Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Nadin
"Dilaaaa...."
Nadin berteriak histeris saat Adila memasuki Clubnya. Hampir dua minggu dia tidak pernah bertemu lagi dengan sahabat seperjuangannya itu.
Sun pipi kiri kanan itu sudah pasti, senggolan pantat kiri dan kanan itu hal kedua yang pasti mereka lakukan.
"Kemana aja sih lo nggak pernah cuap-cuap dimari lagi?"
"Sibuk gue."
Adila mengangkat tangan memanggil bartender," Minuman soda rasa berry ya!"
Bartender itu mengangkat kedua jempolnya tanda oke.
Adila menyangga kepala di meja.
"Lu kenapa... asem banget tuh muka. Kurang asupan kemesraan ya?" Nadin tertawa ngakak.
"Basi lo."
"Gimana dengan si Kang Mas lu?"
Adila mengerutkan kening tidak mengerti.
Nadin mencebik," Lama nggak kemari lu jadi oon... lambat loading. Siapa lagi kalau bukan si Tuan one night stand, gimana sih lo... berlanjut nggak waktu udah nganterin lo waktu itu?"
"Tau ah gue pusing, jangan tanya dia lagi."
"Oh gue ngerti, lu lagi patah ati ya... tahu gue."
Adila menerima minuman soda yang diberikan bartender itu, meminumnya sedikit. Kemudian ia memperhatikan penampilan Nadin yang agak sedikit berbeda.
"Lu mau kemana?"
"Kondangan."
Adila tertawa," Sejak kapan lu kondangan pake baju sopan gini?"
Nadin menarik sudut bibirnya," Bokap gue yang suruh, kalau kagak.... gue bisa kena damprat. Lu tahu kan bokap gue galaknya naudzubillah... bisa-bisa gue di backlist dari daftar penerima warisan."
Adila terkekeh," Trus ngapain lu masih disini... buruan pergi, yang ada lu datang kesono, acara udah bubar."
"Gue juga mau pergi, tapi berhubung ada elu... jadi lu harus ikut sama gue."
"Ogah."
"Ikut..." Nadin menarik tangan Adila.
"Ogah."
"Lu tega biarin gue pergi sendiri, sepeda aja rodanya dua, masa gue cuma atu."
"Lu yang tega... lu nggak liat gue pake baju kek gini... yang ada gue jadi bullyan orang."
"Cemen kalau soal itu, ikut gue..." Nadin menarik paksa Adila yang hampir menumpahkan gelas yang akan diminumnya.
"Woii... pelan-pelan ngapa, daleman gue basah nih."
"Habisnya lu lambat kayak siput."
Sampai diruangan pribadinya di lantai atas, Nadin membuka lemari pakaiannya.
"Nih pake."
Adila merentangkan gaun yang diberikan Nadin.
"Ogah pake baju bekas lo."
Nadin bertolak pinggang," Gue nggak panuan Ndoro Puteri... lagian itu gaun nggak muat di gue, jadi masih baru."
Adila tergelak," Akhirnya lo nyadar kalau badan lu emang lebar."
Nadin menjitak kepala Adila," Cepetan pake, nggak usah gibahin gue."
Adila mengelus kepalanya," Sengak lu... sakit tahu."
Dengan malas Adila memakai gaun hitam yang diberikan Nadin. Belahan dada yang lebar tanpa lengan, dan panjang gaun yang sebatas lutut membuat penampilan Adila yang cantik terlihat lebih berseri.
"Emang badan model, kalau pake baju apa aja cocok terus ya?"
"Lo muji biar gue mau ikut sama lu kan... modus."
Nadin terkikik," Gue serius... tapi iya juga sih."
Berhubung tidak ada alat dan aksesoris apapun diruangan Nadin, terpaksa Adila mencepol rambutnya dibagian bawah, berhias ala kadarnya.
"Siip... lu emang princessnya kota Surabaya."
Adila menjulingkan matanya,"Mantra lo kagak mempan, inget ini nggak gratis... lu harus bayar gue permenit, waktu gue habis gara-gara nganterin lo."
"Oke gue bayar pake minuman soda... minum sesuka lo, gratis seumur idup."
"Dayut Bambang dah gue."
Keduanya tertawa sambil melengang pergi menuju parkiran.
Dengan kecepatan tinggi Nadin melajukan kendaraannya setengah mati, mengejar waktu yang mungkin akan terlambat jika menjalankan mobilnya dengan santai.
"Nyampe..."
"Acaranya disini?"
"Huuh."
"Acara apaan sih?"
"Katanya Anniversary gitu..."
"Wah jadi didalem Bapak sama Emak-emak dong?"
Nadin mulai jengah dengan pretelan perkataan Adila," Ya ampun Ndoro Putri, ini tuh bukan panti jompo... ini pesta oke, jadi semua usia pasti hadir disini."
Adila mengembungkan pipinya, tanda mengerti.
Nadin melepaskan seetbelt," Ini tuh anak sahabat Bokap gue, jadi nggak enak kalau nggak dateng... berhubung Bokap gue lagi di luar kota jadi..."
"Stop.... lu kan udah jelasin tadi, lu mau bikin komedi putar... cepet turun." Potong Adila.
Adila dan Nadin berjalan bergandengan tangan, memasuki sebuah Ballroom Hotel ternama di Surabaya.
"Maaf kartu undangannya Nona."
Nadin menyerahkan kartu undangan yang diperuntukan untuk dua orang saja.
"Acaranya sudah dari tadi ya Mas?" Tanya Adila yang gatal bila hanya diam saja.
"Satu jam lalu Nona."
"Jadi acaranya berapa jam lagi Mas?"
"Masih satu jaman lagi Nona."
"Oh lumayan, masih banyak waktu buat ngabisin semua makanan didalem."
Nadin menginjak kaki Adila, hingga ia meringis dan melirik tajam, dan langsung mendapat balasan pelototan ganas dari Nadin.
"Sakit peak." Bisik Adila.
"Malu-maluin lu."
"Serah.... suruh siapa ajak gue."
Petugas itu tersenyum melihat perdebatan dua wanita cantik didepannya.
"Silahkan masuk Nona."
"Terima kasih."
Nadin menarik tangan Adila untuk masuk.
"Keren ya, kayak acara kawinan."
"Nikahan... kalau kawinan tuh didalem kamar."
"Sama aja." Adila memanyunkan bibirnya.
Adila memutari seluruh ruangan, berdecak kagum melihat dekorasi ruangan yang elegan bernuansa putih dan soft pink, sangat romantis. Dan yang menjadi sorotan terpenting untuknya adalah, deretan menu makanan yang mewah, tersaji disepanjang ruangan.
Perbaikan gizi nih gue dari kemarin makan mie terus
"Eh lu mau kemana?" Nadin menarik tangan Adila yang hendak kabur.
"Ya makan lah, ngapain juga gue matung disini."
"Astaga lu emang model kampung ya... dimana-mana tuh nemuin dulu yang punya hajatan, ngucapin selamat, basa basi ngalor ngidul, udah itu baru makan... ngerti nggak sih lo?"
"Itu berlaku buat lu... lah kalau gue kan cuma nganter, kenal juga kagak sama mereka."
Nadin mulai geram dengan sikap absurd Adila yang mulai merambah dunia antabrantah.
"Tapi tugas lu disini dampingi gue, lu harus buntutin kemanapun gue pergi."
Nadin mengacungkan jari telunjuk dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri,"Nggak pake protes."
Adila menghentakan kakinya kesal. Mengangkat kedua tangan seperti yang akan mencakar kepala Nadin.
Nadin berbalik," Apa... lu mau ngamuk... gue tinggal pulang tahu rasa lo naik ojeg."
"Mohon ampun Ndoro Ratu." Jawabnya sambil merapatkan tangan, menyembah.
Dengan manutnya Adila mengekor kemana Nadin membawanya. Hingga ia sampai di meja dengan sekumpulan orang yang sedang duduk melingkar, mengobrol santai.
"Mas Dodo..."
Laki-laki bertubuh gempal itu berdiri, menilik dengan seksama wajah gadis yang menyapanya.
"Nadin... Nadin putrinya Pak Dimas kan?"
"Iya Mas...." Jawab Nadin sambil tersenyum layaknya gadis manis nan lugu.
Nadin dan Dodo saling berjabat tangan.
"Wah kamu sudah besar, tambah cantik... eh tapi Pak Dimas mana, kamu datang sama siapa?"
"Maaf Papak sedang keluar kota, jadi aku yang wakilin Papah buat dateng. Ini kenalin temen Nadin Mas, namanya Adila."
Dodo melihat Adila yang berdiri dibelakang Nadin, tersenyum ramah.
"Adila...." Seraya mengulurkan tangannya.
"Dodo."
"Istrinya Mas Dodo mana?" Tanya Adila.
"Kebetulan lagi ke kamar mandi."
"Oh... selamat ya Mas, semoga pernikahannya semakin langgeng."
"Amin.... terima kasih."
Dodo berjalan, berdiri ditengah-tengah mereka. Merangkulkan kedua tangannya dipundak Adila dan Nadin.
"Mas kenalin sama teman-teman SMA Mas yuk... kebetulan masih banyak yang jomblo. Mereka lagi kumpul-kumpul di ruangan VIV sebelah sana, sekalian reunian juga." Mengedipkan sebelah matanya.
Nadin mengangguk dan tersenyum, sok polos. Padahal Nadin berjingkrak senang luar biasa, mungkin saja dia bisa menemukan jodohnya disini.
Disebuah meja panjang yang berada disudut ruangan, Dodo kini membawa mereka.
"Hai brow.... kenalin nih dua gadis cantik, anak temen bokap gue. Yang sebelah kiri namanya Nadin, dan yang sebelah kanan namanya Adila."
"Wah tahu aja lu kita suka daun muda, bening lagi."
"Diem lu.... inget sama anak bini di Jakarta, pulang nggak dibukain pintu tahu rasa lo."
"Lagian cewek cantik nggak bakalan mau sama lu-lu pade... tongpes."
Semua orang tergelak, sedangkan Adila dan Nadin hanya tersenyum menanggapi candaan mereka.
Namun sudut mata Adila menangkap satu pasang mata yang menatapmya sangat intens. Adila melirik, dan betapa terkejut dia saat ini.
Pak Aditya....