Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Siang itu, rumah masa kecilnya berdiri dalam keheningan megah, seolah waktu sendiri ikut melambat di balik dinding-dinding klasik dan ukiran antik. Di meja makan yang panjang, gelas kristal bersinar di bawah cahaya matahari yang menembus jendela tinggi. Gelas-gelas itu berkilau, sama seperti senyum istrinya—Tara—yang duduk di sisinya, tampak bahagia.
Hamish ikut tersenyum. Tapi tidak semuanya nyata.
Ia menyuapkan potongan ikan panggang ke bibir Tara, lalu tertawa kecil saat wanita itu pura-pura menolak lalu membuka mulut juga akhirnya. Sebuah adegan yang di mata orang lain—atau mata ibunya yang sejak tadi melirik dari ujung meja—terlihat seperti kebahagiaan utuh. Tapi tidak dengan batinnya. Tidak dengan hatinya.
Hamish tahu benar, Tara bukan wanita bodoh. Istrinya adalah seorang psikiater yang tajam dan jeli, matanya selalu bisa membaca bahasa tubuh, ekspresi samar, bahkan getaran emosi yang tak terucap. Dan itulah yang kini mulai menyesakkannya. Ia tahu—Tara tahu.
Tahu bahwa hatinya mulai bergeser. Tahu bahwa pandangannya tak lagi sepenuhnya milik Tara.
Dan Ristyna... ibunya itu juga tak pernah lengah. Sejak muda, ibunya terbiasa memperhatikan, menganalisa, mencatat dalam diam. Matanya selalu awas, bahkan di balik senyum hangat dan suaranya yang selalu terdengar keibuan. Ia pasti menyadari sesuatu telah berubah dari putranya.
Jadi siang itu, Hamish memutuskan untuk memainkan perannya dengan hati-hati. Ia menciptakan kebohongan kecil yang manis—mencium pelipis Tara dengan lembut, menatapnya seolah Tara adalah dunia, menggenggam tangannya di bawah meja dengan sentuhan hangat yang nyaris manipulatif. Seolah dirinya masih pria yang sama, suami yang setia, lelaki yang hanya memuja satu wanita.
Namun hatinya... telah membelot jauh.
Ia menoleh pelan. Di seberang meja, Thania duduk dengan tubuh sedikit menyusut, seperti berusaha mengecilkan dirinya dari suasana yang terlalu bising. Gadis itu menyuap makanannya pelan, dan sorot matanya—entah bagaimana—menyimpan awan gelap yang tak biasa. Hamish menangkapnya.
Ada sesuatu yang terpancar di wajah Thania.
Bukan cemburu yang mencolok. Tapi luka kecil yang samar. Tatapan gadis itu seolah menjauh dari kenyataan di meja makan. Dan saat itu, Hamish bertanya dalam hatinya—apakah ia hanya berkhayal, atau... apakah Thania juga merasakan hal yang sama?
Sebuah ketertarikan terlarang, yang tak semestinya tumbuh.
Hamish menatap Thania lebih lama, meski hanya lewat sudut matanya. Gadis itu tampak polos, namun kehadirannya bagai pusaran air yang perlahan menyeretnya ke dasar yang lebih gelap. Dan ia tak bisa melawan.
Dalam diam, Hamish mengakui sesuatu yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri—Thania bukan sekadar keponakan. Tidak lagi. Ia telah menjadi pusat dari badai diam-diam di dalam dirinya. Sesuatu yang tumbuh dari celah waktu, dari perhatian-perhatian kecil, dari kebersamaan tanpa batas yang seharusnya tak pernah dibiarkan menjadi terlalu dekat.
Namun sekarang ia tak bisa mundur. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyembunyikannya. Dari Tara. Dari ibunya. Dan terutama... dari dirinya sendiri.
Hamish kembali tertawa kecil ketika Tara menyuapinya sepotong salad, lalu menggenggam tangan istrinya lebih erat—sekadar memastikan ibunya melihat itu. Tapi matanya kembali melirik ke arah lain.
Ke arah Thania.
Dan di balik semua suara piring dan sendok yang berdenting, hanya Hamish yang tahu bahwa meja makan megah itu menyimpan percakapan paling sunyi antara dua hati yang saling menghindari, tapi terus saling menemukan.
***
Mentari siang telah bergeser ke langit barat, menyisakan sinar keemasan yang menerobos masuk lewat kaca-kaca besar rumah klasik itu, dan memantulkan sinar hangat ke lantai kayu tua yang mengilap. Udara tetap sejuk, aroma kayu tua dan bunga-bunga segar masih membaur di setiap sudut.
Setelah memastikan Tara beristirahat di kamar—tertutup rapat di balik pintu dengan suara napas teratur—Hamish menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah tenang menuju lantai atas. Namun, perasaannya tak setenang itu, ada detak di dalam dadanya yang tak ia pahami sepenuhnya; sebuah gelombang yang semakin sulit ia abaikan setiap kali berada didekat gadis itu, tapi Hamish terus membiarkannya mengalir bebas dalam diamnya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu nama.
Thania.
Hamish berdiri di depan kamar tamu, dan mendapati pintu tidak tertutup sepenuhnya. Dari celah kecil itu, ia melihat Thania tengah berdiri di dekat jendela. Rambutnya terurai lembut, dan sinar matahari sore memantulkan warna madu pada helaian rambutnya. Wajahnya tampak senang, polos, tak dibuat-buat. Dan bagi Hamish, Thania selalu terlihat semakin cantik disetiap kali ia memandanginya.
Gadis itu sedang memotret dirinya sendiri—tidak dengan gaya berlebihan, tidak pula dengan tingkah laku remaja yang dibuat-buat. Hanya sederhana. Tapi dari cara Thania tersenyum ke arah kameranya sendiri, dari caranya menengadahkan wajah agar terkena sinar matahari, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat waktu seolah melambat.
Hamish mengetuk pelan. "Thania." Panggil Hamish.
Gadis itu berbalik dengan gerakan spontan, dan senyum itu muncul lagi. Murni. Hangat. Dan tanpa sadar, Hamish membalasnya.
"Oh—paman. Aku tak sadar kau datang." Thania merasa sedikit terkejut.
"Aku lihat kau sedang sibuk jadi model." Gurau Hamish ringan, meski suaranya terdengar agak serak oleh sesuatu yang ia sembunyikan.
Thania terkikik pelan. "Kau tahu... kamar ini sangat cantik. Aku ingin menyimpan kenangannya."
Hamish melangkah masuk. Ada ruang dalam dirinya yang tiba-tiba terasa penuh.
Hamish tersenyum, "Mau kufotokan?" Tawarnya.
Thania tersenyum lebih lebar. Matanya sedikit membulat. "Bolehkah, paman?"
"Iya. Sini, paman fotokan. Berdiri di dekat jendela, cahayanya bagus."
Dengan sedikit kikuk, Thania kembali berdiri di posisi semula. Hamish mengambil ponsel dari tangan gadis itu, dan seketika menjadi 'fotografer'. Tapi dalam hatinya, ia bukan sedang memotret Thania. Ia sedang mengabadikan sesuatu yang jauh lebih dalam: kegembiraan polos, pesona yang tak dibuat-buat, dan cahaya yang terpancar dari gadis yang belakangan ini kerap memenuhi pikirannya secara diam-diam.
Hamish menekan tombol beberapa kali. Setiap jepretan adalah penyerahan batin—ia mengizinkan dirinya terpikat, bahkan hanya untuk sejenak. Ia tahu, batas itu jelas. Ia tahu garis moral itu tidak kabur. Tapi yang tak bisa ia bohongi adalah fakta bahwa, saat ia melihat senyum Thania di layar ponsel, hatinya bergetar lebih dari yang seharusnya.
Dan Hamish terdiam beberapa detik. Jari-jarinya kembali bergerak, kali ini mengambil satu foto lebih dekat—wajah Thania, penuh cahaya, mata yang berbinar dan senyum yang... terlalu menggetarkan.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Thania sambil menghampiri.
Hamish memalingkan layar ponsel padanya. "Cantik sekali." Gumamnya jujur.
Thania mendekat, menatap layar. Ia tertawa pelan, malu-malu.
"Kau hebat memotret."
Hamish membalas tersenyum, lebih lembut kali ini. "Atau mungkin wajah sempurnamu yang memang terlalu indah, telah tertangkap dikamera."
Itu keluar begitu saja. Refleks. Dan Thania hanya tersenyum kecil, menunduk, wajahnya sedikit memerah. Tapi Hamish menangkap itu. Dan hatinya kembali berdentum, entah karena senangnya melihat Thania tersipu, atau karena rasa bersalah yang pelan-pelan menyusup dari balik pikirannya yang paling dalam.
Sesaat, hanya suara angin dari jendela yang masuk ke kamar itu. Keduanya diam, saling menyadari bahwa keheningan ini terlalu dalam untuk diabaikan.
Namun Hamish mengalihkan diri, menarik napas panjang, lalu mengulurkan tangannya seperti mengajak keluar.
"Bagaimana kalau... kau menepati janjimu untuk mendengarku bermain piano?" Katanya, kali ini lebih terkendali.
Thania menatap mata Hamish, dan mengangguk kecil. "Tentu. Aku ingin mendengarnya." Tangannya meraih uluran tangan Hamish, dan pria itu menggenggam tangan Thania dengan lembut.
Lalu mereka mulai melangkah keluar kamar bersama, dan untuk sesaat, dunia seperti mengecil hanya pada suara langkah mereka yang menyusuri koridor lantai atas—menuju sebuah ruang hangat, di mana melodi akan berbicara lebih jujur dari kata-kata.
Saat mereka berjalan berdampingan ke ruang piano, Hamish melirik gadis itu dari sudut mata. Ada sesuatu dalam langkah Thania—bebas, ringan, seperti musim semi berjalan di sampingnya. Dan saat itu, Hamish tahu satu hal:
Ia sedang jatuh. Bukan hanya karena Thania cantik, bukan hanya karena timbal balik perhatian gadis itu tulus dan murni. Tapi karena Thania membuatnya merasa... hidup. Sesuatu yang tak lagi ia rasakan bersama Tara—yang kini lebih terasa seperti kenangan indah yang perlahan memudar warna.
Tapi Thania? Thania adalah warna yang kembali muncul... dan Hamish tahu, ia sedang berdiri di ambang jurang yang tak boleh ia lompat. Tapi entah mengapa, hari itu... ia tak merasa ingin mundur.
.
.
.
.
.
.
To be continue.....
janga lupa likenya🥰