Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ben menyeret Rena masuk kedalam rumah. Ia masih berhutang penjelasan padanya, siapa wanita tadi yang bertengkar dengannya hingga untuk apa mereka berseteru seperti itu.
Dengan murka Ben mendorong tubuh Rena kasar sampai tersungkur tepat di hadapan Liliana yang baru saja membukakan pintu.
Wanita itu berurai airmata, bukan karena rasa sakit akibat terbentur lantai tapi karena Ben selalu saja berlaku kasar.
"aku hanya ingin bertemu Echa dan tak sengaja bertemu dengan wanita itu."
"lalu kenapa aku mendengar kalian menyebutkan nama Arfian? apa kau bertengkar karena pria busuk itu?" Teriak Ben.
Liliana memutar matanya malas. Sebuah drama picisan yang sungguh membosankan. Ia menyentuh bahu Rena lalu mengulurkan tangannya.
"ayo bangun.."
Rena mendongak. Ia tak pernah ingin mendapatkan simpati Liliana. Dengan keras ia menepis tangannya.
"jangan sok baik." Ketusnya. "aaahhhh..." Pekik Rena kala rambutnya di jambak kuat oleh Ben.
"cihh..kau bahkan masih saja berkata tajam terhadap Liliana ku. berani sekali dirimu." Ben menarik rambut Rena semakin kuat.
"aahh...Ben, lepaskan." Pekik Rena kesakitan.
Ben tak peduli, pria ini seperti seorang psikopat berdarah dingin. Kadang baik dan lembut terhadap Rena tapi terkadang dia seperti orang asing yang akan menguliti wanita berkulit putih itu.
Liliana merasa tak tega. Sebagai sesama wanita ia tak bisa diam saja. Dengan cepat menghalangi jalan Ben yang sedang menyeret Rena.
"berhenti Ben."
"ana.., aku akan memberikan pelajaran padanya."
"Ben, kau tak ingin aku membatalkan pernikahan kita bukan. Minggu depan sebaiknya kita batalkan saja." Ancam Liliana.
Ben terdiam. Perlahan cengkraman tangannya pada rambut Rena terlepas. Pandangan matanya berubah sendu, ia merasa bersalah begitu melihat keadaan Rena yang kacau. Dengan cepat ia memeluknya dan menciumi seluruh wajahnya.
"maafkan aku, honey..kau tak apa-apa bukan?" Tanyanya cemas.
Rena menggelengkan kepalanya. Dia menatap Liliana yang terdiam melihat kearahnya. Liliana mendengus lalu pergi begitu saja.
"cih.. dasar. aku bisa gila jika terus seperti ini. bagaimana caranya agar Ben merasa di campakkan. Rena, wanita itu sungguh bodoh. Masih saja terjerat dalam cinta si*lan pria bodoh itu." Gerutu Liliana.
Selagi keduanya berpelukan, Liliana memilih untuk pergi saja. Dia terlalu muak menyaksikan semuanya. Ben yang memiliki kepribadian ganda dan Rena wanita bodoh yang munafik. Kedua sejoli yang sangat serasi.
Dan di kediaman Hanum. Wanita itu nampak sangat kacau, dia merasa sial akhir-akhir ini. Bertemu kembali dengan Arfian dan Rena. Dua orang yang tak pernah ingin ia temui lagi dalam hidupnya.
Harus kembali terlibat dengan masalah mereka. Hanum sangat benci saat Arfian memintanya untuk membantunya. Mantan kekasihnya itu seolah tak memiliki rasa kasihan lagi terhadapnya.
Dulu, dia dengan begitu mudah memutuskannya tanpa mau mendengar penjelasan darinya. Hanum benci karena Arfian lebih percaya orang lain ketimbang dirinya.
"kenapa Tuhan tak adil. aku menikah dengan pria yang tak bertanggung jawab dan sekarang harus kembali bertemu dengan Arfian. sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan, aku sungguh lelah."
Keluhnya sambil membanting ponselnya keatas kursi. Ia benar-benar kesal, apalagi tadi Rena sempat melabraknya.
Seandainya saja ia tak memiliki seorang putra, maka permintaan Arfian tak akan dia setujui. Demi putranya, ia mengambil keputusan itu. Bekerja sama dengan Arfian.
"Leon, mamah berjanji akan menjemputmu nanti." Hanum menatap foto putranya yang baru berusia 2 tahun.
Seorang anak kecil yang gendut dan lucu. Wajahnya persis dirinya meskipun ia anak lelaki.
Saat ini, putra kecilnya itu tengah ia titipkan di sebuah panti asuhan milik temannya. Karena ia harus bekerja mencari nafkah sehingga tak akan ada yang mengasuh anaknya jika ia tak ada di rumah.
Mantan suami dan keluarga suaminya sama sekali tak ada yang menginginkan anak itu, sementara orangtuanya sendiri sudah tidak ada.
Hanum benar-benar sebatang kara. Ia hanya memiliki Leon, putra kecilnya itu. Jadi, apapun akan dia lakukan demi dirinya.
...*******************...
Rega menunduk dalam tak berani menatap wajah Rada. Ia tahu dirinya bersalah dengan memilih untuk tetap bersama dengan Sena. Dalam keadaan Arfian yang kacau seperti ini dirinya malah mengatakan akan tetap mempertahankan cintanya. Rada tentu saja marah.
"kau..tak memikirkan perasaan mamah. kau tahukan Arfian sedang bersedih karena keadaan echa. tapi kau malah.."
Brughhh.......
Rega berlutut di hadapan Rada. Sena sudah menangis di sampingnya, wanita itu sungguh tak bermaksud membuat semuanya menjadi rumit. Ia hanya memperjuangkan cintanya, seperti yang dikatakan Arfian dulu padanya.
"mamah..aku melakukannya karena kak Arfian yang meminta kami tetap bertahan."
"jangan membuat alasan."
"bibi, Rega benar. pak Arfian sama sekali tak mencintaiku. pak Arfian memintaku untuk jujur dengan perasaanku sendiri. aku mencintai Rega, itu kenyataannya." Sena ikut berlutut di samping Rega.
Keduanya berlutut dan memohon pada Rada. Cinta mereka tak salah, hanya keadaan lah yang tak mendukungnya.
Rada mengurut pelipisnya, ia sungguh tak bisa menahan emosi. Setelah Rena berbuat buruk sekarang putranya malah ikut melakukan hal itu. Kenapa kedua anaknya tak ada satupun yang mengerti dirinya.
"berdiri.." Serunya pada Rega.
Rega berdiri dengan perlahan. Hingga sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kirinya.
Plak...
Sena memejamkan matanya erat, tak bisa melihat semuanya. Ia menangis, karena dirinya Rega dimarahi Rada bahkan mendapat tamparan yang cukup keras.
Rega terdiam, ia merasa sangat pantas mendapatkannya.
Ceklek....
Pintu terbuka lebar. Arfian berdiri dengan Echa di gendongannya, gadis kecil itu terlihat bingung menatap tiga orang di dalam kamar tersebut.
"mah, aku ingin bicara." Ujar Arfian serius. Lalu ia memberi isyarat pada Sena agar bangun dan menghampirinya.
"bawa Echa kekamarnya. dan ingat jangan katakan hal apapun jika dia tak bertanya."
"iya pak."
Sena mengambil Echa dari gendongan Arfian. Echa memang sudah tak terlalu takut pada semuanya, hanya saja gadis kecil ini masih harus banyak beradaptasi. Dia hanya ingin berada di dekat Arfian, tidak dengan yang lain. Bahkan saat berada di pelukan Sena saja tangan mungilnya masih menggenggam erat jemari Arfian.
Sorot matanya seolah mengatakan jika dia takut dan tak ingin di tinggalkan.
"jangan takut sayang. Daddy nanti menyusul. ini kak Sena, dia baik dan akan menemani Echa." Jelas Arfian lembut.
Echa menatap Sena, lalu mengangguk pelan. Perlahan genggaman tangannya terlepas. Sena pun segera pergi sebelum Echa kembali merengek pada Arfian.
Rada menarik napas dalam, melirik Rega yang masih saja diam tak bergeming.
"Arfian.. maafkan Rega. dia...."
"mah, Rega tak bersalah begitu juga Sena. mereka saling mencintai." Sela Arfian.
Rada menatap Arfian. "tapi..."
"mah, jangan memikirkan soal perasaan ku. dari awal perjodohan ini mamah yang rencanakan. aku tak menolak juga tak menerimanya. mamah, aku sudah memiliki seseorang untuk saat ini. jadi mereka tak perlu mengorbankan perasaan demi aku."
Rega dan Rada saling pandang. Mereka tak pernah tahu jika Arfian sudah mendapatkan pengganti Rena.
"siapa wanita itu?" Tanya Rada.
"jangan bilang Rihanna.." Sela Rega.
Arfian hanya tersenyum lalu meninggalkan keduanya tanpa berkata lagi. Menyisakan rasa penasaran terhadap keduanya.
...*********************...