Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk dan Pelukan Pertama
...Hujan telah mereda membawa harapan baru untuk kehidupan....
...Hujan telah mereda memanjakan bumi dengan kesejukan....
...Belajarlah dari tangguhnya hujan....
...Karena saat hujan terjatuh bahkan di hindari, dia akan tetap kembali dan berdiri lagi, lagi dan lagi....
...-----...
Lobi Mall
Yana sedang membayar makanan Niana dan memesan beberapa makanan untuk di bungkus. Berkah turunnya hujan, orderan taksinya menjadi lebih ramai, ia membeli beberapa makanan sebagai buah tangan untuk istri dan mertuanya.
Setelah selesai Yana langsung menghampiri Niana yang nampak sedang cemberut.
"Kenapa?" tanya Yana.
"Gak apa-apa Kak, cuma khawatir aja sama si Susi," kata Niana, seperti biasa dia berbohong lagi.
"Oh wajah khawatir kamu begitu? Kakak kira kamu lagi cemberut," timpal Yana.
"Isshh," desis Niana.
Fakta yang sebenarnya adalah Niana cemberut karena ulah pesan grup Rakyat Jelita. Niana berniat curhat pada teman-temannya, dia memberitahu jika Susi hilang karena Susi pecicilan. Cerita Niana sama percis dengan cerita yang dia katakan untuk kakak iparnya.
Namun Niana malah di hujat oleh teman-temanya. Tidak ada satupun dari temannya yang mendukungnya dan yang membuat Niana kesal semua temannya malah mengkhawatirkan Susi.
"Ya sudah ayo kita ke bagian keamanan!" kata Yana.
Niana manut, gadis itu mengikuti kakak iparnya menuju bagian keamanan yang ada di lantai 4.
.
.
"Jadi begitu Pak, jadilah kami kehilangan dia," kata Yana menjelaskan pada bagian keamanan.
"Coba saya lihat fotonya Pak, saya hari ini shift dari pagi karena ada teman kami yang sakit," kata salah satu scurity."
"Pak,saya punya fotonya."
Niana segera memberikan handphone pada scurity tersebut. Niana sengaja memfoto Susi untuk ditunjukkan pada teman-temannya.
"Eemm ...." Pak scurity mengernyitkan matanya mencoba mengingat-ingat.
"Sepertinya saya tidak pernah melihat gadis itu." Menggelengkan kepalanya, lalu memberikan handphone itu pada Niana.
"Tunggu," Pak scurity memandang Niana dengan seksama.
Mati aku mati, Bapak ini pasti tadi siang melihatku. Aduh gimana ini?? Batin Niana.
"Kenapa Pak?" tanya Yana.
"Tadi siang saya merasa melihat Nona (sambil menunjuk Niana) tapi saya tidak melihat gadis yang Bapak cari.
Yana menatap Niana, hatinya mulai curiga.
Bukan Niana namanya kalau tidak bisa berkelit.
"Tadi siang saya memang ke sini, tapi adik saya lagi ada di kamar mandi lantai 3," kata Niana.
Kok bisa dia ninggalin Susi di kamar mandi lantai 3, kan di lantai 4 juga ada toilet? Batin Yana.
"Ya sudah Pak, gini aja bisa tidak kita mengecek CCTV nya?" kata Yana.
"Aduh Pak untuk masalah itu kita harus lapor dulu ke Kepala Keamanan, dan sepertinya untuk saat ini kita memang belum bisa melihat rekaman CCTV tersebut sebab sejak tadi sore sekitar pukul 16.30 sampai dengan saat ini semua jaringan CCTV yang kita miliki mengalami down dan kami juga belum mengetahui penyebabnya. Jadi sampai sekarang masih dalam perbaikan."
Akhirnya Yana dan Niana memutuskan untuk pulang. Sementara pihak keamanan telah mencetak foto Susi, mereka mengatakan akan mencoba mencari Susi, dan akan segera melapor kejadian tersebut pada Kepala Bagian Keamanan agar bisa segera mengecek CCTV jika sistemnya telah pulih.
Sepanjang perjalanan pulang, Yana dan Niana hanya terdiam.
Di mana kamu Susi? Kakak khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Kakak takut kamu sudah keluar dari mall dan tersesat.
Aduh aku harus ngomong apa ya nanti? Oiya kan ada Ibu, Ibu pasti gak akan marah. Ibu kan benci sama si Susi. Tapi kan kalau si Susi hilang, gimana dengan perjanjian sama Bang Kojek? Tidaaaak! Ibu pasti marah sama aku.
Benar, harusnya Susi memang tidak boleh hilang, karena Susi adalah jaminan hutang-piutang antara Bapak, Ibu dan Bang Kojek.
***
Lantai 10 Always Us Mall
Deanka menatap lekat wajah gadis yang sedang tertidur di sofa. Hatinya di penuhi tanda tanya, ingin sekali ia segera membangunkan gadis itu dan menanyakan asal usulnya. Deanka penasaran karena menurutnya gadis itu cerdas, tapi kenapa dia tidak tahu sekolah di mana dan tidak tahu siapa dirinya.
Ini rumit, rumiit, rummmit, batin Deanka.
Tiba-tiba gadis itu bergerak, badannya seperti sedang kedinginan. Matanya masih terpejam tapi bibirnya terlihat bergetar seperti sedang kedinginan, pelupuk mata gadis itupun terlihat mengeluarkan air mata.
Ke-kenapa dia? Apa kamu berbohong Cepy, kamu bilang gadis ini baik-baik saja. Deanka akhirnya mendekat ke sofa.
.
.
Seorang gadis terombang-ambing di tengah derasnya sungai, ia meraih apapun yang bisa dia raih, ranting, batu, batang pohon, daun-daun, semua di raihnya untuk berusaha menyelamatkan diri dari derasnya sungai.
Gadis itu berusaha berenang sekuat sisa tenaga yang ia miliki.
Tangan gadis itu berhasil meraih batang pohon pisang, ia memeluk batang pohon itu dengan erat. Dalam rasa sakit dan ketakutan itu, ia tersenyum karena sekarang ia bisa bernapas, dan harapannya untuk bisa menepi ke tepi sungai semakin besar.
Ia bertahan cukup lama dengan batang pohon pisang itu, ia dapat melihat suana mencekam dan gelap di sepanjang sungai. Gadis itu ingin sekali menutup matanya, agar rasa takutnya berkurang, tapi tidak bisa karena jika ia menutup mata, ia tidak bisa melihat kesempatan yang bagus agar ia bisa menepi. Dalam hatinya ia menjerit memanggil Ibu yang sangat ia cintai.
Beberapa kesempatan ia lewati, nyatanya ia tidak bisa meraih batu-batu besar itu untuk menepi, setiap batu yang ia raih terasa licin, ia pun kesulitan karena di satu sisi, tangan yang lainnya harus memegang erat batang pisang.
Kaki dan tangannya semakin kedinginan dan hatinya semakin ketakutan. Bukan kematian yang ia takuti, namun ia takut untuk meninggalkan ibunya sendirian.
"Dingiiinn ..., Ibu ..., Ibu..., tolong aku Bu ...." Suaranya sangat lirih, hampir tidak terdengar. Gadis di hadapan Deanka sepertinya sedang mengigau.
Di alam bawah sadarnya gadis itu mimpi buruk. Mimpi yang membuatnya menggigil, menangis, dan sangat merindukan ibunya. Mimpi itu sangat menakutkan, dan menyakitinya.
"Dingiiinn ..., Ibu ..., Ibu..., tolong aku Bu .... " Tangan gadis itu bergerak-gerak seperti ingin meraih sesuatu.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu gadis bodoh?
Tangan Deanka meraih tangan Susi, awalnya ia ragu tapi raut wajah Susi yang terlihat sangat ketakutan membuat pria berharga, tampan dan katanya sangat kaya raya itu luluh.
.
.
Gadis itu sangat bahagia saat sosok yang ia yakini adalah ibunya tiba-tiba muncul di balik batu dan meraih tanganya. Namun gelapnya malam menjadikan gadis itu tidak bisa melihat wajah ibunya. Pepohonan yang tinggi dengan daun-daun yang rindang seperti sengaja mengahalangi cahaya bulan dan membuat gadis itu semakin ketakutan.
Ia menarik tangan ibunya.
"Ibuu ... aku merindukanmu Bu."
Gadis itu menyusuri bahu ibunya dan membenamkan kepalanya di pangkuan ibunya yang tidak berbicara sepatah katapun. Gadis itu merasakan kehangatan seorang ibu, rasa dingin, rasa sakit, rasa takut dan rasa sedih karena berada di tepi sungai yang gelap dan menyeramkan kini telah hilang.
Di alam nyata Deanka sangat terkejut saat gadis itu menarik tangannya, menyusuri bahunya dan berusaha menyembunyikan kepalanya di dadanya.
Pria yang katanya polos dan suci itu tidak bisa bergerak, ingin rasanya ia menepis tangan gadis itu. Tapi kenyataanya tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Tubuh pria itu malah mendekati Susi, dia membiarkan Susi menyusuri bahunya dan tidur nyaman di dadanya yang hangat.
Dada yang hangat itu nyatanya adalah versi gadis itu, pada kenyataanya dada itu sebenarnya sedang mendidih.
Tuhanku Yang Maha Esa, ada apa dengan diriku? Kenapa aku bisa membiarkan dia memelukku? Dan jantungku, oh tidaaak!!!! Ada apa dengan jantungku? Sepertinya akan segera meledak.
Dan tangan bodoh ini, kenapa kamu malah memeluk gadis ini? Ini pelukan pertamaku. Aku tidak suka memeluknya tapi kenapa aku juga tidak mau melepaskannya. Oh, tidak! Cepy, Agam tolong aku! Harusnya aku tidak menyuruh kalian pulang.
Malam itu sangat dingin, namun pria itu merasakan tubuhnya sangat panas, butiran keringat dingin mulai mengalir di belakang punggungnya.
Deanka akhirnya pasrah dengan keadaan, ia memeluk gadis cantik itu, perlahan ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya ke arah samping dengan perlahan-lahan juga. Namum tetap saja jantung pria itu tetap berdegup kencang.
Deanka menatap wajah gadis itu, entah kenapa ia merasa pernah melihat raut wajah gadis itu.
Apa aku pernah melihatnya? Tapi di mana? Ah mungkin aku salah. Rambutmu berkilau sekali, apa shampo mu lebih mahal dari shampoku? Tapi kenapa gaya rambutmu kekanak-kanakan sekali, seperti Sailor Moon.
Maafkan aku gadis bodoh, aku mengira kau itu jin.
Seperti apa ibumu? Kamu sangat merindukan ibumu. Tapi tidak denganku, aku malah sangat membenci Mama.
Deanka terkejut saat gadis itu mulai membuka matanya, seketika ia pun segera menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis itu, agar gadis itu tidak berbicara.
"Kau jangan berbicara, jangan berpikir aneh-aneh! Ini tidak seperti yang kau lihat, nanti aku jelaskan lagi jangan salah faham dan jangan menuduhku macam-macam!!"
Deanka lalu memposisikan Susi ke posisi semula, namun tiba-tiba, "DUARR." Duara petir menggelegar mememik telinga membuat sepasang anak manusia itu terkejut dan terkesima, keduanya spontan saling memeluk satu sama lain, dan memejamkan mata.
Petir itu telah pergi, namun masih menyisakan efek kejut yang membuat jantung sepasang anak manusia itu berdegup dengan kencangnya.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah