Daratan Xuanwu penuh dengan Pendekar hebat sepanjang sejarahnya, seorang pemuda lugu berna Ling Tian berhasil menjadi salah satu deretan Pendekar hebat yang melegenda selama seribu tahun namun tidak terduga Dewa iri kepadanya dan membuatnya jatuh ke dalam jurang keputus asaan selama lima ratus tahun. Dalam keputus asaan itu Ling Tian mendapat sebuah kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalannya, Ling Tian kembali dengan menentang takdirnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laghrima~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ginseng Boneka
Dalam waktu yang cukup singkat Qin Mu menyelesaikan tehnik pedang Pembelah Rembulan dengan pemahaman yang mengesankan untuk umur semuda itu sekaligus calon pendekar yang baru mempelajari jurus pedang gaya baru.
"Ehmm, guru Bai..." Qin Mu menggaruk pelan kepalanya saat mendapati Bai Duan berdiri terpaku sambil terus menatapnya.
"Huh?" Bai Duan cepat-cepat mengatur kembali expresinya seraya terbatuk pelan.
Suasana langsung terasa canggung di pihak Bai Duan, ia tidak habis pikir akan terpaku demikian dan tertangkap basah oleh Qin Mu. Sementara Qin Mu sendiri bersikap biasa saja karena reaksi Bai Duan memang sudah di perkiraannya, lagi pula siapa yang akan tidak terkejut atau aneh dengan murid yang mampu memahami tehnik pedang secepat itu bahkan memperbaikinya sedikit.
"Bisa kau ulangi tehnik pedang itu sekali lagi, Mu'er?" Bai Duan menatap dalam.
"Tentu, itu memang sudah seharusnya." Qin Mu mengangguk dan kali ini ia akan melakukan beberapa gerakan salah untuk mengusir rasa curiga Bai Duan yang mungkin muncul.
Dengan demikian, Qin Mu kembali memfokuskan pose pedang dan kuda-kuda tubuhnya lalu mulai bergerak yang di buat sedikit kaku dari sebelumnya.
"Apa sebelumnya aku salah?" Gumam Bai Duan sambil mengerutkan alisnya saat mendapati ada kesalahan dari gerakan pedang Qin Mu.
Diam-diam Qin Mu terseyum kecil secara samar ketika mendengar gumama Bai Duan dan tidak butuh waktu lama lagi untuk Qin Mu menyelesaikan tehnik pedang Pembelah Rembulan lagi.
"Sepertinya pedang kayunya lumayan ringan, ya? Hmm..." Bai Duan mengambil pedang kayu Qin Mu dan menimang-nimangnya dengan sebelah tangan.
"Aku setuju guru, pedang itu lebih bagus lagi jika beratnya di tambah." Ucap Qin Mu sambil mengangguk.
"Begitu..." Bai Duan mengangguk pelan, ia meletakkan pedang kayu itu di atas meja sambil menyuruh Qin Mu duduk dulu sementara dirinya akan pergi mencari kayu yang cocok.
"Tidak, kali ini aku akan ikut guru!" Qin Mu menolak untuk beristirahat dan bersihkeras untuk ikut.
Di desak terus-menerus akhirnya Bai Duan menyetujui keinginan Qin Mu dan akhirnya keduanya memasuki area hutan untuk mencari kayu yang cocok dan sesuai untuk latihan.
Saat sudah memasuki hutan yang jarang dijelajahi oleh para anggota Pasukan Bulan Terang Qin Mu berulang kali menemukan kelinci dan berniat memburunya tetapi Bai Duan melarang dengan alasan jika dagingnya tidak cukup untuk dibagikan.
Meskipun akan cukup di bagi tetapi akan lebih bagus jika sekalian tidak demi menjaga perasaan da trauma beberapa anggota Pasukan Bulan Terang.
Hal itu bermula saat beberapa hari yang lalu banyak anggota pasukan Bulan Terang yang mengalami diare parah setelah memakan hidangan daging rebus, awalnya tidak ada yang mempermasalahkan hal itu namun setelah bertambah korban yang semakin banyak akhirnya tabib di panggil.
Berulah setalah itu di ketahui jika sumbee masalahnya adalah daging yang telah tercampur oleh racun sebuk bunga Ricidus, efek bunga itu sangat beracun dan bisa menyebabkan kematian jika sampai tertelan dalam jumlah banyak.
Untungnya serbuk di dalam daging tidak banyak sehingga hanya menyebabkan keracunan ringan seperti diare parah.
Karena insiden itu juga banyak anggota pasukan yang menolak makan daging selama beberapa waktu bahkan hanya dengan melihat daging atau mencium aromanya mereka akan muntah dan merasa sakit perut.
'Mereka pantas mendapatkannya!' Batin Qin Mu sambil tertawa puas saat kembali mengingat situasi kacau itu.
Lama berjalan akhirnya Bai Duan berhenti di hadapan satu pohon berukuran besar dan sepertinya sudah berusia puluhan tahun hanya dari melihat akar yang telah menonjol keluar dari tanah.
"Mundurlah sedikit!" Bai Duan menarik Qin Mu menjauh dari jangkauan dahan pohon yang akan di tebangnya.
Bai Duan menarik keluar pedangnya lalu melompat naik ke atas dahan pohon besar itu sebelum mengalirkan tenaga dalam dan langsung memotongnya dalam sekali gerakan.
Qin Mu melihat semuanya dari arah samping seraya menarik nafas pelan, sebenarnya yang diinginkannya bukan sebuah pedang kayu melainkan pedang sungguhan.
Alasannya cukup simpel karena Qin Mu merindukan ketajaman pedang asli yanh jelas lebih efekti untuk mempelajari sebuah tehnik pedang, tapi Bai Duan tidak akan setuju dengan alasan belum saat yang tepat bagi seumuran Qin Mu memegang pedang asli.
"Guru Bai, aku ingin melihat-lihat hutan sekitar. Apa boleh?" Tanya Qin Mu saat Bai Duan sudah turun dari atas pohon.
Bai Duan yang baru mau memotong dahan pohon itu sesuai ukuran panjang pedang yang akan di buatnya berhenti saat Qin Mu memintainya izin.
"Kau tidak perlu terlalu kaku Mu'er, pergilah dan jangan terlalu jauh..." Bai Duan tertawa pelan yang menurutnya Qin Mu terlalu formal kepadanya.
Qin Mu mengangguk dan pergi berkeliling di sektiar lokasi itu selagi Bai Duan masih membuat pedang kayunya, selama itu juga Qin Mu banyak menghapal jalur-jalur baru yang mungkin suatu hari akan berguna untuknya.
"Bukankah ini Ginseng Boneka?!" Kedua mata Qin Mu hampir keluar dari tempatnya saat menemukan satu tanaman langka.
Qin Mu buru-buru mendekat dan memastikan tanaman itu benar sebuah Ginseng Boneka, satu sumber daya yang sangat berharga seperti Ginseng Emas dan merupakan tanaman harta yang terkenal dengan efek seperti sentuhan tangan budha.
Dinamakan demikian karena umbinya berbentuk seperti boneka manusia bahkan terkadang akan menipu jika tidak di perhatikan lebih jauh dan yang terpenting adalah jumlah daun padanya sama dengan jumlah usia pada ginseng itu.
Ginseng Boneka sangat terkenal bukan hanya di tangan seorang pendekar tetapi juga dalam dunia pengobatan, sering kali ginseng itu akan di olah menjadi pil suci yang berharga sangat mahal karena efeknya yang mampu menyambung nyawa dan menyembuhkan satu penyakit tertentu tergantung seberapa parah itu.
"Sayangnya aku 'tak bisa memakannya... Ck!" Qin Mu memegangi dada kirinya yang mendadak terasa sakit.
Bukan tanpa alasan Qin Mu tidak bisa memakannya, hal itu disebabkan oleh usia tulang dan organ dalamnya masih terbilang sangat muda hingga tidak akan mampu menahan energi besar dari Ginseng Boneka itu.
Sebenarnya masih ada satu cara untuk menggunakannya tetapi Qin Mu tidak akan mau melakukannya karena resikonya sangat besar untuk dirinya saat ini.
"Dasar diriku bodoh! Bukankah masih ada Guru Bai? Ck, mengapa aku bisa lupa..." Qin Mu menepuk jidatnya sendiri karena terlalu senang menemukan ginseng itu secara tidak sengaja dan melupakan Bai Duan untuk sekejab.
Usia Ginseng Boneka itu sudah hampir dua puluh tahun dari jumlah daunnya serta bunga merahnya yang mencolok murip buah beri dan sudah jelas efeknya akan sangat menguntungkan bagi Bai Duan untuk meringankan sedikit luka dalamnya.
Tanpa banyak berpikir lagi Qin Mu mulai menggali Ginseng Boneka itu secepat yang ia bisa namun terhenti setelahnya karena penjaga tanaman itu datang yang berupa ular gelang merah yang sangat berbisa.
Ular itu mendesis ke arah Qin Mu dan melesat bersiap untuk mematoknya setelah melihat tanamannya telah setengah di gali.
"Ular sialan beraninya kau... Kemari dan jadilah sup daging ular!" Qin Mu melompat ke samping menghindari patokan ular itu dengan gerakan gesit.