kata.
Tegas.
Eva mundur satu langkah.
“Jadi... kalau sudah begini,” ucapnya pelan,
“untuk apa rumah tangga ini dipertahankan?”
Purbaya menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi.
“Kita perbaiki hubungan ini, Va,” ucapnya pelan. “Aku akan perbaiki diri.”
Kalimat itu terdengar serius.
Udah, Mas. Nggak usah ngomong soal perbaiki diri.” Suaranya tetap rendah.
“Aku tidak marah lagi, Mas.”
Purbaya mengerutkan kening.
“Aku juga tidak membenci kamu.”
“Tapi justru itu... aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.”
Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap. “Kadang, yang paling benar bukan bertahan... tapi berhenti.”
Hening.
“Aku mau kita berpisah baik-baik.”
Purbaya terdiam.
Eva menatapnya lurus. “Masalahnya kamu sudah berhubungan in tim dengannya.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu.
“Dek,” ucapnya.
Eva menoleh.
“Aku minta kita hadapi ini dengan kepala dingin.” Nada suaranya lebih seperti mengarahkan.
“Jangan emosi yang memimpin keputusan kita.”
Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata terdengar.
“Ini bukan hanya tentang kamu atau saya.”
"Kita punya Noya.” Kalimat itu diucapkan lebih dalam. “Dia butuh kita dalam keadaan utuh. Bukan dalam kondisi saling menjatuhkan.”
Hening sejenak.
Purbaya melanjutkan, tetap dengan nada yang sama--
“Karena itu, aku minta... kita sama-sama menahan diri dulu. Cooling down.”
Ia mengakhiri kalimatnya tanpa tergesa.
“Kita ambil keputusan saat semuanya lebih jernih.”
Suasana diam.
Eva berdiri tegak, tanpa ragu sedikit pun.
“Aku tidak mau serumah denganmu lagi, Mas.”
Tidak ada getar. Tidak ada tawar-menawar.
Purbaya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil--seolah keputusan itu sudah ia duga sejak lama.
“Baik.”
Satu kata. Singkat, tapi berat.
Ia menghela napas pelan.
“Aku yang akan keluar dari rumah ini untuk sementara.”
Eva tidak terkejut. Itu memang seharusnya. Rumah ini bukan milik Purbaya.
“Kita sama-sama butuh jarak. Supaya tidak terus saling melukai dalam keadaan seperti ini,” lanjut Purbaya, tetap dengan nada tenang dan terukur.
Lalu ia menatap lebih dalam.
“Tapi ada satu hal yang tidak bisa ditawar.”
Hening.
“Noya tidak boleh tahu tentang ini.”
Nada suaranya berubah sedikit--lebih tegas. “Aku tidak mau dia tumbuh dengan rasa bahwa keluarganya sedang runtuh.”
Eva menarik napas pelan, lalu menjawab tanpa emosi berlebih. “Aku tidak akan melarang kamu bertemu dia.”
Purbaya mengangguk. “Dan aku akan tetap datang untuknya.”
Jeda sejenak.
“Jangan pernah halangi itu, Eva.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak lagi sebagai pasangan--tapi sebagai dua orang tua yang sama-sama keras kepala.
Sunyi kembali turun.
Kali ini, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.
Yang tersisa hanya jarak... yang akhirnya benar-benar nyata.
kepeleset lagi kamu!!
makanya mikir itu pake otak.. bukan otot!!
mengaku paling benar..haus validasi 🙄🙄
hayyo mas irgi segera HALAL kan saja bu Eva..biar tambah gila itu pak dosen 🤣🤣