Jangan lupa, tinggalkan jejakmu 🥰
Rachelle Young, seorang Agent antisosial & kasar. Pamannya mendadak memberinya tugas, menjadi seorang pelatih bela diri di sebuah desa kecil. Menggantikan sang paman, Rachelle mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Berada di antah berantah, tak membuat Rachelle meninggalkan pekerjaan aslinya. Di desa tersebut, Rachelle menemukan banyak kasus aneh dan mulai menyelesaikannya. Dibantu dengan seorang polisi bernama Luke, Rachelle memulai misi kecilnya.
Satu pesanku saat kau berada di desa itu. Jangan percaya pada siapapun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atseira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Pria dalam Ring Pertarungan Bawah Tanah
“Sejak di lahirkan, siapa sangka kita akan menjadi anak seorang pembunuh? Dan rupanya, aku mendapatkan takdir itu. Sangat disayangkan, ayahku tak pernah berubah. Hingga dia harus mewariskannya padaku. Meski aku memiliki seorang ibu yang baik hatinya, hal itu tidak dapat merubah apapun. Saat ayah tewas, kupikir semuanya selesai. Akan tetapi, mereka semua... orang-orang yang sudah ku anggap sebagai keluarga, mendorongku untuk menjadi seorang Jack Evans” kisah Ken panjang. “Dan kau senang melakoninya. Setelah sekali membunuh, kau tetap tidak akan berhenti. Kau akan terus membunuh dan membunuh. Candu” tanggap Victor. “Karena itu, aku ingin berhenti. Aku ingin meninggalkan semuanya. Sebab, semua itu hanyalah beban bagiku. Ketika orang lain tahu, aku adalah putera pembunuh... mereka menjauh. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku. Apalagi keluargaku nanti” ujar Ken berharap.
Victor tersenyum geli mendengar perkataan Ken. Sudah lama dia menjadi seorang kriminal, namun mendengar curahan hati Ken membuatnya terasa aneh. Victor hanya berpikir, tak ada penjahat yang benar-benar bertaubat. Apalagi sebuah ungkapan, penjahat asalnya orang baik yang tersakiti.
“Seorang kriminal, semuanya sama. Mau berlatar belakang baik ataupun buruk, mereka tetaplah seorang kriminal. Tidak ada jalan kembali, jika kau hanya ingin menjadi jahat untuk sekedar membalas dendam. Jalan satu-satunya yang bisa menghentikanmu hanyalah... kematian?” nasihat Victor. “Kalau begitu, aku tidak akan bisa memulai semuanya kembali?” tanya Ken. Victor tampak tertawa keras. “Secara tidak langsung, kau berharap untuk tidak dibunuh. Kau ingin hidup, bukan? Apa kau terlalu takut akan kematian?” tebaknya pas.
“Meski aku melakukan kejahatan, hanya untuk sekedar mencari nafkah?”
“Kau masih tidak lebih baik dari seorang penipu. Aku mengenal salah satu dari mereka. Alasannya pun sama, namun ada satu hal yang membedakan mereka denganmu”
“Apa? Mereka terlalu cerdik?”
“Salah satunya, tapi ada satu hal yang sangat berbeda. Mereka tidak pernah membunuh seseorang dengan tindakan mereka. Secara eksplisit, mereka tak pernah membunuh”
“Jadi, haruskah aku alih profesi saja? Menjadi seorang penipu?”
“Hahahaha! Kau bilang, ingin merubah hidupmu ke arah yang lebih baik? Menuruti hati nurani? Ku bilang juga apa? Penjahat, tetaplah penjahat”
“Kalau begitu, kau harus membunuhku” pinta Ken serius. Victor menatap ke arah Ken dengan ekspresi, yang tak kalah serius pula. “Kami memang akan melakukannya” ucapnya. “Sebelum itu... bolehkah aku menulis beberapa surat?” tanya Ken. “Surat wasiatmu? Memangnya, ada orang yang menjadi penerimanya?” jawab Victor heran.
Ken menatap ke arah pemandangan lain. “Dua orang. Dan baru-baru ini, mereka terasa berharga untukku” ujar Ken. Victor bersedekap. “Waktumu lima menit” perintahnya kemudian. Tak lupa, Victor memberinya sebuah pena dan kertas. Ken menulis surat terakhirnya di hadapan Victor.
Setelah lima menit berlalu, Ken memberikan dua suratnya pada Victor. Di saat yang sama, Ken tiba-tiba menyerang Victor dengan pena yang dia bawa. Sayangnya, Victor telah siap dan mengetahuinya dari beberapa menit yang lalu. Ken ingin, Victor langsung membunuhnya dengan pistol yang ada di dekat saku celana. Namun, Victor memiliki pemikiran lain.
Victor tak menggunakan pistolnya. Dia hanya menghajar kepala Ken dengan keras hingga terjatuh ke lantai. Victor segera menembakkan sebuah jarum bius ke arah Ken. Usai beberapa detik berusaha untuk bangun, Ken akhirnya tak sadarkan diri.
Carver yang mengetahui dari monitor di seberang ruangan, bergegas berlari menghampiri Victor. “Kau baik-baik saja?” tanya Carver dengan wajah cemas. Victor tersenyum. “Dia agak... sedikit menyebalkan” jawab Victor tampak baik-baik saja. Carver terlihat menghela nafas lega.
“Seperti yang sudah dibicarakan. Mari, kita lakukan rencana itu” kata Victor penuh dengan keyakinan. “Hm. Rencana yang sangat bagus untuknya. Rachelle pun ingin, dia tidak pernah menyadari tentang apapun. Dia hanyalah... orang asing. Rachelle menyepakati itu” tanggap Carver. Victor mengangguk setuju.
~~
“Oke, kita akan melacak lokasi terakhir dari Ray” ujar Rachelle sambil asyik memeriksa sesuatu lewat ponselnya. “Kalau begitu, aku akan mencarinya lewat CCTV terdekat” sahut Xavier mulai mengetik di kaca depan dalam mobil. Oh ya, mobil milik Xavier juga telah terhubung oleh sebuah sistem.
Selain memiliki kecepatan yang tinggi, mobilnya juga dilengkapi sistem AI yang dapat membuatnya tangguh. Dia sering kali tak terdeteksi, berkat mobilnya. Dia juga bisa mengakses peta, jalan rahasia hingga latar belakang targetnya.
“Gotcha! Setelah pergi ke rumah pamanmu, dia pergi ke suatu tempat nih. Letaknya agak jauh dari desa. Dia pergi ke kota terdekat menggunakan bus. Tepatnya di...” “Markas geng Macan Gila?” potong Rachelle kaget. Xavier mengangguk.
Rachelle tampak mengeluh, sembari menghempaskan punggungnya ke sandaran mobil. “Dari semua tempat, kenapa dia harus pergi ke sana?” tanyanya agak sebal. “Kau bilang, dia petarung yang hebat bukan? Kalau aku jadi dia sih, aku pergi ke sana untuk menunjukkan sesuatu yang hebat” jawab Xavier memberi pendapat. Rachelle menatap ke arah Xavier. Dia mengerutkan keningnya.
“Katamu, dia kabur karena tidak diizinkan untuk berlatih bela diri? Ayahnya ingin, dia menjadi seorang pianis saja. Sementara ibunya bilang, dia boleh berlatih bela diri. Asal, dia bisa menjadi petarung yang handal? Itulah tempatnya. Apalagi? Tempat untuk menunjukkan seberapa kuat dirimu?” jelas Xavier lebih rinci. “Aku juga sempat berpikir begitu, tapi jika itu benar... dia bisa mati. Geng itu... bukan arena taman bermain. Xav, kita harus cepat. Aku takut, dia akan dalam bahaya” pinta Rachelle. “Dimengerti, komandan!” seru Xavier. Dia segera melajukan mobilnya ke arah lokasi keberadaan Ray.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka berdua tiba di lokasi yang telah disebutkan tadi. Sebuah markas tua dengan patung macan di depannya. Agak mencolok, namun mereka diketahui merupakan geng tertua dengan anggota yang tangguh. Meski, tak setangguh para kru Orhion.
Markas mereka memang sering dikira menjadi tempat sasana pertarungan. Mereka sering kali membuka acara pertarungan satu lawan satu. Lebih mirip seperti, markas yang berkamuflase menjadi tempat pertarungan ilegal. Hari ini, siapapun yang menang akan mendapatkan hadiah utama yang cukup besar. Sejumlah uang dan tiket untuk menjadi anggota tetap geng Macan Gila.
Ketika masuk ke dalam markas, suasana tampak normal. Ruang tamu markas mereka, hanyalah sebuah bar. Rachelle dan Xavier mencoba turun ke bawah, tepatnya di ruang bawah tanah. Di sanalah keduanya, baru menemukan keramaian.
Sebuah pertarungan akan dijalankan. Pertarungan itu biasa disebut, pertarungan ilegal bawah tanah. Di sebut ilegal, karena mereka menerima semua jenis orang dan tak peduli jika menelan korban.
Tentu, seperti normalnya. Banyak sekali orang yang bersorak, untuk para petarung yang ada di dalam ring. Rachelle memberi kode berupa perintah, pada Xavier untuk berkeliling. Selain mempelajari keadaan, mereka juga harus mencari keberadaan Ray.
Rachelle melangkah pelan melingkari ring. Ketika lonceng dibunyikan, seseorang yang tak asing tampak keluar dari pintu masuk ke dalam ring. Seorang pria bertubuh besar dengan tinggi tubuhnya, yang hanya berjarak beberapa senti dari Rachelle.
Pria tersebut tampak melakukan pemanasan, sebelum benar-benar bertarung. Dengan seragam ala anggota karate, pria tersebut terlihat maju ke dalam tengah ring. Seorang cewek ring yang seksi, berjalan mengitari jalan di dalam ring. Menunjukkan, berapa ronde yang akan berjalan.
Meski kelihatan fokus, pria itu masih sempat menatap cewek ring, dengan tatapan khasnya yang menggoda. “Dasar, pria mesum!” seru Rachelle dalam hati.
“Rin, aku tidak menemukannya di sekitar sini. Mungkinkah, dia berada di ruang khusus peserta yang ikut kompetisi?” lapor Xavier dari tempat yang berbeda. “Mungkin saja. Ada dua ruangan khusus untuk peserta. Kau cari di ujung kanan. Aku akan mencari di ujung satunya” perintah Rachelle lewat earphone yang tertempel di telinganya. “Dimengerti” balas Xavier.
Sebelum pergi menyelinap, ke dalam ruangan khusus peserta yang akan bertarung, Rachelle menyempatkan diri untuk mendekat ke depan ring. Dia berada di tepat, barisan pertama. Tepat, di depan pria yang dikenalnya tersebut pula.
Rachelle seakan, ingin mencuri perhatian si pria. Dan benar saja. Saat pria tersebut melihat keberadaan Rachelle, dia mendadak kaget. Bibirnya terlihat bergerak. Mengatakan sesuatu seperti,
“Rachelle?” dan “Kenapa kau bisa ada di sini?” begitulah.
“Agent Gray, kau akan habis jika Deloffre mengetahuinya...” ucap Rachelle pelan. Pria yang tengah berdiri di ring tersebut, tampak tertawa kecil. Dia mengerti perkataan Rachelle, meski tak bersuara.
“Silakan, adukan padanya. Aku menunggu” balas pria yang tak lain adalah Gray itu. Tak lupa, dia memberi cium jauh ke arah Rachelle. Rachelle bersedekap. Dia hanya acuh dan angkat bahu cuek.
“Silakan nikmati pertarunganmu, agent Gray” ucap Rachelle pelan. Dia segera melangkah pergi dan kembali fokus mencari keberadaan Ray. Namun, bukan Gray jika dia tidak mencari masalah.
Mendadak, Gray mengambil mikrofon dari tangan MC yang tak jauh darinya. “Ada yang ingin ku sampaikan, sebelum memulai!” seru Gray membuat heboh. Penonton terdengar riuh seketika.
“Tolong bertaruhlah yang banyak sekali untukku. Setelah pertandingan ini selesai, aku akan menikahi seseorang. Dan orang itu... ada di sini. Tidak jauh dariku. Elle...” panggil Gray, usai mengumumkan hal pentingnya. Mendadak, Rachelle berhenti melangkah. Dia berusaha untuk mengacuhkannya, namun Gray terus saja memanggil namanya.
Bahkan, dia menyebut Rachelle ingin kabur, karena terlalu malu. Tak ada orang lain, selain dia yang berhenti melangkah, saat itu. Dengan agak kesal, Rachelle berbalik dan langsung menyumpahinya tanpa bersuara.
“Rin, sepertinya anak itu ada di sini. Tapi kenapa, namamu tiba-tiba di sebut? Dia... oh... astaga...” ucap Xavier yang terdengar dari, alat komunikasi di telinga Rachelle. Xavier baru menyadari sesuatu. “Orang itu, bukankah dia...?” tanyanya terhenti.
“Gray brengsek!!” umpat Rachelle dalam hati. Tentu, pria yang masih saja tersenyum menggoda padanya itu, telah mengacaukan rencananya. Tanpa rasa bersalah sedikitpun.