BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
Kisah romansa antara Nyko Alexander Saputra dan Tiffany Anatasya Agnes, remaja SMA yang masih dalam tahap dewasa.
Saat seseorang mengubah benci menjadi cinta.
Percintaan anak SMA yang masih terbilang labil memunculkan beragam konflik yang berujung saling menyalahkan satu sama lain.
. . .
"Perlu gue buktiin sama lo, kalau semua yang ada di pikiran lo itu salah?" Menatap Tiffany dengan sorot mata tajam.
Menatap ke arah luar jendela mobil, "Gue gak mau bahas itu" Katanya dengan nada pelan.
"Terus apa? Dari tadi suasananya canggung kita udah kayak orang asing" Mengatakan dengan nada suara seolah ia tak terima dengan keadaan yang ada pada dirinya.
"Kita memang orang asing" Menatap pada Nyko, "Sejak lo ada di dalam club' malam itu"
"Tiffa--"
"Sekali lagi Nyko, gue gak pernah larang lo untuk ngelakuin aktivitas kayak biasa. Tapi omongan lo yang berhasil membuat gue percaya kalau gue yang jadi satu-satunya di hati lo dan dengan mudahnya lo hempas pikiran gue tentang itu, saat lo sama wanita itu berarti udah gak butuh gue lagi" Air matanya mulai mengalir.
"Pemikiran macam apa itu?" Mencengkram kuat setir mobil. Jujur ia hendak menghapus air mata sang gadis namun ego menguasai dirinya.
Nyko menatap tajam pada Tiffany yang juga menatapnya dengan mata yang terus memproduksi mutiara cair, "Lo ngambil keputusan sebelah pihak tanpa ada campur tangan gue. Gak adil. Saat lo gak mau dengarin penjelasan gue, sampai detik ini belum ada satu pun keputusan yang gue kasih ke lo"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
“Lo jangan kurang ajar ya” Tiffany berusaha melepaskan diri.
“Bentar aja”
Laki-laki itu masih terus mencoba untuk mencium Tiffany hingga hal yang mengejutkan pun terjadi.
“Mau lo apain cewek gue?” Nyko menarik kerah baju laki-laki yang di pengaruhi alkohol itu dan memukul wajahnya.
Tiada ampun bagi orang yang berani menyentuh Tiffany, gadisnya. Karena bagi Nyko, Tiffany adalah harta berharganya. Lebih dari apapun di dunia ini.
“Udah Nyko” Tiffany melerai Nyko yang semakin terlihat brutal.
Nyko menyudahi tinjuannya, ia beralih pada gadisnya yang terlihat gemetar ketakutan lalu menempelkan kedua telapak tangannya di wajah Tiffany. “Lo nggak apa-apa ‘kan Tif?”
Tiffany yang sebenarnya masih syok, mengangguk perlahan.
“Kita pulang sekarang” Nyko menarik tangan Tiffany.
“Tapi sahabat gue?”
“Nanti lo kasih tahu” Nyko lalu membawa Tiffany meninggalkan tempat itu. Ia sudah menduga jika hal yang tak mengenakan akan terjadi pada gadis polos itu.
Taman…
“Gue mau pulang” Kata Tiffany lesu.
“Gue bilang juga apa, lo nggak seharusnya datang ke tempat itu” Ketus Nyko yang berdiri di samping Tiffany yang terduduk lemas di bangku taman yang sering ia datangi.
“Maaf” Lirih Tiffany.
Nyko menatap pada gadis itu yang masih menundukkan kepalanya. Ia melepas jaket hitamnya lalu melempar jaket itu ke paha mulus Tiffany yang terekspos bebas.
“Tutupin” Nyko berkata dengan nada yang masih sama. Ketus.
“Makasih” Kata Tiffany, lalu ia menggunakan jaket hitam itu untuk menutupi pahanya, lalu mata cokelatnya beralih menatap Nyko yang terlihat masih marah padanya. Tiffany menghembuskan nafasnya pelan.
“Gak duduk?”
Nyko yang tadi menatap pada tanaman yang ada di hadapan mereka kini beralih menatap gadis yang masih menatapnya. Ia melangkah dan mengambil posisi duduk di samping gadis itu.
“Jangan geer dulu, gue cuma nggak suka ngeliat orang yang gue kenal kesusahan ngadepin masalah” Kata Nyko, nampaknya ia mencoba menutupi sesuatu yang timbul di hatinya.
“Ternyata di balik sifat berandal lo, ada sifat perhatian juga ya? Gue jadi suka” Tiffany meletakan dagunya di bahu kanan Nyko.
Nyko melirik pada Tiffany, dengan jarak sedekat itu, berhasil membuat detak jantung kedua remaja itu berdegup dua kali lebih cepat.
“Nyaman, ngejadiin bahu gue sebagai alas dagu lo?” Tanya Nyko yang berusaha bersikap setenang mungkin.
“Banget” Kata Tiffany, sebenarnya ia bisa saja menjauh karena perasaannya sudah melayang kemana-mana. Namun, hal itu ia tahan karena respon Nyko begitu tenang seperti biasanya.
Jika laki-laki itu bisa, kenapa ia tidak?
Nyko hanya merespon perkataan Tiffany dengan gelengan dan senyum kecil. “Udah suka sama gue?” Nyko terdengar menggoda Tiffany, “Suka lo biasanya sepaket dengan sayang” Sambungnya.
“Apaan sih? Narsis” Tiffany menjauhkan dagunya dari bahu Nyko.
“Nggak, tapi feeling gue mengatakan itu”
“Gengsi banget buat ngaku kalau lo itu narsis” Balas Tiffany, ia membuang pandangan ke arah lain.
“Sama kayak lo, gengsi buat ngaku perasaan” Nyko menyentil pipi Tiffany yang dibalut make up tipis.
“Ish, apaan sih?” Tiffany menepiskan tangan Nyko yang baru saja menyentil pipinya.
“Gue antar lo pulang, udah kemalaman nih” Kata Nyko sambil melirik jam tangannya, tak lama kemudian suara gemuruh petir terdengar bersahut-sahutan.
“Kayaknya ini udah mau hujan” Gumam Tiffany sambil menatap langit yang mendung. Tak ada satupun benda langit yang biasanya menghiasi suasana malam.
Tiffany dan Nyko sama-sama bangkit dari tempat duduknya dan mereka berjalan beriringan menuju mobil Nyko yang terparkir.
Rumah Tiffany…
Tiffany turun dari mobil Nyko dan membiarkan dirinya meneduh di bawah atap rumah bagian terasnya agar tak terkena air hujan yang turun dengan deras. Ia menatap pada jendela mobil itu yang dibiarkan terbuka.
“Makasih ya” Katanya dengan nada suara datar.
Nyko menatap datar pada gadis dengan pakaian minim itu, “Ganti baju lo sana”
“Iya gue tahu” Jenuh. Terlalu berlebihan kan pakaiannya pada malam ini? Lalu matanya menatap pada hujan yang semakin deras.
“Lo pulang? Hujannya deras nih”
Nyko mengambil ponselnya dan mencek sesuatu di situ, “Gue ada kerjaan” Katanya dengan singkat matanya kembali menatap pada Tiffany.
Cowok kayak lo ada kerjaan? Yang benar aja
“Kenapa? Nggak percaya sama gue” Tanya Nyko yang membaca raut wajah dari Tiffany yang menatapnya curiga.
Tiffany membuang pandangannya ke arah lain sedikit mengumpat kenapa lelaki itu mengetahui jalan pemikirannya, “Iya deh gue percaya”
“Udah, sana masuk”
Bersamaan dengan ucapan Nyko itu, lampu yang tadinya menyala di rumah Tiffany mendadak menjadi gelap gulita. Tiffany tertegun di tempatnya berdiri begitu juga dengan Nyko yang ada di dalam mobilnya.
Pada saat itu suasana tak terlalu gelap karena Nyko masih menyalakan mobilnya.
“Mali lampu ya?” Tanya Nyko.
CTAR.
“Gue pulang dulu”
Tiffany menatap jengkel pada Nyko yang sudah siap menancap gasnya ketika suara petir yang sangat keras tadi terdengar begitu nyaring, “Nyko! Lo kok tega banget sih ninggalin gue? Gelap nih” Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Lo liat aja sekring lampu. Tuh liat rumah lo aja kan yang mati lampu” Acuh Nyko.
“Gue nggak ngerti” Nada suara itu terdengar memelas.
“Susah ya, hidup lo kelewat manja tahu gak?” Nyko mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil sportnya itu.
. . .
Keadaan kembali terang saat Nyko selesai dengan sekring rumah Tiffany. Ia menatap pada Tiffany yang berdiri di sampingnya dengan tatapan yang terlihat menggemaskan di mata Nyko.
Nyko mengalihkan pandangannya dari wajah Tiffany yang tetap mempertahankan ekspresi wajahnya, “Udah kan? Gue pulang” Nyko berbalik badan.
Tiffany menatap hujan yang semakin deras mengguyur bumi pada saat ini, lalu tatapannya mengarah pada Nyko yang berjalan menjauhi dirinya, “Hujannya tambah deras tuh”
Nyko menghentikan langkah kakinya lalu menatap ke luar jendela rumah Tiffany, ia memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya pelan, “Gue nginap di rumah lo” Laki-laki itu berbalik badan dan menatap pada Tiffany.
Tiffany memasang tatapan protesnya, “Lho kok--”
Nyko memasang tatapan datar namun menusuk, “Apa? Mau protes” Tanyanya tanpa menaikan nada suara. Memang terdengar biasa namun kalimat itu penuh dengan berbagai macam arti di telinga Tiffany.
Nyali Tiffany mendadak ciut, mengingat bantuan laki-laki itu sepanjang hari ini, dari ia membuat Tiffany menunjukan kemampuan bermain pianonya pada public, di club, dan baru saja tadi ia membantu Tiffany mengatasi listriknya yang padam. “Ng-nggak”
Ruang tengah…
Setelah mengeringkan tubuhnya dan memasukan mobil sport miliknya ke dalam garasi mobil Tiffany yang kebetulan memiliki luas yang cukup untuk dua mobil, laki-laki yang memakai pakaian milik Ferdy itu tampak duduk di sifa sambil memperhatikan ponselnya, ia berdecak.
Tatapannya terarah pada Tiffany yang duduk di sampingnya seraya memainkan ponselnya, “Ada laptop kan?” Tanyanya singkat.
“Iya ada” Tanpa mengalihkan pandangannya.
“Pinjem, sama kabel USB”
Tiffany menatap pada Nyko, “Buat?”
“Dipakai” Datar.
Setelah selesai mengumpat di dalam hatinya, Tiffany bangkit dari duduknya, “Oke, gue ngerti. Tunggu bentar"
Nyko kembali menatap pada ponselnya, “Emang apa yang lo ngerti?” Menyindir Tiffany dengan suara pelan.
Sedangkan itu, Tiffany juga melakukan hal yang sama seperti yang Nyko lakukan—saat dirinya menanjak banyak anak tangga—menyindir laki-laki itu, “Iyain aja, ribet banget tuh cowok”
_______
Instagram : fionakesl259
kdrt ma nyko
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support ya thorr ❤️
thanks
mampir komen di MDL (Mata Dimensi Lain) juga ea😉 mksh....
aku udah Rate 5 dan like kak. mampir juga di novelku. Judulnya "Hannah",di tunggu yah kak😁😁😁
suksesk kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏