Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 28
Ina menatap layar smartphone nya. Lean baru saja mengirimkan pesan yang mengatakan pemuda itu berada di bawah
"Bawah? Bawah mana?" Bathin Ina
Gadis itu segera mengganti bajunya dengan gamis biru dan menyambar kerudung instannya. Saat membuka kamar terdengar suara orang bercakap-cakap dari arah ruang tamu
Ina tertegun di anak tangga saat melihat Lean dan Leo sedang berbincang-bincang dengan tuan Erik, Ardhi dan Aya. Terlihat juga Ray, Ian dan Endra duduk di sofa seberang. Ada apa?
"Sayang.. sini Na." Panggil Aya
Ina berjalan perlahan ke arah ruang tamu dengan pandangan bingung. Sesaat Ina sempat terpesona melihat Lean yang terlihat gagah malam ini. Gadis itu langsung menundukkan pandangannya menghindari tatapan Lean
Ina duduk di sebelah Aya yang langsung menggenggam tangannya
"Ng..ada apa ya bunda? Ayah? Opa?"
Ardhi menghela nafas panjang. Tatapannya lurus ke arah Lean
"Leandre, kriteria saya untuk calon suami Ina tidaklah muluk-muluk. Asalkan pemuda itu hanif, bisa menjadi imam keluarga, bertanggung jawab dan sayang pada Ina."
"Wait..what??" Ina membathin. Matanya membola menatap Lean dan Leo. Lean tersenyum menatap Ina
"Saya tidak bisa mempromosikan diri saya dengan kata-kata pak, saya hanya bisa menunjukkan dengan perbuatan. Kedatangan saya kemari karena saya serius dengan Ina."
Leo menatap Lean bangga
"Dhi, aku jamin Lean tidak pernah berada di jalur hitam seperti halnya aku dulu. Semenjak kejadian di villa dulu, aku pun sudah berhenti dari dunia hitamku. Nafkah yang kuberi untuk mengurus dan membesarkan Leandre adalah dari pekerjaan yang halal. Kini iapun merintis usaha cafe dan sedang belajar untuk menerima kembali identitasnya sebagai seorang Knight."
Tuan Erik tertawa sambil menepuk Ardhi
"Papa jadi teringat dengan seorang pemuda yang dulu melamar Aya."
"Papa.." wajah Aya terlihat merona
"Eh tapi bunda dilamar ayah kan sudah lulus sekolah, sedangkan Ina masih sekolah.." Kata Ina sambil menatap Aya
"Pembicaraan malam ini hanya perkenalan dan pemberitahuan non formal saja. Setelah Ina lulus kami akan datang lagi secara formal untuk melamar Ina. Leandre juga harus memantaskan diri dulu untuk bisa jadi bagian dari keluarga Al Farobi bukan?" Kata Leo tersenyum
Tuan Erik mengangguk "Kemajuan Leandre untuk ilmu bisnis dan mengenal seluk beluk perusahaan Knight sudah sangat berkembang. Sekitar tiga bulan lagi kita bisa langsung terjun ke lapangan."
"Jadi.. bagaimana Dhi?" Lanjut tuan Erik lagi
Ardhi terdiam sesaat sambil menatap Lean "Leandre, saya mau kamu selama 4 hari dalam seminggu bekerja bersama saya di perusahaan. Dari situ mungkin sedikit banyak saya bisa mengenalmu lebih dalam. Kau keberatan?"
Lean menggeleng
"Saya bersedia. Saya akan datang mulai senin kalau diijinkan karena saya harus mendelegasikan beberapa tugas untuk kelompok Phoenix dan Cafe saya."
"Baik. In syaa Allah senin kita ketemu lagi di perusahaan."
Tuan Erik tersenyum sambil menepuk bahu Ardhi tanda setuju dengan tindakan pria itu. Leo yang melihat itu semua ikut tersenyum
"Aku sudah bilang dari dulu, kau memang pilihan terbaik tuan Frederick."
"Heii..para pria melupakan perasaan anakku. Seharusnya kalian bertanya dulu pada yang bersangkutan." Kata Aya. Wanita itu memandang lembut kearah Ina
"Bagaimana menurut Ina?"
Ina memandang Aya lalu memandang semuanya. Pandangan terakhir jatuh ke arah Lean. Pemuda itu tersenyum lembut ke arah Ina. Ina merasa pipinya memanas. Gadis itu hanya tertunduk sambil mengulum senyumnya
"Gadis kalau setuju akan terdiam sambil senyum-senyum sendiri." Kata tuan Erik yang disambut tawa orang-orang di ruang tamu
Lean menyodorkan sebuah kotak yang ternyata didalamnya adalah kalung peninggalan Indira, Ibunda Lean
"Nyonya Aya, saya titip ini untuk dipakaikan ke Ina."
"Kenapa bukan kau yang memakaikannya Boy?" Tanya Leo
Lean tak menjawab, pemuda itu hanya memandang Ardhi yang menatap tajam dirinya
"Mereka belum halal, tidak baik banyak melakukan kontak fisik." Kata Ardhi
Aya langsung berdehem sambil menatap Ardhi. Ardhi langsung salah tingkah dibuatnya
"Maklum princess satu-satunya. Ayahnya galak.." kata Aya pada Lean
Mereka semua tertawa mendengar penuturan Aya
***
"Na.."
Ina menoleh, saudara-saudaranya pun ikut menoleh. Lean jadi salah tingkah
"Ya bang?"
"Boleh bicara sebentar?"
"Boleh.."
Lean menatap saudara-saudara Ina yang tak kunjung beranjak dari kursinya. Ina menyadari pandangan Lean. Gadis itu tersenyum
"Yuk ke taman samping." Ajak Ina
Keduanya berdiri menuju taman samping. Ina membalikkan badan sebentar saat melihat Ian mengikutinya. Mata gadis itu melotot. Ian mengangkat tangannya
"Disuruh bang Ray.." pemuda itu berbisik
Ina menghela nafas "Apaan sih, kelihatan juga dari sini. Lagian kami mau ngapain emangnya?"
"Ya..jangan lama-lama ngobrolnya." Kata Ray. Pemuda itu mengacungkan kode ke arah Lean 'aku mengawasimu'. Lean hanya tertawa melihat Ray
Ina dan Lean duduk di bangku taman samping. Bunga-bunga mawar milik Aya tumbuh subur berjajar rapi di sana
"Na..abang mau pamit."
Ina menoleh ke arah Lean "Mau pulang?"
Lean menggeleng
"Tadi tuan Erik bilang sekitar tiga bulan lagi akan terjun ke lapangan. Maksudnya, abang akan pergi ke Prancis untuk pergi ke Knight Coorporation.."
"Prancis...jauhnya bang.." Ina berbisik
Lean menatap Ina lembut
"Karena itu abang datang malam ini untuk mengutarakan niat baik abang. Ina mau kan nunggu abang pulang?" Tanya Lean
Ina menunduk menyembunyikan rona wajahnya "Memangnya Ina harus ngapain? Nunggu di balkon tiap hari gitu menanti kedatangan bang Lean?"
Lean tertawa "Maksudnya, jangan dekat-dekat laki-laki lain. Jangan main dengan laki-laki lain."
"Kok gitu? Kan bang Lean tadi cuma datang mengutarakan niat abang. Belum melamar, ayah juga belum bilang oke."
Lean gemas mendengar kata-kata Ina. Ina terkikik, merasa berhasil mengerjai Lean. Gadis itu menepuk bahu Lean
"Justru yang harus ditanyakan itu abang. Gadis-gadis Prancis cantik-cantik lho. Yakin nggak kepincut? Orang sama kal Mariska aja.."
"Na...kamu masih meragukan abang?" Tanya Lean
Ina tersenyum sembari menggeleng
"Iya, Ina tunggu kedatangan abang melamar resmi ke ayah."
Setelah mengucapkan itu, wajah Ina terasa panas. Gadis itu menunduk sambil menggigit bibir bawahnya
"Satu lagi.. jangan berwajah begitu di depan laki-laki lain. Hanya boleh ke abang aja." Kata Lean
Ina mendongak
"Wajah yang mana?"
"Wajah malu-malu sambil menggigit bibir bawahmu. Bikin gemes pengen nerkam.." Kata Lean sambil menatap Ina.
"Ih abang! Nggak boleh begitu!" Kata Ina galak
Lean tertawa
"Nah,kalau galak begini boleh ke orang lain tapi nggak boleh ke abang."
Ina menepuk jidatnya. Belum apa-apa tapi sudah ada persyaratan-persyaratan aja
"Kak Ina, di suruh masuk sama bang Ray..Adaaoo, sakit bang!" Endra misuh-misuh saat kepalanya dijitak keras oleh Ian
"Ada lagi yang mau diomongin?" Tanya Ina
Lean menggeleng
"Ayo masuk. Bisa-bisa abang diserang bodyguard-bodyguard mu itu." Kata Lean sambil menatap tiga saudara Ina yang terus melihat ke arah mereka
Ina tertawa
"Yuk masuk bang.."
Keduanya segera masuk kembali bergabung dengan saudara-saudara Ina di dalam
Maaf ya lama update nya karena ada sesuatu dan lain hal 😁😁
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...