Aku menjalani kehidupan yang baru setelah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku.
Beruntung ada seseorang yang menolongku dan memberikan kehidupan dengan identitas yang baru.
Akankah kehidupan ku kali ini akan lebih baik?
🌸🌸🌸🌸
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leticia Arawinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik di mulai
Keesokan harinya.
Aku sudah bersiap untuk pergi ke dokter kandungan dengan Rafael dan beberapa pengawal, Niken juga ikut mendampingiku.
"Sayang, jangan lepas dari pandanganku" ucap Rafael dengan serius
"Iya sayang, kenapa kamu terlihat khawatir?"
"Di luar berbahaya sayang, intinya tetap di sampingku ya"
"Iya suamiku"
Rafael memberi kode ke Max tapi aku tidak tahu apa maksudnya dan Max langsung menghindar dari kami sepertinya dia menghubungi seseorang.
"Niken, ingat apa yang saya bilang!" ucapnya dengan tegas
"Siap Tuan!" Niken menjawab dengan lantang
Kenapa perasaanku tidak enak, melihat situasi sekarang terlihat sangat rumit padahal kami hanya pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganku saja.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" merasa takut
"Nggak ada apa-apa sayang, kamu nggak usah khawatir yang penting kamu selalu di sampingku ya?"
Meskipun ucapan Rafael terdengar tenang tapi di balik ekspresinya terlihat kekhawatiran.
"Baiklah, istriku ayo kita jalan sekarang, kita harus melihat seperti apa anak kita" ucap Rafael sambil mengelus perutku
Berhubung Rafael sebelumnya sibuk sehingga ini adalah pertama kalinya aku bisa memeriksakan kondisi janinku.
Aku sudah sangat penasaran seperti apa bentuknya yang tumbuh di dalam perutku.
Kami berangkat dengan di dampingi 2 mobil pengawal.
Sedangkan di dalam mobil yang kami naiki ada Max dan Niken.
Setelah 30 menit perjalan kami sampai di rumah sakit yang terbaik di kota ini.
"Sayang pelan-pelan turunnya" Rafael mengulurkan tangannya untuk membantuku
"Sayang, apa kamu secemas itu?" ucapku sambil tersenyum
"Hemm.. padahal aku ingin menggendong istriku ke dalam tapi dia menolak" Rafael merajuk
"Suamiku sudah ya, apa kamu nggak malu di dengar mereka" melihat ke arah Max dan Niken
Baik Max maupun Niken terlihat menahan tawanya di balik senyum mereka dan memalingkan wajah saat Rafael melotot ke arah mereka.
"Haha.. sudah sayang, kamu membuat mereka takut" ucapku kepada Rafael yang terlihat serius
Kemudian kami akhirnya masuk ke dalam dan langsung bisa bertemu dokter yang sangat profesional.
"Baiklah, silahkan berbaring"
"Baik dok"
Aku sangat gugup meskipun sangat penasaran melihat anak dalam kandunganku.
Rafael berada disampingku sambil menggenggam tanganku.
"Sayang, apa kamu gugup?" tanya Rafael yang khawatir denganku
"I, iya sayang"
Kemudian dokternya mulai mengarahkan alat USG di atas perutku.
"Jangan tegang bu, rileks saja, silahkan lihat perkembangan janinnya di layar" kata dokter yang sedang memeriksaku
"Hah?! sayang lihat, itu anak kita" menatap sebentar ke Rafael lalu melihat lagi ke layar monitor
"Hiks.. Hiks.."
Tanpa sadar aku sangat terharu melihat anakku yang berada dalam rahimku.
"Makasih sayang sudah membuatku sebahagia ini" ucap Rafael yang ikut meneteskan airmatanya
Setelah selesai melakukan USG, rasanya sangat senang bisa melihat anakku apalagi ternyata aku, benar-benar hamil anak kembar.
Meskipun belum terbentuk sempurna karena kehamilanku yang baru 12 minggu tapi kami sangat senang bisa melihatnya.
"Istriku, tolong jaga kesehatanmu demi kamu dan anak-anakku" Rafael masih berkaca-kaca setelah menangis sebelumnya
"Iya sayang, tapi kamu juga harus jaga kesehatan untukku dan anak kita"
"Aku sudah nggak sabar melihat anak kita lahir, ternyata doamu di kabulkan sayang"
"Iya, aku sangat bersyukur karena memiliki kalian"
Tidak butuh waktu lama kami pun selesai memeriksakan kandunganku.
Rafael terus saja melihat foto hasil USG ku kali ini dan dia sangat senang bercampur haru.
Kami keluar dan hendak masuk ke mobil yang sudah di depan menunggu kami.
Dor..
Terdengar suara tembakan.
Kyaa!
"Sayang cepat kamu masuk ke mobil" Rafael sangat panik
"Tapi sayang, kamu!" merasa panik
"Sudah cepat naik!" ucapnya dengan nada tinggi
Deg..
"Cepat Nyonya!" Niken membantuku langsung naik ke mobil
Rafael berlari dan menghalangi beberapa orang yang berusaha menghampiri mobil yang kunaiki.
Dar!
Dor!
Suara tembakan berkali-kali ku dengar.
"Rafael!"
"Niken apa yang sebenarnya terjadi!" merasa semakin panik
"Nyonya tenang kita harus pergi dari sini!" Niken mencoba menenangkanku
"Nggak Niken, gimana dengan Rafael? nggak.." semakin tidak tenang
Niken sama sekali tidak mendengarkan ucapanku dan menyetir meninggalkan area rumah sakit yang kacau.
"Niken.. gimana dengan Rafael?"
"Hiks.. Hiks.."
Sesekali aku melihat kebelakang tapi Rafael sudah tidak terlihat olehku.
Rasanya aku sangat takut bagaimana jika Rafael terkena tembakan itu.
Niken mengebut dan sepertinya banyak mobil yang mengikuti kami di antaranya ada mobil pengawalnya Rafael dan yang lainnya sepertinya sedang mengejarku.
"Hiks.. hiks.. sebenarnya ada apa ini?"
"Nyonya tenang, jangan panik!" ucap Niken yang semakin mengebut
Dalam kondisi seperti ini Niken terlihat tidak panik dan justru berusaha membuatku tenang seperti sudah sering menghadapi situasi seperti ini.
Sret!
Sreek!
Ada mobil yang sengaja menyerempet mobil yang kunaiki hingga bergesekan.
Brak!
Tiba-tiba mobil itu sengaja menabrak mobilku.
Aku merasakan hal yang tidak asing hingga aku mengingat kembali memori saat kecelakaan yang mengerikan itu.
"Aaaaa!!!" berteriak
"Kyaaa!" berteriak
Niken kehilangan kendalinya dan membanting setir ke kanan agar aku tidak terluka.
Sraaaak!
"Nyonya!"
Niken langsung mengambil sesuatu di balik blazer yang dia kenakan.
Set
Tidak pernah terpikirkan sama sekali olehku ternyata Niken mengeluarkan pistol dan bersiap.
Dor!
Dor!
Ada yang menembak ke arah mobil.
"Nyonya menunduk!"
Aku sangat takut dengan situasi ini.
Dor!
Craang!
Kaca mobilnya pecah dan Niken membalas menembak ke arah mereka.
Tiba-tiba banyak sekali mobil yang berdatangan mengepung kami.
Dor!
Dor!
Suara tembakan tidak berhenti, aku tidak tahu harus berbuat apa selain bersembunyi.
"Anakku, jangan takut ibu akan melindungi kalian" ucapku sambil mengelus perutku
Dor!
Dor!
"Aargghh" Niken kesakitan
"Niken! kamu kenapa?" ucapku yang panik
"Akh, Nyonya jangan keluar dan tetap disini bagaimana pun situasinya, saya akan keluar untuk mengalihkan perhatian mereka"
Niken menggenggam lengan kirinya yang tertembak meskipun kesakitan ekspresinya saat itu bercampur sedih menatapku.
"Nggak, Niken jangan keluar, diluar berbahaya"
Dor!
Dor!
Drap.. drap.. drap..
Tiba-tiba ada beberapa orang yang datang.
"Cepat keluar!!" ucapnya dengan nada yang tinggi
Mereka menodongkan senjata ke kepala Niken.
"Niken! hiks.. hiks.."
"Siapa kalian? kenapa melakukan semua ini ke kami?" ucapku yang ketakutan
Mereka menatap kami dengan tajam tapi ada satu orang yang terlihat santai menatapku.
"Nyonya Alexa, jika tidak ingin dia terluka lebih baik ikut kami sekarang!" ucapnya dengan santai
"Tidak!! jangan Nyonya!!" ucap Niken dengan keras
"Diam!!!" orang itu semakin dekat mengarahkan pistol di kepala Niken
Suasana ini sangat menakutkan aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
Kalau aku tidak menuruti keinginan mereka yang ada Niken bisa di tembak oleh mereka sedangkan melihatnya terluka saja aku sudah tidak sanggup.
"Nyonya Alexa, saya tidak akan menyakiti anda, silahkan ikut saya"
"Baiklah tapi jangan sakiti dia"
"Tidak Nyonya jangan!!!"
Pria itu membawaku pergi sedangkan Niken masih di ancam oleh mereka.
"Alexa!!!"
Aku mendengar suara teriakan Rafael dan menoleh kebelakang.
"Rafael!!" berteriak histeris
"Hiks.. Hiks.."
Rafael terlihat kacau tapi dia berlari ke arahku tanpa takut.
Ada banyak orang di belakangnya yang sepertinya anak buah Rafael karena hanya beberapa yang pernah kulihat sebelumnya.
Dor!
"Lepaskan tanganmu dari Alexa!!" ucap Rafael sambil mengarahkan pistol ke pria yang membawaku
"Haha..sayang sekali Rafael"
Tiba-tiba suara yang tidak asing muncul dan berjalan dari belakangku.
"Alexa sayangku, akhirnya aku bisa membawamu" ucap pria asing itu yang hampir menyentuh wajahku tapi aku langsung menghindar
"Sial*n, jangan sentuh Alexa bajing*n!!" Rafael sangat marah
Setelah pria itu muncul di belakangnya banyak sekali orang yang berdatangan.
Semua orang mengenakan pakaian berwarna hitam baik dari sisi Rafael maupun sisi pria itu.
"Rafael.. aku takut! hiks.. hiks"
"Sayang, tenang ya! aku pasti bisa meraihmu, jangan dekat-dekat dengan orang gila itu!"
"Buahahaha.. sayang kenapa kamu takut? ada aku yang menjagamu dari pria sial*n itu" ucap pria itu kepadaku
Aku sudah benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Aku takut akan berimbas dengan kandunganku.
trus si istri hidup kembali mencoba untuk mencintai suami mafianya ituh.
ada yg tau gak judulnya apa.????
plis penasaran sama endingnya
sgt rapi, ga ada typo