Aluna Deviatia seorang gadis semester akhir jurusan perancang busana. Pendek dan penakut. Mendapatkan nasib sial dihari ia mendapatkan gajinya sebagai penjaga toko bunga. Dengan sialnya ia dikejar para pemalak, jatuh dalam tumpukan daun dan luka di lututnya.
Seharusnya bisa lebih baik dari pada di pandangi seperti orang gila sepanjang perjalanan ke mini market.
Namun sayang, para pemalak yang ia kira ingin memalaknya malah berniat menculiknya. Membawa Aluna kembali kepada sosok yang tidak pernah ingin dia lihat lagi setelah masa sekolah menengahnya.
Gabriel Ivanovich, pemilik sah Enterlace Corp, sebuah perusahan besar yang menaungi segala kekayaannya. Psycho gila dengan obsesi besar hanya kepada Aluna.
Menculik gadis itu, membakar hangus segala milik gadis itu. Mengikat seorang Aluna didalam hubungan gila penuh siksaan dan kelembutan.
Membawa gadis itu kepada fakta besar yang terkubur jauh didasar tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qieqizie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 : Dont Say It
Lagu terakhir habis, Aluna menarik nafasnya pelan, tubuhnya masih menempel erat, mengangkat wajahnya Aluna bertemu manik itu sekali lagi. Mengalihkan pandangannya Aluna rasa ia benar-benar akan menangis.
"Lepas." Suara gadis itu bergetar, namun pelukan Gabriel tidak sama sekali mengendur. Pria itu masih bertahan dalam posisinya.
"Kita butuh bicara." suara pria itu tajam, nafas Aluna tertahan, tubuhnya tegang hanya dengan mendengar suara yang ia rindukan sampai rasanya ia benar-benar akan jatuh tidak sadarkan diri.
"Tidak, tidak ada." Aluan menggeleng menolak. Aluna, tidak boleh jatuh lagi untuk ketiga kalinya dalam aura intimidasi Gabriel.
"Ya, kita butuh. Sangat butuh." Gabriel menarik gadis itu, meninggalkan daerah dansa. Melangkah menuju taman belakang. Tidak ramai, hampir tidak ada orang ditaman belakang. Gabriel menarik gadis itu duduk diatas sebuah kursi taman.
"Apa yang ingin kau katakan?" Aluna membuang pandangannya, menolak bertatapan langsung dengan Gabriel.
Rasa sengatan terasa begitu jelas didada Gabriel, pria menatap Aluna dengan wajah terlukanya. Semakin ia coba melupakan rasa sakitnya, Gabriel malah semakin mengingat dengan jelas seberapa sakit hal itu.
Semakin menyesal dia akan apa yang ia lakukan pada seorang gadis yang memiliki arti besar dalam hidupnya. Semakin banyak kata sesal di dadanya, semakin Gabriel membenci dirinya dengan semua rasa takut tentang masa lalu yang rasanya akan terus menghantuinya.
Gabriel benci fakta bahwa, sampai saat ini kenangan kelam itu masih terus berputar tanpa ada jeda.
Gabriel benci fakta dia adalah seorang pembunuh, yang membunuh karena tontonan gila dimasa kecilnya.
Gabriel gila karena dia tidak tahu harus melakukan apa dengan semua itu.
"Aku tidak ingin seperti ini Aluna." Suara Gabriel pelan, menutup matanya mencoba menenangkan sesuatu yang berdetak cepat didalam sana. Gabriel gugup.
"Kau yang membuat semuanya seperti ini, Gabriel. Kau." Aluna menoleh, menatap wajah itu. Sengatan rasa sakit itu terasa begitu menyakitkan.
"Dengarkan aku Aluna." Gabriel menarik tangan gadis itu yang kemudian dihemapaskan Aluna dengan kasar.
"Tidak, Gabriel. Sebelum itu. Pernahkah kau mendengarkan ku? Bertanya apa yang terjadi? Kau selalu dibutakan amarah mu! Kau marah dan aku tidak mengerti. Kau tahu semua hal tentangku dan aku tidak tahu apapun tentang mu."
"Dan kau memaksaku untuk mengerti? Gabriel, aku tidak sehebat itu untuk mengetahui semua tentang mu."
Mata Aluna berkaca-kaca, rasa sakit itu menyengat semakin kuat. Rasa sesak tidak tertahankan terasa begitu menyiksa.
Aluna masih mencintai pria itu, dengan setiap malam rasa rindu merasakan hangat dan nyamannya pelukannya.
Tapi Aluna tidak tahan, dia tidak bisa bertahan hidup dengan rasa buta tentang pria itu. Dia tidak bisa hidup dengan rasa ragu apa yang bisa dan tidak ia lakukan.
Sakit, menyiksa dan gelap.
Dan ya, Gabriel tahu semua yang dikatakan gadis itu benar, Gabriel hanya selalu ketakutan, dia pengecut yang hanya berusaha lari dari kegelapan. Meski faktanya kegelapan itu berasal dari dalam dirinya sendiri.
"Aku minta maaf, tidak bisakah semua kembali Aluna?" Gabriel frustasi, gadis itu sudah seperti cahaya dalam kegelapan dirinya. Aluna terlalu berarti.
Gabriel akui semua memang telah berantakan, yang Gabriel inginkan adalah semua yang terasa begitu normal sama seperti ketika Aluna ada. Gabriel yang mulai mendapatkan cahaya yang ia kejar, Aluna cahayanya.
Sebelum kegelapan dalam diri Gabriel sendiri yang mengusir cahaya yang ia harapkan.
Ironis, Gabriel benar-benar hidup menyedihkan.
"Aku bahagia tanpamu Gabriel." tubuh pria itu terpaku, Aluna berdiri tidak menatapnya sama sekali. Mengapa lurus kedepan. Gaunnya bergoyang pelan tertiup angin malam.
Dan yang Gabriel rasakan hanya retakan besar yang sanggup membelah dunianya.
Gabriel menarik tubuh gadis itu, memeluk tubuh gadisnya erat.
"Jangan katakan itu Aluna."
"Aku bahagia tanpamu." Tangan Aluna bergetar, tangis nya benar-benar akan pecah, dan Aluna berusaha keras menahannya. Menahan tangisnya yang sebentar lagi akan turun.
"Tidak kau bohong. Tatap aku Aluna, katakan kalau kau bohong."
Tidak, jangan! Hati Aluna menjerit. Aluna benar-benar akan runtuh bila harus menatap manik yang ia rindukan setengah mati itu.
"Tatap aku dan katakan kau bohong." suara pria itu bergetar. Dia benar-benar akan kehilangan cahayanya? Sesuatu yang ia kejar dibilang karena dirinya sendiri?
Kau sampah Gabriel.
Aluna menelan ludahnya, mengangkat wajahnya hingga kedua mata mereka bertubrukan. Dan Demi Tuhan Aluna begitu merindukan pria itu dengan seluruh hidupnya.
"Aku ...," suara Aluan bergetar, matanya berkaca-kaca entah untuk beberapa kalinya.
"Bahagia tanpamu." Air mata itu meluruh, jatuh begitu saja dari kedua maniknya. Mengalir pada pipi mulusnya.
Aluna melepaskan tangan pria itu. Berlari menjauh meninggalkan Gabriel yang berdiri lemas kehilangan tenaganya.
Sekarang dia hancur, hancur sehancur-hancurnya. Melangkah gontai pria itu melangkah, pergi dari pesta itu secepatnya, dia tidak ingin menggila di tempat seperti ini.
Masuk kedalam mobilnya, Gabriel membawa mobilnya melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan diatas rata-rata.
Sesak! Sesak sekali! Rasanya seperti seluruh udara disekiitarnya lenyap begitu saja, rasanya seperti ada yang mengikat lehernya menghalau udara masuk.
Membanting stirnya asal Gabriel berhenti disisi jalan sepi. Menekan kepalanya distir mobil kuat.
Sakit, sakit, sakit.
Semuanya berantakan! berantakan! Berantakan!
Setelah semua ini, apa dia masih sanggup hidup?
Untuk pertama kalinya. Gabriel menangis untuk perempuan selain ibu angkatnya. Air mata bercucuran dari kedua bola matanya. Suara tangisan terdengar begitu menyiksa.
Sebesar itu arti seorang Aluna bagi Gabriel? Sebesar itu Effect yang gadis itu berikan untuk seorang pembunuh yang hampir tidak memiliki hati bahkan untuk puluhan orang yang mati didepannya.
Gabriel yang awalnya benar-benar tidak memiliki rasa kasihan. Gabriel yang bahkan awalnya berniat membunuh dan mengeluarkan jantung ibu angkatnya dari tubuh gadis itu untuk ia bawa pulang.
Gabriel yang awalnya menganggap gadis itu sebagai perantara agar jantung sang ibu akan tetap berdetak dan menemani Gabriel tidur dengan detakannya.
Gabriel yang akhirnya tidak sadar seberapa besar effect yang akhirnya ia rasakan karena kehadiran gadis penakut itu. Gabriel yang tidak sadar, kalau hatinya yang mati akhirnya kembali dihidupkan perlahan oleh gadis itu.
Dan ketika sang penghidup hati pergi, bagaimana hati itu akan bertahan.
AHHH! Ceritanya makin rame aku seneng banget asliii! keep comment like and vote guys! love you all!
scene dansa denga mama.. 😭
akak ini pny cerita bgs2, g mgkn kan copy