Di besarkan tanpa kasih sayang
Di didik dengan keras
Dan di kendalikan seperti boneka mainan
Seperti itulah kehidupan pahit Zwetta Anevay--Gadis berusia 18 tahun. Dimana kehidupannya tidak seperti para gadis seusianya. Orang tuanya tidak pernah mengharapkannya lahir membuat ia terus di buat jatuh secara mental. Tidak ada kasih sayang yang di dapatkannya. Bahkan ia di didik dengan keras tanpa belas kasihan. Sehingga Zwetta menjadi sosok dingin dan kejam yang sengaja di buat oleh orang tuanya untuk melindungi keluarga.
Zwetta masuk dalam organisasi bawah tanah atas perintah orang tuanya. Dalam hidupnya kata menolak bukan haknya. Seakan kehidupannya bukan miliknya sendiri, melainkan orang tuanya. Hal itu pula yang membuat Zwetta menjadi semakin dingin, keras dan kejam. Tidak ada satu pun orang yang berani mengganggunya. Organisasi bawah tanah menyebutnya dengan Angel of Darkness.
Seperti apakah perjalanan Zwetta dalam kehidupannya yang di penuhi kegelapan? Yuk simak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SasaNayonara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29. Mall
Sejak kembali dari pertemuan dengan tuan Ichiro kemarin siang, Zane hanya berdiam diri di dalam kamar sembari mengerjakan tugas kuliah. Ia hanya keluar saat makan malam tiba. Dimana ia hanya makan berdua saja dengan Azrail. Jangan tanya dimana tuan Ivon dan nyonya Tasanee yang memang jarang ada di rumah karena sibuk melakukan perjalanan bisnis. Sedangkan Ezio, laki-laki yang merupakan anak sulung Anevay itu harus bekerja lembur di perusahaan. Hal seperti itu sudah biasa terjadi.
Zane menyelesaikan tugas kuliahnya sampai dini hari. Hingga sekarang membuatnya belum juga terbangun dari tidur lelapnya. Padahal matahari sudah menampakkan cahayanya yang sangat cerah.
Drttt... Drtttt... Drtttt...
Suara dering ponsel yang baru terdengar sebentar itu berhasil mengusik tidur lelap Zane. Dengan kesadaran yang belum terkumpul, ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama kontaknya.
[Sheirina📞: Omaygattt, Zwetta Anevay—Lo baru bangun ya!!?]
Sontak membuat Zane menjauhkan ponsel dari telinganya untuk sesaat. Bisa-bisa pendengarannya menjadi terganggu akibat teriakan super nyaring itu.
"Masih pagi, Shei. Gak usah teriak!" cetus Zane dalam keadaan masih mengantuk.
Meski tanpa melihat nama kontaknya, ia sangat mengenal siapa yang tengah meneleponnya. Dan lagi, ia sudah biasa mendengar orang itu berteriak.
[Sheirina📞: Hehe, sorry]
"Hmm. Ada apa nelpon gue pagi-pagi?" tanya Zane to the point.
[Sheirina📞: Heh, lo bilang pagi!?? Buka mata lo dan liat jam sekarang!]
Lantas Zane pun menatap sekilas layar ponselnya. Dimana di sana tampak jam sudah menunjukkan hampir jam 11 siang.
Ia hanya berdeham singkat. "Kenapa memangnya?"
[Sheirina📞: Sekarang lo tanya kenapa? Serius. Lo lupa kalau udah janji mau nemenin gue ke mall hari ini!?]
Ck. Zane berdecak pelan sebab baru ingat akan janjinya pada orang itu. Sepertinya hari ini ia harus mendengarkan omelan yang cukup lama.
"Iya, gue lupa!" sahut Zane tanpa merasa bersalah.
[Sheirina📞: Dasar! Udah setengah jam gue nungguin lo. Kalau gak gue telepon, bisa-bisa gue lumutan nunggu lo]
"30 menit lagi gue otw,"
Tutttt.
Setelah mengatakan itu, Zane langsung mematikan panggilan secara sepihak tanpa mendengar jawaban lawan bicaranya. Bukan apa-apa, orang itu pasti akan mengomel panjang dan ia belum minat mendengarnya. Sekarang ia harus segera pergi bersiap, sebelum orang itu meneleponnya kembali.
SKIP
Zane sudah selesai bersiap usai memoleskan make up tipis pada wajahnya. Hari ini ia tampak cantik dengan memakai kaos pink polos serta bawahan rok di atas lutut yang bewarna putih. Terpasang sempurna sneakers putih di kakinya yang melengkapi penampilannya hari ini. Sedangkan rambutnya di ikat tinggi menambah kesan gadis feminim.
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera pergi sembari membawa tas kecil yang berisikan ponsel serta dompet miliknya. Suara langkahnya terdengar jelas dalam kediaman yang sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang tampak sedang mengerjakan tugas masing-masing.
"Selamat pagi, nona!" sapa salah satu pelayan seraya menunduk hormat.
"Pagi," balas Zane singkat di sela berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Tidak berselang lama, mobilnya segera melaju pergi meninggalkan kawasan kediaman keluarganya. Sekitar 15 menit berlalu, Zane pun menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen. Ia tidak turun, melainkan mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.
[Gue udah di bawah]
Send.
Setelah mengirimkan pesan itu, ia hanya duduk bersandar sembari mengetuk-ngetuk setir mobilnya. Hingga tiba-tiba pintu mobilnya di buka dan seseorang langsung masuk, tepatnya duduk di kursi sebelahnya.
"Gila ya? Lo beneran mau bikin gue lumutan. Make up gue aja hampir luntur saking lamanya nungguin lo," cecar orang itu bernada kesal.
"Lebay," celetuk Zane menatap jengah ke arahnya.
Sedangkan orang yang di tatap begitu, justru tampak mendelik tidak senang. "Serah gue lah. Siapa suruh lo bikin gue nunggu lama. Mana pakai acara lupa segala,"
"Penting sekarang gue udah di sini, kan?" Zane bertanya sembari mulai melajukan mobilnya menuju ke Mall yang berada cukup dekat dari sana.
"Tapi telat satu jam. Untung gue telepon, coba kalau gak? Beneran jadi lumutan gue. Kan gak lucu kalau cewek secantik gue jadi lumutan cuma gara-gara nungguin lo," sahut orang itu masih mencecar dengan kekesalan.
Zane menghela nafasnya mendengar cecaran orang tersebut. Jujur saja ia sedikit malas mendengarnya tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah jadi nasibnya.
"Lo dengar gak sih gue ngomong!?" orang itu bertanya sebab Zane tidak memberikan balasan apapun.
"Dengar," balas Zane singkat.
Kini giliran orang itu yang menghela nafas dengan kasar. Sungguh kesabarannya benar-benar di uji saat menghadapi Zane yang bisa di bilang terlalu irit bicara.
"Gini amat punya sahabat, huh! Gemes. Pengen gue tenggelamin ke kolam!"
Sheirina Angelina—Gadis cantik yang merupakan satu-satunya sahabat perempuan Zane, begitu pula sebaliknya. Berbeda dengan Zane, ia adalah tipe gadis yang super cerewet dan selalu tidak mau diam. Entah bagaimana bisa Zane memiliki sahabat sepertinya. Tetapi yang pasti, persahabatan mereka sangat sempurna. Sheirina seperti salah satu bagian yang harus selalu ada dalam hidup Zane. Yeah, gadis itulah yang membuat kehidupan Zane sedikit lebih bewarna dengan segala kecerewetan dan tingkahnya meski terkadang merepotkan.
"Lo berani?" Zane melirik datar ke arah Sheirina di sela mengemudi.
Hanya sekilas tapi berhasil membuat Sheirina ketar-ketir. "Ya, enggaklah! Kan tadi kata gue pengen aja,"
"Hmm,"
Setelah itu pembicaraan mereka berakhir. Sheirina tidak mengeluarkan suara lagi, sebab ada waktunya ia untuk diam. Daripada terus di buat ketar-ketir oleh Zane yang notabennya ia tahu seperti apa sosok sahabatnya itu. Namun satu hal yang tidak di ketahuinya, Zane dengan identitasnya sebagai mafia jauh lebih kejam dari yang pernah di lihatnya.
...****************...
Akhirnya mobil yang di tumpangi Zane dan Sheirina berhenti tepat di kawasan parkiran Mall. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua segera masuk ke dalam bangunan Mall yang sangat luas itu.
"Ke sana dulu yuk! Gue mau beli aksesoris yang lucu," ajak Sheirina yang langsung menarik tangan Zane tanpa menunggu balasan.
Zane hanya bisa pasrah di tarik sang sahabat menuju salah satu toko. Begitulah ia setiap kali bersama Sheirina. Meski tidak terlalu tertarik, ia tetap ikut kemana Sheirina menariknya pergi. Seperti sekarang, satu-persatu toko mereka datangi yang tentunya berakhir dengan bertambahnya bawaan paperbag di tangan mereka berdua. Sebenarnya Zane tidak berminat untuk berbelanja tapi jika ada Sheirina, kata `tidak` itu tidak berlaku sama sekali. Alhasil Zane pun terpaksa berbelanja beberapa barang juga.
"Gak terasa belanjaan kita udah sebanyak ini," ucap Sheirina seraya menatap semua paperbag di kedua tangannya.
"Belanjaan lo," timpal Zane mengoreksi ucapan Sheirina.
Sontak membuat gadis itu cengengesan. "Habisnya sayang banget kalau uang papa gue gak di belanjaan,"
"Sekarang udah cukup, kan? Gue lapar," Zane benar-benar sudah lapar sekarang karena hampir 2 jam berkeliling di semua lantai Mall.
"Hooh. Gue juga udah lapar. Yuk lah kita cari makan!" sahut Sheirina yang ternyata juga merasa lapar.
Bagaimana tidak lapar, jam saja sudah menunjukkan waktu makan siang. Mereka pun segera mencari sebuah tempat makan yang ada di Mall.
"Di situ aja gimana? Sekalian kita makan es krim," Sheirina menunjuk ke arah tempat yang di maksudnya.
Zane mengangguk setuju tanpa berucap apapun. Mereka berdua langsung berjalan ke arah tempat tersebut. Namun baru saja akan masuk ke dalam, Zane menghentikan langkahnya.
Sheirina mengernyit heran. "Kenapa berhenti, Zane?"
Pertanyaan itu tidak di jawab Zane yang sedang menatap seseorang. Sheirina pun mengikuti arah kemana tatapan Zane tertuju. Seseorang itu sepertinya sedang kebingungan.
"Lo kenal?" sambungnya bertanya.
"Hmm," hanya berdeham saja, setelahnya Zane berjalan menghampiri orang yang menjadi objek tatapannya barusan.
Sheirina yang di tinggal tampak mendengus kasar. Namun tak ayal, ia segera menyusul Zane menghampiri orang tersebut.