TAMAT!!!
Duaaarrrrr!
Suara petir tiba-tiba bergelegar seolah menggetarkan seluruh jagat raya, seketika itu juga Cara berteriak dan merasakan tubuhnya semakin bergetar.
Cara sangat tidak menyukai hujan, terlebih angin dan petir, entah mengapa setiap kali dirinya mendengar suara petir tubuhnya reflek langsung bergetar, jantung nya berdebar begitu kencang dengan napas yang memburu.
"Mamiiii!" Teriak Cara dan langsung menutup kedua telinganya sambil menekuk kaki nya ke kursi.
Mobil segera berhenti menepi dan reflek tubuh Cara langsung di tarik dan di dekap oleh cowok tersebut. Hangat dan nyaman, itulah yang Cara rasakan.
"Sssttthhh i'm here," bisik nya di telinga Cara seketika membuat air mata Cara menetes.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saka?
'Lo beneran mau nembak itu cowok?'
"Iya, gue sama dia udah lama kenal. Gimana menurut lo?'
"Ya terserah elo sih,"
"Lo sebagai sahabat harus dukung oke!"
"Hemm!"
"Kapan sih lo balik nya?"
"Entahlah mungkin lulus SMA,"
"Ah elah lama banget,"
"Toh percuma gue balik kalau lo nya udah punya pacar, gue bakal jadi kacang,"
"Hahaha lo cari cewek juga dong,"
"Enggak ah, gue mau nunggu lo putus aja sama dia,"
"Njirrr Saka! asli lo ngeselin banget. Gue baru rencana mau nembak, malah udah di doain putus. Sialan lo!"
"Hahaha becanda Ra."
Cara langsung membuka matanya kala ia kembali mendengar suara percakapan itu, entah itu mimpi atau apa ia sendiri tidak tau.
"Saka ... " gumam Cara pelan lalu ia menjambak rambut nya sendiri kala merasakan kepalanya kembali berdenyut.
"Siapa Saka?" ucap Cara memejamkan matanya berusaha mengingat namun ia tidak bisa mengingat apapun.
"Baru jam dua," ucap Cara melirik jam di samping tempat tidur nya.
Cara berusaha untuk tidur kembali, namun ia tidak bisa. Suara percakapan itu kembali terngiang di telinga nya setiap kali ia memejamkan mata.
Ia pun memutuskan untuk berjalan menuju kamar sang Kakak.
Tok tok tok ....
"Kakak," panggil Cara pelan.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Aiden, pintu nya pun juga di kunci. Akhirnya Cara menuruni tangga dan menuju kamar orang tua nya.
Tok tok tok. . .
"Mami ... Papi ... " panggil Cara namun sama, ia tidak mendapat jawaban setelah beberapa kali mengetuk pintu.
Karena ia begitu malas menaiki tangga lagi, akhirnya ia memutuskan untuk menonton tv dan tidur di sofa.
Pagi hari, Chaca terbangun dan hendak membuat sarapan, namun saat ia melewati ruang keluarga ia mendengar suara tv.
Mendekati tv dan ia menemukan anak bungsu nya tengah tertidur pulas di bawah meja yakni di atas karpet bulu.
"Astaga, ini kamu nonton tv atau tv yang nonton kamu sih Nak," ucap Chaca menggelengkan kepalanya lalu ia mematikan tv.
"Sayang, bangun Nak?" kata Chaca membangunkan Cara.
"Mamii," gumam Cara masih memejamkan matanya.
"Bangun, sekolah!" kata Chaca.
"Hemm," gumam Cara lalu ia segera beranjak bangun dan menuju kamar nya.
'Tumben banget gampang di bangunin nya,' gumam Chaca dalam hati.
Saat sarapan, Cara menatap tajam ke arah kakak dan orang tua nya. Sedangkan yang di tatap hanya mengerutkan dahinya karena bingung.
"Kenapa sih Queen?" tanya Aiden pada akhirnya.
"Kakak jahat! Mami sama Papi juga!" ucap Cara cemberut.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Semalem kan Cara ngetuk pintu kakak sama Papi tapi gak di bukain, akhirnya Cara tidur di lantai kan!" kata Cara kesal, karena saat ia bangun tidur ia merasakan tubuhnya sangat sakit.
"Memangnya kenapa ngetuk pintu kamar Kakak?" tanya Aiden.
"Cara tuh abis mimpi, gak bisa tidur lagi. Makanya mau ikut tidur sama Kakak, eh gak di bukain. Cara ke bawah juga Papi sama Mami gak mau bukain pintu. Cara merasa seperti anak pungut!" ucap Cara cemberut kesal.
"Hey, gak boleh bicara seperti itu," ujar Chaca lembut.
"Kamu mimpi apa Sayang?" tanya Dimas.
"Ah iya, Pi siapa sih Saka?" tanya Cara sukses membuat Dimas dan Aiden tersedak makanan nya.
Uhukk uhuukk hukkk. . .
Chaca segera memberi minum untuk Dimas, begitu pun Cara langsung memberikan minum untuk Aiden, setelah kedua nya reda barulah Cara menatap Aiden dan Dimas dengan tatapan semakin bingung.
"Kenapa Papi sama Kakak denger nama Saka langsung tersedak?" tanya Cara.
"Ka—kamu tau darimana nama Saka?" tanya Chaca pelan.
"Entah, Cara merasa seperti mendengar suara orang ngobrol cewek sama cowok, dan yang cewek manggil nama Saka. Habis itu Cara bangun dan kepala Cara sakit lagi," ucap Cara pelan namun sukses membuat semuanya terdiam seribu bahasa, mereka bertiga hanya saling menatap satu sama lain dan menghela napas berat.