Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Alena
Mohon maaf baru bisa up..
Happy reading....
Malam semakin larut, satu persatu tamu undangan sudah meninggalkan tempat pesta. Dan malam itu Monica menjadi primadona di sepanjang pesta. Sikap manja, ceria dan apa adanya pada diri Monica menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya.
Mata Alena tak berhenti memperhatikan Monica. Terbesit di benaknya untuk menjodohkan Panji, anaknya dengan Monica. Dan ternyata, Alena sudah mengutarakan niatannya itu kepada Ratna dan Angga.
"Monica..!" panggil Alena.
"Ada apa Tante?" tanya Monica, dengan nada kesal
Alena dan Ratna membelalakkan matanya. Ratna terkejut anak perempuannya itu menjawab panggilan Alena dengan nada ketus.
"Monica, jangan seperti itu. Tidak sopan!" ucap Monica.
"Tidak apa-apa, Ratna. Mungkin ada yang membuat anak mu yang cantik ini marah." Alena berucap dengan sangat lembut.
"Iya, anak Tante Alena yang bikin Monica kesal!"
"Panji?" tanya Alena di balas anggukan Monica.
Bertepatan dengan itu, Panji dan Leo datang menghampiri mereka.
"Panji bilang, Monica gendut gara-gara kebanyak makan kue cokelat," ucap Monica manja.
"Memang iya, apa kamu tidak sadar, badanmu sudah makin lebar!" ucap Panji.
Semua orang yang mendengarnya pun tertawa.
"Panji, bersikaplah manis pada calon adik iparku," suruh Leo pada Panji dan bermaksud menggoda Monica.
"Kak Leo tahu, Panji sebelumnya bersikap manis padaku sebelum aku mau jadi pacarnya. Dan sekarang, baru beberapa jam saja aku mau menjadi pacarnya, dia sudah berani mengejekku!" ucap Monica.
"Dasar tukang ngadu!" Monica membelalakkan matanya dan menatap horor Panji.
"Panji...!" ucap semua orang. Dan gelak tawa mengiringi candaan mereka.
❤️❤️❤️❤️❤️
Malam semakin larut, para tamu undangan satu-persatu sudah meninggalkan pesta. Nampak Monica berjalan dengan melingkarkan tangannya pada lengan Panji. Keduanya berjalan menuju area parkir.
Panji membukakan pintu mobil untuk Monica. Panji berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobilnya dan duduk di bangku kemudi. Panji pun mulai melakukan mobilnya menuju rumah Monica.
Sepanjang perjalanan senyum keduanya sama sekali tak lepas dari bibir mereka. Panji dan Monica merasa malam itu adalah malam paling membahagiakan untuk keduanya. Sebuah penantian akan balasan cinta dari Monica akhirnya ia dapatkan. Sedangkan untuk Monica, akhirnya dirinya bisa menetapkan hatinya untuk orang sebaik Panji. Dan Monica jadi juga berharap perasaan untuk Egi cepat hilang dari hatinya.
"Thanks, Monica. Hadiah yang kamu berikan untukku!" Panji berucap, matanya masih memandang lurus ke depan.
"Sama-sama Panji. Aku pun merasa lega, saat ini." Monica tersenyum ke arah Panji, saat Panji melihat sekilas kearahnya.
Keduanya pun saling berbalas senyuman. Mendadak Panji menepikan mobilnya saat sakit di kepalanya menyerang. Panji menarik nafas panjang untuk meredakan sakit di kepalanya. Monica yang terheran saat Panji mendadak menghentikan laju mobilnya melihat ke sampingnya. Monica terkejut saat melihat Panji memegangi kepalanya.
"Panji, kamu tidak apa-apa?" Monica cemas saat melihat Panji meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Panji langsung membuka rak di dashboard mobilnya. Panji langsung mengambil botol obat dan mengeluarkan isinya. Panji membuka botol minum di sampingnya lalu meminum air beserta obatnya. Perlahan rasa sakit di kepala Panji berkurang.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Monica. Monica mengusap keringat di wajah tampan Panji yang pucat.
Panji menggelengkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Monica. "Jangan khawatir, aku tidak apa-apa, sayang!"
"Ya sudah. Aku saja yang bawa mobilnya. Aku akan mengantar mu pulang."
"Tidak apa-apa, aku akan mengantar mu pulang terlebih dahul."
"Tidak ada penolakan. Aku akan mengantar mu pulang, wajahmu sangat pucat." Monica melepas safety belt nya, lalu Monica turun dari mobil. Monica berjalan memutar ke kursi kemudi. Sedangkan Panji, bergeser ke kursi penumpang.
Monica melajukan mobilnya, ia berputar arah menuju rumah Panji. Monica melihat sekilas ke arah Panji. Monica merasa kasihan melihat Panji sepertinya sangat kesakitan. Monica mengulurkan tangannya untuk mengusap kening Panji. Kepala Panji mulai bergerak, Monica langsung menarik tangannya.
Panji tertidur kembali, mungkin efek dari obat yang dia minum. Monica terus melajukan mobilnya sampai akhirnya sampai di depan gerbang rumah Panji. Monica membunyikan klakson mobilnya. Beberapa menit kemudian, seorang satpam yang berjaga di rumah Panji membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali saat mobil yang dikendarai Monica masuk ke dalam halaman rumah Panji.
Monica segera turun dari mobil dan meminta pak satpam itu untuk membantunya memapah Panji dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Ini, Den Panji kenapa non?" tanyanya.
"Mungkin kecapean aja, Pak," balas Monica.
Keduanya berjalan dengan memapah tubuh Panji yang masih sangat lemah. Sesampainya didalam rumah, Leo melihat Monica dan pekerja di rumah nya sedang memapah Panji. Leo yang sedang mengambil air minum di dapur langsung menghampiri mereka.
"Panji, lo kenapa?" tanya Leo pada Panji. Namun, Panji begitu lemah begitu lemah untuk menjawab. Panji hanya menggelengkan kepalanya.
Leo mengambil alih untuk memapah Panji dari pekerja rumahnya. Leo dan Monica membawa Panji ke kamarnya di lantai satu. Leo membuka pintu kamar Panji dengan tangan kirinya, mereka bertiga masuk dan segera merebahkan tubuh Panji ke atas kasur. Monica menyelimuti tubuh Panji lalu duduk di samping Panji.
"Kamu sudah mendingan? Apa kita ke Dokter aja ya!" pinta Monica. Tangannya tak berhenti mengusap kening Panji.
Panji menggeleng dengan lemah ia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Ia hanya butuh istirahat. "Jangan khawatir begitu."
Monica mengangguk. "Aku pulang dulu ya, ini sudah larut malam," pamit Monica.
Panji mengangguk dan meminta Kakaknya, Leo untuk mengantar Monica pulang. "Tolong ya Bang, anterin Monica pulang ke rumahnya!" pinta Panji yang langsung si angguki oleh Leo.
"Ya sudah, kamu istirahat saja." Monica turun beranjak dari atas kasur, setelah sebelumnya mengecup kening Panji.
"Kamu baik-baik ya!" Monica dan Panji saling berbalas senyum.
Leo dan Monica keluar dari kamar Panji, mereka berjalan menuruni anak tangga dan sampai di bawah, mereka bertemu dengan mamahnya Panji, Alena.
"Monica, sayang. Kamu disini?" tanya Alena dengan kerutan di kening nya.
"Monica mengantar Panji pulang. Panji sepertinya sedang sakit. Sekarang Panji sedang istirahat di kamarnya," jawab Leo.
"Panji sakit?" Alena langsung terlihat panik. "Ya sudah mama liat adik kamu dulu."
"Oke, Mah. Leo juga mau antar Monica pulang!"
"Oh iya. Monica terima kasih, sayang. Sudah mengantar Panji pulang. Kalian hati-hati di jalan ya." Leo dan Monica mengangguk. Alena pun mencium pipi Monica sebelum Alena pergi ka kamar Panji.
Alena berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamar Panji. Sedangkan Leo dan Monica keluar dari rumah besar itu menuju Mobil Panji yang terparkir di halaman rumahnya.
panji juga knp ga jujur aja...