Kakaknya bunuh diri setelah gagal menikah karena foto skandal dirinya dengan pria asing.
Naira yang tak terima dengan kematian kakaknya, lantas mencari pria asing itu untuk membalas dendam.
Namun, setelah menemukannya, dia malah terjebak dalam cinta yang tak perlu. Hingga sebuah kenyataan pun terbongkar dan mengubah semuanya.
Bagaimanakah kisahnya?
Jangan lupa follow Instagram @yenitawati24
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengapa?
Mereka terkejut setelah membaca surat wasiat dari Sarah. Tak disangka dia malah melakukan hal bodoh seperti ini. Bagaimana mereka bisa mengatakannya pada Randy?
Waktu pernikahan hanya tinggal satu jam lagi, tapi mereka malah kehilangan Sarah. Bahkan saat di cek di CCTV pun, mereka tidak menemukan petunjuk karena CCTV yang mati di beberapa titik. Mereka yakin jika Sarah lah yang telah mematikannya agar tidak ada yang mengetahui di mana keberadaannya.
"Bagaimana ini? Ini semua salahku karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Bella menangis tersedu-sedu setelah membaca surat itu. "Mana mungkin aku menikahi calon suami sahabatku sendiri. Meskipun Ini adalah surat wasiat yang harusnya aku jalankan, tapi aku tidak harus melakukannya karena aku tidak akan tega melakukannya."
"Ayah, bagaimana ini, Yah? Kalau Randy tahu, pasti dia akan sangat kecewa." Naira menangis di pelukan ayahnya.
"Bella, memangnya apa yang kalian obrolkan tadi malam?" tanya Arvin dengan tatapan heran.
"Kami hanya mengobrol biasa. Tentang masa depannya bersama Randy. Sebenarnya dia sangat ketakutan dengan pesan ancaman itu. Tapi, aku sudah menenangkannya dan membuatnya melupakan semuanya." Bella menjelaskan di sela isak tangisnya.
Arvin pun pergi ke kamar Sarah dan kembali dengan gaun pengantin milik Sarah.
"Pakai ini dan kita pergi ke gedung itu."
"Apa? Apa-apaan ini? Aku tidak mau!" Bella menggeleng dan menatap tajam pada Arvin.
"Kita lakukan ini agar menutupi rasa malu! Tidak apa-apa dengan pernikahan pura-pura. Toh, tidak akan sah karena namamu bukan Sarah Amelia binti Anggara."
"Ba-baik." Bella mengangguk pasrah dan langsung memakai gaun itu. Dia menggunakan hijab dan penutup mulut agar tak ada yang mengenalinya termasuk Randy sendiri.
"Kenapa kita harus melakukan ini?" tanya Naira bingung.
"Bayangkan kalau kita jujur pada Randy. Dia pasti akan menggila dan membuat suasana hari ini kacau. Cukup buat pernikahan yang akan meyakinkan tamu bahwa Randy dan Sarah benar-benar menikah. Setelah itu, barulah kita berbicara pada Randy."
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita pergi ke gedung pernikahan." Mereka semua pun pergi ke gedung pernikahan dengan membawa Bella yang berbalut busana pengantin.
Randy masih belum menyadari bahwa calon pengantinnya bukanlah Sarah. Hatinya yang terlanjur bahagia membuatnya tidak begitu memperhatikan. Mereka pun duduk di kursi tempat di mana akad nikah akan digelar.
Akan tetapi, masalah besar pun terjadi ketika Bella tanpa sengaja bersin dan membuat Randy mengenali suaranya.
Randy lekas menoleh dan membuka penutup mulut Bella. Betapa terkejutnya dia ketika melihat bahwa pengantinnya bukanlah Sarah, melainkan Bella.
"Kau! Mengapa kau ada di sini?" tanya Randy dengan tatapan penuh amarah.
"Maafkan kami, Randy. Sarah kabur dan meninggalkan surat wasiat ini!" ucap Bella yang malah memberikan surat itu pada Randy.
Randy pun membacanya dan seketika matanya merah menyala. Giginya gemeretak, dan tangannya mengepal erat. "Bagaimana bisa dia meninggalkan aku lagi untuk yang kedua kalinya?"
"Ran, ini bukanlah waktunya untuk memikirkan itu. Pikirkan rasa malu kita jika pernikahan ini tidak berlangsung. Sebenarnya, tadi malam Sarah bercerita padaku bahwa sebenarnya dia tidak mencintaimu. Dia hanya kasihan padamu yang memiliki kepanikan berlebihan. Dia hanya takut kau melakukan harakat makanya dia mau menjadi istrimu. Tapi, dia semakin ragu menikah denganmu, apa lagi setelah menerima pesan ancaman itu. Maafkan aku, Ran, Vin, Om, Nai. Harusnya aku mengunci kamar agar dia tidak pergi." Bella menunduk sambil menangis.
"Bagaimana? Apa yang harus aku lakukan, Bell?"
Tiba-tiba saja terdengar suara proyektor yang ada di belakang mereka. Betapa terkejutnya Bella ketika melihat ada rekaman CCTV di dalam kamar Sarah.