we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 kesalahan pahaman
Di pojok toko, Tetua Morcant masih tertidur pulas.
Ngorrr...
Suasana damai itu bertahan cukup lama.
Sampai—
Ting!
Bel kecil di atas pintu berbunyi.
Seorang pria berjubah abu-abu masuk ke dalam toko.
Penampilannya biasa saja.
Tidak terlalu tua.
Tidak terlalu muda.
Namun matanya terus mengamati setiap sudut ruangan.
“Selamat datang.”
sapa We Lin santai.
“Silakan lihat-lihat.”
Pria itu mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Saat memasuki toko, pandangannya sempat menyapu seluruh ruangan.
Di pojok toko terlihat seorang lelaki tua sedang tertidur di sofa.
Ngorrr...
Suara dengkuran terdengar jelas.
Pria berjubah abu-abu itu hanya melirik sekilas.
“Pelanggan tua?”
Ia segera mengalihkan perhatiannya.
Baginya, lelaki tua itu tidak memiliki sesuatu yang layak diperhatikan.
Tidak ada tekanan yang terasa.
Tidak ada aura yang mencolok.
Tidak ada tanda-tanda seorang kultivator kuat.
Karena itulah ia sama sekali tidak menyadari bahwa lelaki tua yang sedang tidur di pojok toko tersebut adalah Tetua Morcant.
Perhatiannya kembali tertuju pada toko.
Namun bukannya melihat perhiasan, pandangannya justru menyapu seluruh ruangan.
Seolah sedang mencari sesuatu.
Di dalam hatinya, pria itu dipenuhi kegelisahan.
Tidak mungkin salah.
Jejak Mata Dewa terakhir terdeteksi di sekitar area ini.
Namun kenapa aku tidak merasakan apa pun?
Pria itu adalah salah satu anggota Organisasi Rasi Bintang yang dikirim untuk melakukan penyelidikan.
Meski hanya anggota tingkat menengah, kekuatannya cukup untuk membuat banyak kultivator gemetar.
Namun saat berdiri di toko kecil ini...
Ia justru merasakan firasat aneh yang tidak bisa dijelaskan.
Sementara itu—
We Lin melihat pria tersebut hanya berdiri mematung.
“Kalau mau beli, silakan beli.”
“Kalau cuma lihat-lihat juga tidak masalah.”
Pria berjubah abu-abu itu tersentak.
“Ah... maaf.”
Lalu ia berpura-pura memeriksa beberapa kalung.
Tiba-tiba—
Matanya menangkap sesuatu.
Sebuah cermin kecil di atas meja kasir.
Tubuhnya langsung membeku.
Itu...
Tidak mungkin...
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Sebagai anggota Organisasi Rasi Bintang, ia pernah membaca catatan kuno.
Meski hanya sekilas.
Namun bentuk cermin itu...
Sangat mirip dengan artefak legendaris yang tercatat dalam arsip organisasi.
Cermin Mata Dewa.
Artefak yang konon hanya akan muncul di hadapan Pemilik Mata Dewa.
Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Jangan-jangan...
Orang ini...?
Ia perlahan menoleh ke arah We Lin.
Yang sedang sibuk membersihkan etalase.
“...”
Tidak ada aura.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada tanda-tanda seorang ahli.
Namun justru itu yang membuatnya semakin takut.
Mustahil.
Aku sama sekali tidak bisa melihat kedalamannya.
Salah paham mulai terbentuk di kepalanya.
Sementara itu We Lin hanya bertanya,
“Kenapa?”
“Kalungnya rusak?”
Pria itu langsung tersentak.
“Ti-tidak!”
Jawabannya terlalu cepat.
Bahkan We Lin sempat bingung.
“Kalau tidak rusak ya bagus.”
“...”
Pria berjubah abu-abu hampir menangis
.
Beliau pasti sedang menguji reaksiku!
Tetap tenang!
Tetap tenang!
Di pojok toko...
Tetua Morcant yang sedang tidur perlahan membuka satu mata.
“Hm?”
Ia melihat anggota Organisasi Rasi Bintang yang sedang gugup di depan We Lin.
Sudut bibirnya sedikit berkedut.
"Anak muda..."
"Bahkan tidak mengenali tetua organisasinya sendiri.'
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya melirik sekilas ke arah Cermin Mata Dewa di atas meja.
Lalu ke arah We Lin.
Mata tuanya menyipit sesaat.
"Jadi begitu..."
"Keributan kemarin memang berasal dari bocah ini."
Meski begitu, Tetua Morcant tidak berniat ikut campur.
Ia membalikkan tubuhnya.
Menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Kemudian menutup mata kembali.
Ngorrr...
Suara dengkuran kembali memenuhi pojok toko.
Sementara itu, anggota Organisasi Rasi Bintang masih berdiri kaku tanpa menyadari bahwa salah satu tetua organisasinya sendiri sedang tidur beberapa meter darinya.
Akhirnya ia buru-buru meletakkan beberapa koin di meja.
“Saya beli ini!”
“Hm?”
We Lin melihat kalung yang dipilihnya.
“Itu yang paling murah.”
“Tidak masalah!”
Pria itu langsung mengambil kalung tersebut.
Kemudian membungkuk hormat.
“Saya permisi.”
“Silakan.”
Ting!'
Pintu toko kembali tertutup.
Begitu keluar dari toko, pria itu langsung menarik napas panjang.
Punggungnya sudah dipenuhi keringat.
“Aku harus segera melapor...”
“Jejak Mata Dewa kemungkinan besar telah ditemukan.”
Dan tanpa ia sadari...
Tetua Morcant yang ia abaikan sebagai kakek tua biasa justru mengetahui jauh lebih banyak daripada dirinya.