Kisah Asmara Arini, seorang gadis muda sederhana dengan kekasihnya Aditya yang harus kandas ditengah jalan. Status sosial menjadi tembok penghalang hubungan mereka.
Dengan terpaksa Aditya melakukan pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya.Tanpa Aditya sadari, Arini melahirkan seorang anak dari hubungan mereka selama ini.
Dengan menelan kekecewaan dan sakit hati, Arini membesarkan anaknya seorang diri dengan penuh perjuangan dan air mata. Hingga akhirnya datang seorang pria bernama Radit yang begitu bersimpatik dan mengagumi kehidupan Arini. Bersamaan dengan itu pula Aditya datang kembali dalam kehidupannya.
Akankah Arini kembali menerima cinta Aditya?
Atau....
Akankah Arini menerima cinta tulus Radit yang begitu mencintai dan menerima semua masa lalunya?
Penasaran.....? pantengin terus cerita di setiap partnya...❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlena
Aditya terbangun dari tidurnya, disampingnya Arini terlihat masih tertidur pulas. Dia tersenyum melihat wajah Arini yang sedang menghadap kearahnya. Mengambil beberapa helai rambut yang menjuntai mengenai pipi Arini, membawanya dengan pelan menyampirkannya kebelakang.Ternyata malam tadi bukanlah mimpi, dia bisa bangun dipagi hari bersama orang yang sangat dicintai.
Ketukan pintu memaksa dirinya untuk segera menyudahi kegiatan pagi dalam mengarungi wajah cantik wanitanya. Perlahan dia turun, keluar dari balik selimut dengan sangat hati-hati.
Pintu terbuka lebar. Menampilkan sang asisten setia yang sudah mendatanginya sepagi ini. Upppsss.... ini bukan pagi melainkan hari yang mulai beranjak siang.
"Pak Aditya maaf mengganggu, saya membawakan obat Nona Arini dan pesanan Bapak semalam."
David memberikan dua paperbag besar dan satu buah paperbag kecil.
"Terima kasih."
Sebelum David melangkah pergi...
"Emmm...David bagaimana dengan Valery?"
"Pagi ini saya belum bertemu dengan Nona, tapi semalam pulang dari pesta tampaknya Nona Valery sangat marah."
"Baiklah...aku akan menghubungimu lagi nanti."
Aditya menyimpan semua paperbag itu diatas meja. Kedatangan David sama sekali tidak mengganggu kedamaian tidur Arini, ia masih tertidur pulas.
Mandi adalah hal pertama yang harus dia lakukan sekarang, agar nanti saat Arini terbangun dia sudah dalam keadaan rapi menyambutnya dengan senyuman manis.
Sinar matahari yang menembus tirai jendela hotel, membuat Arini terbangun dari tidur panjangnya.
Nyaman sekali kasur ini....Eh....
Dia langsung duduk bersandar ditempat tidur, mengembalikan semua ingatan yang sudah terjadi tadi malam. Ia menelisik seluruh sudut ruangan yang begitu sangat luas.
Aku dimana.....
Dentingan jam dinding membuatnya menoleh...jam 10.
Aku bangun sesiang ini...Ah Nuno...
Arini hendak bangun namun kepalanya terasa berputar-putar. Dia duduk kembali, menyeimbangkan badannya agar tak oleng saat berdiri nanti.
Baju.... Arini baru sadar bajunya sudah berganti dengan kemeja putih yang begitu kebesaran ditubuhnya.
Suara gemericik air yang sudah berhenti, membuat dia tahu kalau dia tidak sendiri didalam kamar ini, ada seseorang berada didalam sana.
Dia segera berdiri untuk mengambil tas yang tersimpan diatas meja rias yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
Baru saja melangkah.....
Aaarrrgghh...Bruggghhh...
Arini jatuh diatas badan Aditya. Wangi Greentea dari sabun yang Aditya pakai menyeruak memenuhi indera penciuman Arini, begitu menenangkan. Rambut Aditya yang masih basah menetes ke kening dan lehernya, begitu mempesona, mereka saling bersitatap.
Aditya berhasil menahan tubuh Arini agar tidak terjatuh kelantai namun Aditya tidak mampu menahan keseimbangannya hingga dia pun ikut terjatuh.
"Maaf...."
Arini berdiri dan langsung mengambil tas dan mencari ponselnya. Tapi sayang ponselnya mati kehabisan baterai. Arini berdecak kesal.
Aditya yang ikut berdiri, mengambil baju dalam paperbag yang dibawa David tadi.
"Kamu mau menghubungi Nuno?"
"Iya...aku harus menghubungi Bude Wati, Nuno pasti mencariku."
"Aku sudah menghubungi mereka, kamu nggak usah khawatir."
Aditya kembali masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Arini dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Perkataan Aditya barusan membuatnya penasaran, dia bolak-balik berjalan menunggu Aditya didepan kamar mandi. Begitu terasa sangat lama.
Akhirnya Aditya keluar, Arini berdiri mematung melihat Aditya memakai kaus hitam polos yang begitu pas dibadannya, warna kesukaanya. Pertanyaan yang sedari tadi dia ingin tanyakan, hanya tercekat sampai ditenggorokan. Sesaat dia teringat Aditya yang dulu, Aditya kekasih hatinya.
Aditya yang menyadari itu, langsung mengunci Arini didinding tembok dengan kedua tangannya.
"Aku mengirim pesan lewat ponsel. Aku bilang kalau kamu sedang ada urusan dan akan menginap dirumah temanmu."
Arini memalingkan wajahnya tak mau terlalu terlena dengan tatapan dan hembusan nafas Aditya yang berbau mint. Aditya meraih dagu Arini agar melihatnya kembali.
"Aku juga yang sudah mengganti baju kamu dengan kemejaku. Kamu nggak mungkin tidur dengan pakaianmu semalam."
Mata Arini membulat, replek menutup dada dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak perlu menutupinya, bahkan kita sudah melakukannya lebih dari itu."
Aditya menarik sebelah tangan Arini dari dadanya, mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan Arini. Belum sampai Aditya menyentuhnya Arini mendorong tubuh Aditya hingga menjauh dan dia langsung berlari masuk kamar mandi.
Aditya terkekeh geli melihat sikap Arini yang begitu menggemaskan.
Dalam kamar mandi, Arini seger membasuh wajahnya. Dinginya air membuat Arini merasakan energinya kembali pulih, sedikit meredakan detak jantungnya berdentum keras. Hembusan nafas Aditya membuat sendi-sendinya terasa begitu lemas.
Aaahhhh....tidak...tidak....
Dilihat wajahnya dicermin wastafel, mengusapnya dengan kasar.
Sadar Arini...sadaarrrr....
Dia menanggalkan semua pakaiannya dan bergegas mandi mencuci otaknya yang mulai tak bisa berpikir dengan jernih.
Pintu kamar mandi terbuka, Aditya menoleh memandang Arini yang hanya menggunakan bathrobe putih dengan rambut yang digulung ketat keatas, membuatnya tampak cantik natural tanpa sedikitpun riasan make-up.
Arini mendekati baju pesta yang tersimpan dikursi meja rias.
"Kamu nggak mungkin pake baju itu lagi." Aditya berdiri dan mengambil paperbag dimeja dan memberikannya kepada Arini.
"Kamu pakai ini."
Tanpa pikir panjang Arini langsung mengambilnya dan kembali kekamar mandi.
Aditya tersenyum, Arini tampak begitu manis bila menjadi wanita yang penurut seperti itu.
Tak lama Arini keluar dengan memakai rok mini diatas lutut dipadu dengan kaos street putih polos berlengan pendek, bergambar hati dibagian tengah berwarna merah. Rambutnya yang panjang diikat kucir kuda, nampak seperti ABG.
Aditya termanggu melihat pesona Arini yang tak pernah surut dari pertama dia bertemu.
Kali ini dia memberikan isapan jempol untuk David yang sudah mendapatkan baju yang sama persis dengan apa yang diinginkannya. Tidak tahu seberapa sulitnya David mendapatkan baju itu dalam waktu satu malam. Good job boy...
Aditya menghampiri Arini yang sedang memasukan gaun pesta kedalam papperbag bekas baju yang dipakainya sekarang.
"Kamu tidak pernah berubah Rin, tetap cantik seperti dulu. Kamu masih menyukai baju seperti ini kan?"
"Kamu salah, Arini yang sekarang bukan Arini yang dulu lagi. Aku pake baju ini bukan karena aku suka tapi karena tidak ada lagi baju yang bisa aku pake."
Aditya memegang kedua bahu Arini,"Kamu tidak pernah berubah kamu tetap Ariniku yang dulu, begitu juga dengan perasaan kita yang tidak pernah berubah. Seberapa kuat kamu menyangkalnya, hati kecilmu tidak akan bisa berkata tidak."
Arini melepaskan tangan Aditya dari bahunya," Aku mau pulang."
Aditya menarik nafasnya pelan,"Aku akan mengantarmu pulang setelah kamu makan dan minum obat."
"Obat...obat apa, aku tidak sakit."
"Kamu tidak ingat semalam kamu pingsan, dokter bilang kalau kamu kelelahan. Aku khawatir, aku nggak mau kamu pingsan lagi."
Aditya menarik tangan Arini untuk duduk didepan meja yang sudah terdapat banyak makanan disana. Dua gelas susu, roti dan selai, bubur ayam yang masih mengepul dan buah-buahan segar.
Aditya membawa semangkuk bubur dalam genggamannya.
"Kamu masih menyukai bubur tanpa seledri dan kacang kan?"
Arini diam tak menyangka Aditya masih mengingat semua kesukaannya. Lagi-lagi Arini terlena.
Aditya mengambil sesendok bubur dan menyuapkannya kearah Arini.
"Aku bisa makan sendiri." Arini mengambil bubur ditangan Aditya.
Tercipta keheningan diantara mereka, Arini memasukan sendok demi sesendok bubur kedalam mulutnya. Aditya tidak henti-hentinya memperhatikan Arini.
"Jangan memperhatikanku seperti itu." Arini merasa tidak nyaman dengan sikap Aditya.
Aditya tersenyum melihat Arini yang salah tingkah. Terlihat sedikit bubur yang menempel dibagian bawah bibir Arini, Aditya mendekati Arini dan mengusap bibir Arini dengan ibu jarinya.
Pandangan mata mereka kembali bertemu, saling mengunci satu sama lain. Mereka sama-sama terbuai. Wajah Aditya mendekat, terus mendekat, semakin mendekat...sampai akhirnya bibir mereka saling bersentuhan, begitu lembut terasa.
Drrrrtttt....Drrrtttt....
Getaran ponsel di meja menyudahi kegiatan mereka yang baru saja akan dimulai. Arini menjauhkan wajahnya dari Aditya, merutuki kebodohannya sendiri.
Aaarrrrggghhh... David....awas kamu
Aditya mengutuk David yang sudah mengganggu moment paling indahnya saat ini.
Dengan malas Aditya mengangkat panggilan itu.
"Ya....sebentar lagi saya kesana, kamu tunggu saja."
Klik.... Telepin dimatikan.
Arini sudah berdiri dengan membawa tas dan paperbag ditangannya, ingin segera menyudahi semuanya. Kalau dia terus berlama-lama dengan Aditya dikamar ini, maka sesuatu yang tidak dia inginkan pasti akan terjadi.
"Aku ingin pulang sekarang."
Aditya ikut berdiri, memegang tangan Arini.
"Terima kasih untuk hari yang indah ini."
Arini hanya bisa menunduk, menghindari tatapan Aditya yang mungkin akan membuatnya terbuai untuk kesekian kalinya.