Lucia seorang Gadis yang sangat mencintai Abraham bahkan ia meminta kedua orangtuanya untuk menetap di indonesia selama beberapa tahun, hingga akhirnya mereka bertunangan, di saat Lucia merasa Abraham akan jadi miliknya, ada satu kenyataan pahit yang Lucia terima saat itu, Abraham tidak menganggapnya sebagai seorang wanita melainkan Lucia di mata Abraham sudah seperti adik kandung.
Hal itu membuat Lucia kesal sekaligus marah, terlebih lagi Abraham mencintai orang lain.
Ia pada akhirnya menyerah pada takdirnya yang tidak bisa bersama Abraham, Lucia tidak ingin memaksa Abraham untuk bersama dengannya karena setiap manusia berhak untuk bahagia dengan pilihannya sendiri.
" Kak Abraham jangan pernah berpikir untuk mendapatkan cinta dariku lagi perasaanku kepadamu sudah hilang di telan waktu,"
"Kau selamanya Milikku Luc, jangan berpikiran untuk menikah dengan orang lain selain denganku, maaf telah melukai perasaanmu selama ini," ucap Abraham sambil menggendong tubuh lucia menuju kamar hotel.
Selamat membaca.
Salam dari Author alay & gila. 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChanHun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
" Jangan Mengganggunya"
Satu hari menjelang pernikahan Lucia masih saja pergi kampusnya ia menyelinap keluar dari kamarnya tanpa sepengetahuan dari keluarganya.
Lucia keluar melalui jendela kamarnya menggunakan tangga yang sudah di persiapkan sebelumnya.
" Huh.. Bisa gawat jika ketahuan, untuk tadi aku sudah memberikan tugas untuk para Bodyguard papa"
Ujar Lucia menghela nafasnya ketika sudah berada di luar pekarangan rumahnya.
Lucia menaiki Taxi yang sempat lewat di hadapannya lalu tidak sampai dua puluh menit Ia sampai dengan selamat di kampus.
Dari kejauhan Abraham yang sempat mengikuti jejak Lucia dari rumah hingga sampai di kampus.
" Aku harus mengatakan segalanya kepada lucia sebelum terlambat ini juga kesempatan yang bagus tidak ada dua orang itu yang selalu mengikutinya.."
Guman Abraham mengejar Lucia.
Abraham memanggil-manggil Lucia yang terus berjalan terburu-buru.
"Lucccc...! Luc.. "
Panggil Abraham tidak mendapat respons.
"Lucia berhenti.. "
Dengan lantang Abraham memanggil nama Lucia.,
seketika itu juga Lucia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah orang yang memanggil namanya seolah ia sangat kenal dengan suara itu.
Mata bulat lucia terbelalak melihat orang yang memanggilnya..
"Kak Abraham kenapa ia bisa berada di sini"
Ucap Lucia pelan.
Lucia masih mematung di tempat tidak menyadari bahwa Abraham sudah berada di hadapannya.
"Luc.. Luc.. Kau kenapa? "
Ucap Abraham mengguncang tubuh lucia yang mematung menuduk ke bawah.
"Luc.! "
Ucapnya lagi hingga lucia menyadari ke hadirannya.
"Kak... Ngapai di sini..? "
tanya lucia lirih memalingkan wajahnya ia tidak sanggup melihat wajah pria ini di hadapannya.
Abraham tersenyum lalu memeluk Lucia ke dalam dekapannya.
"Luc maafkan Aku, maaf, tolong maafkan aku luc"
Ucap Abraham berbisik di telinga Kepada wanita yang sangat di rindukannya itu.
Lucia mencerna permintaan maaf dari Abraham untuknya saat ini, sebenarnya ia juga merindukan Abraham namun sayangnya tampak penyesalan Abraham kini sudah tidak berarti sama sekali karena besok Ia akan melangsungkan pernikahannya dengan pria lain.
"aku sudah memaafkanmu sebelumnya.. Tolong lepaskan aku kakak.. "
" Luc aku mencintaimu.. Batalkan lah pernikahan mu dengan Pendri kumohon"
Abraham melanjutkan ucapannya dan belum melepas pelukannya kepada Lucia.
Lucia menggeleng...
"Tidak aku tidak bisa membatalkan pernikahanku dengan Pendri.. Kamu lah yang terlambat menyadari perasaanmu kak"
" Lucia.. Kumohon"
"Tidak, maaf kak aku sudah terlanjur kecewa denganmu"
Lucia berusaha melepaskan pelukan Abraham yang begitu erat.
"Hei.. Sialan lepaskan adikku"
Seseorang langsung menarik tubuh lucia ke sampingnya dari Abraham secara paksa.
Abraham menatap saudara kembar dari Lucia itu dengan wajah kesal rahangnya mengeras Karena marah.
"Biarkan aku berbicara dulu dengan Lucia secara empat mata"
"Tidak.. Kau jangan mengganggunya lagi Kak Abraham jika hanya ingin menyakiti perasaannya lagi, Pendri lebih baik untuk lucia dan kau sudah tidak pantas untuk sama sekali"
Leon yang sempat kampus karena memiliki jadwal hari ini melihat Lucia dan Abraham saling berpelukan seketika itu juga ia mendekati mereka lalu menarik Adiknya.
" Kenapa aku tidak pantas..! "
Tanya Abraham meski ia tau kesalahannya namun ia ingin menjadi egois agar lucia kembali ke pelukannya.
"Lucu sekali.. Kau jangan pura-pura lupa dengan perbuatanmu kepada Lucia selama beberapa tahun. Kau tidak ingat baiklah aku katakan kepadamu "
"dengar baik-baik Kau membohongi Lucia dengan wajah menyebalkanmu itu dan diam-diam menjalin hubungan dengan wanita busuk itu yang hanya ingin memanfaatkan dirimu"
Ujar Leon melototkan matanya ke arah Abraham.
Abraham tidak berbicara lagi ia terdiam
"Jadi jangan pernah lagi mengganggunya lagi"
Leon menarik Lucia pergi dari sama dengan langkah yang cepat dan wajah yang masih kesal dengan adiknya ini yang berani menyelinap keluar dari rumahnya.
.
.
.
.
.
Tbc... !!?