Lana, freshgraduated dari salah satu kampus kecil di pinggir kota akhirnya diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di kota besar. Itulah awal mula Lana bertemu dengan Cleo, CEO muda pemilik perusahaan tersebut.
Sayangnya, keberuntungan berjalan berdampingan dengan nasib buruk.
Cloe yang selalu bersikap arogan dan dingin merasa tertarik pada Lana. Perlahan Lana mulai mengetahui rahasia besar yang bersembunyi dibalik sosok yang dingin itu. Begitu semuanya terungkap, Lana tak tahu lagi harus berlari ke mana. Karena pria itu selalu bisa menemukannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika SR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30 : Peramal Tua
My Psychopaths CEO
Bagian 30 : Peramal Tua
By Ika SR
Pukul 17:00
Lana kembali termenung di teras rumahnya. Ia duduk di sebuah kursi rotan, memegang secangkir penuh teh pahit.
Sudah sejak 15 menit yang lalu, ia duduk di posisi demikian. Ia juga merasa cukup penat.
3 hari, waktu yang lama baginya untuk menanti kabar dari Cleo yang tak pasti.
Setiap langkah kaki yang terdengar selalu membuat Lana bersemangat. Ia kira itu Cleo. Nyatanya bukan. Hanya langkah kaki orang yang berlalu lalang.
Selama bekerja pun, Lana terus-menerus menatap ruang kerja Cleo yang tak berpenghuni.
Ia lelah, memasang senyum palsu seolah ia baik-baik saja. Ingin ia bercerita dan menumpahkan segala isi hatinya pada orang lain. Tapi, siapa?
Magrieta? Si tukang gosip di kantor?
Reta? Yang menganggapnya sebagai saingan?
Yang ia butuhkan sebagai tempat curhat mungkin hanyalah satu orang. Reno.
Tapi, tak mungkin. Semuanya akan berakhir menjadi pertengkaran lagi.
Lana menenguk isi cangkirnya yang telah dingin. Pahit. Mungkin lebih baik. Apalagi lidahnya juga tidak bisa mengecap rasa manis lagi karena rasa sedihnya.
Lana memandang langit yang mulai kelam. Tapi, hanya senyum Cleo yang terlihat di matanya. Senyum yang pria itu tampakkan hanya untuknya. Jika benar hal ini yang bernama rindu, maka Lana membencinya. Marah mungkin lebih baik ketimbang rindu.
Lana menggelengkan kepalanya. “Tidak! Aku tidak boleh begini! Cleo pasti juga akan sedih melihatku terus menerus bermuram durja. Mungkin jalan-jalan lebih baik bagiku.”
Lana beranjak memasuki rumahnya. Berdandan sedikit. Hanya untuk berjaga-jaga jika ia bertemu Cleo di jalan, ia tidak mau terlihat kusut. Meskipun Lana tahu itu hal yang mustahil. Cleo jauh ada di sana.
Entah kondisinya bagaimana sekarang. Lana hanya bisa berharap dan berpikir positif bahwa Cleo baik-baik saja di sana. Karena ada Roy yang bisa diandalkan. Tapi, Lana sedang tidak ingin mendengar nama hal itu lagi. Biang kerok, yang memisahkan Lana dengan Cleo yang membuatnya merasakan kerinduan yang amat menyiksa.
Tak lama kemudian, Lana keluar. Berjalan kaki menuju sebuah festival malam yang tak jauh dari rumahnya. Andai Cleo ada di sini, sudah pasti Lana akan mengajaknya berkeliling.
Reno yang awalnya ingin mengunjungi rumah Lana mengurungkan niatnya begitu melihat gadis itu pergi keluar. Reno hanya bisa mengikutinya dari belakang.
***
Lana tertarik pada sepasang gelang cantik yang dijual oleh salah satu pedagang di festival. “Berapa, Bu harga gelang ini?”
“20 ribu, Mbak.”
Agak lebih mahal dari dugaan Lana. Tapi, setidaknya Lana harus membelinya. Satu untuknya dan satunya lagi akan ia pasangkan di tangan Cleo begitu pria itu kembali.
Jika ia belum juga kembali, Lana sendiri yang akan datang mencarinya dan menjemputnya pulang.
Lana menyodorkan uang pas pada pedagang itu. Memakaikan salah satu dari gelang itu ke tangan kanannya.
Reno memperhatikan Lana dari jauh. Gadis itu nampak kegirangan. Melihat hal itu, Reno juga merasa sedikit senang. Setidaknya Lana bisa tersenyum lagi. Cukup baginya dengan melihat Lana seperti itu.
Lana berjalan kian kemari, mengunjungi satu gerai ke gerai lainnya. Setidaknya, hal itu membantunya untuk mengalihkan pikirannya dari Cleo.
Sampai suatu saat Lana melewati sebuah gerai milik peramal tua yang terlihat kuno. Lana adalah seorang wanita yang realistis. Bukan tipe wanita yang akan mempercayai ramalan seperti itu.
Tapi, langkahnya terhenti begitu peramal itu mengatakan sesuatu yang menarik minatnya.
“Pria yang kau tunggu baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir,” ucap peramal itu acuh tak acuh sambil mengelap beberapa perabotan miliknya.
Lana memandang sekitar, berusaha memastikan bahwa peramal itu sedang berbicara dengannya.
“Maaf, Anda sedang berbicara dengan saya?” tanya Lana.
Peramal itu mengangguk, tanpa menoleh. Mengingatkan Lana pada kebiasaan Cleo.
Lana mengamati sekitar lagi, memang benar. Tidak ada orang lain lagi di dekatnya.
Lana mendekat dan duduk di hadapan peramal itu.
Antusiasmenya terhadap berita dari Cleo melumpuhkan segala pemikiran rasionalnya.
Lana yang tidak mempercayai ramalan. Sekarang, duduk manis di hadapan seorang peramal.
“Bagaimana Anda tahu?”
Peramal itu memandang wajah Lana dengan saksama. “Aku bisa melihatnya dari aura wajahmu,” jawab peramal itu dengan suara halus.
Lana memegang wajahnya. Sebegitu kentaranya, kah?
“Benarkah dia baik-baik saja di sana?”
“Ya, kondisinya baik-baik saja. Sebentar lagi, dia akan segera siuman. Jangan terlalu mengkhawatirkan. Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Ada hawa negatif di sekitarmu.”
“Hawa negatif?”
“Ya, seseorang akan datang untuk mengincarmu.”
Lana merasa sedikit menyesal mengunjungi peramal tua ini. Ia tahu mungkin itu hanyalah omong kosong. Tapi, ia ingin mendengar seseorang mengatakan Cleo sedang baik-baik saja.
“Perlihatkan garis tanganmu.”
Lana menurut. Ia menyodorkan sebelah tangannya.
Peramal itu mengamati garis tangan Lana dengan saksama. “Pada dasarnya, setiap kehidupan manusia sudah tergaris dengan jelas di tangannya. Masa depan, kehidupan, rezeki dan jodoh.”
“Kau lihat garis dengan posisi horizontal di bawah jari kelingkingmu?”
Lana mengangguk.
“Itu adalah garis cinta.”
Lana mengamati telapak tangannya sendiri.
“Garis cinta milikmu sangat panjang sehingga melebar ke tepi telapak tangan dari kedua sisi. Gadis muda, hal itu menandakan kalau kamu adalah tipe orang yang berpikir jernih. Kau adalah orang yang romantis dan setia. Tapi, cintamu itu adalah kelemahan terbesarmu. Kau akan mengalami banyak kesulitan.”
Lana termenung. Benar.
Cintanya yang terlampau besar untuk Cleo menjadi masalah yang cukup serius untuknya.
Tapi, berkat cinta itu juga, Lana merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Anda mungkin benar bahwa cinta adalah kelemahan saya. Tapi, cinta itu juga merupakan sumber kekuatan utama untuk saya. Saya bahagia menemukan cinta itu.” Lana tersenyum.
“Ya, tapi aku menangkap hal yang lain dari itu.”
Perkataan peramal itu membuat senyum Lana sirna. “Maksudnya?”
“Cintamu itu juga merupakan titik lemah pasanganmu. Dia akan terluka berkali-kali karenamu.”
Air mata Lana terjatuh.
“Cintamu memberikan dampak yang lebih besar baginya. Cintamu adalah rasa sakit baginya. Semakin kau mendekat, semakin dia akan menjadi lemah dan terluka.”
Lana tidak bisa berkata-kata lagi.
“Apa saya pembawa kesialan untuknya?” tanya Lana.
Peramal itu mengangguk.
Hati Lana terasa lebih hancur. Tapi, sanggupkah ia meninggalkan Cleo saat rasa cinta ini tumbuh dengan suburnya. Meskipun itu demi keselamatan Cleo sendiri.
“Apakah saya harus menjauhinya?”
Peramal itu menggeleng. Respon yang berkebalikan dengan dugaan Lana. “Jangan. Dia sedang terjebak dalam belenggu kegelapan. Jika, kau meninggalkannya seperti ini. Dia akan mati. Hanya kau yang bisa menyelamatkannya!”
Pupil mata Lana membulat. Cleo sedang membutuhkannya dan menunggunya untuk menyelamatkannya.
Lana mengusap air matanya. “Terimakasih banyak.”
Peramal itu mengangguk. “Pergilah! Temui dia! Jangan khawatir, aku memberitahukan segalanya padamu secara gratis, bergegaslah. Dia sedang menunggumu.”
Lana mengangguk, lalu segera berlari pergi. Meninggalkan Reno yang kebingungan karena mengawasinya dari kejauhan.
“Pergilah, Nak.Temui jodohmu,” ucap peramal tua itu.
Reno kelihatan nya aja care tapi aku antang lihat cewek ditampar sama cowok apapun salahnya. kalo nanti Reno nikah sm lana dikit2 main tampar.. lbh ngeri dr Cleo
pdhl ini slh satu novel yg sering q tunggu² up nya ...
sayang sekali klw crta nya gk diteruskan ...
pdhl jln crta nya sangat bgs ...
apapun kesibukan author skrng,smga ntk bisa lagi y ....
seneng bgt pas dpt notif nya ..
berharap nya seh,smga novel nya msh diterusin crta nya ...
pengen tau endingnya gmn ...
gmn nasipnya cleo ..
semangat thor