Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran
Raina sudah di kasur sejak pukul delapan malam.
Bukan karena mengantuk, lebih karena setelah seharian berdiri, berjalan, mendorong troli di lorong-lorong gedung, tubuhnya membutuhkan permukaan horizontal dan ia tidak punya alasan untuk menolak memberikannya. Bantal ditumpuk dua di belakang punggungnya, selimut sampai ke pinggang, ponsel di tangan.
Di layarnya, video demi video bergulir...kucing yang terjatuh dari lemari dengan ekspresi yang tidak terima, anak kecil yang berdebat serius tentang warna langit dengan neneknya, seseorang yang mencoba membuka kelapa dengan cara yang sangat salah dan sangat percaya diri.
Raina tertawa.
Bukan tertawa kecil yang sopan... tertawa sungguhan, pelan tapi lepas, dengan bahu yang bergerak dan mata yang sedikit menyipit.
Ia tidak mendengar suara kunci di pintu.
"Kamu kenapa?"
Raina mendongak.
Robby berdiri di ambang pintu kamar, kemeja belum dilepas, tas masih di bahu. Matanya ke arah ponsel di tangan Raina.
"Nonton video," jawab Raina. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar.
"Video apa?" tanya Robby, tatapannya penuh rasa curiga yang tidak ia coba untuk sembunyikan.
"Yang lucu." jawab Raina pendek. Tidak terlalu peduli dengan obrolan mereka malam itu.
Robby tidak bergerak dari ambang pintu. "Kamu nggak denger aku masuk?"
"Tidak."
"Dari tadi?" Robby makin mendekati ranjang.
"Dari tadi." Raina menggulir ke video berikutnya. Di layarnya, seseorang sedang mengajarkan kucingnya berjabat tangan dengan tingkat keseriusan yang tidak sebanding dengan hasilnya.
Robby masuk ke kamar. Meletakkan tasnya di kursi sudut dengan sedikit lebih keras. Raina tidak menoleh.
Ia melepas sepatunya...satu, dua, diletakkan sembarangan di samping lemari. Biasanya Raina yang merapikannya. Malam ini Raina tidak bergerak dari posisinya.
Robby duduk di tepi kasur, di sisi Raina.
Raina menggeser kakinya sedikit, bukan menjauhi, hanya memberi ruang dan tetap pada video kucingnya.
"Kamu chattingan sama siapa?"
Raina tidak langsung menoleh. "Tidak dengan siapa-siapa."
"Tapi tadi ketawa."
"Karena videonya lucu."
"Kamu tidak pernah ketawa sendiri kalau nonton video." Robby makin curiga. Karena sebelumnya Raina tidak pernah seperti ini.
Raina akhirnya mendongak... menatap Robby dengan ekspresi yang tidak bisa langsung dibaca. "Aku tidak pernah ketawa sendiri?"
"Biasanya tidak se..." Robby memotong kalimatnya sendiri. Tangannya bergerak cepat, sebelum Raina sempat bereaksi... mengambil ponsel dari tangan Raina.
Raina membiarkannya.
Robby menatap layar. Video kucing yang terhenti di tengah. Tidak ada chat terbuka. Tidak ada nama siapapun. Hanya beranda media sosial dengan deretan video pendek.
Raina mengulurkan tangannya. "Sudah?"
Robby menyerahkan ponselnya kembali... tapi ada sesuatu di wajahnya yang tidak ikut menyerah, sesuatu yang tetap di sana bahkan setelah ia melepaskan ponsel itu.
Raina merebut ponselnya, bangkit dari posisi bersandarnya, dan duduk tegak.
"Aku tidak seperti seseorang," katanya, "yang pura-pura nonton video lucu tapi sebenarnya lagi bertukar pesan mesra sama orang lain." sindir Raina dengan sengaja.
Udara di kamar itu berubah kualitasnya.
Robby diam.
"Aku..." Ia ingin berkata, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
"Aku tidak menyindir siapapun." Raina berkata lebih dulu, suaranya terlalu ringan. Entah lebih menenangkan atau justru lebih membuat tidak nyaman dari nada marah biasa. "Aku cuma menjelaskan apa yang aku lakukan. Karena kamu tanya."
"Raina..." Kembali Robby ingin bersuara. Tapi Raina terlanjur memotongnya.
"Dan aku sangat percaya," lanjut Raina dengan senyum kecil namun penuh arti. "bahwa kamu pasti setia."
Kalimat itu keluar dengan nada yang persis sama dengan kalimat sebelumnya... ringan, datar, tidak bergetar.
Robby tertegun.
Tidak berkata apa-apa selama beberapa detik... mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada yang keluar. Matanya bergerak, mencari sesuatu di wajah Raina, tapi wajah Raina tidak memberinya petunjuk yang jelas.
Raina sudah bangkit dari kasur.
Merapikan bawahan seragamnya yang sedikit kusut, mengambil segelas air dari meja di sudut. Meminumnya berdiri, membelakangi Robby.
"Rain." panggil Robby suara pelan.
"Hm."
"Kamu baik-baik saja?"
Raina meletakkan gelasnya. "Kenapa tanya itu?"
"Karena kamu..." Robby berhenti. "Belakangan ini kamu beda."
"Beda bagaimana?" Raina pura-pura tidak tahu. Padahal ia sadar bahkan sangaja melakukannya.
"Nggak tau." sahutnya dengan nada frustasi yang terdengar. "Kayak... kamu nggak peduli. Sama aku."
Raina menoleh. Menatapnya dari tempat ia berdiri, jarak tiga langkah antara mereka, cukup jauh untuk melihat keseluruhan ekspresi Robby yang duduk di tepi kasur itu.
Ia berjalan ke pintu.
"Rain." Robby kembali memanggil.
Raina berhenti di ambang pintu. Memunggungi Robby tapi tidak berbalik, seperti kebiasaan baru yang sudah ia bentuk tanpa sadar, menjawab dari arah yang memberi pilihan untuk pergi kapanpun percakapan selesai.
"Kalau sekali saja..." ia berkata pelan, "sekali saja kamu selingkuh, Rob."
Robby tidak bernapas.
"Aku tidak akan pikir panjang untuk melepaskanmu." Raina berkata sangat ringan, seperti menginformasikan sesuatu yang sudah lama ia tahu dan baru menemukan momen tepat untuk disampaikan. "Dan memberikanmu ke perempuan itu. Dengan senang hati."
Hening.
Kemudian suara Robby lebih rendah dari biasanya, ada sesuatu di dalamnya yang tidak pernah Raina dengar sebelumnya: "Kamu nggak cinta sama aku?"
Raina berdiri di ambang pintu itu, memandang lorong di depannya.
Pertanyaan yang punya satu juta kemungkinan jawaban dan tidak ada satupun yang benar-benar sederhana.
"Aku tidak punya waktu," katanya akhirnya, "dan tidak punya tenaga untuk bertengkar hanya demi seorang pria."
Robby masih duduk di tepi kasur.
Ia tidak langsung bergerak... duduk dengan tangan bertumpu di lutut, menatap lantai di depannya, menatap pintu yang terbuka yang baru saja dilalui istrinya tanpa menoleh.
Seorang pria.
Kata-kata itu berputar di kepalanya tidak mau berhenti. Bukan karena menyakitkan, tapi karena terasa seperti sesuatu yang sudah berubah bentuk tanpa ia sadari. Seperti tiba-tiba mendapati bahwa lantai yang ia kira masih ada di bawah kakinya ternyata sudah lama tidak di sana.
Kapan Raina mulai bicara seperti itu?
Raina yang ia kenal... Raina yang menunggu sampai malam, yang memasak lebih banyak dari yang bisa ia habiskan, yang tidak pernah tidur sebelum ia pulang meski tidak pernah mengatakannya dengan terus terang, tidak bicara seperti itu. Tidak dengan nada itu. Tidak dengan jarak itu.
Robby mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Di dalam dadanya, dua hal yang tidak seharusnya ada bersama-sama sedang berebut tempat.
Di satu sisi Monica dan di sisi lain... Raina.
Robby tidak pernah takut kehilangan Raina.
Ini yang ia sadari sekarang... bahwa ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Raina selalu ada. Raina selalu di sana.
Tapi malam ini, duduk di tepi kasur yang dingin dengan pintu kamar yang terbuka dan tidak ada suara Raina dari lorong di luar... sesuatu menyentuh bagian dari dirinya yang sudah lama tidak tersentuh.
Takut.
Sekarang ia takut kehilangan Raina.
Dan di saat yang sama... ia tahu bahwa ia tidak bisa melepaskan Monica.
Dua hal. Satu dada. Tidak ada tempat yang cukup untuk keduanya, tapi ia tidak tahu cara memilih, dan selama ia tidak memilih ia bisa terus berpura-pura bahwa pilihan itu tidak perlu dibuat.
Robby berbaring di kasur, menatap langit-langit yang sama yang sudah ia tatap bertahun-tahun.
Di luar kamar, tidak ada suara Raina yang memasak, tidak ada suara televisi yang ia tinggalkan menyala agar tidak terlalu sepi, tidak ada suara apapun yang biasanya ada dan baru sekarang ia sadari tidak ada.
Sepi.
Rumahnya terasa lebih sepi dari yang ia ingat.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang