"Bukankah aku menyuruh mu untuk mencarikan sekretaris laki-laki? kenapa yang datang perempuan?." tanya Edwin kepada Hendrik mantan sekretarisnya yang sekarang sudah pindah jabatan.
"Mau sampai kapan sih kamu Ed tidak Mau dekat dengan seorang wanita? bisa di kira semua karyawan, kamu itu direktur pencinta laki-laki."
"Aku tidak perduli dengan perkataan mereka. Lagi pula kenyataannya aku ini normal, bukan pisang makan pisang."
"Kalau kamu normal, seharusnya kamu mau dong mempunyai sekretaris perempuan, jangan menolak, terima saja dia."
"Aku tidak mau Hen. Sekretaris perempuan itu lebih menakutkan dari pada laki-laki. Bagaimana bisa di duduk di depan ku dengan belahan dada yang sangat terlihat jelas. Padahal aku sudah bilang agar memakai pakaian yang tidak kurang bahan." Edwin yang menceritakan sekretarisnya yang sudah ia pecat beberapa hari yang lalu karena bersikap tidak sopan di depannya.
"Kamu tuh aneh.. di suguhi pemandangan indah malah tidak mau." ucap Hendrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
"Masuk dalam apa luar?." tanya Hendrik sambil terkekeh menggoda Edwin.
"Shit.. gua kesini mau minta solusi bukan malah di interogasi, goblok!." maki Edwin sambil melempar bantal ke arah Hendrik.
"Hahaha.. ya lo pake minta solusi segala.. ya kalau lo laki-laki sejati tanpa menunggu hamil langsung tanggung jawab lah, kan lo yang udah memperkosanya." ucap Hendrik.
"Emang cuman satu kali main bisa langsung hamil?." tanya Edwin.
Hendrik yang mendapat pertanyaan dari Edwin menaikan semua pundaknya mengisyaratkan tidak tahu. "Ya tergantung masuk dalam apa luar dulu, tadi malam lo masuk dalam apa luar?."
"Lupa gua, yang gua ingat cuman...."
"Cuman apa? cuman enaknya aja, hahaha.." Hendrik yang kembali terkekeh.
"Sialan lo.." maki Edwin lagi.
"Beb.. jangan bercanda mulu deh, lagi serius juga." Selfi yang sedikit memukul badan Hendrik.
"Tau tuh calon suami lo.." Edwin yang juga kesal karena terus mendapat ejekan dari Hendrik.
"Ya udah lo tinggal tanggung jawab, masa iya sih lo udah nidurin anak orang ngga lo nikahin, jangan cuma ingin enaknya aja lo, kasihan anak orang." ucap Hendrik.
"Iya Ed.. hamil ngga hamil lo harus tanggung jawab, bagaimana pun lo udah nidurin Nabila tidak hanya menyentuh tapi juga menikmatinya." sahut Selfi.
"Tapi gimana kalau dia ngga mau gua nikahin?."
"Ya udah.. justru beruntung dong, dapet enaknya aja ngga usah cape-cape menghidupi."
"Plak!." Selfi yang kembali memukul calon suaminya."Kamu ini gimana sih.. emang kamu kira Nabila pelacur, pelacur aja satu jam dapet bayaran, lha ini dari Edwin ngga dapet apa-apa si Nabila." ucap Selfi.
"Jangan begitu Ed.. kamu bisa bicara dulu sama Nabila maunya bagaimana? yang penting kamu sudah ada niatan mau tanggung jawab dan menikahi dia, kalau memang dia ngga mau ya udah jangan di paksa." lanjut Selfi.
"Tapi lo cinta kan sama Nabila?." tanya Hendrik.
"Cinta lah.. kalau ngga cinta mana gua tiduri." jawab Edwin.
"Ya udah gas aja nikah." sahut Hendrik.
Di tempat lain.
Nabila baru saja keluar dari dalam kamar dari sejak pagi, dengan mata yang sembab karena terus menangis. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ke tempat meja makan untuk mengambil air putih di atas meja.
Ibu Mirna yang baru saja keluar dari dalam dapur sambil membawa sebuah nasi dan lauk pauk menatap ke arah putrinya yang terlihat lemah dan pucat.
"Nabila.. apakah kamu baik-baik saja nak?." tanya ibu Mirna sambil meletakkan nasi dan ikan di atas meja.
"Nabila baik-baik saja buk, ibu tidak perlu khawatir." jawab Nabila.
"Apa tidak sebaiknya kamu periksa ke dokter kalau sakit, nanti takutnya tambah parah."
"Nabila nggak pa-pa kok buk, cuman meriang biasa aja.. nanti juga sembuh."
"Ya sudah kalau begitu, ayo makan dulu, dari tadi pagi kamu belum makan kan? ibu sudah masakin ikan nih buat kamu."
"Nanti aja buk, Nabila masih ngga selera makan." Nabila yang kembali melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar.
"Tapi Nabila, nanti kamu tambah sakit kalau ngga makan." Ibu Mirna yang menyentuh tangan putrinya.
"Iya nanti Nabila makan buk, kalau sudah lapar."
"Ya sudah ibu ambilkan ya nanti ibu bawa ke kamar kamu, jadi kamu bisa makan di dalam."
Nabila yang mendengar ucapan ibunya hanya mengangguk pelan, ia kembali berjalan menuju ke kamarnya. Ibu Mirna yang masih menatap ke arah Nabila merasa ada yang aneh dengan jalan Nabila, ibu Mirna merasa ada yang berbeda dengan langkah putrinya.
"Kenapa jalan Nabila seperti orang habis sunat, kenapa jalannya beda, kok seperti gadis yang sudah tidak... ah tidak mungkin, mungkin karena lagi sakit saja Nabila jalannya seperti itu."
Ibu Mirna mencoba menyingkirkan pikiran jelek tentang anaknya lalu kembali berjalan ke arah dapur untuk mengambil sayuran yang sudah ia masak.
Di dalam kamar, Nabila menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi, lalu ia meraih ponsel yang dari kemarin sengaja ia off kan di atas meja riasnya. Saat ponsel berhasil menyala, ada beberapa notifikasi di layar ponsel dengan nama "Pak Edwin ."
Di dalam pesan tersebut bertuliskan.
"Nabila.."
"Kenapa kau tidak mau menemui saya saat saya ke rumah mu tadi pagi? saya tahu saya melakukan kesalahan yang amat besar kepadamu, tapi jujur saya khilaf melakukan itu."
"Saya tahu betul perasaan mu, maka dari itu lah saya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang saya perbuat."
"Nabila.. saya ingin menikahi mu, bentuk rasa tanggung jawab saya kepadamu."
"Dan satu lagi, kau masih ingat bukan kata-kata yang saya ucapkan di malam kejadian itu, bahwa saya tertarik kepadamu.. itu memang benar, jika saya selama ini menaruh hati denganmu."
Masih banyak lagi pesan yang Edwin kirimkan kepada nya, namun Nabila sudah tidak sanggup lagi untuk membacanya, ia kembali menutup ponselnya dan meletakkan di atas meja.
"Mana mungkin seorang Edwin, laki-laki kaya raya di kota ini mencintaiku? mana mungkin.. masih banyak wanita yang lebih dari ku, tapi kenapa aku yang harus dia tiduri." ucap Nabila yang tidak percaya dengan semua pesan yang Edwin kirimkan kepadanya.
Tidak lama ponsel pun berdering, hingga membuat Nabila sedikit terkejut, saat Nabila melihatnya, ternyata itu adalah telfon dari Edwin. Nabila mencoba membiarkannya, ia tidak mau mengangkat telfon dari Edwin.
"Untuk apa dia meneleponku?." Nabila hanya melirik ke arah ponsel.
Ponsel terus berbunyi hingga 5 kali, Nabila masih saja acuh tidak merespon telepon dari Edwin. Nabila yang merasa terganggu dengan suara telfon mencoba untuk mematikan ponselnya kembali, namun tiba-tiba ia terhenti, saat membaca sebuah pesan dari Edwin.
"Aku ingin mempunyai seorang anak dari mu, aku ingin kamu yang menjadi ibu dari anak-anakku Nabila.."
Nabila yang membaca secuil pesan tersebut seketika menjadi terhenyak. Nabila tidak menyangka jika Edwin akan mengirim pesan seperti itu.