NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.

Pramono menendang tempat kosong, menunjukkan rasa kesalnya. Langkahnya terhenti saat ada suara memanggil.

" Mas Pram." suara seorang wanita memanggil dari arah berlawanan.

Pram menghentikan kakinya, kepalanya mendongak dan tatapannya bertumbukkan dengan sepasang mata yang berbinar tengah menatapnya.

Pram menautkan ke dua alisnya , seakan sedang mengingat ingat sesuatu.

Wanita di depannya tersenyum, melangkah mendekati Pram. Harum parfum yang lembut langsung tercium dari tubuh wanita di depannya. Darah Pram berdesir.

" Mas Pram lupa sama saya? Oh...iya, wajar sih, kalau Mas Pram sampai lupa sama saya. Kehidupan yang berkelimpahan harta memang menjadikan manusia lupa masa lalu." ucap wanita itu sambil menundukkan kepalanya.

" Tapi..maaf. Saya benar-benar nggak ingat anda siapa?"

Pram sudah berusaha sekeras mungkin untuk mengingat siapa wanita di depannya. Tetapi semakin berusaha , otaknya semakin buntu.

" Mungkin mas akan ingat kalau saya cerita. Dulu mas Pram pernah nolongin anak cewek yang nggak bisa berenang, waktu mandi di kali." wanita itu mencoba membantu ingatan Pram.

" Sebentar...sebentar, sepertinya saya ingat. Yang dulu suka mandi di kali dan anaknya cengeng itu kan?" tanya Pram.

Wanita di depannya cemberut..

" Kenapa yang di ingat cengengnya sih, mas." wanita itu cemberut.

Pram tertawa. Sekarang dia mulai ingat.

" Kamu anak itu. Ya..ampun, kamu cantik banget." kata Pram tersenyum, terpesona.

Wanita itu menunduk, wajahnya kemerahan, entah malu , entah senang , mendapat pujian dari laki-laki di depannya.

" Terus sekarang udah ingat siapa saya." tanya wanita itu.

" Ingat dong. Kamu Nindi kan?" Pram menebak , tatapannya tak beralih dari wajah Nindi.

" Syukurlah, akhirnya mas Pram ingat. Tadinya saya mau pergi aja, takutnya saya salah menyapa orang." kata Nindi tersenyum lebar.

" Kayaknya nggak enak kalau ngobrol sambil berdiri, apalagi ini di rumah sakit. Bagaimana kalau kita cari tempat , biar leluasa ngobrolnya." usul Pram.

Dan langsung di sambut anggukan oleh Nindi. Pram tersenyum.

Mereka melangkah beriringan ke luar dari rumah sakit. Pram membukakan pintu mobil untuk Nindi.

Nindi sempat tertegun, tubuhnya menegang , entah karena merasa di hormati atau karena baru kali ini naik mobil mewah dan di perlakukan manis oleh pemiliknya.

Pram tersenyum. Nindi pun membalas senyum dan menunduk malu.

" Asli aku kaget lihat perubahan kamu, Nin. Jauh banget perubahannya. Kamu benar-benar menjelma jadi wanita cantik." Pram masih saja memuji wanita itu.

Nindi mendengus sebal.

" Dengan kata lain, dulu saya itu nggak cantik. Dekil , hitam , lusuh , begitu kan, mas." kata Nindi sambil menunduk memainkan jemari tangannya.

" Kalau boleh jujur iya..tapi dengan perubahan drastis diri kamu , aku salut. Intinya kamu bisa berubah ke yang lebih baik. Dan tampak berkelas." kata Pram sambil memperhatikan Nindi dari samping.

Lagi-lagi wajah Nindi memerah, bukan itu saja kepalanya bertaburan bintang dan perutnya seolah banyak kupu-kupu beterbangan.

[ Aku berubah karena kamu, mas Pram. Tapi sayang sekarang kamu sudah milik orang dan itu sangat menyakitkan."]

" Ehemm..kenapa diam." tanya Pram.

" Nggak apa-apa, mas. Ini kita mau ke mana,mas." tanya Nindi.

" Nanti kamu juga tahu." kata Pram tersenyum.

Tak lama mobil pun memasuki pelataran sebuah restoran.

" Kamu pasti belum makan, kan. " tanya Pram.

Nindi menggeleng.

" Belum, mas. Tadi niatnya mau makan di kantin rumah sakit, tapi malah ketemu mas Pram." jawab Nindi malu-malu.

"Kita makan siang bareng, sekalian ngobrol , udah berapa puluh tahun kita nggak ketemu. Terakhir pas aku mau berangkat kuliah ke kota. Itu pun waktu itu kamu lagi pergi sama kakak kamu. Katanya nengokin kakek kamu yang sakit." kata Pram sambil membuka safety beltnya.

Nindi pun ikut melakukan hal yang sama. Seperti saat naik, saat turun dari mobil pun Pram membukakan pintu untuk Nindi.

Lagi-lagi Nindi merasa tersanjung, mungkin karena belum pernah merasakan di perlakukan seperti itu, atau karena Nindi sejak awal ada rasa yang terpendam sejak lama.

Pram dan Nindi berjalan beriringan . Sepanjang langkah , mereka tampak saling tertawa. Apalagi Pram , dia tampaknya sudah sangat lihai mengambil hati wanita.

Nindi tampak senyum malu-malu.

[ Jangan sampai aku terbawa suasana dan terbawa perasaan. Walau bagaimanapun ini juga termasuk salah."]

" Oh..jadi kamu melamar kerja di butik yang baru mau buka itu. Kenapa nggak nyoba melamar di perkantoran aja." tanya Pram setelah mereka sudah duduk.

" Ijazah saya cuma D3 mas. Rata-rata perkantoran itu minimal S1." kata Nindi.

Pram menganggukkan kepalanya.

" Maaf , Nin. Mungkin ini agak terlalu pribadi. Kaku sudah punya suami apa masih single." tanya Pram sambil menatap wajah Nindi.

Yang di tanya diam dan menunduk.

" Sa..saya masih single, mas. Mana ada yang mau sama saya, mas."

" Jangan bilang begitu. Kebetulan saya punya teman yang masih single juga. Boleh di bilang dia itu pria matang dan mapan."

[ Aku kira kamu orangnya, mas. Ah... sudahlah, dia udah punya keluarga yang harmonis. Tak seharusnya juga aku mengharap lebih dari pertemuan ini."]

"Nggak usah repot-repot, mas. Saya percaya kok, kalau sudah waktunya ,pasti ketemu juga jodohnya." kata Nindi lirih.

"Tapi kan nggak ada salahnya juga kita berikhtiar."

" Mas...kita ke sini mau makan apa mau jago biro jodoh." Nindi cemberut.

"Eh...maaf...maaf," Pram merasa bersalah.

" Its okay. Nggak masalah. Aku Ra po po." jawab Nindi.

Mendengar jawaban Nindi, Pram tertawa. Dari dulu ceplas ceplosnya nggak berubah ternyata. Selalu bisa bikin suasana jadi hangat.

"Silahkan , mas, kakak. Di pilih menunya." salah satu karyawan cewek mendekati meja mereka.

" Pilih saja yang kamu suka. Kalau perlu yang belum pernah kamu makan." kata Pram.

" Ah..mas bisa aja. Kalau semua belum pernah aku makan gimana, apa aku harus pesan semua." kata Nindi.

Pram kembali tertawa.

" Tenang, Nind. Kapan-kapan aku ajak kamu makan ke sini lagi." kata Pram.

" Jangan mas. Takutnya nanti lama-lama aku baper dan mengharap lebih." celetuk Nindi sambil tertawa.

" Selama ini kamu itu udah aku anggap adek, Nin. Sejak di kampung , waktu kita main bareng, waktu itu kan kamu sering di ajak main sama kakak kamu , Fadil."

[ Oh...jadi dari dulu aku cuma di anggap adek sama mas Pram. Kenapa juga aku sejak dulu merasa kalau dia menaruh hati sama aku. Ternyata perhatiannya selama ini cuma sebatas adek dan kakak."]

" Iya..habisnya kalau main sama cewek itu ribed. Itu kenapa aku lebih suka ikut kak Fadil main."

[ Padahal alasan ikut main Fadil ,karena tiap hari pengin dekat sama mas Pram. Eh...malah sekarang dia udah punya anak , mana udah besar-besar lagi anaknya. Berarti aku termasuk wanita matang, dong]

Nindi menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda dia insecure.hehe..

" Kenapa Nind."

" Nggak apa-apa, mas. Cuma ini tiba-tiba kuping aku berdenging." jawab Nindi asal.

" Katanya kalau kuping berdenging pertanda ada yang ngomongin." celetuk Pram.

"Siapa yang ngomongin saya, mas. Lha...aku di sini nggak kenal siapa-siapa, kecuali mas Pram."

" Kata orang." jawab Pram sekenanya.

"Kalau iya bener ada yang ngomongin. Kalau pertanda mau c*ng*an gimana." kata Nindi.

Pram tertawa. Sejak ketemu Nindi, baru ini Pram bisa tertawa lepas. Dari dulu Pram kenal Nindi , ya...beginilah Nindi. Pembawaannya yang ringan, dan celetukannya yang bikin suasana jadi rame.

Sosok itu mengepalkan ke dua tangannya. Giginya gemeletuk, rahangnya mengeras.

Sejak tadi dia sudah melihat interaksi wanita dan pria itu. Terlihat kalau si pria sangat gembira, karena berulang kali tertawa.

" Dirga. Ayo..kita pulang. Semua udah ada di mobil."

Lelaki yang di panggil Dirga berjalan cepat menuju ke tempat parkir.

[ Dirga ada di sini ternyata. Wah ..pasti dia mikir yang macem-macem,." ]

Pram celingukan, pandangannya tertumbuk pada punggung laki-laki yang tengah berjalan cepat ke parkiran.

Pram berniat memanggilnya dengan melambaikan tangan. Tapi terlambat. Karena jarak yang sedikit jauh , dan nggak mungkin juga dia teriak-teriak di dalam resto.

Nindi membalikkan badan, dia ingin tahu siapa yang hendak di panggil Pram.

" Siapa, mas. Istrinya mas Pram. Wah...kalau begitu aku pulang dulu, mas. Takutnya istri mas salah sangka sama aku nantinya." Nindi berdiri dan hendak pergi.

" Bukan istri mas. Anak mas yang pertama. Aku takut dia tagi mikir yang tidak-tidak." jawab Pram.

[Walaupun aku pernah di posisi amat sangat mengharapkan dia, tapi aku udah menanamkan pada diri sendiri, pantang mengganggu suami orang]

" Habiskan dulu. Nanti aku antar kamu pulang."

Nindi menurut. Duduk dan menghabiskan makanan yang masih tersisa di meja.

Setelah selesai mereka kembali keluar bersama. Kali ini tak ada percakapan. Nindi bergelut dengan perasaannya sendiri.

Pram masih memperlakukan Nindi seperti awal. Membukakan pintu mobil.

[ Hmm...apa perlakuan mas Pram ke wanita lain juga sama seperti ini, ya. Jangan-jangan cuma aku yang ke ge-ar ran ."]

Sebuah mobil yang pintunya sudah terbuka, tiba-tiba mendadak tertutup lagi. Di balik pintu mobil itu, tampak wajah menegang, dan jemari saling meremas.

[ Sama siapa dia. Kenapa melihat dia bersama wanita lain , hatiku merasa sakit. Padahal ketika dia sama Arista perasaanku biasa aja. Apa aku yang terlalu naif."]

" Dok...dokter Mirna.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!