Bagaimana jika kamu menjadi istri dari Ayah sahabatmu sendiri, atau lebih tepatnya menjadi Ibu tiri sahabatmu. Hal itu yang terjadi pada Aneska Mahendra yang menyukai Papah dari sahabatnya sendiri, Alexander yang biasa dipanggil dengan nama Alex. Aneska menyukai Alex sejak masih duduk dibangku SMA, pesona tampan Alex membuat putri dari sahabatnya itu sangat tergila-gila padanya.
Aneska kerap menggoda Alex ketika ia main ke kediaman Alex dengan dalih belajar kelompok bersama putri semata wayangnya yang tak lain sahabat Aneska dari kecil. Meski Alex masih memiliki istri, Aneska tak memedulikan hal tersebut. Baginya yang terpenting ia bisa menyingkirkan Ibu tiri sahabatnya dan menggantikan posisinya.
Beruntung Rania, putri Alex merestui Aneska bersama dengan Papahnya. Rania bahkan membantu Aneska menyingkirkan Ibu tirinya itu dari sisi sang Papah. Sebab, Rania sangat tidak menyukai Ibu tirinya yang sangat bermuka dua itu.
Akankah Aneska berhasil menyingkirkan istri Alex?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti Shaburu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPS S2 > PB 04
Di tempat lain, Victor berkali-kali menelepon Rania tapi tak kunjung menyambung padanya. Sepertinya Rania mematikan ponselnya. Victor yang melihat sudah tak ada lagi orang yang keluar dari tempat itu, bergegas masuk untuk mencari di mana keberadaan Nona kecilnya.
Ketika ia baru saja memasuki pintu gedung, samar ia dengar suara teriakan yang terpotong. Victor langsung berlari menuju sumber suara. Ia terkejut karena melihat Nonanya sedang menerima perlakuan yang tak sepantasnya, tangannya mengepal dan dengan sigap ia melayangkan tinjunya pada wajah pria bau kencur ia tengah mencumbui wajah Nonanya.
Buuugggg...
Sebuah pukulan membuat Revan langsung terjatuh di lantai hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Rania langsung berlari ke arah pria yang telah menolongnya dan seketika ia memeluknya erat. Rasa takut membuat tubuhnya sangat gemetar, Victor membuka jasnya dan menutupi tubuh gadis kecil itu.
“Menjauh darinya, jika kau berani mendekati Nona Rania lagi, tak peduli siapa kau, aku akan membuatmu menyesal.” Victor pergi membawa Rania setelah berucap demikian, meninggalkan seorang pria bau kencur yang has ratnya sempat menggebu kala melihat betapa cantik dan seksinya Rania ketika berada di depannya.
“Sshiittt... Aw!” pekiknya merasakan nyeri pada sebelah wajah dan sudut bibirnya yang berdarah.
*
Victor membantu Rania masuk ke dalam mobil.
“Aku ingin duduk di depan, bersamamu agar aku tak takut lagi,” pinta Rania kala pria dingin itu sudah membuka pintu belakang mobil untuk sang Nona kecilnya. Victor tak berucap, ia hanya menuruti permintaan Nonanya itu dengan perbuatan.
Rania memeluk tubuhnya sendiri yang masih gemetar erat, ia masih ketakutan akan perlakuan Revan padanya. Victor yang melihat hal itu langsung memeluknya tanpa sadar.
“Anda bisa tenang sekarang,” ucapnya singkat membuat Rania sedikit lebih lega. Setelah sudah lebih baik, Victor melajukan mobilnya menuju kediaman Alexander.
Sampainya di rumah, Victor mengantarkannya ke dalam kamar. Ketika ia hendak beranjak pergi, Rania meraih tangan pria yang ia sukainya itu.
“Tak inginkah kau menemaniku hingga aku terlelap, Victor, aku sangat takut,” pinta Rania, Victor menghela napas berat, bukan ia tak mengetahui perihal perasaan Nona kecilnya itu, ia hanya menjaga jarak agar tak terjadi apa pun mengingat ia adalah pria dewasa yang sudah matang, terlebih ia juga sadar diri siapa dirinya.
“Aku akan duduk di kursi ini, kau bisa tidur.” Victor meraih kursi belajar yang biasa diduduki Rania dan duduk dengan melipat tangannya didada, Rania memejamkan matanya, setelah gadis cantik itu terlelap, Victor pun pergi meninggalkannya.
Setelah berganti pakaian, Victor melamun di taman belakang rumah kediaman Alexander, ia memang tinggal di rumah besar nan mewah itu sejak Rania menolongnya. Pikirannya melayang membayangi Nona kecilnya yang selalu membuatnya berdesir. Jika Victor mengatakan ia tak menyukainya, maka ia berdusta, siapa yang tak akan menyukai gadis cantik berhati baik seperti Rania.
Sayangnya, Victor tahu diri akan siapa dirinya. Ia tak mungkin menyukai gadis yang telah menolong dirinya, terlebih Alex juga menolong untuk membebaskannya dari tuduhan pengedar obat terlarang. Alex bahkan memberinya tempat tinggal dan pekerjaan, apakah pantas baginya membalas kebaikannya dengan membalas menyukai putri semata wayangnya.
“Huh.” Victor menghela napasnya berat, tiba-tiba saja ia terkejut kala pundaknya ditepuk dari belakang, Victor langsung menoleh dan menundukkan kepalanya.
“Tuan, Anda belum tidur?” ucapnya sungkan.
“Terima kasih karena kau telah melindungi putri semata wayangku, Victor,” ucap Alex, Victor terkejut bahwa Alex mengetahuinya.
Alex terkekeh melihat raut wajah Victor, “jangan terkejut, aku menaruh beberapa orang disisi Rania, ia tak ingin dikawal oleh bodyguard. Mereka tak bertindak tadi karena ada kau yang sedang bertanggung jawab atas putriku.” Alex menjelaskan dengan singkat dan Victor mengerti akan maksud dari Bosnya itu.
“Maafkan saya, Tuan, karena tak terlalu bertanggung jawab hingga Nona mengalami hal demikian,” ucapnya merasa bersalah.
“Tak perlu minta maaf, kau sudah melindunginya. Jangan dipikirkan lagi, sudah malam, sebaiknya kau tidur.” Alex pergi setelah berucap demikian, Victor merasa lega dalam hatinya.
Esoknya, Rania sudah rapi dalam keadaan baik-baik saja, Victor yang melihatnya menjadi lega. Seperti biasa, Rania akan menebeng pada papahnya saat berangkat ke sekolah. Ia paling tak ingin ada bodyguad yang mengantar jemputnya setiap hari, maka dari itu Alex menempatkan anak buahnya secara diam-diam.
“Biarkan Victor menjemputmu nanti sepulang sekolah,” ucap Alex sebelum Rania turun dari mobil.
“Aku akan pulang dengan Anes dan Reno, Pah. Aku ingin nongkrong di cafe sebentar,” sahut Rania yang memang tak ingin dijemput.
“Masih pegang uang jajan?” Rania langsung menganggukkan kepalanya, ia lantas berpamitan pada sang papah dan turun dari mobil. Aneska dan Reno sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.
“Are you oke, Ran?” tanya Aneska yang khawatir degan sahabatnya itu, Reno mengangguk menunggu jawaban dari Rania.
“Oke kok,” sahutnya singkat.
“Brengsek banget tuh anak ternyata yah, macam-macam sama orang yang tak seharusnya. Apakah perlu kita kerjai?” Aneska menaik turunkan alisnya, ia paling suka mengerjai anak yang tak tahu akan perbuatannya.
“Tak perlu, aku tak ingin ada keributan. Lagi pula doi udah nolong gua juga, jadi gua aman,” sahutnya sambil menebar senyum meronanya.
“Uuuuuh, doi gak tuh. Emang boleh? Emang boleh?” goda Aneska, Reno hanya mengerutkan keningnya tak maksud apa yang dibicarakan oleh kedua sahabatnya. Doi? Siapa doi yang dimaksud oleh Aneska? Begitulah mungkin pikir Reno. Ia memang rada lola sedikit.
*
Sepulangnya dari sekolah, Rania dan kedua sahabatnya nongkrong di cafe tempat biasa mereka ngumpul sesuai yang telah dikatakan oleh Rania pada sang papah. Mereka adalah anak-anak yang kesepian di rumah, maka dari itu mereka bertiga lebih sering ngumpul bareng sepulang seklah daripada harus pulang ke rumah. Ketika menjelang malam, ketiganya barulah kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat.
*****
Pesona Bodyguardku || Isti Shaburu || Noveltoon
ngadi" banget deh..kalimatnya🫠