Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Terkena Santet
Aku semakin tercengah ketika melihat perut nenekku membesar, seperti orang hamil.
"Yah, nenek terkena santet," kataku seketika. Semua orang melihat ke arahku, mereka sangat penasaran dengan perkataanku. Tetapi, dengan cepat ayahku menepuk pundakku agar tersadar.
"Nenekmu terkena santet luis?" tanya salah satu warga.
Aku hanya diam, jika menjawab mereka pasti akan bertanya sampai di akar-akarnya.
"Tidak, ibu mungkin salah dengar," kataku tanpa menoleh.
Keadaan nenekku sangat memprihatinkan. Matanya selalu tertutup, dan mengeluarkan suara seperti mendengkur. Seolah, nenekku sedang tertidur. Tetapi, saat aku berusaha memanggil dan membangunkannya, dia tidak kunjung bangun.
"Idar, sudah berapa lama nenek seperti ini?" tanyaku sambil memijat tangan nenekku.
"Baru kak, aku tadi di telepon sama kakek untuk datang," katanya.
Ayah dan kakek, tiba-tiba masuk ke kamar. Di wajahnya terlihat kepanikan.
"Luis, bagaimana ini, semua orang memaksa agar kita membawa nenekmu ke rumah sakit," kata ayahku.
"Jangan dulu yah, masalah seperti ini tidak bisa di tangani dokter," kataku tetap fokus memeriksa tubuh nenekku.
"Ya sudah, jika dia dalam satu jam, nenekmu belum bangun juga kita bawa ke rumah sakit." Kata kakek sebelum keluar. Air matanya jatuh ketika dia melihat istrinya. Siapa yang tidak sakit melihatnya.
"Kak, kenapa kakak memeriksa tubuh nenek?" tanya idar yang melihatku.
"Pasti ada sesuatu yang bersembunyi di tubuh nenek," kataku, tetapi aku tidak bisa menemukannya.
Kini, aku berani ke kepala nenekku, saat aku memegangnya, dia langsung terkejut. Tetapi tidak membuka mata dan berbicara. Hanya tubuhnya yang bergerak.
Aku kemudian memegangnya lagi untuk memastikan, ternyata benar. Nenekku terkejut.
"Pasti di sini," gumanku sambil membacakan bacaan di kepala nenekku.
Setelah beberapa saat, mata nenekku berkedip. Aku begitu senang melihatnya, tetapi tidak lama dia menutup matanya kembali, setelah melihatku.
"Nek, nenek bangun..." Teriakku di telingannya ketika melihat wajah nenekku sudah pucat.
"Perasaan nenek tidak enak kak, apa yang harus kita lakukan?" tanya idar yang panik.
"Ada luis, nenekmu kenapa?" ayah masuk ke dalam kamar.
"Kita bawa nenek ke rumah sakit yah, aku takut jika nenek begini terus," kata idar yang memohon.
Dukun di kampung kami datang, dia kemudian memegang kaki nenekku. Tidak lama, dia bicara yang membuat hatiku tergores.
"Pasrah saja, nenekmu tidak akan selamat," katanya kemudian pergi.
Aku menanggis sejadi-jadinya, belum cukup satu tahun ibuku meninggal, kini nenekku. Cobaan ini, begitu berat bagiku.
"Nek, nenek bangun..." teriakku.
Tetapi, nenekku tidak mengeluarkan suara apapun, memberi respon saja tidak.
"Kita bawa ke rumah sakit," kata ayahku dan diangguki oleh kakek.
****
Sesampai di rumah sakit, dokter sudah memasang banyak alat infus. Alat bantu pernapasan, dan selang kecil yang di masukkan ke dalam tubuh nenekku. Aku yang melihatnya, tidak tega. Nenekku pasti sangat sakit saat ini.
"Yah, nenek tidak akan mengalami perubahan," kataku dengan suara lemah.
"Luis, kau tidak perlu khawatir. Berserah saja pada yang maha kuasa. Dia tahu jalan yang terbaik bagi kita," Jelas ayahku.
Sejak masuk rumah sakit, nenekku tidak memberi tanda-tanda jika dirinya akan sadarkan diri. Sampai kami sudah lima hari di rumah sakit, kondisi nenekku tetap sama. Dokter bahkan sudah menyerah karena nenekku tidak ada perubahan juga.
"Luis, sebentar kita akan pulang. Ayah sudah bicara dengan dokter, mereka sudah tidak bisa merawat nenekmu." kata ayahku yang baru datang.
"Kita sebaiknya tunggu bezok," sahut kakek yang berada di belakangku.
"Sia-sia kita tetap di sini jika tidak ada perubahan juga. Dokter sudah memberi izin." jawab ayahku.
Aku hanya diam, sambil menatap wajah nenekku. Aku tidak tahu harus melakukan apa, semakin hari perut nenekku membesar seperti balon yang di tiup. Kami juga, sudah pergi ke dukun untuk pengobatan nenekku, tetapi mereka semua menyerah. Katanya sudah terlambat.
"Luis, kau harus ikhlas. Jangan sedih yang berlebihan," kata ayahku, yang melihatku hanya diam dari tadi.
Aku juga tidak mau seperti ini, tetapi aku sama sekali belum siap. Di hatiku masih berharap agar nenek segera sadar.
Ayah dan kakek meninggalkan aku sendiriran di dalam, aku memejamkan mataku sebentar karena lelah. Tetapi, suara nenekku memanggil terdengar. Saat aku membuka mata, nenekku belum juga sadar. Ridak mungkin jika dia yang memanggilku.
Angin bertiup sayup-sayup, aku bisa merasakannya walau menggunakan jaket. Hawa yang terasa sesak, dan bulu kudukku yang tidak berhenti untuk berdiri.
"Ada apa ini?" gumanku dalam hati. Sebuah obat-obatan jatuh dari meja di dekat nenekku. Beberapa infus nenekku terlepas, padahal tidak ada yang melepasnya. Hanya aku sendiri, dan aku tidak melepas infus nenekku.
Saat aku ingin memakaikannya, tanganku tidak bisa di gerakkan. Seperti ada yang menahannya. Aku berusaha menarik tanganku, tetapi tetesan darah yang jatuh ke lantai membuat diriku lemah.