Ana mengusap sedih air mata yang mengalir di pipinya kala harus menulis surat perpisahan untuk tunangannya. Ana harus mengembalikan cincin tunangan mereka sebelum benar-benar menghilang tertelan kesedihannya.
Tak jauh dari tempat Ana menulis surat perpisahannya, tergolek seorang pria tampan yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seolah tak peduli betapa kacaunya ranjang itu. Ranjang terkutuk tempat pria itu merenggut keperawanannya tepat sebelum Ana akan menikah.
Tak cukup air mata kesedihan menggambarkan betapa sedihnya Ana saat ini. Ana tidak sanggup bmenceritakan apa yang di alaminya pada siapapun. Ana tak sanggup melihat wajah kecewa tunangannya jika ia tahu betapa dirinya telah ternoda, siapa yang mau menerimanya saat ini, meskipun tunangannya menerimanya, bagaimana dengan keluarganya. Apalagi jika sampai media mengetahuinya. Reputasi keluarga kaya itu pasti lebih dari segalanya daripada dirinya yabg bukan siapa siapa.
Ana ingin sekali menyalahkan pria yang tengah tertidur itu. Tapi Ana juga tak sanggup membencinya. Bagaimanapun juga pria itu juga berjasa dalam hidupnya. Kenyataan bahwa pria itu kakak dari sahabatnya, membuat Ana tak bisa menceritakan masalah ini pada sahabatnya. Apa yang membuat Ana berpikir bahwa sahabatnya lebih mendukungnya daripada saudaranya. Seperti ibarat darah lebih kental bukan.
Tapi Ana percaya bahwa jika manusia yang merencanakan, Tuhan lah yang menentukan. Pasti karena rencana Tuhan begitu indah. Ana memilih meyakini bahwa semua kesedihannya akan berubah indah pada waktunya.
Tekat Ana sembari melangkah pergi menyongsong kehidupannya yang lain.
Jika seseorang itu datang seperti embun di tengah padang nan gersang.
Akankah seseorang itu mampu mengentaskan hatinya dari keterpurukan.
Mungkin bisa, tapi bagaimana jika ternyata takdirmu sedemikian buruk. Sehingga meski embun datang ternyata banjir air mata lebih dulu menenggelamkanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
🌷🌷🌷
“Ma, aku merasa Thomas sedikit aneh akhir-akhir ini,” ujar Chaty pada mamanya saat sarapan. Sejak ia mengetahui bahwa Thomas yang menyebabkan sahabatnya menghilang, ia tak sudi memanggil Thomas dengan sebutan Kakak.
“Tentang apa?” tanya Ny. Bella pura-pura bertanya. Sebenarnya ia sudah tahu tentang riwayat Thomas yang sempat depresi.
“Dia menolak membicarakan tentang Ana dan sekarang melarikan diri di pulau terpencil dengan dalih bekerja, bekerja apa coba, Soni sudah pulang berkali-kali, sedangkan Thomas tak sekalipun ia pulang.”
“Ana?” tanya Ny. Bella penasaran, kenapa tiba-tiba tercetus kata Ana dari mulut putrinya, memang sejak pertunangan Ana yang gagal dengan Theo, ia tak pernah sekalipun melihat Ana, lantas, "Ada apa dengan Thomas dan Ana?” tanyanya tak mengerti. Ada hubungan apa mereka? batinnya keheranan.
“Ternyata, Thomaslah penyebab gagalnya pernikahan Ana dan Theo. Thomas tidak hanya menolak menceritakan apa yang diperbuatnya pada Ana, tapi ia juga penyebab Ana menghilang, ingin sekali aku melaporkannya ke polisi, siapa yang tahu mungkin saja ia telah membunuh Ana dan membuangnya di suatu tempat,” ujar Chaty marah.
“Jadi semua yang terjadi pada Thomas ada hubungannya dengan Ana,” ujar Ny. Bella tak percaya.
“Apa yang terjadi dengan kakak? Mama pasti tahu sesuatu dan menyembunyikan dariku kan? Iya, kan? Mama, tolong katakan padaku sejujurnya apa yang terjadi. Mama tahu kan betapa dekatnya Ana denganku. Tolong, beritahu aku apa yang terjadi. Aku harus menemukan Ana. Apalagi jika itu mengenai Kakak, aku harus menyelamatkan Ana,” desak Chaty pada Mamanya, ia bahkan sudah menyingkirkan sarapannya ke samping. Ia sudah tak selera makan saat mendengar kabar mengenai Ana, mungkin saja informasi yang dipunyai Mamanya bisa membawanya pada Ana. Uh, ia sudah curiga pada Thomas, tapi ia tak tahu sebesar apa masalah yang ditimbulkan oleh kakaknya kali ini.
“Semua bermula ketika Mama mendapati Thomas mengigau dan demam tinggi. Sejak saat itu ia menjadi pendiam dan mulai tidak makan dan istirahat dengan benar. Saat Mama menanyakannya, ia hanya mengatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan, ia mengatakan bahwa kesalahannya telah dimaafkan, akan tetapi ia begitu sedih karena orang yang memaafkannya itu memilih pergi. Karena ia tak mau mengatakan yang sejujurnya pada Mama, mau tak mau Mama akhirnya merekomendasikannya kepada psikiater. Kalau tidak salah, Thomas sampai harus kontrol setiap hari dan meminum obat tidur agar bisa istirahat. Ia selalu mimpi buruk. Saat itu Mama sangat takut depresi akan membuatnya mengakhiri hidup. Mama tidak tahu kalau ini ada hubungannya dengan Ana, kalau Mama tahu lebih awal, Mama akan meminta tolong padamu,” ucap Ny. Bella panjang lebar.
Chaty terhenyak di kursinya, ia mulai menebak-nebak kemungkinannya. “Thomas selalu membuat teman-temanku kabur karena ia mengencani mereka tapi tak pernah benar-benar serius berkencan. Mungkinkah kali ini juga begitu? Mungkinkah Ana juga korban Thomas? Argh, aku sudah memintanya untuk menjauhi Ana kenapa begitu keras kepalanya dia.”
“Bisa jadi,” kata Mamanya. “Ana mungkin pergi karena ia tidak bisa menceritakan masalah ini padamu, secara Thomas adalah saudara kandungmu.”
“Argh, aku sudah menduganya saat Theo memintaku untuk bertanya pada Thomas ketika aku mempertanyakan keputusan Theo bertunangan dengan Wendy, alih-alih dengan Ana. Aku akan buat perhitungan dengan Thomas,” ujar Chaty marah. “aku ingin sekali membunuhnya kalau saja aku tidak ingat bahwa dia satu-satunya saudaraku.”
“Jangan begitu,” ujar Mamanya menenangkan, “Thomas sudah banyak menderita akhir-akhir ini.”
“Apa Mama juga tidak berpikir bahwa Ana juga menderita, Ana adalah korban di sini.”
“Kan belum pasti ini menyangkut Ana, jangan menuduh Kakakmu begitu,” ucap Ny. Bella masih berusaha menenangkan.
“Ini pasti karena Mama terlalu memanjakannya. Apakah Mama tahu berapa jumlah temanku yang jadi korban Thomas. Oke, aku tak mempermasalahkan teman-temanku yang dulu karena di samping mereka memang sudah aktif melakukan hubungan badan, mereka pasti melakukannya atas dasar suka sama suka. Tapi, demi Tuhan tidak dengan Ana, ia sudah bertunangan, dan Thomas merusak pertunangan mereka. Dan aku cukup yakin, Thomas merasa bersalah melakukannya, karena Ana-ku masih virgin.”
Ny. Bella menggeleng tak percaya. Ia cukup mengenal Ana untuk percaya kata-kata putrinya, selama menjadi sahabat putrinya hampir 4 tahun, ia tak pernah mendapati gadis itu berkencan, kepribadiannya juga bagus dan ia senang kepribadian itu menular pada putrinya. Tapi, yang ia tak pernah tahu adalah kelakuan putranya ternyata seburuk itu.
“Aku akan membuat perhitungan pada Thomas,” ujar Chaty bertekad. “Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku di sini dan menyusulnya ke pulau. Mama, jangan sekali-kali mengatakan pada Thomas, apalagi membiarkannya kabur. Mama akan tahu akibatnya, karena aku tak akan segan-segan melaporkan Thomas ke polisi kalau Mama melakukannya,” ancam Chaty.
Ny. Bella menghela nafas. Memang sebaiknya ia tak ikut campur masalah ini. Anak-anak sudah besar, mereka harus dihadapkan masalah untuk menjadi dewasa. Salahnyalah yang terlalu memanjakan Thomas, sehingga membuatnya menjadi anak yang nakal. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka bertiga, doanya dengan tulus
🌷🌷🌷
Ceritanya pendek, iya sih. Author bingung memilih menulis pendek agar segera up atau nunggu panjang sambil diomeli reader. Sungguh dilema! bagaimana menurut para reader
sekalian? yang penting up atau nunggu banyakan baru up. Apa terserah aku saja? hehehe selamat weekend.
Theo... aku juga suka ice cream loh
Kamu keren loh
wanita manis dan mandiri👍
Hingga Tuhan pertemukanku denganmu
Hancurkan diriku
-tanpa rasa bersalah-