"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
“Allah Akbar!” aku menabrak Mbak Lia ketika
keluar dari ruang kosong, alhasil kami berdua jatuh ke lantai bersama. Bergegas
aku bangun dan bangkit.
“Loh, kok kamu masih di sini? Katanya kamu
sudah mau pulang?” ucapnya keheranan, aku yang tidak ingin bicara dengannya,
memutuskan untuk pergi.
“Yuri! Yuri!” panggilnya, aku terus berjalan
cepat, aku ingin cepat sampai rumah.
“Lia!” sapa Adi baru saja keluar dari ruang
kosong membuat Lia kaget setengah mati.
“Astagfirullah! Pak Adi! Jangan bikin kaget
saya dong!” Lia langsung berdiri ketika melihat ada Adi di sini. Selesai
berbicara dengan Lia, ia memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya.
“Dih, tuh orang kenapa sih? Kok aneh banget?
Yuri juga, kenapa dia belum pulang ya?” tanya terheran-heran.
Ya, Allah. Kenapa malah hujan? Padahal aku mau
cepat sampai rumah, aku takut ketemu sama pak Adi di sini. Aku mengeluarkan ponselku
untuk memesan ojek Online, sayangnya ojek yang aku pesan sudah penuh semua.
Sekali pun ada, pesananku langsung ditolak. Mungkin karena hujan cukup deras.
Saat aku menoleh ke arah lain, aku sempat
melihat Adi baru keluar dari lift menuju
ke parkiran. Aku yang sudah muak melihat wajahnya, memutuskan untuk menerobos
hujan deras. Biar lah semua bajuku basah, dari pada aku harus bertemu dia di
kantor.
Aku terus berjalan sepanjang trotoar, banyak
sekali orang sekitar memperhatikanku. Tapi aku tidak peduli, hatiku sudah
hancur berkeping-keping dengan kejadian barusan. Semua orang yang melihatku,
tidak ada yang tahu aku sedang menangis sesenggukan.
Di saat aku menangis, tiba-tiba saja ada jas
menutup tubuhku, aku menoleh ke arah seseorang yang menaruh jas ditubuhku.
Ternyata dia adalah Kak Alex, tubuhnya basah kuyup karena menemaniku
hujan-hujan seperti ini. Aku tidak menyangka akan bertemu dia di sini.
“Ikut saya, hujannya cukup deras.” Entah
kenapa, langkah kakiku mau mengikuti
dia. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi, aku sudah tidak tahu lagi harus
berbuat apa dalam kondisi seperti ini.
“Ayo, masuk.” Ia membuka pintu mobil untukku.
Selama dalam perjalanan, aku sama sekali tidak
banyak bicara. Aku terus menangis tanpa henti, aku masih memikirkan kejadian yang
sudah menimpaku. Dan itu membuat aku trauma.
“Kita pulang ke tempat saya dulu ya, nanti
saya belikan baju buat kamu ganti, sekalian sama jilbab kamu,” ucapnya, aku
hanya mengangguk pelan, aku sudah tidak bisa lagi berpikir ke mana-mana.
1 jam kemudian kita berdua sampai di apartemen
miliknya, memang jauh jarak antara kantorku dengan apartemennya.
“Kamu duduk di sini dulu, saya mau ambil
handuk.” Ia berlari ke arah kamar untuk mengambil handuk, tak lupa ia
membuatkan minuman hangat untukku.
“Ini handuknya, ini minuman hangat buat kamu.
Kalau kamu mau mandi di sana ada kamar
mandi.” Aku berjalan ke arah kamar mandi, tubuhku juga sudah mengigil. Kusiram tubuhku dengan air hangat melalui
sower, aku terus menangis di bawah kucuran air. Aku trauma dengan kejadian itu,
rasanya inginku hancurkan Adi dari muka bumi ini agar aku tidak bisa melihat
wajahnya.
Sudah setengah jam Yuri belum juga keluar dari
kamar mandi, Alex sedikit khawatir dengan keadaan Yuri saat ini, ia masih bisa
mendengar suara kucuran air.
“Yuri? Kamu masih mandi?” Alex terus mengetuk
pintu kamar mandi, namun tidak ada jawaban sekali. Alex semakin khawatir, ia
pun bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin ia langsung masuk begitu saja,
takut Yuri tidak berpakaian. Kalau dia hanya diam saja, dia takut Yuri kenapa-kenapa.
“Ya, Allah. Aku harus gimana?” Alex terlihat
gusar dengan keadaan seperti ini. Masalahnya Yuri sudah ada di kamar mandi
lebih dari setengah jam.
Mau tidak mau, ia harus masuk ke dalam.
Masalah Yuri pakai baju atau tidak itu urusan belakangan, yang penting keadaan
Yuri harus bisa diselesaikan. Alex pun membuka pintu kamar mandi dengan kunci
cadangan, perlahan ia membuka pintunya dan mengintip ke dalam sambil tutup
mata. Tak lupa ia memejamkan matanya, takut Yuri tidak pakai baju.
“Yuri? Yuri? Kamu masih mandi?” ucapnya, tapi
tidak ada sahutan sama sekali. Ia hanya mendengar suara kucuran air saja. Dengan
perasaan campur aduk, Alex memutuskan untuk membuka matanya secara perlahan.
Saat matanya sudah terbuka, ia terbelalak
melihat Yuri sudah duduk dalam keadaan pingsan di bawah guyuran air.
“Ya, Allah! Yuri!” ia bergegas mengendong Yuri,
wajahnya sudah pucat membiru. Ternyata benar dugaan Alex, kalau Yuri sedang
tidak baik-baik saja. Untungnya lagi Yuri masih memakai baju dan jilbabnya.
“Gimana keadaannya?” tanya Alex terhadap
dokter perempuan, sebelumnya ia sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk
mendatangi ke apartemennya.
“Alhamdulillah, keadaannya tidak terlalu
parah. Hanya saja tubuhnya mengalami demam, nanti saya resepkan obat. Tolong
belikan ya di apotek.”
“Terima kasih Dok.”Selesai memeriksa keadaan
Yuri, dokter itu kembali ke rumah sakit. Yuri juga sudah digantikan baju
dibantu oleh asisten dokter.
“Ya, Allah. Kamu kenapa bisa kaya begini.”Sudah
2 jam Yuri masih belum bangun dari pingsannya, Alex semakin khawatir dengan keadaannya,
ia memberikan kain basah untuk ditempelkan di kening Yuri, agar panasnya
menurun.
Saat Alex ingin mengganti kain yang baru, ia
melihat Yuri sedikit menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri sambil mengucapkan
sesuatu.
“Jangan, tolong. Jangan paksa saya, Pak Adi,
jangan bawa saya,” lirihnya masih dalam tak sadarkan diri, Yuri terus merancu. Ia tidak mengerti kenapa Yuri bisa
seperti ini.
“JANGAN!” teriaknya saat sudah sadar dari
pingsan, napasnya begitu cepat. Keringat dingin sudah bercucuran ke mana-mana
sampai baju yang ia kenakan basah semua.
“Yuri, kamu kenapa?” Alex terlihat panik
melihat Yuri tiba-tiba berteriak keras.
Aku bermimpi buruk, aku melihat pak Adi terus
memaksaku untuk masuk ke dalam kamarnya, aku dipaksa tidur di atas ranjang.
Dengan kasarnya ia menindih tubuhku membuat aku susah bergerak, untungnya semua
itu hanya mimpi saja.
“Yuri?”