Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Takdir yang diberikan Allah
Saat ini, Nesa sedang mengobrol dengan Ranti yang baru datang dari Banjarmasin, Ranti datang bersama Kinan—adiknya Nesa. Mereka terlihat bersenang-senang. Hakim dan Santi harus kembali ke Banjarmasin, jadi bergantian dengan Kinan juga Ranti.
Ranti adalah sahabat yang baik. Ranti juga memberi kejutan ulangtahun kepada Nesa yang ke 20 tahun, yang dimana semua keluarga tak tahu termaksud ayahnya.
Devan mendengar kabar ulang tahun Nesa, dan ia enggan bertemu, rasa bersalah terus mengganggunya, bahkan tak jarang membuat dadanya sesak. Ia akan ke rumah sakit secara diam-diam dan menatap istrinya dari jauh. Nesa enggan bertemu dengannya, jadi semua ia anggap hukuman meski ada rasa rindu yang terbersit didalam hati.
"Makasih, ya, Ran, aku bener-bener lupa ulangtahunku," kata Nesa, memegang kado dari sahabatnya.
"Sama-sama, Nes. Kamu nggak perlu ingat hal itu disaat yang sedang kamu hadapi adalah hal yang lebih penting." Ranti mengelus lengan sahabatnya.
"Kamu memang sahabat yang baik. Maaf nggak bisa menyambutmu."
"Aku yang harusnya minta maaf, Nes, karena aku baru datang sekarang, soalnya cuti panjang baru hari ini," kata Ranti.
"Nggak apa-apa, Ran, kamu datang seperti ini dan mau mengingatkanku pada ulangtahunku, aku sudah bersyukur."
"Aku juga sudah dengar dari Tante Santi kalau kamu sama suamimu sedang nggak dalam kondisi baik. Aku memang nggak patut ikut campur, Nes, namun aku tetap nggak bisa diam jika aku membiarkan ini terjadi."
"Ran, aku melakukan ini karena masih sangat kecewa padanya, aku nggak bisa menerima begitu saja ketika semua ini terjadi padaku. Aku salah apa padanya? Salah karena aku hadir kekehidupannya?"
"Tapi semua ini bukan salah suamimu, Nes, ini adalah takdir yang Allah tentukan untuk kamu, ini semua bersifat menyakitkan, namun kamu harus percaya akan ada kebahagiaan nantinya." Ranti menggenggam lengan Nesa. Ia hanya ingin disaat Nesa sakit seperti saat ini, Devan ada disampingnya, karena kekuatan yang benar-benar Nesa butuhkan adalah kekuatan dari suaminya.
"Aku tahu. Ini memang takdir Allah yang nggak bisa aku salahkan, namun tetap saja kehadiran Mas Devan yang aku perlukan, Ran, dia sudah banyak memberiku harapan bahagia dan saat itu pula harapan bahagia yang ia berikan berubah menjadi luka."
Ranti menghela napas panjang, ia tak bisa mengatakan hal yang panjang lebar, karena saat ini sikonnya sedang tak baik. Nesa masih sakit, dan baru saja kehilangan putrinya, dan putranya harus ada di NICU menerima semua perawatan. Tak baik jika Ranti mengatakan hal yang menyakiti Nesa.
"Baiklah. Aku minta maaf, Nes, aku hanya terpancing."
Nesa menganggukkan kepala. "Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Kuliahku tak semenyenangkan dulu. Jika kamu ada, aku pasti akan bersemangat ke kampus, tak ada lagi teman cerita atau teman dekat, semuanya hambar saja rasanya."
Nesa terkekeh. "Ish. Kamu itu berlebihan."
"Aku nggak berlebihan, Nes, aku serius."
"Ya sudah. Kamu pindah kuliah saja di sini."
"Nes, aku—"
"Ada apa? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?"
"Aku—"
"Katakan saja. Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, aku hanya—"
Nesa menggenggam tangan Ranti, membuat sahabatnya itu mendongak menatap wajahnya. "Ran, kamu sudah aku anggap saudara, kamu pun berpikiran hal yang sama, 'kan? Kita juga sudah berjanji akan saling jujur satu sama lain."
Ranti menghela napas. "Ini bukan waktu yang baik untuk menceritakan semuanya."
"Ada apa, Ran? Katakan padaku. Tak ada waktu yang nggak tepat."
Ranti menitikkan air mata. Ia berusaha menahan segala tangisnya, meski ia tak bisa menyembunyikan semuanya pada Nesa.
"Aku—"
Suara pintu kamar terbuka, membuat keduanya menoleh dan melihat Juno membawa buket bunga untuk Nesa.
Nesa dengan senyum mengambang, tanpa ia sadari ia melupakan apa yang akan dikatakan Ranti padanya.
"Kak Juno? Masuk, Kak," kata Nesa. Nesa kelihatan senang kedatangan Juno.
"Apa aku ganggu?"
"Nggak kok, Kak, silahkan masuk, aku akan keluar sebentar mencari minum," kata Ranti beranjak dari duduknya. "Aku pergi dulu, Nes, aku akan kembali."
Nesa menganggukkan kepala.
Sepeninggalan Ranti, Juno duduk ditepian ranjang. "Ini untuk kamu."
Nesa menerima bunga tersebut, lalu mencium aromanya yang menyegarkan. "Hem. Ini wangi sekali, Kak."
Juno tersenyum lalu menyentuh puncak kepala Nesa dengan tangannya, ia hanya sedang mengecek suhu Nesa, membuat jantung perempuan itu beradu didalam sana. Entah mengapa jantungnya mudah sekali berdetak.
"Syukurlah kamu baik-baik saja sekarang, suhu tubuhmu juga sudah normal," kata Juno, melepaskan tangannya. "Kamu masih merasakan sakit?"
"Udah nggak, Kak," jawab Nesa. "Makasih ya bunganya."
Juno menganggukkan kepala. "Sama-sama."
"Kamu nggak kerja?"
"Aku baru dari kantor. Kamu yang sabar ya, semua pasti ada hikmanya."
Nesa menganggukkan kepala. "Aku sedang berusaha ikhlas, Kak."
"Itu kerja bagus, Nes," kata Juno. "Devan mana?"
"Mas Devan? Memangnya nggak di kantor?"
"Katanya tadi mau ke sini. Sudah agak lama."
"Dia nggak ke sini, Kak. Sejak kemarin dia nggak datang. Mungkin nggak mau datang karena aku marah."
"Kamu marah sama dia?"
Nesa menganggukkan kepala. "Aku tahu ini bukan salah Mas Devan, semua ini kehendak Allah, dan kesalahanku yang nggak menjaganya. Namun, aku masih sulit untuk menatap wajah Mas Devan, hatiku sakit setiap kali menatapnya."
Juno menundukkan kepala, ada rasa nyaman yang hadir dihatinya setiap kali dekat dengan Nesa, namun ia sadar bahwa perasaannya memang miliknya, namun perasaan Nesa milik Devan. Juno hanya akan menjaga dari jauh.
"Bukan salahmu, Nes, tapi takdir dan cobaan." Juno duduk ditepian ranjang dengan menatap wajah Nesa.
Nesa mengangguk.
"Ya sudah. Tentang hatimu yang terluka dan tentang kekecewaanmu, aku nggak ingin ikut campur, karena kamu yang lebih tahu bagaimana perasaanmu." Juno mengelus punggung Nesa. "Eh iya, aku sampai lupa. Cafemu akan dibuka pekan ini."
"Eh, Kak, apa udah siap?"
"Udah. Devan mengurus semuanya. Karyawanmu juga udah ada loh, barista terbaik juga dipekerjakan Devan, aku hanya membantu saja," jawab Juno.
"Mas Devan yang melakukannya?"
"Hem. Semuanya dia. Katanya akan memberi hadiah itu untukmu ketika sembuh. Dan, kamu harus hadir."
"Hadir? Dimana?"
"Peresmian cafemu."
"Tapi—"
"Nes, Devan melakukannya demi kamu, demi istrinya, dia memang salah karena mencintai wanita lain, namun semua itu hanya karena ia tak bisa memilih dan tak bisa meraba hatinya." Tak ada salahnya menyukai Nesa dengan menyatukannya kembali dengan Devan, itu lah cara Juno menyukai Nesa. Bukan merebut atau apa pun itu.
Nesa menundukkan kepala, meski ia sudah memaafkan Devan, namun hatinya sulit menerima saja. Ia harus kuat, bahkan ia harus membuat Devan menyadari apa yang telah ia lakukan semua ini.
.
.
Minta sarannya, ya.
Kalian tim mana nih? Tim Devan apa Juno?"
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻