David, Nathan, Yuda, Jhonatan dan Dion adalah sahabat sejak kuliah. Mereka sudah menikah, namun pernikahan mereka banyak yang kandas di tengah jalan karena dari dua istri mereka ada yang selingkuh dan juga meninggal. Ada pula yang sedang masa persidangan perceraian.
Jadi, mereka bersahabat dan membuat genk sendiri dari obrolan santai dan tak terduga. David menamai genk mereka duda keren, Jhonatan menamai genk mereka adalah duda tampan dan menarik.
Tapi, apa pun nama genk mereka itu. Membuat para wanita sekitar mereka sangat meresahkan. Karena ketampanan para duda keren itu tidak main-main, bahkan tubuh atletis kelima duda itu membuat adik dari salah satu duda itu semakin terpesona juga sahabatnya.
Bagaimanakah nasib para duda tersebut? Apakah akan mendapatkan jodoh yang mereka inginkan setelah perceraian dan di tinggal mati?
Yuk kepoin ceritanya, jangan lupa like, komen dan beri hadiah jika suka dengan novelnha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Menepati Janji
Dua bulan Jho menahan untuk bertemu Seruni di Bali. Dan dia sudah merencanakan akan kembali ke Bali menemui Seruni. Sejak pulang ke Jakarta, dan memiliki nomor ponsel Seruni, Jho sering menghubungi gadis pelayan kafe itu di waktu malam hari jam pulang kerja Seruni.
Meski Jho kelelahan setelah bekerja, dan juga Seruni. Namun, keduanya senang bisa berbicara di telepon. Seruni berharap Jho memang benar menyukainya, karena dia sendiri sudah jatuh hati pada Jho.
Tapi dia tidak berharap banyak, dia tahu diri siapa dirinya. Hanya seorang pelayan kafe sedangkan Jho yang dia tahu adalah pengusaha muda yang sukses. Bisa di katakan dia beruntung di cintai oleh Jho.
"Kamu baru pulang dari kafe?" tanya Jho ketika malam hari dia menelepon Seruni.
"Ya, aku baru saja sampai di kontrakan. Kenapa meneleponku?" tanya Seruni, sekarang dia tidak ketus lagi pada Jho.
"Aku kangen sama kamu." jawab Jho.
"Gombal! Jangan menggombaliku, aku tidak akan tertarik dengan gombalan semacam itu." kata Seruni, padahal dia sangat senang.
"Hahah! Aku tidak gombal, minggu depan aku akan ke Bali menemuimu." kata Jho.
Seruni terdiam, dia senang Jho akan datang ke Bali. Tapi tunggu, mau apa ke Bali? Bukankah di Bali banyak yang Jho lakukan, bukan hanya bertemu dengannya. Aah, Seruni jadi kecewa sendiri.
"Apa ada urusan pekerjaan?" tanya Seruni lirih.
"Tidak, aku sengaja ingin menemuimu." kata Jho tegas.
"Mau apa?"
"Melamarmu."
"Eh, tuan Jho. Apa yang anda katakan?" tanya Seruni kaget dan tidak percaya.
"Aku serius."
Seruni diam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Entah bahagia atau sedih, dia merasa senang. Tapi dia ingat temannya seperti itu, di janjikan segala ucapan yang manis. Nyatanya hanya rayuan saja, agar bisa memberikan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Seruni tidak mau seperti itu.
"Seruni?"
"Anda sudah pikirkan masak-masak? Saya takut anda hanya merayu saya saja, dan pada akhirnya saya akan di tinggalkan lagi setelah anda mengambil sesuatu yang berharga pada saya." kata Seruni.
"Seruni, kamu bicara formal lagi? Kenapa bicara seolah kita baru kenal, bukankah kita sudah lama kenal dan seperti ini." kata Jho heran.
"Saya hanya tidak mau jadi gadis bodoh tuan. Saya tahu, saya ini gadis yang tidak memiliki banyak kelebihan. Tapi saya tidak mau anda terlalu gegabah dengan ucapan anda itu."
"Akan aku buktikan Seruni, aku tahu kamu tidak percaya padaku. Tapi akan aku buktikan kalau aku serius sama kamu." kata Jho dengan tegas.
Seruni kembali diam, dia menghela nafas berat. Dia sendiri tidak tahu, kenapa Jho bisa tertarik padanya. Dia seorang pelayan kafe, bukan gadis yang selalu pergi ke kelab malam untuk bersenang-senang. Baginya, mencari uang untuk kehidupannya sendiri tanpa harus merepotkan orang tua itu kebanggaannya.
"Tuan, ..
"Seruni! Jangan memanggilku dengan bahasa formal lagi." kata Jho kesal.
"Tapi saya dan anda berbeda, jadi saya harus menghor ..."
Klik!
Jho menutup sambungan teleponnya, dia kesal kenapa Seruni seperti itu. Jho menarik nafas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak seharusnya dia marah pada Seruni. Dia harus tahu keadaan Seruni memang sedang rendah diri. Tapi dia akan membuktikan pada gadis itu kalau dia serius suka dengan gadis pelayan kafe tersebut.
"Aku akan buktikan sama kamu, Seruni. Aku benar-benar menyukaimu. Minggu depan kupastikan akan pergi ke Bali." ucap Jho.
Dia meletakkan ponselnya di nakas, kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Di coba memejamkan matanya, namun wajah Seruni selalu membayang di pelupuk matanya.
"Haish, kenapa dia selalu menggangguku!" ucap Jho, namun senyumnya mengembang. Ingin dia menghubungi Seruni lagi, namun dia tahu Seruni pasti sedang lelah.
_
Sesuai dengan janjinya, Jho membuat jadwal tiga hari dia berada di Bali. Hanya sendiri, tidak dengan sahabat-sahabatnya karena semuanya sedang sibuk. David sedang ada proyek baru yang harus di tangani di pulau Seribu, Nathan anaknya baru pulang dari rumah sakit dan tidak bisa meninggalkan Kevin jauh.
Sedangkan Yudha sedang menangani kasus agak berat, dia menerima kasus polisi yang ternyata di fitnah oleh teman sesama oknum polisi. Awalnya dia ingin menolak, tapi ketika dia membaca BAPnya dan beberapa bukti dia pun menerimanya meski agak susah karena dekingan pada oknum polisi itu banyak.
Dion, dia sedang mengunjungi ibunya di luar Jawa. Katanya sedang sakit, jadi tidak bisa ikut. Dan memang Jho ingin pergi ke Bali sendiri, memastikan perasaannya pada Seruni. Dia benar-benar ingin melamar Seruni, meski dia tahu Seruni akan menolaknya.
Karena status mereka yang berbeda, Jho berharap Seruni percaya padanya. Bahwa dia sungguh-sungguh mencintai Seruni. Kini dia sudah berada di pesawat menuju Bali. Dan sebentar lagi dia landing di bandara Ngurai Rai.
Jho melirik jamnya, sudah pukul sebelas siang. Hari Jum'at sore ini dia sengaja tidak masuk kerja, sampai hari Minggu dia berada di Bali. Malamnya pulang lagi setelah mendapatkan jawaban dari Seruni.
Pesawat pun landing, Jho sudah bersiap untuk turun. Dia segera keluar dan turun ke terminal, memesan taksi online sejak dia turun dari pesawat agar tidak menunggu lama. Setelah sampai di pintu keluar, Jho melihat taksi online sudah ada di depan.
"Ke hotel Galaksi ya." kata Jho masuk ke dalam taksi tersebut.
"Ya pak."
Setelah masuk, mobil pun langsung melaju menuju hotel yang di maksud Jho. Tidak jauh hotel itu, tapi memang agak padat jalanan menuju hotel tersebut. Tapi hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja, mobil taksi online pun sampai di hotel bintang lina tersebut.
Jho keluar dari mobilnya, membawa kopernya dan menyerahkan uang sesuai tarif.
"Ini Bli ongkosnya." kata Jho.
"Terima kasih pak."
Setelah membayar tarif mobil, Jho langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar selama dua hari dua malam, karena malam hari jam dua belas dia akan berangkat lagi ke Jakarta.
"Ini tuan kunci kamarnya." kata bagian chek in tersebut.
"Terima kasih."
Usai menerima kunci kamar, segera Jho di antar oleh petugas yang mengantar ke kamarnya. Dia tidak mengambil kamar di lantai atas, tapi di lantai bawah. Jho mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Seruni.
'Aku sudah ada di Bali.'
Hanya itu yang dia kirim pada Seruni, tidak membutuhkan balasan dari Seruni. Karena dia hanya memberitahu saja pada gadis itu, dan nanti malam dia akan datang ke kafe di mana Seruni bekerja. Sore ini dia akan istirahat lebih dulu, sejak pagi dia sibuk sekali mengurusi pekerjaannya di kantor agar dia bisa pulang cepat dan berangkat ke Bali.
_
_
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧