"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
"Kamu tahu perasaan yang sesak itu seperti apa?" Kata Marco dengan tatapan sendunya.
"Jangan banyak bicara, katakan! Dimana lemari pakaian mu? Baju mu basah dan harus di ganti." Ketus Ruby bertanya tapi Marco hanya berdiam saja.
"Bukankah kau ingin aku mati? Jadi biarkan saja aku mati kedinginan." Sahutnya lemah.
Ruby memutar bola matanya malas, dan berlalu mencari dimana letak remote untuk dia bisa menaikkan suhu udaranya agar menjadi lebih hangat. Lalu Ruby pun menemukan pintu lemari dengan pintu tergeser lalu mencari setelan pakaian Marco. Agar pria itu segera mengganti pakaiannya.
Setelah mengambil satu set pakaian dengan kemeja putih panjang dan celana bahan berwarna hitam, Ruby kembali menghampiri Marco yang masih tergeletak lemah.
Entah apa yang di sedang di fikirkan oleh pria itu hingga membuatnya tampak tak berdaya, bahkan Ruby baru kali ini melihat Marco dengan keadaan yang tampak berantakan.
"Pakailah sendiri, aku menunggu di ruang kerja mu." Kata Ruby dengan meletakkan satu pakaian yang ia ambil tadi di samping tubuh Marco.
Saat baru saja Ruby keluar dari ruangan kamar tersebut, Ruby melihat sosok dengan wajah yang di tutupi dengan cupluk yang sering di pakai oleh pencuri.
"Apa yang sedang kau cari?" Tanya Ruby dengan beraninya.
Seseorang yang seperti pencuri itu pun terkejut dan menoleh ke arah suara yang bertanya kepadanya.
Tanpa menjawab, pencuri itu langsung melepaskan satu peluru dalam senjata api yang sudah ada di tanganya. Namun kali ini Ruby sukses menghindar.
Mendengar suara tembakan dari ruang kerjanya, Marco yang tadi masih tergeletak lemah pun langsung bangun lalu mengambil satu senjata api yang ada di ruangan tersebut.
Saat mengetahui Marco juga masih ada di ruangan itu, seseorang dengan pakaian seperti pencuri itu pun segera berlari, tapi dnegan cekatan Marco segera memencet tombol darurat hingga semua pintu perusahaan tak dapat di buka dengan otomatis. Lalu meminta bagian keamanan untuk segera menangkap tersangka yang kabur dari ruangan kerjanya itu.
"Kamu baik-baik saja?" Marco terlihat sangat cemas dan khawatir dengan memeriksa tubuh Ruby.
"Bukankah aku masih hidup? Itu tandanya aku baik-baik saja!"
Marco pun langsung memeluk tubuh itu kembali dalam dekapannya.
"Aku heran, kenapa perusahaan elit dan bahkan bagian ruangan kerja mu sampai bisa ada penyelundup masuk?"
Tak lama kemudian, bagian keamanan memberi kabar bahwa penyelundup itu sudah dapat mereka bekukan.
Marco lalu menggandeng tangan Ruby agar gadis itu mengikuti dirinya. Dan setelah Marco juga Ruby sampai di lobi, kedua orang itu terkejut karena kini yang ada di hadapan mereka adalah Grace.
"Grace?" Panggil Marco setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Yes. It's me baby, do you miss me?" Ucap Grace yang bahkan saat ini Marco sudah muak melihat ya. Sudah tidak ada kata rindu lagi di hati Marco untuk Grace setelah apa yang gadis itu perbuat kepada dirinya.
"Apa yang kamu lakukan di perusahaan ku? Bahkan kau berani menyelundup diam-diam, apa kau sudah bosan untuk hidup? Atau apa memang gertakan ku kemarin kurang untuk membuat dirimu takut?"
Tapi bukannya takut, Grace bahkan tertawa dengan sangat kencang saat ini.
"Hahahahhaha.... Aku takut dengan mu? Sejak kapan aku takut? Aku tau bahwa kamu masih mencintai ku, Marco!! Jika saja gadis sialan ini tidak datang, aku yakin kamu akan kembali lagi dalam pelukan ku." Dengan pedenya Grace mengatakan hal tersebut.
"Kau terlalu percaya diri!!!" Tegas Marco lalu menitah bagian keamanan untuk mengurung Grace di ruangan bawah tanah.
"Kurung dia, dan jangan beri makan atau minum, aku ingin dia mati dengan perlahan."
"Dan untuk mu!!! Kau tidak pantas untuk mengatakan bahwa gadis yang aku bawa saat ini adalah gadis sialan, seharusnya kau bisa berkaca diri dengan dirimu sendiri!! Sudah bagus kah tingkah mu itu? Bahkan kau lebih dari kata sialan!! Jangan sampai aki merobek mulutmu itu dengan pisau yang ingin sekali aku asah akhir-akhir ini.!!" Ucap Marco dengan penuh penekanan.
Kemudian para pengawal atau bagian keamanan perusahaan mengikutinya arahan atau perintah dari Marco untuk mengurung Grace di ruangan bawah tanah.
Ruby yang sejak tadi terdiam dan saat ini pun masih terdiam.
"Are you okay baby?" Marco menangkup wajah Ruby dengan kedua telapak tangannya.
"Bukankah dia mantan pacar mu?" Tanya Ruby yang baru saja mengeluarkan suaranya.
Marco mengangguk membenarkan pertanyaan Ruby kepada dirinya. "Aku akan segera mengurus agar kejadian seperti tadi tidak akan terjadi lagi."
"Apa kau bisa? Bahkan aku hampir saja mati jika aku tidak dapat mengeles dari peluru yang dia tembakan kepada ku."
"Aku minta maaf untuk itu, aku benar-benar tidak tahu jika dia menyelinap ke perusahaan ku, aku juga tidak tahu dalam motif apa dia datang kesini."
Ruby menghempaskan tangan Marco yang menangkup wajahnya.
"Kau marah?"
"Ya aku marah!!! Kenapa kau keluar dengan pakaian yang masih basah seperti ini? Apa kau juga ingin benar-benar mati dengan keinginan?" Ketus Ruby karena ia baru sadar bahwa Marco belum mengganti pakaiannya.
Terlihat senyum simpul di bibir Marco. Ini untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama tidak ada yang memperhatikan dirinya lagi.
Karena sejak Grace memilih untuk menyelingkuhi dirinya, maka sejak itu pula Marco menutup pintu hatinya untuk wanita manapun, bahkan Marco tak segan untuk berbuat kasar kepada setiap wanita yang mencoba untuk menggoda dan bahkan untuk menyentuh tubuhnya, tapi semua berubah saat dia bertemu dengan Ruby Grey. Gadis kecil yang terlihat liar karena sering memberontak dari keluarganya sendiri, bahkan Marco lah yang ingin selalu menyentuh Ruby saat ini, walaupun terkadang Marco harus menelan ucapan-ucapan Ruby yang sarkas kepada dirinya.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" Dan saat itu juga Ruby baru tersadar dengan apa yang ia ucapkan kepada Marco.
"Aku? Aku rasa kau dan mantan pacar mu sama-sama terlalu percaya diri tuan Marco yang terhormat!" Ketusnya lalu membalikan tubuhnya dan akan kembali ke ruangan kerja Marco.
Namun dengan cepat Marco menahan pergelangan tangan Ruby kemudian gadis itu berhenti.
"Apa?"
"Kamu harus membantu ku untuk berganti pakaian." Dengan cepat Marco sudah menggendong tubuh Ruby ala bridal style, netra Ruby beberapa mengerjap karena lagi-lagi hati dan fikiranya yang tidak bisa sinkron.
Sampainya di ruangan kamar kerja Marco. Pria itu menurunkan tubuh Ruby lalu meminta gadis itu untuk membantu dirinya untuk berganti pakaian.
"Bantu aku untuk membuka kemeja ku." Lirih Marco yang kini tepat berada di depan Ruby.
"Tangan mu semua masih berfungsi dengan baik bukan?" Ketus Ruby yang akan pergi ke ruangan kerja Marco. Tapi lagi-lagi Marco menahannya.
"Bahkan kali ini tangan mu masih bisa menahan lengan ku dengan kencang, itu berarti kedua tangan mu masih berfungsi dengan baik tuan Marco!!"
Tapi entahlah, semua perkataan Ruby kali ini tak membuat Marco marah, pria itu terus mengukir senyum di bibirnya yang membuat Ruby heran.
"Kenapa kamu tersenyum? aku juga curiga kau mulai gila sepertinya." Heran Ruby.
"Ya. Mungkin aku memang gila untuk saat ini."
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya