"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 30
Sarapan pagi itu terasa berbeda. Udara di ruang makan mansion Barata terasa lebih hangat, lebih hidup. Nyonya Athaya duduk di ujung meja dengan senyum tipis yang tidak bisa dia sembunyikan, sementara Rania--yang baru pulang dari luar kota semalam--menatap Seno dan Indira dengan tatapan penuh arti.
"Kalian berdua... ada yang berbeda," kata Rania sambil menyeruput teh hangatnya, matanya menyipit dengan senyum jahil.
Indira hampir tersedak jus jeruknya. Wajahnya langsung memerah. "T-tidak ada yang berbeda, Kak."
"Bohong," Rania terkikik. "Wajah kamu merah, terus dari tadi nggak berani lihat Seno. Dan Seno..." dia menoleh ke arah adiknya, "kamu senyum-senyum sendiri dari tadi. Aneh banget."
Seno hanya memutar bola matanya, mencoba terlihat cuek meski ujung telinganya sedikit memerah. "Kakak ini cerewet banget pagi-pagi."
Nyonya Athaya tertawa kecil. "Sudahlah, Rania. Jangan ganggu mereka. Biarkan mereka menikmati kebahagiaan mereka."
Rania mengedipkan mata nakal. "Baik, Nek. Tapi aku senang kok melihat kalian berdua seperti ini. Akhirnya rumah ini terasa seperti rumah yang sesungguhnya."
Indira tersenyum kecil, merasakan kehangatan yang melingkupi meja makan itu. Untuk pertama kalinya, dia merasakan bagaimana rasanya sarapan bersama keluarga yang benar-benar peduli padanya.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Raka tiba-tiba masuk ke ruang makan dengan wajah serius. "Tuan, maaf mengganggu. Ada perkembangan penting."
Seno langsung menegakkan tubuhnya. "Apa?"
"Polisi sudah melakukan penangkapan terhadap Bayu pagi ini. Dia sedang dalam perjalanan ke kantor polisi sekarang," lapor Raka dengan nada profesional.
Indira meletakkan sendoknya dengan perlahan. Wajahnya memucat, tangannya sedikit gemetar.
Seno langsung menggenggam tangan Indira di bawah meja, memberikan kekuatan.
"Dan yang kedua," lanjut Raka, "Pak Baskoro dan Bu Rukmini juga dipanggil untuk pemeriksaan sore ini. Terkait dugaan penggelapan dan penyuapan."
Nyonya Athaya menghela napas pelan. Rania menatap Indira dengan tatapan prihatin.
Indira menarik napas panjang, berusaha menguatkan dirinya. "Kapan... kapan aku harus ke kantor polisi?"
Raka melirik Seno sekilas sebelum menjawab. "Polisi meminta Nyonya datang sebagai saksi, tapi bukan hari ini. Kemungkinan besok atau lusa."
"Aku akan ikut," kata Seno tegas. "Kamu nggak akan sendirian."
Indira menoleh, menatap Seno dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih."
Rania ikut menambahkan. "Aku juga akan ikut. Kita semua akan mendukungmu, Indira."
Nyonya Athaya mengangguk setuju. "Benar. Kamu sekarang bagian dari keluarga Barata. Apapun yang terjadi, kita menghadapinya bersama."
Indira tidak bisa menahan air matanya lagi. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata haru. Dia tidak pernah merasa sebegini dihargainya.
...----------------...
Sore harinya, Seno harus ke kantor untuk menangani beberapa urusan penting. Indira memutuskan untuk pergi ke rumah sakit--bukan untuk bekerja, tapi untuk menemui Keano. Dia butuh sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan pahit tentang keluarganya.
Begitu sampai di ruang perawatan anak, Keano langsung berteriak girang.
"Bu Indira!" bocah itu melompat dari ranjangnya--meski agak sempoyongan--dan langsung memeluk Indira dengan erat.
Indira tersenyum, memeluk balik tubuh kecil itu. "Halo, sayang. Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik! Kata dokter, aku bentar lagi bisa pulang!" seru Keano dengan mata berbinar.
Adrian yang kebetulan ada di sana tersenyum melihat mereka. "Hasil lab terakhir Keano bagus sekali. Dokter bilang kalau tidak ada komplikasi, minggu depan dia sudah bisa pulang."
Indira merasa dadanya menghangat mendengar kabar baik itu. "Syukurlah."
Adrian menatap Indira dengan lebih teliti. "Kamu... kelihatan lelah. Ada masalah?"
Indira menggeleng cepat. "Tidak. Cuma... banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini."
Adrian mengangguk paham, tidak bertanya lebih lanjut. "Kalau kamu butuh teman ngobrol, aku siap dengar."
"Terima kasih, Adrian."
Keano menarik tangan Indira. "Bu Indira, main sama aku, yuk! Om Adrian bawa puzzle baru!"
Indira tertawa kecil, lalu duduk di lantai bersama Keano dan Adrian. Mereka bermain puzzle selama hampir satu jam, dengan Keano yang cerewet terus bercerita tentang mimpi-mimpinya setelah sembuh nanti.
Di tengah keceriaan itu, ponsel Indira bergetar. Ternyata ada pesan dari Seno.
("Kamu dimana? Aku jemput sebentar lagi.")
Indira tersenyum kecil sambil membalas.
("Di rumah sakit. Main sama Keano.")
Tidak sampai lima menit, Seno sudah membalas lagi.
("Tunggu aku disana. Jangan pulang duluan.")
Indira menggeleng geli. Seno jadi sangat protektif sejak kemarin.
Tidak lama kemudian, Seno benar-benar datang. Dia masuk ke ruang perawatan Keano dengan jas kantor yang masih rapi, tapi wajahnya terlihat lelah.
"Om Seno!" Keano langsung berlari--atau lebih tepatnya berjalan cepat--menghampiri Seno.
Seno tersenyum, mengangkat Keano dengan satu tangan. "Hei, bocah. Kamu sehat?"
"Aku sehat! Kata dokter aku bisa pulang minggu depan!" seru Keano bangga.
"Bagus. Nanti kalau sudah pulang, om ajak kamu main ke taman, ya."
"Janji?"
"Janji."
Keano tersenyum lebar, lalu Seno menurunkannya kembali. Bocah itu langsung berlari kembali ke Adrian yang sedang membereskan puzzle.
Seno menghampiri Indira, duduk di sampingnya. "Kamu baik-baik saja?"
Indira mengangguk. "Aku baik. Cuma... butuh refreshing sebentar."
Seno menggenggam tangannya. "Aku ngerti."
Adrian yang melihat interaksi mereka dari jauh hanya tersenyum kecil. "Kalian berdua... makin mesra aja," godanya.
Indira langsung merona, sementara Seno hanya menatap Adrian dengan tatapan datar--tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya.
***
Malam harinya, setelah makan malam bersama keluarga, Seno dan Indira kembali ke kamar--kali ini, kamar Seno.
Indira sedikit gugup. Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar pribadi Seno. Ruangannya luas, dengan nuansa gelap yang maskulin. Ada rak buku besar di sudut ruangan, meja kerja yang rapi, dan ranjang king size yang terlihat sangat nyaman.
"Kamu... yakin aku boleh tidur disini?" tanya Indira dengan suara kecil.
Seno tersenyum, menutup pintu di belakangnya. "Kamu istriku. Tentu saja boleh."
Indira menggigit bibirnya, wajahnya merona lagi.
Seno mendekat, memeluk Indira dari belakang. "Kamu gugup?"
Indira mengangguk jujur.
"Jangan," bisik Seno di telinganya. "Aku nggak akan macam-macam. Aku cuma mau tidur sama kamu. Itu aja."
Indira berbalik, menatap Seno dengan mata berbinar. "Kamu... janji?"
Seno mengecup kening Indira dengan lembut. "Janji. Aku akan tunggu sampai kamu benar-benar siap."
Indira tersenyum, lalu memeluk Seno dengan erat. "Terima kasih... karena selalu mengerti aku."
Seno membalas pelukan itu, menenggelamkan wajahnya di rambut Indira yang wangi. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," bisik Indira.
Mereka berdiri seperti itu untuk beberapa saat, hanya menikmati kehangatan pelukan masing-masing.
Lalu Seno melepaskan pelukannya, menarik tangan Indira menuju ranjang. Mereka berbaring bersama, dengan Seno memeluk Indira dari samping.
"Seno?"
"Hmm?"
"Besok... aku harus menghadapi keluargaku lagi. Aku... aku takut aku nggak kuat."
Seno mengecup puncak kepala Indira. "Kamu kuat. Lebih kuat dari yang kamu kira. Dan ingat, kamu nggak sendirian. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Indira memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Seno yang memeluknya. "Aku percaya padamu."
"Dan aku nggak akan pernah mengecewakan kepercayaan itu," bisik Seno.
Malam itu, mereka tertidur dengan nyenyak--saling berpelukan, saling menguatkan.
Karena cinta yang tulus, selalu memberi kekuatan untuk menghadapi badai apapun.
*****
Sekarang mereka butuh kamu karena Suami mu kaya, okelah Kalau ibu tiri mu yg kejam dah biasa tapi ini bapak kandungmu sendiri kayak Fir'aun Wesss angelllll.
ultah pernikahan 10 th kok Arjuna SDH umur 12 yg 2 th ikut siapa tu😄