Mihuang, wanita abad 21 yang mengalami transmigrasi setelah menangis karena mengetahui sahabat dan kekasihnya selingkuh. Masuk ke dalam tubuh seorang 'Junzhu', keponakan Janda Permaisuri yang memiliki reputasi kasar namun terhormat berkat latar belakangnya.
Menjalani kehidupan baru di Kekaisaran kuno yang jauh lebih sulit dari pada kehidupan aslinya di zaman modern.
Pria dingin, manis, serta pemegang takhta, yang mana yang akan dirinya pilih? Tiga pria pemegang kekuasaan Kekaisaran tertinggi ingin memilikinya, tanah Kekaisaran bergetar karena perseteruan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Pria Berjubah Hitam
“Katakan kepada Huangtaihou bahwa aku harus segera kembali ke kediaman karena sakit kepalaku kambuh.” Xiao Mishuang menatap pelayan pribadi Fang Guifei.
“Selir ini akan membantu anda keluar dari Istana tanpa dilihat orang-orang,” ucap Fang Guifei.
Xiao Mishuang mengangguk singkat. “Terima kasih.”
Tak lama kemudian, Xiao Mishuang berjalan keluar diam-diam dari ruangan menuju kereta kuda yang disiapkan Fang Guifei.
Huangtaihou yang mendengar lapora pelayan pribadi Fang Guifei terkejut, dia ingin segera meninggalkan acara, namun tidak enak karena ada tamu terhormat, Chen Muqing.
Xiao Fuxian dan Xiao Rugo yang mendengar ini pun langsung khawatir, tetapi dia juga tidak bisa langsung pergi dari acara dengan alasan yang sama seperti Huangtaihou.
“Apa Xiao Junzhu membutuhkan obat khusus? Saya bisa mencarikannya untuk sang Junzhu.” TIba-tiba Chen Muqing berkata demikian, membuat Huangtaihou dan Xiao Rugo tersenyum kaku.
Xiao Rugo berdiri, kemudian membungkuk ke arah Chen Muqing. “Sebuah keberuntungan serta kehormatan yang besar untuk putri saya mendapat perhatian dari Yang mulia. Tetapi orang tua ini tidak berani merepotkan yang mulia karena putri saya, kebetulan kami juga telah mempunyai obat untuk Xiao Junzhu. Walaupun mungkin obatnya tidak sebagus yang akan yang mulia berikan, tetapi orang tua ini sudah merasa obat itu lebih dari cukup untuk menyembuhkan putri orang tua ini.”
Chen Muqing masih tetap tersenyum tipis walaupun tahu bahwa niat baiknya ditolak secara halus, sepertinya Xiao Rugo tidak membiarkan putrinya didekati oleh pria sembarangan.
Qin Feijing yang mendengar ini hanya diam, dia tidak berminat untuk membuka suara mengenai masalah ini. Mungkin karena dia tahu bahwa kejadian Xiao Mishuang disebabkan dengan dirinya.
Qin Longxian, pria itu hanya diam dan menatap gelas anggurnya. Dia terlihat seolah tidak tertarik sama sekali dengan masalah Xiao Mishuang yang kembali lebih awal karena sakit, namun diam-diam telinganya mendengarkan secara teliti.
Qin Jiangchen, pria itu sama seperti Qin Longxian, tetapi bibirnya masih tersenyum tipis, tidak sedatar Qin Longxian.
Kembali ke Xiao Mishuang, wanita itu segera kembali menuju Xiao Fu menggunakan kereta kuda yang sudah disiapkan oleh Fang Guifei. Xiao Mishuang terpaksa meninggalkan Juxie di Istana karena dia sendiri juga terburu-buru.
Saat ini tubuhnya rapat diselimuti oleh kain. Kulit Xiao Mishuang tidak boleh sembarangan terkena angina atau sinar matahari, karena hal itu dapat memperparah gatal-gatal bitnik merah di tubuhnya.
Begitu Xiao Mishuang sampai, dia segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Xiao Mishuang tidak mau bertemu siapa pun sampai sakit di kulitnya sembuh total, kabar penyakit kulitnya ini tidak boleh tersebar.
Tak lama saat dia tengah melepas seluruh pakaiannya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk.
“Xiaojie, ini Juxie!” Suara Juxie terdengar, membuat Xiao Mishuang segera berjalan ke arah pintu tanpa membuka pintu tersebut.
“Ada apa?” tanya Juxie.
“Apa sakit di kepala anda kembali? Apa ada yang bisa nubi bantu?” tanya Juxie, sepertinya wanita itu segera kembali ke Xiao Fu begitu mendengar kabar dari pelayan pribadi Fang Guifei.
Xiao Mishuang menggeleng dari balik pintu. “Tidak perlu. Juxie, dengarkan aku. Untuk dua minggu ke depan, jangan biarkan siapa pun mengunjungiku termasuk ayah. Katakan pada mereka yang mencariku bahwa Xiao Junzhu saat ini sedang tidak enak badan dan ingin sendirian tanpa diganggu. Jika terus memaksa, maka Xiao Junzhu akan bunuh diri.”
Begitu mendengar apa yang Xiao Mishuang katakan, mata Juxie terbelalak. “Xiaojie! Anda tidak boleh melakukan itu!”
“Kalau begitu jangan biarkan siapa pun menemuiku bahkan jika yang mencariku adalah Huangtaihou atau Kaisar sekali pun.”
“Baik!”
“Tetapi … bagaimana dengan Juxie?” tanya Juxie lagi, nadanya terkesan murung.
“Ya, kali ini aku minta maaf, kau juga tidak boleh menemuiku untuk dua minggu ke depan,” jawab Xiao Mishuang.
Juxie menghela napas tipis. “Baik, nubi mengerti.”
Setelah Juxie pergi, Xiao Mishuang segera kembali ke bagian dalam kamarnya dan duduk di tepi kasur. Xiao Mishuang memijat lehernya sendiri, sejujurnya saat ini kepalanya terasa sangat pening. Pandangan matanya tidak seberbayang sebelumnya saat sedang menari, tetapi kini matanya terasa panas, seperti seseorang yang ingin segera sakit demam.
Xiao Mishuang memakai hanfu putih tidurnya, lalu merebahkan dirinya di kasur.
Malam itu terasa dingin sekali untuknya, Xiao Mishuang sesekali mengerutkan keningnya ketika sedang tertidur. Tidurnya terasa tidak nyaman, keringat dingin juga terus keluar dari keningnya.
Xiao Mishuang tak lama terbangun, dia menyadari bahwa di luar tengah hujan lebat. Pandangan matanya kini kembali kabur, tidak jelas. Tangan kanan Xiao Mishuang meraba nakas yang ada di samping tempat tidurnya, mencari gelas air.
Xiao Mishuang berdecak kesal, dia lupa meminta Juxie untuk membawakan air tadi malam sebelum memerintahkan Juxie pergi.
Xiao Mishuang sama sekali tidak memiliki tenaga, bahkan jika itu hanya mengambil sikap duduk di atas ranjangnya.
Xiao Mishuang kembali memejamkan matanya, matanya pun saat ini tidak mampu terbuka lama. Tubuh Xiao Mishuang benar-benar tidak memiliki tenaga.
Tiba-tiba, dia mendengar suara jendela kamarnya yang terbuka. Segera hawa dingin yang disebabkan oleh hujan semakin menusuk masuk, membuat keningnya semakin mengerut dalam. Kemudian dia mendengar jendela kamarnya kembali ditutup dan suara langkah kaki yang santai terdengar, berjalan ke arahnya.
Xiao Mishuang mencoba memaksa untuk membuka matanya, namun saat membuka mata dia tidak bisa melihat apa pun karena pandangan matanya yang masih tidak begitu jelas.
Xiao Mishuang hanya bisa melihat seorang pria yang mengenakan jubah hitam kini berdiri di samping tempat tidurnya dan menunduk menatapnya.
“Siapa?” tanya Xiao Mishuang, dia benar-benar akan pasrah jika memang orang yang datang ini adalah pembunuh kiriman Wu Yunyen, melawan pun tidak akan menghasilkan apa-apa karena dia sama sekali tidak memiliki tenaga.
Tak lama, dia tiba-tiba merasakan ada tangan besar yang kasar membelai pelan kepalanya.
“Suhu tubuh anda sangat mengkhawatirkan,” ucap pria itu, membuat Xiao Mishuang bingung. Siapa pria ini? Sepertinya dia bukan pembunuh bayaran kiriman Wu Yunyen.
“Aku menyadari kesulitanmu saat kau masih sibuk menari di acara perjamuan tadi, penyebabnya adalah paikaian tari itu, benar?” tanya pria itu.
“Siapa kamu?” tanya Xiao Mishuang, napasnya kini memburu.
“Aku beritahu pun tidak ada gunanya,” jawab pria itu.
Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantung pakaiannya dan mengeluarkan botol minukm dari tas-nya.
“Aku membawakan penawar yang bagus untukmu, obat ini dibuat oleh Tabib Agung,” ujar pria itu, kemudian meletakkan obat dan botol minum yang terbuat dari bamboo itu di atas nakas. Pria itu kini beralih membantu Xiao Mishuang untuk mengambil posisi duduk.
Menyadari tubuh Xiao Mishuang hilang tenaga total seperti lumpuh seluruh tubuh, kening pria itu menegerut dalam. Pria itu segera mengangkat tubuh Xiao Mishuang, lalu duduk di kasur Xiao Mishuang dan menempatkan Xiao Mishuang di pelukannya. Xiao Mishuang duduk di pangkuan pria itu sambil bersender di dadanya.
Xiao Mishuang kesal, mengapa ada pria selancang ini?
“Anda akan dihukum mati jika Huangtaihou mengetahui ini,” ujar Xiao Mishuang kesal.
“Huangtaihou tidak akan bisa membunuhku, dan aku melakukan ini untuk membantumu lepas dari rasa sakit yang kau alami,” jawab pria itu, membuat Xiao Mishuang semakin kesal.
Pria itu dengan lembut memasuki air ke mulut Xiao Mishuang sedikit demi sedikit.
“Karena obatnya berbentuk pil, tentu saja susah diminum oleh dirimu yang sekarang jika kondisinya selemah ini,” ucap pria itu.
“Kalau begitu taruh saja obatnya di meja dan segera kau pergi,” jawab Xiao Mishuang kesal, dia ingin melihat sosok pria yang lancang ini dengan jelas, tetapi sayangnya pandangan matanya tidak bisa diajak bekerja sama.
“Masih ada cara lain, mengapa anda terkesan tidak sudi menerima bantuan dariku?” balas pria itu.
“Memang tidak sudi,” balas Xiao Mishuang lagi dengan ketus.
Pria itu hanya tersenyum tipis dan tidak membalas lagi, dia segera mengeluarkan satu pil dari kotak obat yang dia bawa, kemudian memasukkan obat itu ke mulutnya. Tanpa ekspresi pria itu ******* obat pil yang memiliki rasa pahit luar biasa, kemudian tiba-tiba dia menyentuh pipi Xiao Mishuang dan memaksa mulut Xiao Mishuang agar terbuka.
Xiao Mishuang terkejut saat merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya, dia merasa lidahnya kini tengah bersentuhan dengan lidah pria sialan ini.
Xiao Mishuang memukul keras dada pria yang kini tengah memeluknya, tetapi pria itu semakin erat memeluk Xiao Mishuang.
Perlahan pukulan Xiao Mishuang melemah, wajahnya kini sudah merah padam. Matanya terpejam erat, di malam dingin itu kini terasa panas bagi Xiao Mishuang.
Suhu dingin menusuk yang sebelumnya ia rasakan kini hilang seketika.
Tak lama pria itu melepas ciumannya, kemudian berkata,”Anda telah berhasil meminum obat, jangka waktu penyembuhan kulit anda akan semakin pendek. Percayalah, tidak akan ada bekas luka.”
“Bajingan, jika pengelihatanku jernih saat ini, percayalah, besok kepalamu akan dipenggal di Istana,” balas Xiao Mishuang.
Pria itu mengangguk, menganggap omongan Xiao Mishuang sebagai angin lalu yang tidak penting.
“Sudah aku katakan, Huangtaihou tidak akan bisa membunuhku,” jawab pria itu.
Mendnegar kalimat itu lagi, Xiao Mishuang segera bertanya,”Apa kau Chen Muqing?”
Pria itu tersenyum tipis dan membalas,”Anda cukup berani menyebut nama seorang Putra mahkota Kekaisaran seperti itu, tetapi sayangnya anda salah.”