Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PADA AKHIRNYA YANG SETIA PUN AKAN BERBOHONG
Darius tidak bisa berkata-kata. Ia bingung harus mengatakan apa pada Virginia yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
Melihat jika akan terjadi pertengkaran antara Virginia dan Darius, Nirwan segera keluar dari dalam ruang kerja Darius. Namun, Darius malah menghentikan langkah Nirwan yang kini telah berada di ambang pintu.
"Tunggu sebentar, Nir!" seru Darius.
Nirwan menghentikan langkah, kemudian berbalik dan memandang Darius dengan penasaran.
"Jam berapa rapat kita hari ini?" tanya Darius.
Nirwan segera menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ia pun menjawab pertanyaan Darius, "Sepuluh menit lagi, Pak."
Darius mengangguk, lalu melambaikan tangan, meminta Nirwan untuk pergi.
Setelah Nirwan pergi, Darius mendekat ke Virginia yang masih terlihat kesal.
"Aku ada rapat sepuluh menit lagi, Virginia. Kembalilah ke rumah. Aku akan menjelaskan segalanya padamu saat aku pulang sore nanti," pinta Darius.
Virginia maju selangkah, memangkas sedikit jarak yang tersisa antara dirinya dan Darius. "Tidak tahukan kamu kenapa aku memutuskan datang ke sini, bukannya menunggumu di rumah?"
Darius diam sejenak, beberapa saat kemudian ia menggeleng. "Aku tidak tahu."
Bibir Virginia menyunggingkan senyum sinis. "Karena aku tidak bisa menunggu hingga sore hari untuk mendengar penjelasanmu, Andra. Kamu sangat mencurigakan beberapa hari ini. Aku ... aku merasa jika ada yang kamu sembunyikan dariku!"
Darius menghela napas panjang, lalu ia menyentuh kedua bahu Virginia. "Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Virginia, sungguh. Aku mohon kamu jangan berlebihan dan membuat segalanya menjadi tak terkendali. Jangan melebih-lebihkan masalah kecil, Virginia."
Hampir saja Virginia tertawa. Ia tidak menyangka jika akan mendengar kalimat demikian keluar dari bibir Darius. Bisa-bisanya Darius menuding jika dirinya melebih-lebihkan masalah kecil.
Virginia menyentak tangan Darius dari bahunya, ia kemudian menunjuk wajah Darius dengan jemari telunjuknya yang kaku dan gemetar. "Kamu ... pikirkan lagi, Andra, apakah pantas kamu berkata demikian padaku! Melebih-lebihkan masalah kecil katamu? Kamu tida pulang semalaman, dan ponselmu tidak bisa dihubungi. Apa semua itu masalah kecil buatmu, hah!" seru Virginia, kemudian ia segera keluar dari dalam ruang kerja Darius. Ia sungguh tidak tahan jika harus terus berada di hadapan Darius yang menyebalkan.
"Virginia dengarkan aku ... Sayang, aku bilang dengarkan aku!" Darius berseru agar Virginia tidak meninggalkannya dalam keadaan marah, tetapi percuma saja, Virginia tidak mengindahkan seruan Darius, dan wanita itu sudah menghilang dari ruangan bahkan sebelum Darius selesai berbicara.
"Argh, sial!" seru Darius.
***
Virginia menangis di dalam taksi yang ia tumpangi. Air matanya dan juga cairan kental yang keluar dari kedua lubang hidungnya tidak mau berhenti mengalir sejak tadi. Padahal ia telah berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis. Apalagi menangis karena seorang pria. Toh, ia telah berusaha menjadi wanita yang tegar selama ini. Namun, tetap saja kekecewaan yang ia rasakan membuatnya menangis.
Virginia tidak menyangka jika pada akhirnya sikap Darius pun berubah. Tadinya ia berpikir bahwa Darius adalah pria yang berbeda dari pria kebanyakan. Darius lebih baik, lebih setia, dan lebih dari segalanya, tetapi ternyata ia salah. Semua pria sama saja. Hanya masalah waktu sampai seorang pria yang paling setia sekali pun mulai berbohong dan berkhianat.
"Tujuan Anda ke mana, Bu?" tanya si sopir, yang sejak tadi mengawasi Virginia dari kaca spion yang ada di atas dashboard.
Virginia mengusap air matanya sebelum menjawab. "Ke rumah adik saya."
"Ya, tapi rumah adik Anda itu di mana?" tanya si sopir lagi.
"Oh, iya, rumahnya di Apartemen Diamond."
"Baiklah, Bu, saya akan meluncur ke sana sekarang."
***
Virginia baru saja berganti pakaian ketika ia mendengar suara bel yang begitu berisik. Ia pun melangkah dengan kakinya yang pincang sambil mengeluhkan tindakan tamu yang saat ini terus menekan bel di rumahnya tanpa jeda.
"Tidak sopan menekan bel dengan cara yang begitu barbar. Kampungan seka ...." Vivian membuka pintu sambil mengomel, tetapi omelannya terhenti saat ia melihat siapa tamu yang sejak tadi berdiri di depan pintu apartemennya.
"Vi," lirih Virginia, sambil menangis sesenggukan.
"Kakak. Apa yang ... masuklah dulu, ayo." Vivian menyentuh pergelangan tangan Virginia, dan langsung menuntun Virginia masuk ke dalam rumahnya.
Virginia diam saja. Ia membiarkan Vivian menuntunnya masuk ke dalam rumah, menyeberangi ruang tamu menuju ruang keluarga, mendudukkannya di sofa dan kemudian memberikannya sebotol air mineral.
"Minumlah, Kak," ujar Vivian.
Virginia menerima air yang Vivian tawarkan, dan meminumnya beberapa teguk walaupun sebenarnya ia tidak haus.
"Nah, sekarang katakan padaku apa yang terjadi padamu, Kak?" tanya Vivian penasaran, karena tidak biasanya ia melihat Virginia kehilangan kendali seperti sekarang. Tidak semenjak Virginia menikah dengan pria yang Vivian ketahui bernama Andra. Pria baik itu tidak pernah sekali pun membuat Virginia menangis. Itulah yang Vivian ketahui
Virginia mengusap pipinya, dan menatap Vivian lekat-lekat, mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan masalah pribadinya pada Vivian.
"Aku tidak apa-apa. Jika boleh, aku ingin beristirahat di sini sebentar," jawab Virginia yang memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang tengah ia alami, karena ia tidak ingin jika Vivian menjadi cemas dan mengasihaninya.
"Tentu boleh, Kak. Kakak boleh tinggal di sini selama yang Kakak inginkan. Apa perlu aku menjemput Annabel juga agar Kakak tidak perlu buru-buru pulang ke rumah?" tawar Vivian, ia merasa sangat senang jika keponakannya yang menggemaskan itu juga ada di rumahnya.
Akan tetapi, Virginia menggeleng. "Tidak usah, Vi, aku tidak akan lama. Kapan-kapan saja aku akan membawanya menginap di sini."
Mendengar jawaban Virginia, Vivian menghela napas. Ia terlihat kecewa.
"Ayah ada di rumah sekarang, dan dia tidak akan membiarkan aku membawa Anna pergi ke mana pun. Kamu kan tahu kalau ayah sangat over protektif." Virginia menambahkan, agar Vivian tidak salah paham.
"Ya, aku mengerti. Ayah sangat peduli pada Anna. Mana mungkin ayah membiarkan Anna dekat-dekat dengan tantenya yang tidak terhormat ini."
Virginia mencubit pinggang Vivian. "Jangan bicara begitu. Oh, ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan kakimu, apa sudah baikan?"
Vivian berdecak, kemudian ia menepuk bahu Virginia yang duduk di sampingnya. "Tidak usah pedulikan keadaan kakiku, Kak. Katakan saja padaku kenapa Kakak menangis di pagi hari yang cerah ini? Bukankah semalam Kakak telah menghabiskan waktu yang begitu romantis dengan Kak Andra. Seharusnya pagi ini Kakak ceria dong."
Virginia kembali mencubit pinggang Vivian, membuat Vivian meringis kesakitan. Vivian yang tidak terima karena terus mendapat cubitan dari Virginia pun membalas apa yang Virginia lakukan padanya. Ia mencubit pinggang, pipi, bahkan telinga Virginia agar Virginia tidak lagi terus-terusan merasa sedih.
Detik berikutnya kakak-beradik itu saling serang. Keduanya tergelak di atas sofa, seperti seorang anak kecil yang asyik bercanda seolah tidak memiliki beban dalam pikiran mereka.
Keributan yang Virginia dan Vivian buat barulah berakhir ketika ponsel Vivian berdering.
"Sudah, sudah, Kak, aku harus mengangkat telepon," ujar Vivian, sambil menepis tangan Virginia yang hendak mendarat di pipinya.
"Ya, angkatlah dulu. Aku akan ke kamar mandi sebentar," ujar Virginia, kemudian ia bangkit berdiri dan melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Namun, langkah Virginia terhenti saat ia mendengar suara Vivian.
"Ya, halo, Darius. Sudah merindukanku?"
"Darius," gumam Virginia.
Bersambung.