Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH SEMBILAN
Hari ini adalah hari di mana kami akan berangkat study tour. Sejak malam itu—malam ketika aku meminta izin pada Althaf—hubungan kami kembali membeku. Ia memilih diam, dan aku pun membalas dengan diam yang sama. Bahkan saat makan bersama di meja makan pun, suasana rumah seperti kuburan: hanya suara sendok beradu dengan piring, tanpa ada satu kata pun yang terucap. Kami duduk berhadapan, tapi seakan-akan ada dinding tak kasat mata yang memisahkan, menjauhkan kami lebih jauh dari sebelumnya.
Aku sempat menunduk, berharap ia akan sedikit melirik, atau sekadar menanyakan hal kecil, seperti “sudah siap study tour?” atau “jangan lupa jaga diri.” Tapi tidak. Tatapannya dingin, sibuk dengan pikirannya sendiri, seolah aku hanyalah bayangan samar yang kebetulan ada di hadapannya.
Di titik ini aku sadar, aku sudah lelah menunggu. Jika dia memilih diam, maka aku pun akan memilih jalan yang sama. Bukan karena aku tidak ingin bicara, tapi karena aku harus menjaga diriku sendiri. Aku tidak mau terus-menerus merasa seperti orang bodoh yang menanti perhatian dari seseorang yang hatinya mungkin sudah tidak lagi di sisiku.
Aku menarik napas panjang, mencoba meneguhkan diri. Kalau diam membuatnya nyaman, maka biarlah aku diam. Aku tidak akan memaksakan diriku pada seseorang yang bahkan tidak mau menoleh padaku.
Kupandangi meja makan itu sekali lagi, meja marmer dingin yang dulu sempat kuanggap simbol kemewahan, kini hanya terasa asing. Aku sadar, rumah ini, apartemen ini, semua yang menyilaukan mataku dulu… tak pernah benar-benar bisa membuatku merasa punya rumah.
Hari ini aku akan pergi, meninggalkan rumah ini untuk sementara. Anehnya, ada sedikit rasa lega menyelinap di dadaku. Setidaknya tiga hari ke depan aku tidak perlu berhadapan dengan tatapan dingin itu. Setidaknya untuk sementara, aku bisa bernapas tanpa merasa tercekik oleh keheningan yang mematikan.
Pagi itu aku sibuk menurunkan koper kecil dari kamar. Di dalamnya sudah kuberesi pakaian dan beberapa perlengkapan untuk tiga hari ke depan. Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai terdengar jelas di tengah keheningan rumah, membuatku sedikit canggung, seolah aku takut mengganggu seseorang yang bahkan sudah tidak peduli.
Di ruang makan, Mbok Mirna sudah menunggu dengan senyum hangatnya. Tangannya sibuk membungkuskan kotak kecil berisi camilan dan botol air mineral.
“Mbak Senja bawa ini ya, biar ada yang bisa dimakan di jalan. Perjalanan jauh lho, sayang kalau perut kosong,” katanya sambil menyelipkan beberapa roti ke dalam tas kecilku.
Aku tersenyum, senyum yang terasa lebih tulus karena hangatnya perhatian itu. “Terima kasih, Mbok. Mbok selalu ingat semuanya. Bahkan hal kecil begini pun Mbok nggak pernah lupa.”
Mbok Mirna menepuk pundakku pelan, matanya menatapku dengan kasih sayang yang selama ini jarang kutemukan dari orang yang seharusnya paling dekat.
“Saya cuma ingin Mbak sehat dan tenang. Kalau ada apa-apa, Mbak jangan sungkan hubungi saya ya. Nanti kalau kangen rumah, Mbak video call saja. Biar saya temani ngobrol.”
Perkataan itu membuat dadaku hangat sekaligus getir. Betapa ironisnya, aku lebih merasa punya keluarga dari seorang pengasuh rumah tangga daripada dari suamiku sendiri.
Aku mengangguk, mencoba menahan emosi. “Iya, Mbok. Mbok jaga diri juga di rumah. Jangan terlalu capek.”
Saat aku menarik koper menuju pintu, samar-samar kudengar suara langkah dari lantai atas. Mungkin Althaf. Hatiku berdebar sesaat, berharap ia akan turun, sekadar mengucapkan selamat jalan, atau paling tidak melirik ke arahku. Tapi tidak ada yang muncul. Hanya kesunyian.
Aku menelan ludah, lalu menarik napas panjang. “Aku pergi dulu, Mbok,” ucapku, kemudian melangkah keluar rumah. Angin pagi menyambutku, seolah mengingatkanku bahwa dunia di luar sana masih luas, tidak hanya terbatas pada tembok dingin rumah ini.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahku terasa ringan.
***
Begitu aku sampai di halaman kampus, mataku langsung menangkap Layla dan Revan yang sudah berdiri di dekat bus. Layla, seperti biasa, tampil mencolok dengan gaun floral cerah, topi bundar besar, dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya. Dia melambai heboh begitu melihatku.
“Senjaaa! Sini! Kita udah nungguin dari tadi!” serunya riang.
Tapi justru bukan Layla yang pertama membuat langkahku terhenti. Di sampingnya, Revan berdiri dengan gaya jauh lebih sederhana. Kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku, celana jeans biru yang nyaman, sneakers putih bersih, dan tas selempang hitam di bahunya. Rambutnya dibiarkan sedikit berantakan, tapi entah kenapa malah terlihat pas.
Revan tersenyum kecil sambil memasukkan satu tangan ke saku celananya, santai sekali—dan justru karena kesederhanaan itu, ada sesuatu dalam diriku yang berdesir. Aku menegakkan punggung, berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
“Eh, akhirnya datang juga si gloomy princess,” ucap Revan, nadanya santai tapi matanya menatapku tajam. “gue kira Lo bakal telat, soalnya wajah lo keliatan capek banget.”
Aku mengerjap, separuh tersinggung, separuh merasa diperhatikan. “Thanks ya, Rev. Emang selalu gitu? Nyindir dulu baru nyapa?”
Layla langsung terkekeh, menepuk bahuku. “Udah lah, Sen. Itu caranya Revan bilang dia khawatir. Biarpun mulutnya suka nyebelin.”
Aku mendesah pelan, mencoba tersenyum padahal hatiku masih terasa berat. Tapi entah kenapa, kehadiran Revan yang begitu santai—tanpa drama, tanpa dingin-dingin seperti Althaf—membuatku sejenak merasa lebih ringan.
Aku menyeret koperku pelan ke arah mereka. Bunyi roda koper yang berdecit di paving kampus terdengar mengganggu, membuatku semakin sadar kalau aku terlihat kikuk.
“Sen, koper Lo gede banget. Lo mau pindahan apa study tour sih?” Layla langsung heboh menatapku, matanya membesar dramatis. “Astaga, itu isinya apa aja? Jangan bilang Lo bawa setrikaan sama wajan segala?”
Aku mendengus, mencoba tersenyum. “Namanya juga perempuan, La. Kita harus siap sama semua kemungkinan. Lagian cuma kelihatan besar doang.”
Revan mendengarkan sambil mengangkat sebelah alisnya. Tanpa banyak bicara, dia maju satu langkah dan meraih gagang koperku. Gerakannya santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
“Kasih ke sini. Lo tinggal bawa tas aja. Kalau nggak, bisa-bisa lo udah capek duluan sebelum naik bus,” katanya datar, tapi entah kenapa terdengar… hangat.
Aku spontan menahan gagang koper itu. “Nggak usah, Rev. Gue bisa sendiri kok,” ucapku buru-buru, merasa pipiku sedikit panas.
Revan menatapku sekilas, tatapannya menusuk tapi tetap tenang. “gue tahu lo bisa. Tapi kenapa harus nyusahin diri kalau ada gue?”
Aku terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi sukses membuat darahku berdesir aneh. Buru-buru aku menunduk, takut Revan melihat mataku yang mendadak bergetar.
Layla berdiri di samping kami dengan ekspresi geli yang jelas-jelas ia tahan. “Ohhh… sweet banget ya. Boleh nggak gue foto? Biar gue upload ke grup kelas, kasih caption ‘romansa study tour dimulai dari koper’.”
Aku langsung melotot ke arahnya. “La!”
Revan hanya terkekeh kecil, lalu mendorong koperku ke arah bus. “Cepetan, princess. Kalau kita lama-lama di sini, keburu ditinggal sopir.”
Aku mengikuti langkahnya, masih dengan jantung yang berdetak tak karuan. Dalam hati aku membatin, Kenapa sih, cuma hal sepele kayak gini aja rasanya bisa bikin aku goyah?
Pak Aris berdiri tegak di depan barisan mahasiswa yang riuh, map cokelat di tangannya sudah terbuka. Suaranya lantang memotong kegaduhan.
“Baik, semuanya dengarkan! Karena ini perjalanan akademik, kursi sudah saya atur sesuai daftar. Tidak ada yang pilih-pilih sendiri. Bapak mau semuanya tertib, jadi ikuti arahan.”
Satu per satu nama dipanggil. Suasana jadi sedikit gaduh karena ada yang kecewa tidak bisa duduk bersama sahabatnya, ada juga yang justru bersorak gembira.
Ketika namaku disebut, aku langsung maju.
“Bus nomor satu, baris empat: Sekar Senjani Paramitha dan Rama Wijaya,” ucap Pak Aris tegas.
Aku sempat terdiam sejenak, lalu melangkah menuju bus. Rama, mahasiswa populer yang pintar dan aktif di kelas, sudah berdiri menungguku. Senyumnya ramah, membuatku agak kikuk.
“Sepertinya kita teman sebangku untuk study tour kali ini,” katanya sambil sedikit menyingkirkan ranselnya dari kursi.
Aku mengangguk sopan. “Iya, sepertinya begitu.”
Kami pun duduk bersebelahan. Jarak kursi yang sempit membuat kami otomatis duduk cukup dekat. Aku meremas tali tas di pangkuanku, mencoba mengusir rasa canggung.
Tak lama kemudian, suara Layla yang heboh terdengar dari belakang.
“Ya ampun, gue satu baris sama Revan! Yes! Study tour kali ini bakal seru banget!” serunya keras, membuat beberapa mahasiswa menoleh sambil tergelak.
Aku refleks menoleh ke belakang. Benar saja—Revan duduk di dekat jendela, dua baris di belakangku, sementara Layla menempati kursi di sampingnya. Namun yang membuat dadaku berdebar bukanlah ekspresi puas Layla, melainkan tatapan Revan.
Matanya menatapku lurus, tajam, menusuk—hanya sebentar, tapi cukup untuk membuatku terdiam. Detik berikutnya, ia cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura sibuk menyalakan musik di ponselnya. Namun aku tahu, ada sesuatu di balik tatapan itu.
Rama menoleh padaku, seolah menyadari aku agak gelisah.
“Kalau kamu butuh sesuatu selama perjalanan, bilang aja ya. Kita kan satu kursi, jadi biar lebih enak kalau bisa saling bantu,” ucapnya ramah.
Aku tersenyum tipis, meski hatiku tidak sepenuhnya tenang. “Iya, makasih, Rama.”
Aku menaruh tasku di pangkuan, mencoba duduk tegak di kursi sempit ini. Rama di sampingku tampak terlalu… akrab. Senyumnya ramah, tapi entah kenapa terasa berlebihan. Sesekali ia melirik ke arahku, lalu menghela napas panjang seolah ingin membuka percakapan.
“Akhirnya dapat teman duduk yang enak,” katanya sambil tersenyum lebar. “Soalnya kalau duduk sama cowok lain, biasanya rebutan space. Kalau sama kamu kan, lebih nyaman.”
Aku hanya membalas dengan anggukan kecil. Senyumku tipis, setengah dipaksakan. Dalam hati aku justru menghela napas.
Nyaman? Rasanya malah nggak nyaman sama sekali. Dia bahkan baru duduk sebentar tapi sudah bicara seolah-olah ini keuntungan besar buat dia. Kenapa sih harus ada embel-embel begitu?
Aku meremas tali tasku lebih erat. Mataku melirik keluar jendela, pura-pura sibuk memperhatikan mahasiswa lain yang masih berlarian menuju bus masing-masing. Tapi Rama tidak berhenti.
“Kamu bawa camilan nggak? Kalau nggak, nanti bagi-bagi aja ya, aku biasanya suka ngemil kalau perjalanan jauh,” katanya lagi, kali ini sambil mencondongkan badan sedikit mendekat.
Aku langsung menegakkan tubuh, memberi jarak sejauh mungkin di kursi sempit ini.
Ya Tuhan, ini baru duduk aja sudah begini. Aku paling nggak suka sama cowok yang terlalu cepat dekat, apalagi kalau kelihatan modus. Kenapa sih aku harus duduk sama dia, bukannya sama Layla atau Revan?
Aku melirik ke belakang tanpa sadar. Sekilas mata Revan tertangkap menatap ke arahku, tajam dan serius, sebelum buru-buru berpaling. Jantungku berdetak lebih cepat.
Kenapa aku malah berharap bisa tukar kursi?
Bus masih belum beranjak dari halaman kampus. Suara mahasiswa bercampur tawa riuh rendah, sementara aku masih mencoba menahan rasa tidak nyaman duduk di samping Rama yang terus saja melontarkan candaan yang menurutku lebih mirip modus murahan.
Tiba-tiba suara Pak Aris terdengar dari bagian depan, lantang dan penuh wibawa.
“Baik semuanya, sebelum kita berangkat, saya umumkan dulu. Seperti yang sudah dijelaskan dalam teknis, setiap bus akan didampingi oleh dosen dan pendamping dari pihak kampus. Jadi mohon kerjasamanya.”
Hening. Semua pasang mata otomatis tertuju pada beliau. Aku pun ikut menoleh, meski setengah hati.
“Di bus ini,” lanjut Pak Aris sambil melihat catatannya, “selain saya, akan ada Pak Bayu dari Prodi Pariwisata… dan satu lagi, pendamping lapangan yang akan mengawasi jalannya kegiatan—Pak Althaf.”