Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 0. G o H o m e
Ambar sangat bersemangat untuk membersihkan rumah malam ini. Tidak peduli jika dia harus tidur sedikit lebih larut dari biasanya. Ambar turun dari taksi setelah membayar tagihan. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam lebih sedikit saat gadis itu turun dari taksi.
Meskipun lampu di dalam rumah tidak dinyalakan, tetapi lampu teras Ambar cukup terang untuk menyinari keberadaan seorang gadis yang duduk di teras rumahnya. Ambar hapal sekali dengan potongan rambut seleher itu. Dia segera menghampiri gadis itu yang sepertinya belum menyadari kehadiran Ambar.
“Lala,” panggil Ambar yang membuat Lala mendongakkan kepala. Sembari mengucek mata, Lala mencoba sadar. Sepertinya dia tertidur saat menunggu Ambar.
“Lalaaa!” teriak Ambar sembari memeluk sahabatnya dengan perasaan senang. Dua orang baru saja kembali hari ini. Kebahagiaan ganda, Ambar benar-benar senang.
“Ambar, maaf buat lo khawatir,” ucap Lala dengan suaranya yang terdengar parau. Ambar melepas pelukannya kemudian tersenyum pada Lala.
“Gak usah minta maaf, kamu balik aja aku udah seneng banget,” ucap Ambar sembari menarik tangan Lala untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara Ambar menghidupkan lampu-lampu, Lala memilih untuk duduk di ruang tengah sembari menonton televise yang sebenarnya sama sekali tidak diperhatikan Lala. Setelah selesai menghidupkan lampu, Ambar menuju dapur demi mengambilkan air putih untuk Lala.
Ambar meletakkan segelas air putih ke hadapan Lala yang kemudian membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Selama beberapa menit mereka saling diam, hingga Ambar mulai bersuara lebih dulu. “Gak usah cerita apapun kalau kamu emang belum pengen, gak usah jelasin apapun.” Ambar menatap mata Lala. Kemudian mengucapkan kalimat yang pernah seseorang ucapkan pada Ambar. “Nggak apa-apa. Ini bukan salahmu, jangan terlalu sedih. Semua akan membaik pada waktunya.”
Kemudian Lala menangis sembari tertunduk di hadapan Ambar. Kali ini bukan tangisan menggila seperti itu. Tangisan kali ini lebih munjukkan rasa lelah Lala. Rasa lelah dalam gadis itu yang hanya bisa dia simpan sendiri selama beberapa hari tanpa keberadaan Ambar.
🍒🍒🍒
Selama Ambar membersihakn rumah, dia membiarkan Lala berdiam diri di ruang tengah sembari menonton televisi. Namun, Lala tidak bertahan lama untuk duduk di tempat itu. Pikirannya selalu melayang ke mana-mana saat tubuhnya hanya diam. Kemudian dia memilih beranjak. Gadis itu menyusul Ambar yang sedang mencuci piring di dapur.
Merasakan ada seseorang yang masuk ke dapur, Ambar menolehkan kepala. Lalu dia mendapati sehabatnya sedang membuka lemari es tetapi menutupnya kembali tanpa mengambil apapun. "Laper, La?" tanya Ambar.
Lala hanya menjawab Ambar dengan deheman. "Bentar, aku selesaiin dulu cuci piringnya."
Setelah menyelesaikan mencuci piring, Ambar membuat dua porsi mie rebus dengan cekatan. Dalam beberapa saat mereka berdua sudah berada di meja makan dan memakan mie rebus buatan Ambar.
"Mama Amara masih di rumah sakit, kan? Gue nginep di sini, ya? Temenin lo." Lala baru mengeluarkan suara setelah sekian lama. Kemudian dia menyuapkan sesendok terakhir kuah mie di mangkuknya ke dalam mulut.
Ambar menganggukkan kepla. "Gak ada yang bakal larang kamu buat nginep, sekalipun Mama sama Ayah di rumah."
Lala mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Ambar. "Am, maaf. Bukannya gue gak peduli, tapi gue baru tau hari ini kalau Mama Amara masuk rumah sakit." Lala memelankan suaranya di akhir kalimat, dia juga berujar sembari menunduk.
Sembari membereskan sisa makanan mereka, Ambar menjawab, "Udah gak apa\-apa. Masalah Mama biar aku sama Ayahku aja yang mikirin. Kamu gak usah tambah beban pikiran lagi, La."Lala mendongakkan kepala, kemudian gadis itu mendapati sahabatnya tersenyum. Seperti biasa, senyum Ambar terlihat manis dan menenangkan.
"Aku mau nyiram tanaman yang di atas, mau ikut?" tanya Ambar memberi ajakan pada Lala yang langsung mengikuti ajakan tersebut.
"Bukannya nyiram tanaman malem-malam gak bagus?" tanya Lala sembari berjalan beriringan dengan Ambar.
"Iya, tapi udah hampir seminggu gak kena siram. Apa lagi yang di atas gak terlalu kena hujan. Padahal hujan lagi jarang banget."
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏