Pernikahan di atas penderitaan terjadi karena perjodohan yang sangat tidak kamu inginkan, namun karena kedua orang tua hanya bisa menerima takdir.
Perjodohan tidak selalu dalam masalah, terkadang salah satu di antara kedua pasangan memiliki perasaan dan simpati yang tidak bisa ia katakan, yang mana bisa membuat dirinya merasa dibakar api cemburu saat melihat pasangannya bertemu dengan teman yang tidak sejenis.
Rasa cemburu membuat seseorang melakukan hal yang tidak di inginkan pasangannya, walaupun dirinya sendiri tidak menginginkannya, namun karena api cemburu yang membakar akal sehatnya membuatnya melakukan hal yang harusnya ia tidak lakukan.
Wanita mana yang tidak sakit hati apabila anak di kandungannya tidak di akui oleh ayahnya sendiri.
"Dia bukan anakku, dia anak lelaki simpanan mu itu,!" teriaknya marah didepan ibu mertuanya.
Kecelakaan terjadi begitu saja karena kelalaian diri sendiri, koma selama beberapa tahun. hingga pada saat sadar semuanya seakan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meninggal
Keisya peralahan membuka matanya, dia menoleh ke samping dan melihat seorang Bayi yang begitu tampan dan lucu. Rasa sakit yang ia rasakan kini seperti terobati dengan melihat wajah bayi tersebut hingga membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata kebahagiaan. Kemudia dia berusaha menoleh ke samping kanannya dan tidak ada apa apa disana, kegembiraan di hatinya sedikit demi sedikit berubah menjadi rasa khawatir, pikiran negatif bermuncul di kepalanya walaupun dia sudah berusaha untuk tetap berfikir positif.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka berharap bayinya lah yang dibawa seseorang masuk, namun dia melihat hanya Ibunya yang datang dengan tangan kosong.
“Bu, dimana Bayiku,?” tanya Keisya langsung pada intinya membuat Ibunya melangkah meneteskan airmatanya dan memeluk Keisya.
“Tidak mungkin kan Bu, Bu dimana Bayiku,?” ucap Keisya dengan berlinang air mata.
“Sabarlah sayang, tuhan berkehendak lain, tuhan menyayangi saudara kembar putramu Nak,” ucap Ibunya memeluk Keisya, membuat Bayi di samping Keisya kembali mengeluarkan suara tangisannya.
“Nak, jangan terlalu bersedih, ingat bayi gantengmu ini, dia nanti akan ikut sedih jika Ibunya bersedih seperti ini.” Ucap Ibunya berusaha menenangkan putrinya.
Bu Viana menggendongkan Bayi tersebut pada Keisya.
“Nak, apa kamu sudah menyiapkan nama untuknya,?” tanya Ibunya.
“Aku ingin melihat putraku, aku juga sudah menyiapkan nama untuknya,” ucap Keisya.
“Ayah sudah sangat semangat mencarikan nama untuk bayiku, Keisya harus melihatnya,” ucap Keisya dengan lirih, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
“Ayahmu tidak ingin melihatmu merasa sangat terpuruk jika kamu melihatnya Nak, Ayahmu sudah membawanya ke tempat peristirahatan putra kalian,” ucap Ibunya membuat Keisya semakin berdurai air mata dan tak sadarkan diri, beruntung Bu Viani dengan sigap mengambil Cucunya di gendongan Keisya.
Bu Viani segera memencet bel darurat disana, dia tidak mungkin berteriak memanggil dokter, ada bayi di gendongannya. Tak lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan Keisya.
“Sus, bantu dengan oksigen, kondisi pasien sungguh sangat lemah,” ucap Dokter.
Dokter menyuruh suster membawa bayi tersebut dan menyuruh Bu Viana untuk keluar lebih dulu. Bu Viana pun mengikuti cucunya akan di bawa.
“Nyonya, anda tidak bisa masuk, anda bisa melihat dari kaca,” ucap suster tersebut membuat Bu Viana hanya mengangguk dan duduk dengan penuh kepedihan.
“Kenapa jadi begini ya tuhan,” ucap Bu Viana merasa takdir sangat mempermainkan keluarganya yang akan bahagia, namun jika ingin berbahagia seperti harus di uji dengan kepedihan yang sangat dalam.
Bu Viana hanya terus berdiri disana menatap cucunya dari balik kaca, dia ingin melihat putrinya namun dia sangat tidak tega meninggalkan cucunya walaupun dia hanya melihatnya saja dari balik sana.
Seiring berjalannya waktu Keisya kini perlahan membuka matanya dengan wajah yang masih sangat pucat. Tak lama suster masuk bersama ibunya yang menggendong Bayinya. Air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya melihat bayi di gendongan sang ibu.
“Nak, jangan nangis lagi, kasihan anakmu,” ucap Ibunya memberikan bayi tersebut pada Keisya.
“Kamu belum menyiapkan nama untuknya,” ucap Ibunya.
“Ayah sudah memberikan saran pada Keisya Bu, dan Keisya juga suka dengan namanya Galen Syakra Wandra.
“Itu terserah mu Nak, dan namanya sangat Bagus, ibu juga sangat menyukainya,” ucap Bu Viana.
Di kediaman Cakrawangsa sangat terharu dengan wajah bayi yang sudah ada di kediamannya, wajahnya sangat mirip dengan Satya semasi Bayi.