Dua sahabat memutuskan untuk lebih terikat dengan menikahkan putra putri mereka , perbedaan hidup bagai bumi dan langit bukan sebuah penghalang untuk mereka karena berpikir cinta mampu mengalahkan semuanya .
Tanpa mereka sadari jika kedua anak mereka menjalaninya dengan berdasar sebuah perjanjian hitam di atas putih . Jika mereka hanya akan terikat selama seratus hari , dan masing masing tetap akan menjalankan kehidupan sebelum terjadi pernikahan ini .
Dimas Arkatama sang kaya raya akan tetap setia dengan kekasih hatinya , sedang Kanaya si biasa saja akan fokus dengan karirnya .
Akankah cinta bisa mengalahkan perjanjian yang sudah disepakati ? Atau mereka akan menemukan pasangan sejati setelah perpisahan ini ?
Tidak akan ada yang tahu karena cinta akan menemukan jalannya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Louis tersenyum lebar ketika melihat sang pemilik suara yang sudah menyapanya , padahal ia sengaja ke tempat seperti ini agar bisa menghilangkan wajah manis itu dari otaknya ..Tapi nyatanya mereka malah kembali dipertemukan !
" Dunia sepertinya sangat sempit Nona Kanaya , baru saja saya ingin melupakan anda tapi anda seperti datang dari langit untuk saya . Sesuai dengan kata anda kemarin sepertinya kita memang benar benar berjodoh .... "
Nana tertawa mendengarnya , kata kata Louis seperti sebuah puisi yang mampu menggelitik pendengarannya . Tidak cocok jika pria dengan wajah bule berkata kata bernada gombal .
" Eneng ... Ini masih lama enggak ya !? Akang lagi kejar setoran ini , maaf " celetuk sang ojek yang melihat sepertinya interaksi antara penumpangnya dan pria bule yang nyasar di sawah akan lumayan lama .
" Pergi saja Kang , biar dia nanti saya yang antar " sahut Loius cepat seakan lupa jika motornya pun sedang bermasalah , pria itu juga seakan sudah lupa tujuan utamanya berkeliling dengan motornya . Louis memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada sang tukang ojek .
" Lhohhh ini sih kebanyakan Tuan Bule , satu saja yang warna biru " kata si tukang ojek kembali menyerahkan lima lembar uang kertas warna merah yang tadi ia terima , ia tak mau di kira merampok langganannya .
" Saya nitip itu buat nanti traktir makan siang teman teman di pangkalan ojek , kalau sisa beliin mainan buat anak anak Akang "
" Udah diterima saja Kang ... rejeki " timpal Nana ikut senang ketika melihat bekali kali sang tukang ojek mengucapkan terimakasih kemudian pergi meninggalkan tempat itu .
" Ada yang salah dengan motornya ?? " tanya Nana yang yakin bule didepannya bukan sedang piknik ditempat ini .
" Saya kurang tahu , tadi tiba tiba mesinnya mati . Saya juga belum mencoba melihat mesinnya , mungkin tadi saya terlampau menikmati semua yang ada di sekitar saya . Ternyata menyenangkan berjemur di jalan pinggir sawah seperti ini . Banyak wanita cantik disini , senyum mereka benar benar tulus dari hati ... " tunjuk Louis pada beberapa wanita yang berjejer menanam benih padi di sawah . Yang selalu akan tersenyum dan tertawa ketika memandang ke arahnya .
" Ya kali ada bule ganteng nongkrong di pinggir sawah begini , ya pasti seneng mereka ! Sini Nana bantuin lihat motornya ... cakep banget sumpah , jadi pengen cubit gumusshhh !! "
" Terimakasih .... "
" Yeee motornya yang cakep " cibir Nana yang langsung membuat Louis tertawa . Selalu menyenangkan jika bicara dengan gadis di depannya .
Mereka kemudian mencoba melihat mesin motor dengan desain sporty itu untuk mencari penyebab motor itu ' ngambek ' . Mungkin karena motor yang dimiliki Louis jenis moge membuat Nana lebih tertantang dan harus lebih jeli melihatnya .
" Udah lama nggak kepakai ya ?? Pantes ... Jadi kotor begini saluran bahan bakarnya . Motor tuh kaya cewek nggak cuma butuh dipanasin ... tapi juga butuh dirawat dan dicintai ! Kalau cuma modal manasin doang terus maunya naik seenaknya ya jadi begini akibatnya ... ngambek " gumam Nana seperti sedang bertanya sekaligus menjawab kata katanya sendiri .
Louis tak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan Nana , tapi ia berusaha serius memperhatikan . Rasanya sayang jika melewatkan perhatian pada bibir kemerahan yang terus saja berbicara itu .
Mengagumkan ketika melihat seorang gadis dengan cekatan bisa memperbaiki motornya walau ia juga membantunya . Sebagai pria tentu saja ia mengetahui tentang hal hal yang berhubungan dengan motor atau mobil koleksi pribadinya . Sedikit banyak Louis juga tahu cara memperbaiki kendaraannya .
Dan tak lama kemudian mereka berhasil membuat mesin kembali menyala , Louis kembali tertawa ketika menyadari wajah gadis manis didepannya yang berhias noda hitam yang mungkin saja terkena oli mesin . Wajah manis itu beribu kali tambah menggemaskan .
" Mesin udah nyala , kalau begitu Nana permisi , Tuan Louis bisa teruskan menikmati pemandangan wanita wanita cantik di depan sana " tunjuk Nana pada sederetan wanita yang sedang menanam padi di tengah sawah .
" Anda sudah membantu saya , apakah saya bisa membalasnya dengan mengantar ke tempat tujuan anda ?! Saya rasa tidak ada kendaraan umum yang lewat di jalan seperti ini , jika ada mungkin jarang sekali yang lewat . Butuh waktu lama untuk menunggunya "
" Tentu saja ... maksud saya terimakasih atas niat baiknya " kata Nana seadanya , memang sebaiknya ia menerima tawaran itu karena sebentar lagi mungkin mama mertuanya akan menjemputnya di bengkel .
Sedang Louis tertawa senang dalam hatinya , pria itu benar benar lupa jika gadis di depannya adalah wanita yang sudah bersuami . Rasa tertariknya pada gadis bernama Kanaya sepertinya menutup akal sehatnya . Louis bahkan melupakan jika niatnya keluar dengan motor adalah untuk mengusir gadis itu dari pikirannya .
Nana menaruh tas ranselnya di depan agar ada jarak antara dirinya dan Louis yang saat ini sudah melajukan motornya . Naik motor seperti ini menjadikan ia teringat dengan motor miliknya yang masih ada di rumah orangtuanya . Nana berpikir lebih baik membawa motor itu ke apartemen agar dia tidak terlalu tergantung pada Dimas .
Dimas dan dia mempunyai hidup sendiri sendiri , jika Dimas sibuk dengan perusahaan maka dia juga sibuk mencari uang tambahan untuk kuliahnya nanti . Masa depannya adalah tanggung jawabnya sendiri , ia tak boleh terlena dengan pernikahannya ini walau ia merasa Nugraha atau Darwati bahkan sudah menyayanginya layaknya putri mereka sendiri .
Setidaknya kelak jika ia menjadi janda ia akan mempunyai dua ayah dan dua ibu yang akan selalu mendukung langkahnya . Dan Dimas mungkin bisa ia anggap sebagai seseorang kakak untuknya .
" Terimakasih sudah mau repot mengantar saya Tuan Louis "
" Sama sama , semoga besok kita berjodoh dan bisa bertemu lagi Nona .... "
" Ha ... ha .... anda sangat lucu ! Assalamualaikum ... "
" Walaikumsalam ... Bye ! "
Nana menggeleng gelengkan kepalanya , akhir akhir ini dia seperti hidup di dalam sebuah novel . Tanpa ia sangka ia akan bertemu dua pria kaya raya dengan sifat keduanya seperti bumi dan langit .
Dia tahu akan ada banyak hal yang akan ia alami kedepannya . Nana berharap dirinya akan menjadi bijak untuk menyikapi semuanya , agar tidak ada seorang pun tersakiti di dalamnya . Baik dirinya atau Dimas sekalipun , karena ia yakin Tuhan memberikan jalan ini agar ia bisa lebih dewasa .
Diboongin Mama kau Na...
awas aja kalo sebelum 100 hari km bersikap diluar nurul Dimas...
timpuk bareng2 ..