Siena yang jatuh cinta pada kakak angkatnya! waw...., kok bisa?
Bisa dong! Bagaimana tidak, Vino seorang pria mapan, ganteng nggak ketulungan, bikin para gadis siap mengantri untuk jadi pacarnya meskipun dia sudah punya seorang pacar tentunya. lalu bagaimana nasib Siena Ya? apa dia akan dapatkan cinta Vino, sang kakak angkat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-benar pergi
Mobil Vino melaju melalui jalanan yang sepi, lampu-lampu jalan memberikan pendaran cahaya redup di aspal yang basah oleh embun malam. Suara mesin mobilnya menggaung dalam keheningan, menyatu dengan suara gesekan ban di permukaan jalan yang halus. Kabut tipis menyelimuti jalan, menciptakan suasana misterius di tengah malam.
Sesekali mata vino melirik ke sekitar memastikan tidak ada mobil lain yang tiba-tiba mendahului laju mobilnya.
Sementara di rumah, Siena terus mondar-mandir di ruang tamu, matanya sesekali melirik jam dinding. Kekhawatiran terpancar dari wajahnya.
"Kak Vino kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi sih," keluhnya sembari menatap layar ponselnya. Tidak biasanya Vino pulang terlambat tanpa memberitahunya. Ia sudah mencoba menghubungi Arya, sekretaris pribadi Vino, namun Arya juga tidak tahu keberadaan Vino dan mengatakan bahwa Vino sudah keluar dari kantor sejak sore.
Ketegangan di dalam dirinya semakin memuncak, membuat detak jantungnya terasa lebih keras. Ia terus berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan harapan melihat tanda-tanda kedatangan Vino. Kekhawatirannya memudar sedikit ketika mendengar suara mesin mobil mendekati rumah.
Dengan cepat, Siena berlari menuju pintu depan. Suara deru mesin mobil semakin jelas ketika mobil Vino memasuki halaman rumah yang luas. Lampu depan mobil menyinari jalan masuk, menciptakan bayangan panjang dari pohon-pohon di sekitar. Siena merasa lega melihat mobil Vino berhenti dan lampu depannya mati.
Pintu mobil terbuka dan Vino keluar, tampak lelah namun selamat. Siena berlari menghampirinya, rasa cemas yang tadi menggelayuti hatinya perlahan menghilang.
Saat para pelayan membukakan pintu untuk Vino, Siena dengan cepat berlari dan memeluk sang kakak. Vino membalas pelukan Siena dengan hangat, merasakan kekhawatiran adiknya yang akhirnya bisa mereda. Siena menarik diri sedikit dan menatap wajah kakaknya dengan cemas.
"Kenapa kakak datang terlambat? Aku sangat khawatir," tanya Siena dengan nada penuh kekhawatiran.
Vino menghela napas panjang, "Maaf, ada urusan sebentar yang harus aku selesaikan," jawabnya dengan lembut.
Siena kemudian mengusap air matanya dan berkata, "Kak, aku baru saja mendapat kabar dari Keisa. Setengah jam yang lalu, ibunya meninggal dunia."
Vino terkejut mendengar berita itu. Ia terpaku, hatinya seolah tersayat mendengar kabar duka tersebut. Baru dua jam lalu ia meninggalkan rumah sakit, dan sekarang ibunya telah tiada. Rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan bergemuruh dalam pikirannya.
Tanpa bisa berkata apa-apa, Vino hanya bisa menatap Siena, mencoba mencerna kenyataan yang begitu mendadak ini. Siena menggenggam tangan kakaknya, mencoba memberikan dukungan di tengah kesedihan yang mereka rasakan.
Bagaimana bisa ...., gumam Vino dalam hati.
Flashback on
Setelah menemui ibu Keisa, Vino merasa terbebani dengan segala emosi dan pikiran yang berkecamuk di dalam dirinya. Tanpa banyak bicara, ia mengemudikan mobilnya menuju makam ayahnya, tempat yang selalu ia kunjungi ketika membutuhkan ketenangan dan jawaban atas kebingungan yang ia rasakan.
Langit sore mulai beranjak menuju malam ketika Vino sampai di pemakaman. Angin sepoi-sepoi meniupkan dedaunan kering, menciptakan suasana yang hening dan tenang. Vino berjalan perlahan menuju makam ayahnya, menghentikan langkahnya di depan batu nisan yang sederhana namun penuh makna bagi dirinya.
Ia berlutut di samping makam itu, mengusap permukaannya dengan lembut, seolah mencari penghiburan dalam kenangan bersama ayahnya. Air mata mengalir perlahan dari matanya, tak mampu lagi ia bendung.
"Ayah," suara Vino serak penuh emosi, "aku merasa dipermainkan oleh takdir. Ibu yang selama ini kukira telah meninggalkanku tanpa alasan, ternyata punya alasan tersendiri. Dia memintaku merawat Keisa, tapi kenapa semua ini harus terjadi sekarang? Kenapa harus seberat ini? Apa ini tidak terdengar memanfaatkan? Tapi untuk mengabaikan Keisa, apa aku bisa? Aku terbelenggu, aku kalah."
Vino menghela napas panjang, matanya masih tertuju pada batu nisan itu. "Aku selalu berusaha menjadi kuat. Tapi hari ini, aku merasa begitu lemah. Rasanya seperti semua tanggung jawab ini terlalu berat untuk kuhadapi sendiri."
Ia mengusap wajahnya, berusaha menghapus air mata yang terus mengalir.
"Ayah, apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku menghadapi semua ini? Aku merasa seperti kehilangan arah."
Dalam heningnya malam, hanya suara angin yang terdengar. Vino menutup matanya sejenak, mencoba mencari ketenangan dalam doa dan kenangan bersama ayahnya. Di dalam hati, ia berharap ayahnya bisa memberinya kekuatan dan petunjuk, seperti yang selalu dilakukan ayahnya ketika masih hidup.
Setelah beberapa saat, Vino berdiri kembali. Meskipun hatinya masih penuh dengan beban, ia merasa sedikit lebih kuat. Dengan menghela napas dalam, ia berjanji pada diri sendiri untuk terus berjuang, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang ia cintai. Ia menyadari bahwa menghadapi semua ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya, dan ia harus terus maju meskipun penuh dengan rintangan.
Bersambung
Happy reading
bahaya loh klw mengeluarkan racun dengan cara di hisab..bisa bisa berpindah racun nya lewat mulut...👍😁
sekedar info 🙏😁
Syarat yg diberikan papa wijaya jika vino lolos dr ujian diberikan papa wijaya akan segera menikahi siena...
Vino tipe tidak menyerah pekerja keras pasti tantangan yg diberikan tuan wijaya terwujud,,,
Tantangan yg diberikan tuan wijaya bs mewujudkannya tetep semangat siena sll mendukungmu....