Maafkan aku sayang! maaf sudah membuatmu menderita!
......
Kenapa harus aku?
Pertanyaan itu muncul di benak Mentari!
Kenapa harus dirinya mempunyai takdir yang sangat menyedihkan. Bukankah banyak miliaran orang dia atas bumi ini kenapa harus Mentari.
Nama yang indah, namun tak sehangat perjalanan hidupnya. Lahir tanpa kedua orang tua membuat Mentari tumbuh jadi sosok pendiam.
Kesakitan Mentari tak cukup di sana, kesedihannya semakin ternganga ketika ia harus di benci oleh orang yang Mentari sayang, tanpa sebab.
Apa salahku?
Pertanyaan itu selalu muncul namun tak ada satupun yang bisa menjawabnya!
So, ikutin terus ceritanya 😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma qolayuby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Ye ...
Setelah kepergian Mentari Adelia dan Stephen sangat sibuk mengurus semuanya bahkan Adelia rasanya lelah.
Begitu banyak pekerjaan membuat Adelia lupa jika ibu panti menyuruhnya pulang.
Adelia dengan cepat menyelesaikan pekerjaan agar ia tak kemalaman pulang ke panti. Entah ada apa Adelia juga tak tahu kenapa tiba-tiba ibu panti menyuruhnya pulang.
Entah ada sesuatu yang serius atau apa Adelia tak tahu. Adelia hanya berharap tak terjadi apa-apa di sana.
Sudah menyelesaikan pekerjaan nya Adelia langsung pulang menuju panti.
Untungnya jalanan tidak terlalu macet membuat Adelia cepat sampai.
Adelia turun dari taxi dengan kening mengerut melihat suasana panti yang nampak gelap.
Padahal di luar beberapa bangunan dan penjual lampu mereka menyala. Kenapa hanya panti saja yang gelap, apa mungkin pulsa listrik sudah habi. Jika begitu kenapa ibu panti tak memberi tahunya.
"Nak!"
Ibu panti menghampiri Adelia dengan lilin di tangannya.
"Ibu, kenapa semuanya mati. Apa listrik di matikan oleh pegawai PLN?"
"Nak, nanti ibu ceritakan di dalam, ayo masuk dulu!"
Adelia mengangguk patuh memegang lengan ibu panti masuk ke dalam dengan cahaya lilin yang meneranginya.
Maklum ibu Panti sudah tua dan dia tak bisa menggunakan ponsel. Walau punya ponsel hanya ponsel jadul.
"Anak-anak ada di mana buk?"
"Mereka ada di lapangan sedang berkumpul!"
Adelia mengangguk faham karena memang jika mati lampu dari dulu anak-anak akan kumpul di lapangan sambil menyimpan semua lilin di tengah-tengah mereka seolah mereka sedang duduk di hadapan api unggun.
Adelia memegang tangan ibu panti agar tak jatuh.
Hingga cahaya lilin di lapangan mulai terlihat oleh Adelia.
Adelia mengerutkan kening melihat cahaya lilin yang membentuk sebuah tulisan membuat Adelia berjalan semakin dekat.
...WILL- YOU- MARRY- ME...
Deg ...
Adelia menutup mulutnya tak percaya melihat sebuah tulisan sakral itu. Hingga tiba-tiba lampu menyala seketika hingga memperlihatkan sosok gagah di depan lilin tersebut dengan sebuket bunga di tangannya.
Semua anak panti berjajar dengan masing-masing anak memegang setangkai buket bunga.
Satu persatu anak-anak memberikan setangkai bunga tersebut pada Adelia yang masih diam melihat semuanya. Bahkan lapangan ternyata sudah di sulap seindah mungkin.
Adelia berjalan lambat ke arah Aksara yang menunggunya.
Aksara tersenyum cerah menyambut kedatangan Adelia.
Aksara memberikan buket bunga di tangannya hingga di tangan Adelia sudah penuh dengan buket bunga.
Will You Marry Me?"
Ucap Aksara lantang berlutut di hadapan Adelia. Sungguh Adelia tak menyangka jika Aksara akan melamarnya tepat di hadapan anak-anak panti.
Mata Adelia mulai memanas sesuatu mendesak keluar.
Adelia mengangguk pasti dengan bulir bening menerobos keluar dari pelupuk matanya.
Ye ....
Sorak gembira anak-anak panti dan ibu panti menggema di lapangan. Sungguh ini momen yang sangat membahagiakan bagi Adelia.
Sungguh Adelia tak menyangka jika Aksara bisa seromantis ini. Adelia pikir Aksara akan langsung membawanya kehadapan kedua orang tua Aksara namun nyatanya Aksara memilih melamar Adelia dulu sebelum membawa kehadapan kedua orang tuanya mengingat Farhan dan Queen juga tak ada di Indonesia.
Momen sakral tersebut telah Aksara abadikan di ponselnya untuk di kirim pada kedua orang tuanya.
Aksara memakai kan cincin bertahta berlian pada jari manis Adelia, ukurannya sangat pas.
"Mas!"
"Terimakasih sayang!"
Mereka berdua saling berpelukan membuat ibu panti menitikkan air mata bahagia melihat Adelia di lamar yang artinya sebentar lagi Adelia akan menjadi istri orang.
Ibu panti berharap Adelia bahagia di kehidupan selanjutnya.
Apalagi ibu panti sangat percaya jika Aksara laki-laki baik untuk menjaga Adelia.
Jauh sebelum Adelia mengenal Aksara ibu panti sudah mengenal Aksara terlebih dahulu. Karena Aksara dulu selalu ikut ketika Queen memberikan donasi pada panti. Setelah Queen sakit-sakitan waktu itu maka Aksara yang menggantikannya datang.
Adelia tak kenal Aksara karena ketika Aksara datang Adelia pasti belum pulang sekolah.
Itulah kenapa ibu panti percaya pada Aksara.
"Selamat nak!"
Ucap ibu panti memeluk Adelia, gadis yang sudah ia anggap putrinya sendiri. Gadis yang dulu ibu panti temukan di teras masjid di Bandung ketika ibu panti sedang melakukan kunjungan pada panti lain. Ibu panti memilih membawa Adelia ke Jakarta dari pada di simpan di panti yang ada di bandung karena waktu itu ibu panti sangat menyukai Adelia baby dengan rambut pirangnya.
Bahkan sampai saat ini rambut Adelia masih pirang kecoklatan walau tak se-pirang orang-orang barat.
"Terimakasih buk!"
Aksara tersenyum melihat dua wanita berbeda generasi itu.
Ibu panti melepaskan pelukannya ia menyuruh anak-anak makan malam di mana Aksara sudah menyiapkannya.
Mereka semua menyantap hidangan yang Aksara bawa. Sedang Aksara dan Adelia mereka tak makan. Mereka berdua duduk di salah satu kursi yang ada di taman panti.
Adelia terus tersenyum sambil mengelus-elus cincin yang sudah melingkar indah di jarinya.
"Mas sayang bahagia!"
"Benarkah?"
"Iya!"
"Aku pikir mas akan membawaku langsung pada orang tua mas?"
"Tadinya begitu, tapi bunda dan papa berangkat ke Jerman untuk menghadiri acara ulang tahun Alana anak kak Fatih!"
"Tak masalah bunda tak ada di acara lamaran ini. Tapi mas sudah mengabadikannya pasti bunda akan senang!"
"Jangan mas!"
"Kenapa?"
"Aku malu, apalagi aku belum ketemu mereka!"
"Kamu tenang saja, mas akan mengirimnya dengan menutupi wajah kamu agar bunda penasaran dan cepat pulang sesudah acara di sana!"
Jelas Aksara sengaja begitu karena tahu sang bunda pasti akan berlama-lama di sana apalagi menyangkut cucunya.
Untuk itu Aksara akan memaksa sang bunda langsung pulang karena pasti kabar ini akan membahagiakan sang bunda.
Kabar yang selalu di nanti-nanti Queen dan Farhan apalagi usia Aksara sudah menginjak dua puluh delapan tahun.
Usia Aksara memang berbeda lima tahun dengan Adelia, sekarang usia Adelia dua puluh tiga sama seperti Mentari.
Ketika Mentari lahir usia Aksara baru genap lima tahun.
"Apa bunda akan menerima aku?"
"Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu. Tentu Bunda akan menerima kamu. Percaya sama mas, bunda dan papa tak mempermasalahkan status orang!"
"Bagaimana kalau masa lalu datang, tiba-tiba ada orang yang mengaku kedua orang tua ku dengan masa lalu gelap?"
Cemas Adelia takut jika kisah hidupnya sama dengan film-film yang ia tonton atau novel yang ia baca. Kemudian Aksara akan meninggalkannya karena tak terima.
"Wuuss, kamu ini berpikir kejauhan. Apa pun keadaan di masa lalu tak akan mengubah masa depan kita."
Tegas Aksara membuat Adelia terharu. Adelia tak salah jatuh cinta pada sosok tampan di sampingnya.
Tak hanya tampan, Aksara baik, penyayang, dan sayang keluarga.
Adelia menyandarkan kepalanya di pundak Aksara dengan tangan saling pegang.
"Terimakasih mas, atas rasa yang kamu berikan,"
"Kasih kembali, atas warna yang sayang berikan!"
Mereka berdua saling tatap satu sama lain dengan senyum yang mengembang dari keduanya.
Lalu mereka mengalihkan tatapan mereka ke atas langit sana di mana begitu banyak taburan bintang dengan bulan yang memancarkan senyuman seolah ikut bahagia atas kebahagiaan sepasang kekasih yang sebentar lagi akan melangkah ke jenjang yang lebih serius.
"Sayang apa kau ingat perkataan bunda di kantor?"
"Yang mana mas, aku lupa!"
"Itu tentang cucu!"
"Apa? aku tak ingat!"
"Bunda menginginkan cucu yang banyak!"
Bluss ...
Wajah Adelia memerah menahan malu mendengar ucapan absurd Aksara.
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
deuhhhh