NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.

Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.

Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.

Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.

Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.

Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interogasi

​Suasana di dalam ruangan itu mendadak begitu sunyi, hingga suara deru napas Aisyah yang tidak beraturan bisa terdengar jelas. Darren menyandarkan punggungnya, lalu meletakkan sebuah botol kaca kecil di atas meja kerjanya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk mengintimidasi.

​Aisyah terkesiap. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mengenali benda itu. Itu adalah botol obat pencahar yang ia buang ke bak sampah besar di luar pagar tadi subuh.

​"Ada yang mengenali botol ini?" suara Darren terdengar rendah namun sangat angker di telinga Aisyah dan jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

​Tak ada yang bicara. Bi Ita bahkan tidak mengerti ada apa dengan botol kecil itu. Sementara Aisyah terus meremas ujung celemeknya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Darren mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak antara dirinya dan Aisyah. Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya, sebuah seringai yang menandakan bahwa ia sudah memegang kartu mati lawannya.

​"Kamu Aisyah, tahu ini botol apa?"

​Aisyah menggeleng dan terus menunduk, tak berani menatap wajah Darren walau hanya sedetik.

​Akhirnya Darren membuka laptopnya dan mengutak-atik sebentar, lalu membalikkan posisi layar laptop itu ke hadapan Aisyah dan Bi Ita.

​"jelaskan padaku, Ait! Sedang apa subuh-subuh tadi kamu mengendap-endap ke tempat sampah?"

​Aisyah dan Bi Ita menoleh ke arah layar. Seketika mata mereka melotot dan wajah Aisyah semakin pias. Tapi ia masih berusaha mengelak.

"Sa-saya... saya... hanya sedang me-membuang sampah tu-tuan..." Katanya tergagap.

"Baiklah kalau begitu, biar aku suruh poliso untuk mengecek sidik jari yang ada di botol ini."

"Bodoh! Kenapa aku tak memakai sarung tangan saat itu?" Natin Aisyah, mengutuki kebodohan dirinya dalam hati. Wajahnya pun semakin terlihat pucat seperti mayat. Sekarang dia tak bisa mengelak lagi, daripada nanti polisi yang memeriksanya. Tangisnya pun langsung pecah. Tubuhnya ambruk di dekat kaki Darren.

​"Ampuni saya Tuan, saya memang bersalah, hu hu hu... ampuni saya..."

​"DIAM!!"

​Darren berdiri sambil menggebrak meja. Matanya buas menatap Aisyah. Aisyah pun semakin menciut.

"Apa arti semua ini, Aisyah?" Suara Bi Ita bergetar menahan marah dan rasa sesak di dadanya. Ia tak percaya, benarkah Aisyah yang telah membuat Daniela hampir kehilangan nyawanya?

​Tapi Bi Ita tidak bisa bertanya apa-apa lagi karena takut melihat Tuannya semakin marah.

​"Aku akan melaporkanmu ke kantor polisi."

Jantung ​​Aisyah seperti dicabut paksa. Ia langsung bersimpuh dan memegang ujung celana Darren dengan tangan yang gemetar hebat. Isak tangisnya terdengar menyayat hati di ruangan yang luas itu.

​"Jangan Tuan, saya mohon... jangan lapor polisi. Saya terpaksa melakukan ini," rintih Aisyah dengan suara yang parau.

​Darren menyentakkan kakinya agar terlepas dari pegangan Aisyah.

"Tunggu saja Daniela sedikit lebih sehat. Aku tak akan menghalangi dia jika dia ingin menuntutmu. Selain itu, aku juga akan memecatmu dengan tidak hormat!"

"Tolong tuan, jangang lakukan itu pada saya. Saya bisa jelaskan kenapa saya melakukan itu"

"Apapun penjelasanmu, kamu sudah bertindak kriminal!"

"Tapi itu karena nona Daniela yang sudah memancing saya untuk membalas dendam."

"Memang apa kesalahan Daniela?"

"Nona... dia sudah membuat saya marah dan kesal. Beberapa kali saya dikerjai oleh dia."

"Apa kamu terluka fisik karena dia? Apa kamu juga hampir mati karena ulahnya?"

​Aisyah membeku, tapi kemudian menggeleng lemah, air matanya masih bercucuran dan kini sampai membasahi lantai.

"Tidak Tuan, tapi Nona Daniela sudah membuat saya merasa terhina, merasa direndahkan"

​"Oh, jadi karena itu kamu merasa berhak melakukan percobaan pembunuhan?" suara Darren begitu sinis dan matanya tetap beringas.

"Dari mana kamu mendapatkan barang itu, hah?" Lanjut Daeren.

​Aisyah membisu. Ia tidak mungkin jujur dan mengatakan kalau barang itu didapat dari Selina.

"KATAKAN!"

"I-itu da-dari beli, Tuan."

Kalimat itu pun meluncur begitu saja, sesuai arahan dari Selina setelah wanita itu kembali menelepon balik Aisyah. Selina takut Aisyah tak bisa menjawab saat diinterogasi Darren dan akhirnya keceplosan membawa nama dirinya.

Darren menyipitkan mata, menatap Aisyah dengan pandangan yang amat tajam.

​"Beli?"

​Darren mengulang kata itu dengan nada tidak percaya.

​"Jangan bohong. Obat keras seperti ini tidak mungkin dijual bebas di warung atau apotek biasa tanpa resep dokter. Katakan yang jujur, siapa yang kasih obat ini ke kamu?"

​Aisyah gemetar hebat. Ia ingin sekali menyebut nama Selina agar beban ini terangkat, namun bayangan ancaman Selina tentang nasib keluarganya di kampung membuat lidah Aisyah mendadak kelu.

​"Be-benar Tuan, saya beli sendiri," isak Aisyah.

​"Di mana?"

​"Tempo hari lalu waktu saya belanja ke pasar, ada orang jual obat racikan di pinggir jalan. Saya sedang kesal sekali karena nenerapa kali merasa direndahkan oleh Nona Daniela. Lalu saya tanya apa ada obat yang bisa bikin perut mulas supaya Nona kapok. Orang itu kasih botol ini, Tuan."

​Darren berjalan memutari mejanya. Langkah kakinya terdengar menghentak di atas lantai marmer.

​"Kamu pikir, kamu berhak berbuat kriminal di rumah ini hanya karena sakit hati?"

​Darren tertawa sinis.

​"Bagaimana bisa kamu tiba-tiba terpikir beli obat berbahaya begitu cuma karena kesal? Kamu mengerikan Aisyah. Bibi tak menyangka kamu bisa melakukan perbuatan sekeji ini."

Bi Ita ikut berbicara dengan airmata berlinang. Sementara kepala Aisyah semakin tertunduk dalam.

​Darren berdiri tegak, napasnya terdengar berat karena menahan amarah yang hampir kembali meledak.

​"Bi Ita, bawa dia keluar dari sini. Tunggu saja apa yang akan dia terima dari konsekuensi ini."

​Aisyah yang masih bersimpuh di lantai mencoba meraih ujung celana Darren lagi, tapi Darren langsung menghindar dengan kasar.

​"Tuan, saya mohon... jangan lapor polisi! Saya akan lakukan apa saja, Tuan!"

​Darren sama sekali tidak peduli dengan rintihan itu.

​"Bawa dia, Bi! Dan kamu, jangan coba-coba berkeliaran di depan mukaku!"

​Bi Ita dengan tangan gemetar membantu Aisyah berdiri.

​"Ayo, Aisyah... ikut Bibi sekarang," bisik Bi Ita sambil terisak kecil.

​Aisyah diseret keluar dengan langkah lunglai. Di sepanjang koridor, hanya suara tangisnya yang terdengar memilukan. Bi Ita membimbingnya masuk ke dalam kamar kecil di bagian belakang rumah.

​"Kenapa kamu nekat sekali, Syah?"

​Bi Ita bertanya dengan suara yang hancur saat mereka sampai di dalam kamar. Aisyah tidak menjawab, dia hanya menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal.

"Turuti perintah Tuan, diam di sini! Jangan berkeliaran kemana-mana apalagi kalau sampai mendekati kamar Nona Daniela." Peringat Bi Ita sambil keluar dari dalam kamar Aistah dan menutupnya rapat.

Sepeninggal Bi Ita, tangis Aisyah kembali pecah. Rasa sesal pun kini tak ada gunanya lagi.

***

​Sementara itu di dalam ruang kerjanya, Darren masih berdiri menatap ponsel Aisyah yang dirampasnya dari wanita itu. Dia tahu Aisyah berbohong soal penjual obat keliling. Alasan itu terlalu klasik untuk dipercaya. Namun, saat memeriksa ponsel Aisyah, dia tak menemukan apa pun. Tak ada hal yang mencurigakan di sana.

​Sebelumnya, Aisyah memang sudah menghapus riwayat panggilan maupun percakapan pesannya dengan Selina. Bahkan, nomor Selina pun sudah dihapus dari daftar kontaknya. Itu semua tentu atas perintah Selina yang tak bisa ditolak Aisyah. Ia terpaksa menurutinya karena berada di bawah ancaman perempuan itu.

​Darren akhirnya keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Daniela.

​"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Darren sambil menatap Daniela yang sedang tertidur pulas.

​Daniela baru saja meminum obatnya. Di situ juga ada Haruni, karena Daniela meminta dipanggilkan sahabatnya itu.

​"Mbak Daniela sudah jauh lebih baik, Pak. Hanya tinggal memulihkan tenaganya saja. Oh iya, saya permisi pulang dulu," kata suster itu sambil membereskan peralatan medisnya. Darren hanya mengangguk pelan.

​"Haruni, saya minta tolong sama kamu, bisa?"

​"Bisa, apa?" Haruni langsung terkesima. Dia sedang asyik menatap wajah tampan suami temannya itu.

​"Tolong jagain dulu Daniela, saya akan keluar sebentar."

​Haruni mengangguk tanpa bicara. Matanya tidak lepas dari sosok Darren yang kini berbalik memunggungi tempat tidur.

​Darren pun melangkah keluar kamar dengan rahang yang mengeras. Meski layar ponsel Aisyah terlihat bersih tanpa cela, instingnya mengatakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di sana. Jika memang ada yang disembunyikan oleh asisten rumah tangga nya itu, ia tak akan membiarkan siapa pun bermain-main di belakangnya.

​Sambil merogoh kunci mobil di saku celananya, dia berjalan cepat menuju garasi. Dia perlu mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi, sebelum kebohongan-kebohongan kecil ini berubah menjadi badai yang akan mengganggu hidupnya dan Daniela.

1
Nessa
hah? emak nya kaget 🤣
mimief
Wkwkwk dia yg ngidam...ya nak siksa aja ayah mu 🤣😭
Ariany Sudjana
Darren couvade syndrome, makanya Daniela ga merasa ngidam 😄
Neng Nosita
giliran Darren yg ngidam😄
Muft Smoker
astagaaaa Darren lupa ingatan ,, jgn sampe si Selina ngaku2 jdi istri ny Darren deeh ,,
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
Nessa
sudah ku dugaa akan ada drama hilang ingatan, it’s okay lah semoga darren dan daniela segera bertemu
Brilliante Brillia
Assalamualaikum
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
mimief
jgn kejam kejam lah Thor sama Daniella😔
Brilliante Brillia: tenang aja kk, semua akan indah pd waktunya 😄
total 1 replies
partini
OMG ko bisa sama jalan cerita nya Thor welehhhhh , sama yg lagi kau baca ok lah aku selesai dulu yg itu soalnya Agi seru"nya jadi aku tinggal yg ini
Nessa
waduhhhh darren 🙊🙈🙈🙈
Neng Nosita
plies jangan dibikin amnesia Thor,kasihan nanti daniela😄
mimief
ya...dibikin amnesia ya Thor.trus lupa ntar Ama Daniella
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
partini
berharap Darren di bikin muntah" lemes sama Debay ternyata kecelakaan wehh,, jangan" sama nih kaya novel yg lagi aku baca kecelakaan terus hilang malah nikah sama ulet bulu 🤦🤦🤦 Ampe bininya lahiran
Ivy
Daniela hamidun wah tocker juga Darren 😂
Muft Smoker
ni Mah Darren versi sachet udh hadiiir ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
mimief
lagi Thor....lanjut
lanjut
partini
Darren Junior ini mah,,si Kunti bogel Selina pintar kamu yah luar biasa emeng si yg namanya ulet bulu di mana" selalu beruntung punya seribu cara bikin huru hara pernovelan
Nessa
daniela hamil ea thor
Neng Nosita
apakah ortu Darren gak tahu tentang wasiat kakeknya Darren?
olyv
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!