Memilik seorang anak adalah impian setiap pasangan. Memiliki istri yang cantik adalah idaman setiap laki-laki. Namun, apa jadinya jika istrimu melakukan program child free hanya demi menjaga penampilannya?
Hal itulah dialami oleh laki-laki bernama Jack Samuel (35 tahun). 10 tahun pernikahannya, Ambar menolak memiliki buah hati, jarang memasakan makanan untuknya bahkan tidak pernah memuaskannya di atas ranjang, hanya demi menjaga kecantikan dan penampilannya.
Jack yang ingin sekali memiliki buah hati nekad berselingkuh dengan wanita lain yang mampu memberikan apa yang tidak dia dapatkan dari istrinya. Seorang putri yang lucu, makanan enak yang di masakan oleh wanita itu, bahkan dia mendapatkan kepuasan di atas ranjang.
Bagaimana nasib pernikahan Jack Samuel dengan Ambar? Bagaimana reaksi istrinya itu ketika dia tahu bahwa dirinya telah mengkhianati pernikahan yang telah terjalin selama 10 tahun ini?
Di baca perbab, jangan lupa like ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Tidak, jangan beri tahu aku siapa Ayah kandungku, Mom," pinta Rosiana seketika menunduk sedih, "Aku sama sekali tidak ingin tau siapa laki-laki tidak bertanggung jawab yang telah membiarkan Mommy mengandung dan melahirkan sendirian."
Rosiana seketika membayangkan apa yang menimpa ibundanya di masa lalu, di mana sang ibu harus menahan rasa sakit, mendapat cemoohan karena hamil di luar nikah bahkan melahirkan sendirian tanpa seorang suami. Sang ibu bahkan harus menanggung resiko atas perbuatannya itu sampai sekarang. Dia diceraikan oleh suaminya ketika aibnya itu terbongkar.
Andai saja laki-laki itu bertanggung jawab dan menikahi Anita kala itu, mungkin kehidupan mereka tidak akan menderita seperti ini. Rosiana tidak perlu di titipkan ke pasti asuhan dan hidup dengan kesepian tanpa kasih sayang dari ke dua orang tuanya.
"Kenapa, Rosi? Sudah sepatutnya kamu tahu siapa Ayah biologis kamu, sayang," tanya Jack menatap sayu wajah Rosiana.
"Betul, sayang. Ayah kamu itu bukan orang sembarangan lho, dia orang berpengaruh di negara ini. Apa kamu tidak penasaran siapa beliau?" tanya Anita merasa heran.
"Cukup, Mom. Aku tidak penasaran sama sekali. Meskipun dia orang berpengaruh di kota ini bahkan di negara ini sekalipun, tapi di mataku dia tetaplah laki-laki yang tidak bertanggung jawab," tegas Rosi penuh penekanan seraya menyeka ke dua matanya yang tiba-tiba saja berair, "Mommy harus menanggung semuanya sendirian, dari mulai mengandung, melahirkan bahkan aku harus di titipkan di panti asuhan. Andai saja laki-laki itu bertanggung jawab dan menikahi Mommy, semua ini tidak akan pernah terjadi, kita semua tidak akan menderita seperti ini!"
Anita diam seribu bahasa. Apa yang baru saja diucapkan oleh putrinya 100% benar. Namun, mereka tidak menikah bukan karena ayah Rosiana tidak bertanggung jawab, tapi karena keadaan yang memang tidak memungkinkan.
"Aku akan mencari pekerjaan juga, Mom, Mas. Aku titip Bella sama Mommy gak apa-apa, kan?" tanya Rosiana menatap wajah suami serta ibunya secara bergantian.
"Tidak!" jawab Jack dan Anita secara bersamaan.
Rosiana mengerutkan kening seraya menatap mereka berdua secara bergantian, "Lho, kenapa? Banyak ko di luaran sana wanita-wanita yang bekerja membantu suaminya?"
"Saya tahu, memang banyak wanita di luaran sana yang bekerja mencari nafkah untuk membantu perekonomian suaminya," sahut Jack raut wajahnya seketika berubah serius, "Tapi saya gak mau kamu seperti itu, kamu dan Bella itu tanggung jawab saya, Rosi. Saya tidak mau kalau kamu sampai kecapekan karena bekerja. Belum lagi, kamu harus bertemu dengan banyak laki-laki di luaran sana. Kalau salah satu dari mereka ada yang suka sama kamu, gimana?"
Rosi seketika terkekeh, "Tunggu! Apa kamu takut aku akan di taksir sama laki-laki lain? Kamu cemburu?"
"Hah? Eu ... i-iya, saya takut kamu di taksir sama laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih tampan dari saya. Kenapa? Salah?" tanya Jack tegas dan penuh penekanan.
"Betul apa yang dikatakan sama suami kamu, Rosi. Biarkan Jack yang mencari pekerjaan, kamu cukup mendoakan dia agar bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, dan di terima di perusahaan besar," sahut Anita sependapat dengan menantunya.
"Mommy ko jadi belain Jack? Sebenarnya anak Mommy itu aku atau dia sih?" tanya Rosiana seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
"Bukan seperti itu, sayang. Putri Mommy ya tentu saja kamu, Rosi. Mommy hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan kamu, sayang," ujar Anita seraya mengusap bahu putrinya lembut dan penuh kasih sayang, "Kalau kamu kerja, waktu yang kamu miliki habis untuk berkerja dong. Kapan kamu sama Mommy-nya?"
Rosiana diam seribu bahasa.
"Dengarkan Mommy, sayang. Mommy ingin membayar waktu yang telah Mommy sia-siakan, Mommy ingin menebus kesalahan yang pernah Mommy lakukan di masa lalu dengan menjadi Ibu dan Nenek yang baik untuk kamu dan Bella," jelas Anita menatap sayu wajah sang putri.
Rosiana segera memeluk tubuh Anita dengan ke dua mata yang terpejam sempurna, "Makasih, Mom. Terima kasih karena telah mengatakan hal itu. Baiklah, aku gak akan bekerja, aku hanya akan menjadi istri yang baik untuk suamiku, melayani dia dengan baik di atas ranjang dan di atas meja makan," lirih Rosiana akhirnya menyerah dengan keinginannya.
* * *
2 Hari Kemudian
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Pintu ruangan di ketuk dan di buka. Jack masuk ke dalam ruangan tersebut seraya membawa map berwarna coklat berisi persyaratan untuk melamar pekerjaan. Seorang laki-laki paruh baya nampak duduk di kursi kebesarannya menatap kedatangan Jack Samuel.
"Selamat pagi, Pak Hartawan," sapa Jack ramah dan sopan.
"Selamat pagi," jawab Hartawan singkat dengan wajah datar, tapi penuh karisma.
"Silahkan perkenalkan diri Anda, nama, usia, status, dan apa tujuan kamu melamar pekerjaan ini?" tanya Hartawan masih dengan wajah datar, "Kamu tahu kalau saya ini sedang mencari assisten pribadi sekaligus supir pribadi? Itu sebabnya saya mewawancarai kamu secara pribadi."
Hartawan adalah Presiden Direktur dari perusahaan besar. Dia adalah pemilik salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini. Perusahaan yang dia pimpin tidak hanya bergerak di satu bidang saja, melainkan di berbagai sektor yang berbeda dengan lebel perusahaan yang sama yaitu, MHC group.
Selain memiliki stasiun televisi, MHC group juga memiliki perusahaan di bidang perbankan yang cabangnya bukan hanya berada di dalam negeri saja, tapi sudah merambah di beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bayangkan, berapa jumlah kekayaan yang di miliki oleh laki-laki paruh baya ini, dan Jack Samuel dengan begitu percaya dirinya ingin melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi plus supir seorang Hartawan.
"Hmm! Jadi kamu pernah bekerja di perusahaan MH Corporindo sebagai Direktur di sana?" tanya Hartawan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan setelah Jack memperkenalkan diri, "Lalu, kenapa kamu resign dari perusahaan itu? Jabatan kamu Direktur lho."
"Karena saya akan bercerai dengan putri pemilik perusahaan, Pak. Jika saya melepas status sebagai menantu, maka saya pun harus melepas jabatan saya sebagai seorang Direktur," jawab Jack dengan wajah datar.
"Begitu rupanya," sahut Hartawan seketika berdiri tegak lalu berjalan menghampiri Jack, "Saya mau tanya satu hal sama kamu, Jack Samuel. Apa saja yang sudah kamu dapatkan semenjak kamu menjabat sebagai Direktur perusahaan besar itu?"
"Tidak ada, Pak. Semua fasilitas yang saya pakai selama ini saya kembalikan kepada mantan istri saya," jawab Jack menatap lekat wajah Hartawan, "Rumah, mobil, barang-barang mewah yang selama ini saya pakai bahkan dompet pribadi saya pun, saya kembalikan sama mantan istri saya."
Hartawan kembali mengangguk-anggukan kepalanya samar, "Kamu laki-laki yang beradab juga ternyata, andai saya menjadi kamu, akan saya kuras harta istri saya sebelum saya menceraikan dia, tapi kamu sama sekali tidak melakukan hal itu, saya salut sama kamu."
Jack tersenyum lebar, "Terima kasih atas pujiannya, Pak," ujar Jack merasa senang.
"Andai saja saya punya putri perempuan, pasti akan saya jodohkan dia sama kamu. Sayangnya, saya tidak tahu dia ada di mana," sahut Hartawan tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan, "Hmm! Baiklah, kamu saya terima bekerja dengan saya. Kamu sudah bisa bekerja hari ini juga."
BERSAMBUNG