NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Ayah Tiri

Terjerat Pesona Ayah Tiri

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Cinta Terlarang / Beda Usia / Pelakor / Romansa / Tamat
Popularitas:141.9k
Nilai: 5
Nama Author: Grace caroline

Dia, lelaki yang kini menjadi ayah tiriku, adalah sosok yang takkan pernah ku lepaskan dari kehidupanku. Meskipun tindakan ini mungkin salah, aku telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala resikonya. Awalnya, dendamlah yang mendorongku mendekatinya, namun seiring waktu, cinta telah tumbuh di dalam hatiku. Tak ada satu pun pikiran untuk melepaskannya dari pelukanku.

Kini, ayah tiriku telah resmi menjadi kekasihku. Dia terus memanjakanku dengan penuh kasih sayang. Aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Meskipun posisinya masih terikat sebagai suami ibuku, aku tidak peduli. Yang penting, aku merasa bahagia, dan dia juga merasakannya. Mungkin ini dianggap sebagai dosa, namun tak ada api yang berkobar tanpa adanya asap yang mengiringinya.

"Ayah, aku mencintaimu," apakah kalimat ini pantas untuk aku ucapkan?

AKAN LANJUT DI SEASON 2 YAA, HAPPY READING AND HOPE YOU LIKE:))

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30. Bertemu dengan Pemb*nuh

Di sore harinya setelah siang tadi, lebih tepatnya pukul sepuluh lebih lima menit Jelita menerima gelar kelulusannya. Kini tampak duduk bermain ponsel di ruang tamu rumahnya.

Ya, rumahnya. Dia ada di rumahnya sekarang. Sudah lebih dari beberapa hari ini menjelang kelulusan Jelita tinggal di rumah.

Sebenarnya niatnya ingin dekat-dekat dengan Revan mengingat ia sudah menyadari perasaannya. Namun, setelah melihat kelulusannya ini, Jelita pun berpikir. Bagaimana jika ia langsungkan saja rencananya itu dalam waktu dekat?

Sepertinya akan menjadi hal yang menarik jika itu terjadi. Atau bahkan seru? hahaha, sepertinya iya.

Akan menjadi momen bersejarah jika sampai ia berhasil melakukannya.

Lalu beberapa saat setelah Jelita merenungkan rencananya, Revan tiba-tiba muncul dari arah belakang dan duduk di sebelahnya. Sebuah kejutan yang tak terduga, namun begitu menyenangkan.

Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Revan perlahan menarik kepala Jelita mendekat ke arahnya.

Dalam detik-detik yang singkat, namun penuh makna, bibir mereka bertemu dalam sebuah kecupan yang lembut dan penuh cinta.

Rasa hangat dan getaran kebahagiaan melintasi tubuh Jelita saat bibir mereka bersentuhan. Rasanya seperti terbang di awan-awan, di tengah-tengah dunia yang penuh warna dan keindahan.

"Sayang," panggil Revan setelah menyudahi ciumannya. Dan dari ciuman itu Jelita terkejut. Matanya melotot kearah Revan, seakan memperingatkan pada Revan jika bundanya tau bagaimana?

Bisa-bisanya dia melakukan semua itu dengan santai? tidak takut apa jika Widya tiba-tiba datang dan melihatnya?

"Takut bundamu? nggak usah takut. Dia tadi lagi buang hajat di WC. Dari tadi udah di sana nggak keluar-keluar. Mungkin sakit itu perutnya ..," 

"Ehm, kamu setelah lulus gini mau kemana sayang? jadi kuliah ke universitas yang di dapat dari beasiswa itu?" tanya Revan sembari menyandarkan kepalanya di bahu Jelita dan bersikap manja padanya.

Lalu Jelita yang mengetahui sikap manja Revan ini hanya tersenyum dan mengusap-usap pipinya dengan sayang. "Iya, aku jadi kuliah, tapi sebelum itu, kita nikah dulu. Kamu mau kan nikah sama aku?" Jelita ada menjeda ucapannya dan dari ucapannya yang tiba-tiba itu berhasil mengejutkan Revan.

Ia tentu terkejut, karena Jelita tiba-tiba saja mengajaknya nikah seperti ini.

"Ya tentu mau dong, tapi gimana sama bundamu? dia nggak papa nih kalau kita nikah?" tanya Revan tak yakin. Dia khawatir atau lebih tepatnya tidak rela jika Widya harus mengetahui semuanya.

Semua kebusukannya dan penghianatannya bersama dengan Jelita. Rasanya Revan tidak sampai hati untuk mengatakannya, tidak tega. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi.

"Jangan pikirin bunda. Kalau kita saling cinta ya jalanin aja. Soal gimana bunda nanti itu urusan aku. Kamu nggak usah khawatir. Ehm, oh iya, besok aku mau ambil raport di sekolah, kamu anterin ya, jangan bunda. Aku nggak suka." tegas Jelita.

Rasanya ia sudah lelah mengetahui kekhawatiran Revan terhadap reaksi bundanya. Setelah hubungan yang panjang ini, ternyata laki-laki ini belum bisa melupakan istrinya. Bayangannya masih ada di dalam hatinya dan karena bayangannya itu, Jelita semakin tidak menyukainya.

Benci, dengki, dendam dan segala perasaan Jelita tertuang pada wanita itu alias Widya, bundanya. Ingin rasanya ia pergi saja yang jauh dari tempat ini dan melupakan semuanya, daripada terjebak dalam kemarahan yang tiada habisnya.

Ia lelah, ia ingin kedamaian, tapi rasa dendamnya atas kematian ayahnya terus menghantuinya. Hingga waktu pun berlalu dan kini sudah lebih dari pukul setengah sembilan pagi di keesokan harinya.

"Sayang, besok tanggal merah ya, kamu ajak bunda ke house stay di jalan semanggi dong, aku mau bicarain sesuatu hal sama kalian. Penting." pinta Jelita dengan tegas.

Ia selalu memiliki kebiasaan merencanakan segala hal dengan baik dan lebih awal. Baginya, lebih baik melaksanakan sesuatu sekarang daripada menundanya. Dia tahu betul bahwa jika dia tidak melakukannya sekarang, maka akan terus tertunda.

Dengan mempertimbangkan dengan seksama, akhirnya dia memutuskan untuk melaksanakan rencananya besok.

Besok di house stay itu. Namun, tentu ia tidak bisa melakukannya sendiri. Dan sejauh ini yang dapat membantunya hanya Revan.

Meskipun Jelita sebenarnya merasa ragu padanya. Ragu apakah Revan bisa membantunya, karena sejauh ini Revan masih mencintai Widya, bundanya. Jadi Jelita tidak terlalu yakin akan Revan dapat membantunya dalam hal ini.

Namun, tanpa diduga sebelumnya, Revan mengangguk. Dia tersenyum kepada Jelita dan dengan tegas mengiyakan permintaannya.

"Iya sayang, besok aku pasti akan bawa bundamu kesana. Kamu jangan khawatir ya, dia pasti datang kok." ucap Revan. Dan ya, Jelita bahagia. Ia tidak sabar untuk segera menunggu hari esok.

Tidak sabar melakukan apa yang ia inginkan dan ingin ia lakukan dari lama.

................................

Dan keesokan harinya, tepatnya pukul setengah sembilan pagi di dalam sebuah bangunan rumah bernama house stay, Jelita duduk di dalam suatu ruangan temaram bersama bundanya dan Revan, suaminya.

Mereka terlibat dalam keheningan selama beberapa saat hingga akhirnya Jelita yang meminta mereka kemari segera membuka suaranya.

"Terimakasih ya sudah bersedia datang kemari, bunda Widya. Terimakasih sudah mau menuruti kemauanku." ucap Jelita sembari tersenyum kearah keduanya.

Ia tampilkan senyum misterius yang terkesan tajam, namun juga manis.

"Sama-sama, tapi Jel, sebenarnya niatmu mengajak bunda kesini itu ada apa ya?" tanya Widya dan setelah mengetahui pertanyaan itu, muka Jelita langsung berubah tajam.

Ada beberapa saat lamanya ia terdiam, seakan merenung dalam keheningan yang mengelilinginya. Namun, akhirnya, dengan keberanian yang membara, ia memutuskan untuk membuka suaranya.

Tangannya terlipat di depan dada, mencerminkan ketenangan dan kepercayaan diri yang dalam. Seperti seorang penari yang menghentakkan langkahnya di atas panggung, ia memancarkan kekuatan yang tak tergoyahkan.

Namun, tiba-tiba, seperti bunga yang mekar di malam hari, senyumnya terukir di bibirnya.

Senyum itu bukanlah senyum biasa, melainkan senyum yang mengisyaratkan kekecewaan yang tak terbendung. Meskipun begitu, senyum itu tetaplah mempesona, menghiasi wajahnya dengan ketajaman yang memikat.

Seperti lukisan yang memancarkan pesona gelap yang tak tergoyahkan, senyumnya menunjukkan kekuatan dan keindahan yang tersembunyi di balik kekecewaan yang ia rasakan.

"Niatku sebenarnya nggak banyak sih," ucap Jelita dengan nada santai. Matanya berbinar-binar, memancarkan keberanian yang tak tergoyahkan. "Cuma ingin bertemu dengan pembunuh aja."

Kata-kata Jelita membuat Widya dan Revan terkejut. Wajah mereka mencerminkan kebingungan dan kekhawatiran. Namun, di balik kejutan itu, terdapat juga rasa penasaran yang tak terbendung.

Jelita melanjutkan, dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan, "Aku ingin memahami alasan di balik tindakan pembunuh itu. Aku ingin mendengar ceritanya langsung dari mulutnya. Mungkin dengan bertemu dengannya, aku bisa menemukan jawaban yang selama ini menghantui pikiranku."

Widya dan Revan saling pandang, ekspresi keheranan dan ketidakpercayaan tergambar jelas di wajah mereka.

Mereka tidak bisa mempercayai apa yang baru saja diungkapkan oleh Jelita. Pembunuh? Apakah mungkin? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di pikiran mereka, mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan.

Widya, dengan suara gemetar, mencoba merangkai kata-kata, "Jelita, apa yang kamu maksud dengan pembunuh? Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Ini terdengar tidak masuk akal."

Revan juga bergabung dalam kebingungan, "Iya, Jel. Maksudmu itu apa? pembunuh apa? kamu habis nonton film?" 

Jelita tersenyum miring melihat ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajah mereka. Dia mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk melanjutkan ucapannya.

"Waktu itu aku tidak sengaja melihat dua orang sedang berbicara serius di ruang tamu. Mereka kelihatan sedang membahas sesuatu yang berhubungan sama pembunuh gitu, aku kepo ya jadi aku berjalan perlahan-lahan ke arah mereka terus aku nguping deh pembicaraan mereka itu ...,"

"Kalian tahu nggak ternyata mereka itu yang sudah membunuh ayah. Ayah Barata. Kejam sekali bukan? sudah jelas-jelas si perempuan itu adalah istrinya, tapi bisa-bisanya dia membunuhnya seperti itu. Mana jauh sebelumnya sudah menyelingkuhinya lagi ...,"

"Sebenarnya di mana moral wanita itu, aku heran sekali dengannya. Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu kepada suaminya sendiri dan membohongi anaknya yang saat itu tidak tahu apa-apa. Dia dengan polosnya begitu percaya, sampai suatu ketika dia tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Bun, sekarang jelaskan padaku, apa tujuan sebenarnya Bunda membunuh ayah di masa lalu?!" tanya Jelita tajam dan penuh dengan kemarahan yang terpendam terpancar dari matanya.

"Bodo amatlah, aku akan mengatakannya sekarang. Terserah kalau ada yang menyebutku bodoh atau apapun itu. Aku sudah tak dapat menahannya lagi. Rasanya aku tidak sabar untuk segera mendengar jawaban mereka. Apakah itu cuma sekadar yang ku tau waktu itu atau masih ada lagi yang lain? tapi dari wajah bunda sepertinya dia masih menutupi sesuatu ...,"

"Awas saja ya, sampai aku tau semuanya nanti, hidup kalian akan hancur. Camkan itu!" lanjut Jelita di dalam hati.

Bersambung ...

1
Thoma Thoma
karena napsu Gadis muda kecanduan cumbuan sama ayah sambung, lanjutkan
Thoma Thoma
papa sambung hebat dapat perawan, mantap
Thoma Thoma
makanya jangan membangunkan sing lagi tidur,kamu akan kecanduan
cantiknya Suga💜
puaannjjjaanngg bgt thor, baru Bab 1..😮‍💨
Riska Riska
Smkinn seruu dan penasaran deh
◍•Grace Caroline•◍: makasih sudah mampir
total 1 replies
Safa Almira
hot
dhea arisanti
check-in woyy bukan login😭
Putri rahmaniah
jelita lebih cocok dengan Revan ,,dibanding sma ibunya Thor..
◍•Grace Caroline•◍: yes😇😇
total 1 replies
Norah Haderan
jadi penasaran
◍•Grace Caroline•◍: hehe nantikan terus ya kak
total 1 replies
Norah Haderan
guru kok gitu/Smug/
◍•Grace Caroline•◍: hehe maklum kak, udah cinta ya gitu😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!