NovelToon NovelToon
Danke, Häschen !!!

Danke, Häschen !!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Whats Wrong With Me?

Semenjak Erie menjadi sekretaris Elden, hampir setiap hari Erie menyibukkan diri dengan urusan kantor. Mulai dari menerima tamu, membuat jadwal pertemuan, mengatur rapat hingga menemani Elden dalam pertemuan-pertemuan penting. Semua itu ia lakukan dengan baik karena mendapat bantuan dari Mario.

Erie adalah perempuan yang tulus. Ketulusannya itulah yang membuat banyak orang rela membantunya meskipun mereka tak pernah tahu status Erie yang sesungguhnya. Selain tulus, Erie juga tipe orang yang pekerja keras dan cepat belajar. Kelebihan-kelibahan itulah yang membuat Erie bisa beradaptasi dengan baik di perusahaan itu.

Sama halnya dengan perusahaan lain, di kantor Elden juga selalu ada karyawan yang iri akan posisi karyawan lainnya. Tina misalnya. Wanita itu sudah bekerja selama lima tahun di perusahaan Elden. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, ia tidak langsung diangkat sebagai sekretaris walaupun ia adalah mahasiswi lulusan jurusan sekretaris terbaik di salah satu universitas ternama di negara tetangga. Saat itu, ia berusia 22 tahun dan harus merintis karirnya dari bawah. Dulu ia adalah pegawai pemasaran di perusahaan itu. Setelah dua tahun bekerja di bidang itu, ia diangkat oleh Mario karena pada saat itu, secara kebetulan, sekretaris lama Elden dipecat dengan tiba-tiba. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, yang pasti Tina sangat senang atas kenaikan pangkatnya. Dengan bekerja sebagai sekretaris, Tina tidak perlu lagi sering-sering keluar kantor untuk memasarkan produk. Ia hanya keluar jika Elden atau Mario yang memerintahkannya.

Tina memang menyukai Elden. Oh ayolah, siapa yang tidak akan menyukai atasannya itu? Jika ada di antara pegawai wanita yang mengatakan mereka tidak menyukai Elden, bisa dipastikan mereka sedang berbohong atau mereka mempunyai masalah terhadap penglihatan mereka. Bahkan salah satu alasan mengapa banyak wanita ingin mendaftar sebagai karyawan Elden, selain karena gaji dan tunjangannya yang besar, mereka juga ingin bekerja bersama pria tampan yang mapan seperti Elden. Hanya saja, para wanita di kantor itu harus gigit jari sebab saingan mereka tak hanya wanita-wanita cantik dari perusahaan pesaing, tapi juga para bangsawan dan selebritis ataupun model negara itu. Tak hanya itu, harapan mereka juga pupus saat mengetahui Elden telah bertunangan dengan Jessie, supermodel internasional yang kecantikannya membuat mereka sangat iri.

Tina duduk termenung. Sejak ada Erie, pekerjaannya jadi semakin sedikit. Sebenarnya itu tidak masalah karena gaji yang dibayarkan oleh perusahaan juga masih sama. Namun, perlakuan itu menyinggung profesionalitasnya sebagai sekretaris. Ia sempat memeriksa latar belakang Erie yang terlihat aneh. Dalam laporan karyawan yang ia dapatkan, Tina tidak bisa menemukan riwayat pendidikan Erie. Yang ada hanya riwayat pekerjaan yang menuliskan bahwa Erie pernah bekerja menjadi asisten CEO dari Eduard Company selama dua tahun. Itu tidak mungkin sebab dua tahun lalu Erie masih berusia 17 tahun. Apakah perusahaan seperti Eduard Company mempekerjakan orang di bawah umur?

Lamunan Tina membuyar ketika ia melihat seorang pria berjalan ke arahnya. Ia langsung berdiri untuk menyapa pria itu. "Selamat siang, Pak Dean. Apakah ada yang bisa saya bantu?" katanya.

"Selamat siang. Saya ingin mengantarkan laporan pemasaran minggu lalu kepada Tuan Elden."

"Tuan sedang tidak ada di ruangan Pak. Anda bisa menitipkannya kepada saya agar nanti saya sampaikan kepada beliau."

"Tidak perlu. Saya akan menyerahkannya kepada Erie. Selamat siang," ucap Dean lalu melangkah meninggalkan meja Tina.

"Sialan!" umpat Tina pelan. Ini memang tidak terjadi sekali dua kali. Sejak Erie bekerja di lantai yang sama dengannya, Dean selalu mengantarkan dokumen-dokumen penting untuk Elden melalui Erie, bukan melaluinya lagi. Padahal Tina dulu adalah anak buahnya karena Dean merupakan direktur pemasaran di perusahaan itu. Tergolong muda memang. Di usia 32 tahun, laki-laki itu sudah menjabat sebagai direktur selama tujuh tahun. Namun, jika Elden dan Mario yang adalah pemimpin tertinggi mereka masih muda, tak mengherankan jika para bawahan mereka juga dari kaum muda.

"Selamat siang Erie, apakah kau ingin makan siang bersama kami?" tanya Dean ketika ia membuka pintu ruangan Erie. Ceplas ceplos dan tanpa basa basi, Dean memang tipe orang yang langsung mengucapkan apa tujuannya kepada seseorang meskipun ia juga tipe orang yang suka bercanda.

Erie melirik orang yang berujar di depannya. "Pak Dean, bisakah sebelum masuk Anda mengetuk pintu terlebih dahulu?"

"Ah! Kau tidak seru! Selalu serius." Dean meletakkan laporannya ke atas meja Erie lalu menarik kursi yang ada di depan meja dan mendudukinya. "Erie, sejak kau bekerja di kantor ini sekalipun kau tidak pernah makan bersama kami. Ayolah, teman-teman juga sudah menunggu di restoran depan," ajak Dean. Teman-teman yang dimaksud oleh Dean adalah beberapa pegawai dari divisi pemasaran dan divisi personalia yang sering membantu Erie.

"Kau duluan saja, Dean. Pekerjaanku belum selesai," kata Erie yang sibuk mengetik di komputer. Ia mengubah cara bicaranya karena ia tahu Dean tidak mau dipanggil dengan sebutan pak. Menurut Dean panggilan itu akan membuatnya terlihat tua dan tidak bersahabat. Laki-laki itu juga tidak mau jika Erie berbicara dengan cara formal dengannya. Namun itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu saja.

"Ayolah Erie! Kau membuat teman-teman kecewa," ucap Dean dengan nada memelas.

Erie menghembuskan napas. "Tapi pekerjaanku belum selesai."

"Pekerjaan itu bisa kau lanjutkan nanti. Dean menarik tangan Erie. Ayo!"

Dengan tarikan paksa Dean, membuat Erie mau tak mau mengikuti keinginan pria itu. Mereka pun berjalan menuju restoran. Dan benar saja, beberapa karyawan lain telah menunggu di sana.

"Kalian tidak memesan makanan?" tanya Erie memecahkan keheningan di meja yang mereka pesan.

"Tunggu sebentar, masih ada satu orang lagi yang belum datang," jawab Karin dari bagian personalia. Ia membolak-balikan buku menu untuk mencari makanan yang menarik.

"Siapa?" tanya Erie dengan wajah penasaran.

"Akhirnya yang ditunggu datang." Seren, pegawai divisi pemasaran menunjuk seseorang yang baru saja masuk ke dalam restoran.

"Maaf saya terlambat," ucap orang tersebut mendekati orang-orang yang telah menunggunya. "Tidak apa-apa Pak Mario. Kami baru saja sampai di sini," kata Geary sambil mempersilakan Mario untuk bergabung bersama mereka. Geary juga merupakan karyawan satu divisi dengan Karin.

Mario melangkahkan kakinya, kebetulan ia duduk di samping Erie. "Sebagai permintaan maaf saya, kalian boleh memesan apa saja, hari ini biar saya yang membayarnya."

"Mata Karin berbinar-binar. Benarkah Pak?" Mario menjawab dengan anggukan kepala. Jika Elden terkesan sebagai atasan yang kejam dan tak terjangkau, Mario memberikan citra yang berbeda. Ia terlihat sebagai bos lebih santai dan ramah. Saat ada waktu luang, ia akan menghabiskannya bersama dengan karyawannya dari berbagai divisi. Selain untuk mendekati diri, dengan cara itulah Mario bisa mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang berkhianat karena biasanya pegawainya akan berbicara banyak di luar jam kerja seperti itu.

Dean tersenyum senang. "Bapak menyelamatkan saya lagi. Tadinya saya bertanya-tanya bagaimana caranya untuk membayar makanan ini, untunglah ada Pak Mario. Bapak menyelamatkan dompet saya," katanya yang diikuti dengan tawa dari kelima orang lain yang berada di sana.

Mereka kemudian memesan beberapa menu makanan dan minuman lalu memakannya. "Apakah kita hanya makan sambil diam?" ujar Dean memecah keheningan mereka setelah mereka selesai menyantap makan siang. Ia melirik ke arah Mario. "Pak, bolehkah kami bergosip?"

"Apakah kau pernah tak bergosip, Dean?" ucap Mario membalas perkataan Dean.

"Itu artinya boleh. Ayo siapa yang punya gosip bisa ceritakan sekarang." Dean memulai lagi kelakarnya. Matanya menyelidiki satu per satu orang yang ada di sana lalu kemudian tersenyum. "Sepertinya Geary punya cerita menarik."

"Aku? Kenapa selalu aku yang kau jadikan alasan?" kata Geary.

Dean menatap Geary. "Tapi kau ingin mengatakan sesuatukan?"

Geary menghela napas. "Baiklah. Dimulai dari mana ya? Hmmm. Oh ya! Apakah kalian tahu Tuan Elden belakangan ini sedikit berbeda?" Geary memulai gosipnya.

"Iya benar. Tuan jadi jarang marah sekarang." Seren membenarkan perkataan Geary. Kira-kira apa yang membuat beliau berubah?

"Mungkin Tuan Elden sedang jatuh cinta!" timpal Karin yang sontak membuat Erie tersedak. "Uhghhuuk!"

Melihat hal itu membuat Mario langsung memberikan air minum kepada Erie. "Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya Mario kepada Erie. Semua orang termasuk Erie terkejut dengan perkataan Mario dan menatap pria itu dengan tatapan penasaran.

"Euumm maksud saya kau tak apa-apa Erie?" kata Mario menyadari kesalahannya. Erie mengambil gelas yang diberikan Mario dan meminumnya sambil memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa nyeri akibat tersedak tadi. Erie meletakkan gelas itu ke atas meja. "Tidak apa-apa, Pak," ucapnya untuk menghilangkan kekhawatiran dari wajah Mario.

"Syukurlah." Mario bernapas lega. Ia membuka ponselnya dan terkejut dengan pesan yang terdapat di dalam ponselnya itu. "Maaf saya ada urusan mendadak." Ia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. "Dean, pakai ini untuk membayar tagihannya. Setelah itu letakkan di ruangan saya. Saya permisi dulu," kata Mario sambil berjalan keluar dari restoran.

Semua orang yang ada di meja itu masih dalam keadaan terkejut. "Kau punya hubungan khusus dengan Pak Mario, Erie?" tanya Dean dengan sorotan mata tajam.

"Tidak," jawab Erie singkat.

"Lalu kenapa beliau terlihat sangat khawatir kepadamu?" kata Karin dengan nada menyelidik.

"Kalian berlebihan! Pak Mario hanya khawatir karena aku tersedak tadi. Dia mengkhawatirkan aku sebagai pegawainya tidak lebih."

Dean berdiri dari kursinya. "Ah, sudahlah. Ayo kita kembali ke kantor! Aku belum siap dicepat sebagai manajer."

"Siap pak!" jawab mereka kompak. Dean menatap sangar wajah orang-orang itu. Mereka sengaja membuat dirinya marah.

XXXXX

Mario berjalan dengan terburu-buru menuju ke kantor. Ia langsung masuk ke dalam ruangan Elden. "Tuan, ada pergerakan dari target," katanya kepada Elden setelah mendapatkan izin bersuara dari majikannya itu.

Elden memandang lawan bicaranya. "Apakah dari anggota Monster?"

"Iya, Tuan."

"Aku tak menyangka dia benar-benar terlibat dengan gangster itu, Mario. Apa yang harus aku lakukan?" tanya dengan nada bicara yang sedikit bingung.

Mario terdiam. Ia juga tak percaya dengan hasil penyelidikannya. Rasanya ingin sekali ia membuang bukti itu agar tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun, ia tidak melakukannya karena seberapa pahitpun sebuah kenyataan tetapnya kenyataan.

"Bagaimana dengan keamanan adikku?" kata Elden yang meskipun dalam keadaan kacau selalu memperhatikan keadaan adik semata wayangnya itu.

"Saya telah mengerahkan beberapa pengawal untuk mengawasi Tuan Daniel selama 24 jam, Tuan."

"Bagus. Tetap lakukan itu walaupun Daniel tidak suka."

"Baik, Tuan."

"Mario, mungkin saja kali ini akan lebih berbahaya. Jika suatu saat kau tidak pistolku yang ada di dalam lemari pakaianku, kau harus segera menghubungi markas besar dan melaksanakan rencana kita."

Mario membelalakan mata. "Apa maksud, Tuan? Apakah Anda akan terjun langsung?"

"Sepertinya aku memang harus turun tangan."

"Tuan, Anda tidak perlu turun tangan. Saya akan melindungi Anda apapun yang terjadi."

Elden menatap mata Mario lalu menghembuskan napasnya. Ia menggeleng. "Tidak. Kau tidak perlu melindungiku. Mulai hari ini, prioritaskan perlindunganmu pada Erie."

Mario ingin membantah namun tatapan tajam Elden menghalanginya. "Baik, Tuan, ujarnya pasrah."

"Sekarang, kau pindahkan semua pekerjaan Erie ke rumah. Aku akan merumahkannya untuk beberapa waktu."

"Baik, Tuan." Mario keluar usai mendengar perintah dari Elden. Ia mengerjakan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Elden tanpa mengeluh meski otaknya bertanya-tanya, meski hatinya merasa marah karena ucapan Elden yang ingin menangani masalah itu sendiri, terkesan tidak percaya dengan kekuatan organisasi yang Elden bangun.

XXXXX

Makan siang bersama telah selesai. Para karyawan itu kembali ke ruangan mereka masing-masing. Sesampainya di lantai tempatnya bekerja, Erie berpapasan dengan Tina yang memberi tahu bahwa Elden memanggil Erie ke ruangannya. Dengan segera Erie berjalan menuju ruangan Elden.

"Tuan memanggil saya?" kata Erie setelah berada di ruangan kerja Elden.

"Apa jadwalku hari ini?"

Erie membuka catatannya. "Jam 2 siang anda ada pertemuan dengan direktur PT S dan selanjutnya Anda akan memantau pabrik kayu, Tuan," ucap Erie membacakan jadwal yang tertulis di catatan miliknya.

"Batalkan semua."

"Apa?" kata Erie tak percaya.

Elden memakai jasnya. "Aku bilang batalkan semua jadwalnya," tegasnya.

"Baik, Tuan."

Elden berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Erie. "Ayo, kau harus menemaniku ke suatu tempat." Erie mengikuti langkah Elden menuju ke mobil pribadi milik pria itu. Elden memerintahkan supirnya untuk membawa mereka ke salah satu butik yang sangat terkenal di negara itu.

Elden dan Erie masuk ke dalam butik tersebut. Semua pelayan dalam butik itu memberikan hormat kepada mereka. Bahkan pemilik butik itu pun ikut menyambut Elden dan Erie. "Mengapa kita kemari, Tuan?" tanya Erie kepada Elden.

Elden memandang Erie dengan pandangan tak suka atas ucapan yang dilontarkan perempuan itu. "Ini bukan daerah kantor. Kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Sekarang pilihlah pakaian yang kau sukai."

"Mari, Nyonya," ajak pemilik butik kepada Erie. Erie mengikuti arahan pemilik butik itu. Beberapa pakaian ia kenakan dan membuat perempuan itu terlihat cantik. Bahkan pakaian-pakaian itu sempat membuat Elden terpana.

Setelah membeli beberapa pakaian, Elden dan Erie meninggalkan butik itu. "Kenapa kau membeli pakaian-pakaian itu, Elden?" tanya Erie saat mereka berada di dalam mobil Elden.

"Aku ingin memberikannya kepada seseorang."

Erie menoleh ke arah Elden. "Seseorang?"

"Ya. Aku akan memberikannya kejutan," kata pria itu sambil tersenyum.

DEG!

Seketika Erie merasakan perih dalam hatinya. Jadi pakaian itu bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain. Siapa? Apakah itu Jessie? Mata Erie mulai memanas. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke jendela. Ia meratapi kenyataan yang sekarang menimpanya. Kenyataan bahwa suaminya mencintai wanita lain. Sungguh amat perih. Apakah mencintai pria itu sesakit ini?

Tunggu dulu! Cinta? Sejak kapan? Erie menggelengkan kepalanya. Ini tidak mungkin. Ia kemudian meremas bajunya untuk menguatkan hatinya.

XXXXX

Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote...

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu

1
sakura
...
Virgo Girl
Baru mampir Kak. Awal yg cukup menarik ❤❤
refi Tanjungpinang
amazing proud off u
Youleannaa
bagus
Rieenee
ini tahun 2020 skrg aku datang lagi di tahun 2024 tuk baca kembali novel ini
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
Aerik_chan
Kak aku tunggu karya kakak di platform ini
Almeera
elden juga suka nyelup sm jessi padahal sudh ada istri nya si eri
katanya bucin
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
Ibu Endang
keren thor dr awal baca sampai akhir cerita sangat menarik, banyak rasa greget dihati dlm setiap babnya. menarik dan untuk mu thor semangat dalam menulis novel💪💪💪
Ibu Endang
membaca sampai bab ini sungguh menguras air mata thor,
Aba Bidol
💐
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Liliana
Mereka bersaudara
Idasesoega
jika suatu saat kau tdk... pistolku dst

apa BAWA ya...
Allessha Nayyaka
Mantap karyamu othor
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
Allessha Nayyaka
satu kata untuk karyamu thoor

kereeen
Fawas Aficieanna
penggambaran yg sangat menyentuh untuk cinta elden yg luar biasa ke erie😍
Fawas Aficieanna
bagus banget ceritanya menyentuh hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!