Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.
Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.
"Saya akan menikahinya, sekarang!"
Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Yang Pantas Hanyalah Kamu
"Kak Asa masih tidur," kata Aina, dengan hati-hati bangkit berdiri. Dan Angkasa dalam kepura-puraannya tiba-tiba merasa dingin dan kesepian.
Aina bergerak menjauh, merapikan daster tidurnya dan melangkah menuju pintu kamar. Sambil membuka matanya perlahan dan menatap kasur yang sudah ditinggalkan Aina, ia berkata pelan, "Kamu ada jadwal kuliah hari ini? Kalau tidak, bisakah menetap sebentar?"
Angkasa bangkit, dan menoleh. Matanya terjaga pada Aina di depannya. Firasatnya menyuruh mendekati Aina, memeluk dan merangkul wanita itu erat-erat agar dia tidak bisa melarikan diri darinya. Namun, Angkasa sadar bahwa itu bukan saat yang pas. Angkasa mengawasi istrinya, lekuk tubuh wanita itu, untaian rambut panjangnya, berkilau terang oleh cahaya matahari. Dia merupakan----sesuatu yang tak terduga di dalam hidup Angkasa.
"Kak Asa sudah bangun? sejak kapan?" tanya Aina padanya. "Hari ini tidak ada jadwal kuliah, tapi Aina ada keperluan di luar."
Angkasa mendekati Aina, meraih lengan Aina, kemudian memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya secara konstan. Ketika mata Angkasa mendapati mata Aina yang berkaca-kaca, dia mulai merasakan sebuah firasat.
"Keperluan apa? Perlu aku temani atau ku antar?" suara Angkasa sangat lembut, namun pandangan matanya tegas. Ia ingin agar Aina menerima tawarannya. "Aku belum terlambat untuk mengantarmu, aku bisa siap-siap sekarang."
"Tidak perlu Kak Asa," ucap Aina. "Ini hanya pertemuan antar teman, dan memang ada satu obrolan kecil yang harus kami bahas. Lagipula Kak Asa masih sakit, bagaimana kalau hari ini istirahatlah dulu?"
"Kamu benar. Tapi tentara sepertiku tak butuh waktu lama untuk sehat, biarkan aku mengantarmu." Angkasa mempererat genggamannya.
Namun lagi-lagi ia mengalami penolakan, Aina menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman.
"Hanya sebentar Kak Asa," katanya pelan. "Kak Asa bisa tunggu Aina di rumah, atau kalau memang sudah baikan tidak apa-apa ke markas. Aina cuma mau bertemu teman."
"Baiklah, tapi paling tidak beritahu aku siapa orang yang akan kamu temui."
Aina tertawa ketika menyentakkan lengannya dari cengkeraman Angkasa. "Tidak seperti biasanya Kak Asa begini," ujar Aina, suaranya meninggi sementara matanya bersinar berbahaya ketika memandang Angkasa. "Aina mau bertemu Mbak Dian, Kak. Ada hal yang perlu Aina bicarakan dengannya. Termasuk menjelaskan beberapa kesalahpahaman antara kami."
"Salah paham?"
"Sudah, jangan dipikirkan."
"Tidak," bantah Angkasa, begitu terpukau pada pantulan cahaya matahari di mata istrinya, "Bagaimanapun, saya ini masih suami sah kamu. Dan seorang suami perlu tahu kemana pun istrinya akan pergi, Na. 23 tahun yang lalu, saya sering lihat mama pergi ke luar bersama temannya, Ibu Marwah. Setiap pergi beliau selalu izin dengan papa saya, demikian papa saya selalu menyempatkan diri untuk mengantarnya ke tempat tujuan. Saya tanya, untuk apa? dan beliau jawab; kita tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam bahkan beberapa detik ke depan. Barangkali saat mama pergi terjadi sesuatu tak terduga. Jadi kalau mama pamit, papa akan tahu mama ke mana, bertemu siapa, dan untuk keperluan apa. Begitu juga sebaliknya."
"Aina pergi menemui Mbak Dian untuk mengatakan soal kemarin malam Kak." Aina menunduk dan mundur selangkah, seolah tiba-tiba ia membutuhkan jarak dari Angkasa. "Aina terlalu bodoh karena telah menyakiti hati Kak Asa, dan Mbak Dian kemarin minta Aina untuk pisah dari Kakak kalau tidak sanggup untuk mempertahankan."
Emosi Angkasa naik tapi ia berusaha untuk menahannya. Dian sungguh lancang karena berkata demikian, dan pengakuan Aina itu tiba-tiba mengingatkannya pada peringatan yang diberikan oleh Nico malam itu.
Sementara itu, Aina berhenti, menarik napas dalam-dalam, dan melanjutkan. "Untuk itu, Aina mau menemui Mbak Dian---memintanya untuk tidak perlu lagi melakukan pendekatan dengan Kak Asa, karena Aina adalah istri Kak Asa. Aina akan mempertahankan rumah tangga kita."
"Dian sudah lama menekanmu begini?"
"Ya, sejak awal kami bertemu----"
"Kalau begitu biar aku yang menemuinya, aku akan memberitahunya dengan tegas." Tukas Angkasa, menatap Aina seakan-akan kepalanya terbuat dari besi jet tempur yang keras. "Aku benar-benar kecolongan, membiarkanmu mendapat tekanan dari orang-orang terdekat ku."
"Tidak Kak Asa." Aina menggeleng kepala, kemudian menghela napas dan seluruh udara keluar darinya, seperti gelembung udara yang tiba-tiba meletus. "Biar Aina yang selesaikan dengan Mbak Dian. Aina lah yang secara tak langsung memberikannya ruang untuk mendekat. Dia begitu, karena merasa Kak Asa telah tersakiti oleh Aina."
"Aku tak pernah menyangka ada obrolan setegang itu di belakangku," kata Angkasa, suaranya rendah sekarang, menyirami sekujur tubuh Aina bagaikan dengkuran lembut kucing liar. "Dian sangat lancang. Kupikir kalian akan menjadi teman baik, malah menjadi saingan."
"Ya," jawab Aina. Meskipun penyesalan mengiringi kata-katanya, harapnya langkah ini dapat mengubah apa pun yang telah terjadi sekarang. "Semua itu karena rasa cinta Mbak Dian untuk Kak Asa."
Dengan sedih Aina menerima kenyataan bahwa ia telah berdosa dalam pertarungan ini. Ia telah gagal menjadi seorang istri yang melindungi rumah tangganya. Bahwa seharusnya dari awal ia menerima Angkasa dan melupakan segala hal tentang Samudera, tapi segala kepedulian dan kesedihan yang telah ia tujukan untuk Samudera di depan Angkasa, sungguhkah semua karena masih cinta atau hanya perasaan bersalah yang tertinggal?
Aina tidak paham. Tidak menyadari bagaimana hatinya telah berpihak sekarang, dan apa yang telah selama ini Angkasa lakukan semata-mata demi dirinya.
Aina menggeleng lagi dan berkata, "Kakak jangan membenci Mbak Dian, dan tidak perlu terlihat semarah itu. Yang bersalah di sini adalah Aina, karena tidak bisa menjaga dan menyayangi Kak Asa dengan benar. Kalau dari awal Aina bisa mendampingi dan tidak ragu mengatakan mempertahankan, atau bahkan menangisi lelaki lain di hadapan kakak. Mungkin Mbak Dian tidak akan bicara selancang dan sejauh itu."
Angkasa mengernyit saat merasakan kepedihan ketika Aina berkata demikian, laksana pisau yang menusuk jantungnya begitu dalam.
"Aina akan menyelesaikan semuanya dengan Mbak Dian, soal segala yang telah disampaikannya dengan Aina terakhir kali."
Mendadak muncul kekosongan di dalam hati Angkasa, dan walaupun ia tahu mengharapkan cinta dari wanita yang mencintai orang lain merupakan sikap yang bodoh, kehilangan Aina jelas akan membuatnya hancur.
"Kalau kamu mau meninggalkan saya," kata Angkasa dengan berat hati. "Tolong sampaikan pada Dian, saya tidak akan membuka hati untuknya, jadi lebih baik membuang jauh perasaannya sebelum saya yang menjauh selamanya."
Aina menghela napas dan menggenggam tangan Angkasa pelan, berusaha untuk meyakinkan pria itu bahwa apa yang akan terjadi ini bukanlah hal berat untuk ditanggungnya. "Kak, Aina sudah mengatakan tadi. Aina mau menemui Mbak Dian---memintanya untuk tidak perlu lagi melakukan pendekatan dengan Kak Asa, karena Aina adalah istri Kak Asa. Aina akan mempertahankan rumah tangga kita."
Angkasa memandang istrinya dengan tajam, tatapan yang telah ia latih dan kembangkan sepanjang kehidupannya yang berisi pertempuran dan Persenjataan. Ia tidak salah mendengar kali ini.
"Beri Aina kesempatan Kak."
Angkasa terdiam, hatinya berdebar hebat kali ini.
"Kamu adalah istri saya, pertama dan satu-satunya. Tidak akan ada perempuan lain, yang pantas menjadi istri saya, hanya kamu." Kata Angkasa disertai ciuman manis di puncak dahi Aina yang mulus.