Katanya kisah cinta masa SMA itu paling sulit dilupakan, apakah mitos itu berlaku untuk Raina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agi si pemukul bola...
Aku dan Rayka sudah berada di UKS.
"Rain, sakit?" tanya Hana ketua PMR yang kebetulan sedang ada disana.
"Iya nih Han, mimisan dikit terus agak pusing dia" jawab Rayka.
"Yaudah aku ambilin obat, kamu sambil tiduran aja gih" kata Hana.
Akupun memperlihatkan screenshoot tweet-tweet dari akun Mauli dan Lian yang hampir berbarengan, foto box mereka yang baru dilakukan 3 bulan yang lalu dan semua hal yang mencurigakan.
"Parahsih kalo sampe si Lian selingkuh, kamu putusin aja langsung sih" saran Rayka.
"Iya ka, aku mikirnya juga gitu lagian kalo selingkuh kayanya hal yang gak bisa ditolerir. Kata Ibu, cowok lebih baik perokok dari pada tukang selingkuh. Obatnya selingkuh itu susah. Sekali mulai kecanduan" kataku sambil mengusap air mataku.
"Gapapa nangis aja Rain, jangan ditahan biar plong lagian berani banget Lian selingkuhin kamu" kata Rayka.
Hana terlihat keheranan dengan kami berdua, dia hanya mengisyaratkan tangannya pada obat yang sudah dia keluarkan dan dia taruh di meja. Lalu tak lama Hana bergegas sepertinya untuk kembali kekelas.
"Mending kalo dia selingkuhin aku, kalo posisinya aku orang yang pertama dan Mauli yang ketiga diantara kita sih gapapa aku gak dosa. Tapi gimana kalo kondisinya justru aku orang ketiga diantara mereka? Aku yang buat Lian selingkuhin Mauli? Aku yang dengan bodohnya ngutarain perasaan aku ke Lian duluan, mungkin Lian kasihan ke aku saat itu jadi dia maksain nerima aku. Atau mungkin karena Lian mau manfaatin kebaikan aku? Atau apa lagi ka?"....
Rayka menyadari kegelisahanku. Rayka tahu di posisi saat itu, dia bahkan tidak bisa memposisikan dirinya.
"Nanti sebentar aku panggil Reksa ya, kayanya kamu bakalan lebih tenang sama dia" jelas Rayka.
Raykapun meninggalkanku sendirian di UKS. Mungkin Rayka mau minta Reksa nemenin aku. "Tapi, Reksa kan lagi belajar mana bisa?" pikirku.
Setelah 10 menit berlalu, Rayka maupun Reksa tak muncul hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Dari kejauhan kulihat Reksa dan Rayka berjalan bersama menuju UKS.
"Rain, jangan dulu kekelas sih. Aku udah minta izin ke Bu Jerman ko" teriak Rayka.
"Rain, masuk yu ke UKS lagi" ajak Reksa.
Kami bertigapun masuk ke UKS yang kosong itu dan aku cuma tanpa ekspresi saja saat Rayka dan Reksa menatap dalam-dalam satu sama lain. Seolah meminta salah satu menanyakan keadaanku.
"Rain, aku tinggalin kamu berdua sama Reksa ya soalnya aku tadi izin mau manggil Reksa doang ke Bu Jerman" kata Rayka.
Aku cuma mengangguk saja tanda mengiyakan.
Reksa sekarang tersenyum seolah meminta aku untuk segera memeluknya dan menceritakan apapun yang mengganjal di hatiku saat itu, sama seperti kebiasaanku.
Akupun langsung memeluk Reksa, mencoba mengeluarkan sisa air mata yang tertahan diujung pelupuk. Merasakan bahwa pelukan inilah yang selalu menjadi tempat ternyaman setelah pelukan Ibu dan Ayahku.
"Aku mau ke Papua, aku mau serius ikut audisinya. Aku mau dispen lama! Aku mau lupain dia!" kataku merengek.
"Iya iya Rain, kamu boleh ke Papua kamu boleh sibuk dengan audisi itu, dengan kegiatan kamu di Pramuka bahkan dimanapun. Tapi inget jangan lari dari masalah! Selesein dulu yang harus kamu selesein! Rain, kamu harua dengerin Lian dulu. Rayka udah cerita garis besar masalah kamu ke aku tadi, tapi aku juga belum yakin kalo Lian bersalah disini. Kalian harus obrolin berdua semuanya!" saran Reksa.
"Emang Lian gak salah! Aku yang salah kepedean, bilang suka duluan ke dia, gatau malu. Bahkan mungkin aku orang ketiganya sa! Mereka udah foto box tiga bulan yang lalu, berarti Lian lebih dulu sama dia. Aku yang ngeganggu mereka sa!"....
Reksa menahan katanya, membiarkan aku mengeluarkan rasa kesalku sejadi-jadinya.
"Ya anggap aja sekarang kamu orang ketiganya, tapi kamu kan gak bisa sepenuhnya disalahin. Lian juga salah karena gak bisa milih salah satu!" kata Reksa.
Akupun terus menerus mengeluarkan unek-unek di kepalaku, membiarkan Reksa mencernanya perlahan dan sesekali mendengarkan Reksa memberikan saran sama seperti biasanya.
"Yaudah, sekarang aku anter kamu kekelas ya! Kamu harus bersikap biasa aja! Inget kamu ini udah dewasa ayo jangan ngambil jalan pintas yang bisa rugiin diri kamu sendiri kaya gini... Kamu harus selesein" ingat Reksa padaku.
Akupun kembali kekelasku begitupun Reksa yang terlihat berlari sambil melambaikan tangan.
Jam pelajaran Bu Jerman sudah selesai, sekarang tiba saatnya jam pelajaran olahraga.
"Rain, kamu mimisan?" tanya Robi yang sudah berada diluar kelas sepertinya untuk bersiap-siap berganti seragam.
"Iya nih bi haha pusing" jawabku sambil duduk disampingnya.
"Yaudah jangan ikut olahraga aja, nanti minta Rayka apa Joday yang ngizinin ke Pak Arab.
"Hmm iya" jawabku pasrah.
Lianpun terlihat berlari keluar kelas dan melihatku dengan penuh rasa cemas.
"Kamu kenapa? Kamu telat karena sakit lagi? Kenapa kamu gak izin aja? Lian telpon Ibu kamu ya sekarang minta Ibu jemput kamu kesini... Hmmm... atau Lian aja yang anter kamu pulang? Biar Lian izin ke Bu Sista diruang guru ya?" katanya tanpa jeda.
"Gak usah.. Aku baikan ko.." jawabku sambil berdiri dan masuk ke ruangan.
"Rain, kamu yakin?" tanyanya sambil memegangi tanganku.
"Yakin..." jawabku singkat.
Lian cuma terlihat keheranan saja mendengar dan melihat responku yang singkat-singkat seperti barusan.
"Lian ayo ganti baju keburu ada si Pak Arab" teriak Yogo.
Sebenarnya saat itu, Lian pasti ingin mengejarku dan mengobrol denganku bahkan mungkin menanyakan kenapa aku bersikap sedemikian ketus kepadanya barusan. Tapi, jam pelajaran olahraga sudah mepet dan Yogo juga sudah mengajaknya ganti pakaian.
"Gimana bisa kamu memburu aku dengan banyak pertanyaan kaya tadi, sementara aku ini cuma orang kedua buat kamu yan? Gimana bisa kamu bohong ke aku selama ini?" batinku.
Rayka sudah bersiap dengan seragam ditangannya dan melihatku dengan penuh rasa kasihan.
"Kamu duduk aja dikelas, biar nanti aku yang izin ke Pak Arab" katanya.
"Nggak ah, aku mau ikut olahraga aja biar segeer" jawabku.
"Yakin?" tanya Rayka.
"Iyalah" jawabku.
Selepas berganti pakaian, kamipun berkumpul di lapangan.
"Rain, bukannya sakit?" tanya Joday.
"Gak papa ko udah mending" jawabku.
Lian baris di barisan paling ujung saat itu, jadi aku tidak bisa melihat apalagi mengobrol dengannya.
Olahragapun dimulai....
Ternyata jam olahraga kami berbarengan dengan kelas 11 IPS 3 karena disisi lapangan yang lain, aku melihat Putri (teman ekskulku) sedang bermain bola voli.
Materi olahraga kelasku saat itu juga bola voli. Kami menjadi beberapa tim. Laki-laki dibagi menjadi dua tim begitupun dengan perempuan. Perempuan tentunya bermain dengan sesama perempuan lagi.
"Rain, ayo suit!" ajak Hasta.
"Ayok" jawabku.
Beberapa detik saat aku hendak melakukan suit untuk menentukan tim, aku merasa ada bola yang entah darimana datangnya dengan keras menghantam kepalaku. Seketika pandanganku menjadi nanar dan aku tidak ingat lagi kejadian selepas itu...
Beberapa saat kemudian...
Aku bangun dan menyadari bahwa aku sekarang berada di lobby khusus tamu. Rayka sedang memegangi bahuku dan tubuhku bersandar dipundaknya.
"Ka, kenapa aku disini?" tanyaku.
"Tadi kamu pingsan kena bola voli keras banget, sama anak kelas ips 3 yang sebelah kita itu. Kamu gak sadar ada kali 10 menitan. Pak Arab khawatir, jadi dia minta aku telpon orang tua kamu buat jemput kamu ke sekolah. Tuh Lian yang telponin, dia juga nunggu Ibu kamu di gerbang dari tadi." jelas Rayka.
Kepalaku masih pening, aku masih belum bisa mencerna cerita Rayka dan akhirnya aku hanya bilang "Oh" saja.
"Anak yang mukul bola itu cowok namanya Agi. Tadi dia hampir kena marah Lian loh, kalo bukan Yogo dan Roby yang nahan kayanya Lian udah emosi aja. Mana si Agi berani lagi gendong kamu ke UKS tanpa permisi dulu" jelas Rayka.
"Hah? Agi?" tanyaku.
(Agi kan sahabat kecil yang tempohari mengirimkan catatan di kolong mejaku. Menurut cerita Ayah dan Ibuku, Agi adalah tetangga kami saat rumah kami masih di kabupaten dulu)
"Iya tuh dia lagi duduk juga nunggu Ibu kamu, kayanya dia mau minta maaf deh. Gentle banget ya? Cakep juga loh anaknya badannya atletis haha" kata Rayka.
Aku melihat Ibu sudah ada didepan lobby dan masuk bersama dengan Lian.
"Rain, kamu gak kenapa-kenapa?" tanya Ibu langsung khawatir.
"Maaf tante, Agi gak sengaja mukul bolanya ke arah lapangan yang lagi dipake Raina..." kata Agi tiba-tiba masuk kedalam obrolan.
"Eh gi, jadi kamu yang lagi main? Haha iya musibah kan mana ada yang tahu" jawab Ibu.
Rayka dan Lian terlihat keheranan melihat interaksi Ibu dan Agi yang sepertinya sudah saling mengenal dan akrab begitu.
"Yaudah, Raina mau tante bawa pulang aja? Takutnya sekolah juga malah pusing kasian, mana Raina kan punya darah rendah juga jadi tante harus periksain dia ke dokter dulu gi" jelas Ibu.
"Iya bu, Lian minta maaf juga ya gak bisa jagain Raina. Padahal dari pagi Raina udah keliatan sakit juga, tadinya Lian mau telepon Ibu tapi karena satu dan lain hal akhirnya nggak jadi" jelas Lian.
("Hey...Lian.... Kamu belum tau aja penyebab semuanya ini kamu? Kalau kamu tahu, pagi tadi mood aku ancur gara-gara denger cerita tentang kamu dan cewek lain sampe aku gak konsentrasi dan kena pukul bola kenceng" gerutuku dalam hati..)
"Yaudah tante, kabarin Agi ya kalo ada apa-apa" kata Agi sambil salam kepada Ibu.
Akupun dibawa Ibu meninggalkan sekolah. Motorku, Ibu yang bawa dan sepanjang perjalanan ke rumah aku cuma memeluk Ibu erat-erat.
"Bu, kalo Ibu tau anak Ibu galau gak jelas kaya gini cuma gara-gara cowok... Ibu pasti marah kan? Maafin aku ya bu" batinku....
lanjuutttt
ditunggu feedbacknya 😍
ditunggu kunjungannya di :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU