Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Maka, netra mata Faisal melebar ketika dengan ringan, putrinya menyeret sosok wanita itu dengan paksa.
Wanita itu..... adalah wanita yang dulu sangat Faisal kenal.
Dia adalah teman sekelas Faisal dulu sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas.
Entah siapa namanya, Faisal tak begitu mengingat.
"Kamu.....".
"Faisal.....".
Dengan gerakan kasar, wanita itu lantas mengusap air matanya. Perasaan malu dan salah tingkah, kini tengah mengeroyok hatinya tanpa perasaan.
"Kamu.... anak SMA negeri 1 Yogyakarta, bukan?".
Faisal bertanya lirih. Wajah wanita di hadapannya ini tidak asing. Hanya nampak lebih dewasa dan matang.
Faisal hanya takut salah orang.
"Iiya... mas.. Saya.... Lintang".
"Oh iya. Saya baru ingat.
Apa kabar?".
Faisal lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Lintang lantas membalasnya dengan sopan. Meski tak se-takzim Melati ketika menjabat tangannya.
"Baik. Ini......"
Netra mata lintang lantas melirik Putri dan Risti yang kebingungan secara bergantian.
"Anak-anak mas Faisal?".
"Ya. Mereka anak-anak saya. Ibu mereka sudah meninggal sekitar tiga bulan yang lalu".
"Oh maaf, mas. Saya turut berduka cita.".
"It's oke......".
Keheningan lantas melingkupi keduanya. Hanay sesekali ocehan Risti dan Putri yang lebih mendominasi.
"Tante Lintang..... Kenapa Tante tadi nangis?".
"Emh... nggak apa-apa, sayang. Tante... hanya kelilipan".
Putri lantas mengajak adiknya bermain sedikit lebih jauh. Mereka tengah membangun sebuah rumah dari pasir.
"Kalau kamu nggak keberatan, saya bersedia menjadi teman curhat kamu. Barangkali, saya bisa sedikit meringankan beban kamu dan memberi solusi".
Ucap Faisal tiba-tiba.
Sialan kamu, Faisal. Masalahmu sendiri saja kamu lebih memilih kabur daripada menyelesaikannya.
Dan sekarang? Kamu menawarkan wanita sebuah solusi?
Dimana otakmu?
Faisal lantas memaki dirinya setelah sadar dengan apa yang ia katakan. Bibirnya tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah untuk dirinya sendiri.
Hening lama. Antara Faisal dan Lintang.... tak ada yang berniat membuka suara.
"Saya di cerai kan oleh suami saya, mas Faisal. Anak kami satu-satunya, dia ambil paksa dan saya tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini, karena saya orang biasa. Hari ini, adalah hari ia pergi jauh membawa anak kami."
"Apa alasan kamu di ceraikan?".
"Karna saya melahirkan anak perempuan lima tahun yang lalu. Setahun lalu, saya mengalami kecelakaan dan di vonis dokter tidak akan memiliki anak lagi.
Sedang suami saya..... ingin saya... melahirkan anak laki-laki untuknya. Itulah sebab saya di ceraikan begitu saja".
Lirih Lintang. Sekali lagi, lintang hanya bisa menunduk dan meneteskan air matanya pasrah.
~~
~~
Sinar mentari menyusup kedalam kamar utama rumah Fian, melewati ventilasi-ventilasi kecil di celah-celah jendela kamar Fian-Melati. Fian membuka matanya perlahan. Beberapa kali mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Untuk sesaat, Fian seperti orang linglung. Tidak seperti hari-hari biasanya, Fian merasa tubuhnya kali terasa remuk redam. Seluruh sendi-sendi nya terasa lantak akibat permainannya bersama sang istri.
Menoleh ke samping, senyum Fian terkembang sempurna ketika melihat istrinya mendengkur halus dengan hanya berbalutkan selimut sebatas dada.
Bahu telanjangnya, seakan menggoda dengan melambai-lambai berteriak untuk meminta di sentuh.
Sayangnya, Fian tak bisa melakukannya bila tak ingin predator dalam dirinya bangkit lagi. Cukup sudah waktu semalaman membuat melati tak berdaya di bawah kendali kekuasaannya di atas ranjang. Kini, istrinya itu masih bergeming nyaman dalam selimut.
Kelelahan?
Tentu saja melati kelelahan mengingat keliaran nafsu Fian yang tak terkendali. Apalagi, di usia Fian yang telah memasuki angka hampir tiga luluh lima ini, adalah hal pertama bagi Fian dalam menyentuh wanita.
Pada akhirnya, perjuangannya untuk mendapatkan Melati, tidak sia-sia.
Manatap lama istrinya, Fian mengingat banyak hal yang menjadi kenangan di masa lalu.
Ketika Melati mengungkap sebuah fakta yang merupakan kebohongan, membuat Fian hancur waktu itu. Bagaimana tidak hancur, ketika Melati berkata bahwa Faisal telah memperkos*nya?
Andai saat itu Fian tahu bahwa Melati telah berbohong, pasti Fian akan dengan tegas menentang Melati dan menikahinya begitu saja.
Di tatapnya lama istri nya itu, Fian merasa benar-benar telah menemukan kebahagiaannya.
Melati......
Seperti hujan di gurun Sahara yang tandus.
Seperti kandelir di tengah kegelapan tanpa cahaya.
Seperti air sungai di tengah musim kemarau panjang.
Seperti pelangi setelah badai menerjang.
"Mas.....".
Seketika Fian sadar bahwa istrinya telah bangun.
"Sudah siang, ya? Maaf saya kesiangan. Njenengan pasti mau berangkat sebentar lagi.... Saya...........".
"Sudah, kamu tidur saja di sini. Saya tau kamu kelelahan. Maafkan saya".
Sela Fian kemudian setelah memotong kalimat Melati.
Mendengar ini, wajah Melati mendadak merona karena malu. Dirinya teringat akan ke-bringasan nafsu Fian yang tak memberinya jeda dalam beberapa kali permainan.
"Tapi.... saya harus menyiapkan sarapan untuk njenengan. Gibran juga..... akan berangkat sekolah hari ini.".
"Semalam saya sudah berpesan sama mbok Ijah untuk mengurus semua keperluan Gibran. Mungkin Gibran sudah berangkat sekolah. Sekarang sudah jam tujuh lewat".
Pandangan Melati beralih pada jam di dinding yang menggantung tembok sebelah pintu kamar mandi.
Raut wajahnya terkejut bukan main.
"Ya ampun, mas. Saya Ndak pernah bangun se-siang ini. Saya.......".
Melati panik bukan main.
Apa lagi, Fian harus berangkat untuk dinas ke rumah sakit pukul 9.
"Nggak apa-apa. Saya paham kamu lelah. Terima kasih. Terima kasih untuk kesediaan mu semalam. Akhirnya, saya bisa memiliki kamu selamanya".
Fian lantas meraih dan memeluk Melati dari samping. Mengecup pelipis istrinya perlahan dan mengalirkan sebuah kasih sayang yang demikian tulus dari dalam hati Fian.
"Itu kewajiban saya, mas. Melayani njenengan. Terima kasih sudah menerima saya dengan tulus dan apa adanya. Semoga mas di berkahi kesehatan dan rejeki halal.".
"Saya ingin segera punya anak dari benih saya, Melati. Mengingat usia saya sudah tak lagi muda.
Saya ingin Gibran segera memiliki adik dan rumah kira ramai dengan tangis tawa mereka".
"Amin, semoga ya, mas. Saya juga berharap demikian".
Mereka lantas di selimuti oleh hening.
Kebahagiaan mereka terasa hampir sempurna. Mungkin, setelah hadirnya anggota keluarga baru berwujud bayi, kesempurnaan kebahagiaan mereka terasa lengkap.
Melati sudah akan bangkit ketika pergelangan tangannya di cekal oleh Fian.
"Saya.... akan membersihkan diri dulu, mas".
"Beri saya surga mu sekali lagi, saya janji tidak akan lama".
Dan selanjutnya sudah bisa di tebak kemana arah aktifitas mereka selanjutnya. Melati tak bisa menolak ketika tubuh liat dan berotot milik suaminya, kembali menguasai permainan.
Mereka kembali mereguk manisnya madu cinta, dan kembali mengungkap rasa lewat erangan syahdu dan Geraman lirih penuh nafsu.
Fian.....
Merasa ingin lagi dan lagi ketika mencecap manisnya Melati ketika dengan tangguh, Melati rupa-rupanya mampu mengimbangi keliaran gairah primitif nya.
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩