Siapa yang mengira.
Pertemuanku dengan seorang pria di sebuah vila, mengubah kisah cintaku.
Dalam sekejap statusku berubah, menjadi pacarnya pak bos. Oh Tuhan... aku hanya meminta bantuannya kenapa menjadi seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adit dan Revan Bertemu
Mataku memandang keluar. Menatap banyak hal yang terlintas cepat di hadapanku. Banyak kendaraan yang berlalulalang. Banyak orang yang tersenyum dan banyak juga yang terdiam seperti diriku saat ini.
"Nona, kopinya."
"Oh.. terima kasih." Jawabku ramah.
Sore ini, aku tidak langsung pulang ke apartemenku. Entahlah aku merasa perlu menyendiri. Banyak hal yang terjadi beberapa hari ini.
Kafe ini menjadi tujuanku akhirnya. Jaraknya tak jauh dari apartemenku. Suasana yang tenang di sudut kafe menjadi pilihan yang tepat untuk duduk di sini. Sebuah jendela besar tepat berada di hadapanku. Aku selalu merenung dan menyendiri di tempat ini.
Kafe ini sungguh nyaman buatku, cukup besar untuk sebuah kafe. Dekorasi yang unik, hidangan yang lezat, dan suasana yang asyik untuk bisa membuat orang berlama - lama di sini.
"French friesnya nona."
"Oh.. aku tidak pesan i.. ni.."
Ku menatap datangnya suara itu, mengangkat sedikit wajahku dan menatap pria yang ada di hadapanku sekarang.
"Mas Revan." Panggiku.
Seperti biasa dia duduk tanpa ku persilahkan. Menarik kursi di hadapanku dan tersenyum menatapku.
"Kok bisa di sini?" Tanyaku.
"Menurutmu."
"Kamu mengikutiku." Tuduhku padanya.
"Hahahh.. hahah.. Aku suka jawabanmu."
"Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Revan.
"Kenapa aku perlu menjawab pertanyaanmu." Ku mengalihkan pandanganku kemudian dan menatap cangkir yang ada di hadapanku.
"Ini salah satu kafe kesukaanku." Ucap Revan.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena kamu sering datang ke sini dan duduk di sini." Ucapnya dan tersenyum menatap kebingunganku.
"Bagaimana kamu tahu aku sering ke sini?"
"Mungkin kamu tidak menyadarinya, karena saat itu aku hanya orang asing di matamu."
"Sekarang kamu juga masih orang asing buatku."
"Hayolah.. kamu masih marah.."
"Tidak.., aku heran saja kenapa aku mesti ketemu kamu lagi."
"Mungkin karena kita berjodoh." Ucapnya dengan mulus dan mukaku tegang mendengarnya.
"Aku hanya bilang mungkin, kitakan enggak pernah tahu kedepannya, atau kamu ingin lebih dari kata mungkin." Godanya.
"Jadi berapa banyak wanita yang sudah kamu goda?"
"Kurasa hanya kamu."
Revan selalu saja bisa menjawab pertanyaanku dengan mudah dan akhirnya itu malah membuatku salah tingkah sendiri.
"Ok.. ok.. bisakah kamu tidak berkata seperti itu terus."
"Ehmm bisa.. tapi dengan satu syarat."
"Hah.., terserah kamu sajalah."
"Aku hanya minta kamu jadi temanku saja, tapi aku enggak menjamin suatu saat nanti apa kita akan tetap menjadi teman."
"Ok, aku setuju."
"Berikan handphonemu."
"Untuk apa?"
"Akukan temanmu, jadi aku perlu tahu nomormu."
Haduhhh aku masuk perangkapnya. Hanya sebuah nomor handphone harusnya tidak masalahkan.
Ku memberikannya, sedikit lambat dan Revan langsung mengambilnya. Dia memasukkan nomornya sendiri ke dalam handphone ku, menuliskanya dengan nama "Temanku".
"Itu nomorku, kamu harus sering menghubunginya, atau aku yang akan menghubungimu."
Aku tak pernah tahu apa yang difikirkan pria ini. Ucapannya selalu membuatku terkejut.
"Terserah kamu sajalah mas." Jawabku akhirnya.
Aku melambaikan tanganku ke salah satu pelayan di kafe ini. Rasanya aku harus segera meninggalkan tempat ini. Tak baik jika ku terus bicara dengan Revan. Hatiku sungguh teruji.
"Saya minta billnya ya." Ucapku pada pelayan pria yang menghampiriku.
"Oh.. sudah dibayar semua tagihannya."
"Hah.. siapa yang bayar?"
"Bos kami."
"Kenapa bos kalian bayar tagihan saya."
"Nona bisa tanya sendiri ke Pak Revan, saya permisi."
"Hah.."
Ku menatapnya sekarang, dia hanya tersenyum melihatku. Bahagia sekali dia membuatku bingung.
"Mas Revan.." Panggilku kesal.
"Ihhhh.. sudahlah.."
Jadi ini kafe miliknya. Sebuah kafe yang dia bilang tidak terlalu besar. Banyak hal yamg tidak ku ketahui tentang Revan. Ku masih menatapnya kesal. Pantas saja dia sering melihatku di sini.
Tatapanku beralih ke handphoneku yang berbunyi, ku menatap datangnya suara itu. Adit meneleponku. Emosiku langsung mencair seketika.
"Kamu di mana Ay?"
"Masih di luar mas, di kafe enggak jauh dari apartemenku"
"Bersama Luna."
"Tidak.." Jawabku sambil melirik Revan yang sejak tadi mendengarkan percakapanku.
"Ay.. sepertinya di matamu ada.. " Ucap Revan tiba - tiba sambil menunjuk ke arah mataku dan memperagakannya.
Seketika perkataannya membuatku tidak fokus bahwa ku sedang berbicara dengan Adit saat ini.
"Hah.. "
"Kamu dengan siapa sekarang?" Tanya Adit.
"Hah.. "
"Ayna.." Panggilnya.
"Oh.. itu Revan mas.."
Ku menatap kesal Revan saat ini. Aku akan membalasnya setelah ini.
"Aku enggak sengaja ketemu dia di sini" Penjelasanku cepat.
"Bisa aku bicara dengan Revan Ayna, tolong berikan handphonemu padanya."
"Tapi mas.."
Aduhhh kenapa aku enggak rela ya memberikan handphoneku pada Revan. Tapi apa yang mesti ku takutkan, mereka tidak mungkin berkelahi.. palingan hanya berdebat ditelepon. Aku pasrah saja.. Aku memang tidak sengaja bertemunya di sini. Aku tidak bersalah.
"Mas, Mas Adit mau ngomong sama kamu nih."
Revan meraih handphone ku segera, sedetik kemudian dia bangkit dari duduknya dan pergi menjauhiku. Handphoneku turut bersamanya. Kenapa mereka harus menjauh dariku. Oh.. tidak.. Aku penasaran.
Beberapa menit kemudian Revan kembali. Dia menyerahkan handphone milikku. Aku tegang dalam beberapa menit yang lalu. Jantungku terus berdetak cepat hingga sekarang.
"Kalian bicara apa?" Tanyaku mulai menyelidiki.
"Tentang kamu."
"Ya apa mas" Bujukku.
"Ini pembicaraan sesama pria, kamu wanita tidak perlu tahu, rahasia." Ucapnya.
"Enggak baik ngomongin orang di belakang loh."
Revan tertawa mendengarnya dan mengelus pelan rambutku. Aku menunduk malu akhirnya.
"Jadi tadi kalian bicarakan apa?, Kamu bilang, aku ini temanmu." Bujukku kembali.
"Sekarang kamu baru mengakui kalau aku ini temanmu."
"Loh.. sejak tadikan aku sudah setuju jadi temanmu, ayolah mas membocorkan sedikit rahasia itu baik loh."
Revan kembali tersenyum dan tetap menatapku.
"Aku hanya mengakui perasaanku saja."
"Hah.. kamu cari masalah.."
Ku menggelengkan kepalaku, mencoba menerima kenyataan yang tengah ku hadapi saat ini.
"Lalu bagaimana reaksi mas Adit, dia marah?"
"Kamu bisa bertanya denganya."
"Ada kamu di sini, kenapa aku mesti bertanya dengannya." Ku mulai merajuk kesal.
"Ok.. ok.. Aku hanya sedikit mengancamnya."
Revan memajukan wajahnya tepat di hadapanku. Dia membisikkan sesuatu.. tapi kenapa harus sedekat ini.
"Aku bilang, jika dia berani menyakiti kamu. Aku orang pertama yang akan merebut kamu darinya."
Deg.. perasaan macam apa ini. Tenangkan hatimu Ayna.
"Kitakan teman, kenapa kamu berkata seperti itu."
"Aku hanya memastikan, kalau kamu akan baik - baik saja dengannya."
Huuhh.. aku memang tidak pernah menang jika harus berargumen dengannya.
"Ayna.." Panggil seorang pria.
Aku menatap kehadiran pria itu. Jantungku berdetak sangat kencang, aku benar - benar terkejut. Aku tak menyangka bahwa Adit ada di hadapanku sekarang.
"Mas Adit.." Panggilku.
Dia menghampiri kami. Entahlah aku mesti bahagia melihat kedatanganya atau takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Kamu kapan kembali?" Tanyaku heran menatapnya.
Aku tak berkedip melihatnya. Sosoknya yang lama ku rindukan berdiri tegap di hadapanku. Oh tidak.. aku ingin memeluknya. Aku ingin menyentuh tanganya.. wajahnya..
"Hai.. Aku revan." Sapa Revan.
"Adit." Jawabnya singkat.
"Kita pulang sekarang Ay.." Ajaknya kemudian.
"Oh.. iya.." Jawabku dan tangan Adit mengenggam tanganku kembali. Padahal baru beberapa hari dia pergi kenapa aku sangat bahagia dia menggenggamku seperti ini lagi.
"Aku pulang mas.." Pamitku pada Revan.
Aku melangkah mengikutinya. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Kami tak saling bicara. Apakah aku telah melukai hatinya. Kenapa dia hanya diam.
.
.
.
.
Lanjut episode berikutnya ya dears😘.. semoga menikmati ceritanya.
dilike ya 😘dan dijadikan favorite
jangan lupa bintang dan vote yang banyak
komentar dan masukan yang baik ditunggu😇
terima kasih..
tetap setia menunggu upnya ya😊😊
lah ngapain teriak2,gak capek teriak2 mulu
dah lah lebih baik putus aja dan jadian ma Adit...
ish ish baru awal msih nyimak perlakuan Rafka ke Ayna.. mungkin cuek krn sibuk..